Iduladha Dan Teologi Pembebasan
Oleh: Dimas Indianto*
Iduladha hadir bukan sekadar sebagai perayaan ritual yang menandai musim kurban, melainkan sebagai ruang kontemplasi tentang kebebasan manusia dari belenggu paling purba. Di tengah gema takbir yang melintas dari surau ke surau, manusia diajak menafsir ulang hubungan antara pengorbanan dan kemerdekaan batin. Kisah Nabi Ibrahim tidak berhenti sebagai narasi kepatuhan spiritual semata, melainkan juga menjelma metafora tentang keberanian melampaui rasa takut yang diwariskan sejarah. Pisau yang terangkat menuju leher Ismail menghadirkan pertanyaan filsafati mengenai batas antara cinta, iman, dan kemanusiaan. Dalam ruang batin semacam itu, Iduladha menjadi cermin yang memantulkan pergulatan manusia dengan kuasa, hasrat, dan penghambaan.
Darah Simbolik dan Jalan Pembebasan Manusia
Teologi pembebasan memandang agama bukan sekadar tata aturan langit, melainkan tenaga moral yang membela kehidupan. Ajaran ketuhanan kehilangan makna ketika hanya dipeluk sebagai simbol formal tanpa keberpihakan terhadap mereka yang tertindas. Menurut Asghar Ali Engineer dalam bukunya Islam dan Teologi Pembebasan (2003), teologi pembebasan berupaya untuk menjadikan mereka yang lemah dan tertindas menjadi makhluk yang independen dan aktif. Karena hanya dengan menjadikan manusia yang aktif dan merdeka mereka dapat melepaskan diri dari belenggu penindasan. Iduladha menyimpan semangat yang sejalan dengan gagasan tersebut karena kurban menuntut keberanian melepaskan kepemilikan demi kehidupan bersama. Daging yang dibagikan kepada kaum miskin bukan sekadar sedekah musiman, melainkan kritik sunyi terhadap ketimpangan sosial yang terus dipelihara zaman. Di titik itu, kurban menjelma bahasa etis yang menghubungkan langit dengan jeritan manusia di bumi.
Dalam filsafat eksistensial, manusia sering dipahami sebagai makhluk yang hidup di bawah kecemasan dan keterasingan. Ketakutan kehilangan harta, kedudukan, dan kenyamanan menjadikan manusia terpenjara oleh benda-benda yang diciptakannya sendiri. Iduladha datang membawa kemungkinan pembebasan dari penjara tersebut melalui tindakan memberi yang melampaui kepentingan diri. Seekor kambing atau sapi yang dikurbankan bukan sekadar objek ritual, melainkan simbol runtuhnya kerakusan yang bersarang dalam kesadaran manusia modern.
Nabi Ibrahim sering dipandang sebagai figur yang sanggup memutus rantai tradisi lama demi menemukan kebenaran yang lebih jernih. Keberanian meninggalkan penyembahan berhala merupakan bentuk pembebasan intelektual dari kekuasaan yang membutakan nalar. Berhala tidak selalu berbentuk patung batu, sebab dalam kehidupan modern berhala dapat menjelma uang, jabatan, dan ambisi tanpa batas. Iduladha mengingatkan bahwa manusia yang tunduk sepenuhnya kepada benda-benda dunia sedang berjalan menuju kehampaan eksistensial. Dalam perspektif filsafat, pengorbanan Ibrahim merupakan revolusi kesadaran yang menolak penindasan atas nama apa pun.
Ismail dalam kisah kurban bukan tokoh pasif yang menyerah tanpa makna. Kesediaannya menerima keputusan ayahnya memperlihatkan bentuk keberanian eksistensial yang lahir dari kesadaran spiritual. Di sana terdapat dialog diam antara generasi tua dan generasi muda mengenai arti pengabdian kepada nilai-nilai yang melampaui ego pribadi. Teologi pembebasan membaca momen tersebut sebagai penghapusan relasi kuasa yang menindas karena keputusan dijalani melalui kesadaran bersama, bukan paksaan sepihak. Hubungan semacam itu melahirkan etika dialogis yang sangat dibutuhkan masyarakat modern.
