Pos

Desil Hitam Estetika: Ketika Keindahan Mengkhianati Kebenaran dan Kebaikan

Oleh: Kasiyan*   Ada sebuah kata yang belakangan seperti naik kelas, dari tabel statistik ke percakapan publik: desil. Kata yang terdengar dingin dan administratif itu, dipakai untuk membaca lapisan kesejahteraan: siapa berada di bawah, siapa di tengah, siapa di atas. Angka akhirnya bukan sekadar angka. Ia menjadi cara negara menyigi kehidupan warga, meskipun selalu ada […]

Melihat Merah Putih Compang-Camping

Oleh: Doddi Ahmad Fauji * Perempuan itu bersimpuh dalam balutan mukena seputih kapas, putih yang bagai awan suci, duduk di atas sajadah dalam posisi tahiyat akhir. Ia bukan sedang salat loh. Dari sebuah teko kaca, ia mengucurkan cairan merah pekat bak anggur ke dalam gelas kaca bening berkaki, gelas yang biasa mendenting untuk bersulang ala […]

Cello Asep Hidayat dan Tiga Zaman  Musik Kontemporer Indonesia

Oleh: Aristofani Fahmi* Jumat malam, 28 Agustus 2026, Teater Wahyu Sihombing dalam kondisi remang ketika Asep Hidayat berjalan ke tengah panggung membawa cello. Selama satu setengah jam berikutnya, ia membawakan sembilan karya solo cello karya komponis Indonesia, dari yang ditulis tahun 1960 sampai karya generasi termuda hari ini. Pertunjukan bertajuk Suara Nusantara: Suara Cello Menyusuri […]

Merdesa dan Cara Mencintai Desa yang Terus Berubah

Oleh: Eko Yuds*   Peluncuran buku tentang Jolenan di Kemetul membuka percakapan tentang ingatan, kerja warga, dan hak generasi berikutnya ikut menentukan masa depan tradisi. KABUPATEN SEMARANG — Catatan lapangan penulis yang sebagai peneliti merekam Desa Kemetul pada pagi 11 Juli 2026 melalui bentang sawah selepas panen. Matahari yang mulai muncul dari balik perbukitan menyinari petani […]

Ketika Lukisan Keluar dari Kanvas

Oleh: Abad Akbar* Melihat Intermedialitas dalam Seni melalui Praktik Living Canvas Berawal dari karya seni rupa yang digunakan sebagai media pendukung film Siapa Dia karya Garin Nugroho, sebuah pertanyaan muncul dalam benak saya: bagaimana sebuah karya statis dua dimensi dapat memaksimalkan fungsinya selain sekadar menjadi pajangan di ruang pamer? Dari film ini saya melihat bahwa […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

NING Malam turun ke sebuah tanah di antara sawah dan bukit. Bukan hujan, bukan angin. Malam. Ia turun dari punggung gunung, menyusuri rumpun bambu, melewati pematang, menyentuh rumah-rumah yang lampunya satu demi satu memadamkan diri. Dari sebuah pesantren suara ngaji naik ke langit. Satu lampu. Dua. Tiga. Lalu seluruh pesantren menjadi perahu yang berlayar tanpa […]

 Melihat Cara Tiongkok Membaca Buku

Oleh: Agus Dermawan T. Sejak 1995 pemerintah Indonesia menetapkan 14 September sebagai “Hari Kunjung Perpustakaan”. Hari yang amat menarik, karena akan mendorong insan Indonesia untuk berbondong masuk ke ruang buku. Meski untuk itu infrastruktur dan suprastruktur menuju buku harus disiapkan terlebih dahulu. ————- DALAM perjalanan tamasya di Provinsi Sichuan, Tiongkok, di bulan Agustus 2026, saya […]

Pandangan Bong Joon-ho tentang Sinema Masa Depan

Bambang Supriadi ICS ranabiru554@gmail.com Apa yang terjadi ketika manusia dapat dikloning? Dalam Mickey 17, Bong Joon-ho menjadikan pertanyaan itu sebagai pintu masuk untuk membayangkan perubahan teknologi sekaligus menggugat kembali pengertian tentang identitas, tubuh, dan martabat manusia. Menariknya, cara membaca Bong terhadap sesuatu yang belum sepenuhnya terbentuk juga tampak ketika ia diminta Sight & Sound memilih […]

Dari Bung Karno ke Megawati : Kisah Ayah dan Anak Penyiar

Oleh: leh Kim Young Soo* Saya, Kim Young Soo, telah berkarier di dunia penyiaran selama kurang lebih tiga puluh tahun. Selama periode tersebut, saya bertugas sebagai Chief Producer (CP) di KBS (Korean Broadcasting System), satu-satunya badan penyiaran nasional Korea Selatan. Tanggung jawab saya adalah memproduksi program serta mengelola dan mengontrol seluruh siaran berbahasa asing untuk wilayah Asia […]

Dari Meme ke Mim: Ketika Teks yang Kita Ambil Mulai Mengambil Kita

Oleh: Abdul Wachid B.S.*  Ada buku yang sejak awal disusun sebagai buku. Ada pula buku yang menemukan bentuknya setelah tulisan-tulisan yang semula berjalan sendiri-sendiri dipertemukan. Kleptoteks: Budaya Kritis ala Meme karya Nizar Machyuzaar (2026) termasuk jenis yang kedua. Tulisan-tulisan yang terkumpul di dalamnya pada mulanya hadir sebagai esai-esai lepas, lahir dari persoalan dan kegelisahan yang […]