Ritual kurban juga dapat dibaca sebagai kritik terhadap logika kapitalisme yang menempatkan kepemilikan sebagai pusat martabat manusia. Dunia modern membangun peradaban yang memuliakan akumulasi dan memandang keberhasilan melalui jumlah benda yang berhasil dikuasai. Dalam suasana demikian, Iduladha hadir seperti angin padang pasir yang menggoyang kemapanan hasrat manusia. Seekor hewan yang dipelihara dengan penuh perhatian justru dilepaskan demi kepentingan orang banyak. Tindakan tersebut mengandung pesan filsafati bahwa kebahagiaan sejati tidak tumbuh dari penumpukan, melainkan dari kemampuan berbagi.
Kurban menyimpan dimensi etis yang melampaui simbol darah dan daging. Setiap tetes darah yang jatuh ke tanah seakan mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak boleh dibangun di atas penindasan dan keserakahan. Teologi pembebasan memandang pengorbanan sebagai jalan untuk menghancurkan struktur sosial yang melahirkan kemiskinan dan keterasingan. Ketika masyarakat hanya merayakan Iduladha sebagai seremoni tahunan tanpa kesadaran sosial, makna pembebasan perlahan mengering dari ritual tersebut. Dari sebab itu, kurban membutuhkan pembacaan yang lebih mendalam agar tidak berhenti pada kulit perayaan.
Hermeneutika mengajarkan bahwa setiap teks suci selalu membuka ruang penafsiran baru sesuai konteks zaman. Kisah Ibrahim dan Ismail tidak harus dipahami secara literal semata, sebab di dalamnya terdapat lapisan simbol yang terus berbicara kepada sejarah manusia. Iduladha dapat dibaca sebagai panggilan untuk menyembelih egoisme kolektifyang melahirkan perang, korupsi, dan ketidakadilan sosial. Dalam dunia yang dipenuhi kompetisi brutal, semangat kurban menjadi ajakan untuk membangun solidaritas yang lebih manusiawi. Tafsir semacam itu membuat agama tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Kurban sebagai Kritik atas Kuasa dan Ketimpangan
Sejarah memperlihatkan bahwa agama sering digunakan untuk menopang kekuasaan yang menindas. Banyak penguasa memanfaatkan simbol-simbol suci demi mempertahankan dominasi atas masyarakat yang lemah. Dalam situasi demikian, teologi pembebasan hadir sebagai upaya mengembalikan agama kepada keberpihakan moral terhadap kaum tertindas. Iduladha menyimpan energi kritik yang kuat karena kurban mengajarkan distribusi, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat manusia miskin. Spirit tersebut menjadi penanda bahwa agama tidak semestinya berpihak kepada keserakahan kekuasaan.
Di berbagai kota besar, perayaan Iduladha sering berlangsung di tengah jurang sosial yang semakin lebar. Gedung-gedung menjulang tinggi berdiri berdekatan dengan lorong sempit tempat kaum miskin bertahan hidup. Aroma sate dan gema takbir terkadang hanya menjadi pesta sesaat tanpa menyentuh akar ketidakadilan yang lebih dalam. Filsafat sosial mengingatkan bahwa kemiskinan bukan sekadar takdir individual, melainkan hasil dari struktur ekonomi yang timpang. Kurban dalam konteks tersebut semestinya dibaca sebagai dorongan untuk merombak kesadaran sosial menuju keadilan yang lebih nyata.
Teologi pembebasan lahir dari keprihatinan terhadap penderitaan manusia yang dianggap wajar oleh sistem sosial. Dalam pandangan ini, keberagamaan tidak cukup berhenti pada doa dan ibadah personal. Spirit ketuhanan harus hadir dalam perjuangan melawan eksploitasi dan ketidakadilan yang menindas kehidupan. Iduladha menawarkan ruang refleksi bahwa iman sejati menuntut keberanian mengorbankan kenyamanan demi membela sesama. Dari titik itu, agama bergerak dari ruang ritual menuju etika pembebasan.
Karl Marx pernah menyebut agama sebagai candu masyarakat ketika agama hanya dijadikan alat pelipur tanpa perubahan sosial. Secara garis besar, pemikiran Marxisme banyak mempengaruhi pemikiran teologi pembebasan yang terangkum dalam beberapa poin mendasar, seperti: analisis perjuangan kelas; menolak adanya akumulasi kapital dan kepemilikan pribadi; mendukung adanya gerakan perubahan; dan kesadaran bahwa manusia perlu dinilai sebagai makhluk sosialis dan bukan mengarah pada persaingan kompetitif (Natalie, 2000).
Kritik tersebut menemukan relevansi ketika simbol-simbol religius dipakai untuk menenangkan penderitaan tanpa menghadirkan keadilan. Namun Iduladha justru menyimpan potensi yang berbeda karena kurban mengandung tindakan konkret berbagi dan membebaskan. Daging yang dibagikan kepada masyarakat miskin merupakan simbol redistribusi yang menolak monopoli kenikmatan oleh segelintir orang. Dalam pembacaan filsafati, kurban menjadi bentuk kritik terhadap ekonomi yang tidak manusiawi.
Di balik perintah menyembelih hewan, tersimpan ajaran tentang keberanian melawan naluri kepemilikan. Manusia modern sering membangun identitas berdasarkan benda yang dimiliki dan status yang dipamerkan. Ketika Iduladha datang, seluruh kemegahan tersebut dipertanyakan kembali oleh tindakan memberi yang sunyi namun bermakna. Seekor sapi yang dilepaskan untuk kepentingan bersama menjadi simbol runtuhnya ego individualistik. Teologi pembebasan melihat momen itu sebagai pendidikan moral bagi masyarakat yang semakin terasing satu sama lain.
Kurban juga menghadirkan dimensi politik yang jarang dibicarakan secara mendalam. Pembagian daging kepada masyarakat miskin mengandung pesan tentang pentingnya distribusi kesejahteraan yang lebih adil. Dalam masyarakat yang dikuasai oligarki ekonomi, tindakan berbagi sering dianggap ancaman terhadap logika akumulasi modal. Iduladha justru memperlihatkan bahwa kebahagiaan kolektif lebih bernilai daripada kekayaan yang menumpuk di tangan segelintir orang. Dari sana tampak bahwa ritual keagamaan dapat menjadi sumber kritik sosial yang sangat kuat.
Pemikiran Emmanuel Levinas tentang tanggung jawab terhadap sesama sangat kontekstual dengan Iduladha. Levinas menunjukkan bahwa manusia dalam segala penghayatan dan segala sikapnya didorong oleh sebuah impuls etis yakni tanggung jawab terhadap sesama (Kosmas, 2018). Wajah orang miskin yang menerima daging kurban bukan sekadar objek belas kasihan, melainkan panggilan etis bagi nurani manusia. Kehadiran sesama menghadirkan tuntutan moral yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Dalam suasana pembagian kurban, manusia belajar melihat penderitaan orang lain sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Kesadaran tersebut menjadi inti dari teologi pembebasan yang memuliakan martabat manusia.
Ritual keagamaan sering kehilangan daya transformasinya ketika hanya dipahami sebagai kewajiban formal. Iduladha mengingatkan bahwa spiritualitas sejati tumbuh melalui keterlibatan sosial yang nyata. Takbir yang menggema seharusnya melahirkan keberanian melawan ketidakadilan, bukan sekadar getaran emosional sesaat. Filsafat praksis menempatkan tindakan sebagai ukuran utama dari kesadaran moral manusia. Dari perspektif itu, kurban bukan sekadar simbol penghambaan, melainkan tindakan etis yang menghidupkan solidaritas sosial.
Menyembelih Ego, Menumbuhkan Kemanusiaan
Pada lapisan terdalam, Iduladha berbicara tentang penyembelihan ego manusia yang paling tersembunyi. Kesombongan, kerakusan, dan keinginan menguasai sering tumbuh diam-diam di dalam hati manusia modern. Teologi pembebasan memandang egoisme sebagai akar dari berbagai bentuk penindasan sosial dan kekerasan sejarah (Wasisto, 2014). Kurban menjadi simbol pembebasan batin dari dorongan-dorongan destruktif yang merusak hubungan antarmanusia. Dalam kesadaran seperti itu, Iduladha berubah menjadi latihan spiritual menuju kemanusiaan yang lebih utuh.
Dalam tradisi sufistik Islam, pelepasan tersebut dipahami sebagai perjalanan menuju kejernihan jiwa dan kedekatan dengan Tuhan. Iduladha memperlihatkan bentuk konkret dari ajaran tersebut melalui tindakan mengorbankan sesuatu yang dicintai. Manusia diajak memahami bahwa kehidupan bukan sekadar ruang memiliki, melainkan ruang berbagi dan memaknai keberadaan. Dari sana lahir kebebasan batin yang tidak mudah diguncang oleh dunia material.
Masyarakat modern sering terjebak dalam budaya kompetisi yang melelahkan. Nilai manusia diukur melalui produktivitas, pencapaian ekonomi, dan kemampuan menguasai ruang sosial. Akibatnya, banyak orang hidup dalam kecemasan tanpa sempat memahami makna keberadaan dirinya sendiri. Iduladha hadir seperti jeda sunyi yang mengajak manusia kembali mendengarkan suara nurani. Dalam keheningan spiritual itu, manusia belajar bahwa martabat tidak selalu ditentukan oleh kepemilikan dan kemenangan.
Kisah Ibrahim dan Ismail memperlihatkan bahwa cinta tidak selalu berarti menggenggam. Ada saat ketika cinta justru menemukan kemuliaannya melalui keberanian melepaskan. Filsafat eksistensial mengajarkan bahwa kebebasan sering menuntut keberanian menghadapi kehilangan dan ketidakpastian. Iduladha menghadirkan pelajaran tersebut dalam bentuk simbolik yang sangat mendalam. Dari pengalaman kurban, manusia memahami bahwa pengorbanan dapat menjadi jalan menuju keluhuran kemanusiaan.
Teologi pembebasan tidak berhenti pada pembelaan terhadap kaum miskin secara material. Pembebasan juga menyangkut usaha memerdekakan manusia dari rasa takut, kebencian, dan keterasingan batin. Dalam dunia yang dipenuhi polarisasi dan permusuhan, semangat kurban menawarkan jalan rekonsiliasi melalui solidaritas dan kepedulian. Daging yang dibagikan kepada tetangga menghadirkan kembali jembatan kemanusiaan yang mulai rapuh oleh individualisme modern. Dari ruang sederhana semacam itu, agama menemukan kembali wajahnya yang penuh kasih.
Iduladha mengandung pesan bahwa manusia sejati bukan manusia yang menumpuk kuasa, melainkan manusia yang mampu membebaskan kehidupan di sekitarnya. Kurban bukan sekadar tindakan religius, melainkan latihan etis untuk menumbuhkan kepekaan sosial dan keberanian moral. Filsafat pembebasan melihat tindakan memberi sebagai upaya menghancurkan dominasi ego yang melahirkan penindasan. Dalam masyarakat yang semakin terpecah oleh kepentingan, semangat tersebut menjadi cahaya yang menjaga harapan tentang masa depan yang lebih manusiawi. Takbir yang menggema pada hari raya kurban akhirnya tidak hanya menjadi pujian kepada Tuhan, tetapi juga seruan sunyi untuk membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan modern.
nDalem Sastronegaran, 2026
—-
*Prof. (HC). Dr. Dimas Indianto S. (Budayawan, Peneliti, dan Dosen UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Saat ini menjabat sebagai pengageng kapujanggan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat).




