Yani Mariani: Naranta Bawasra dan Wings of Hope

Pandemi tidak membuat pematung Yani Mariani Sastranegara berhenti bekerja. Di studionya yang berlokasi di  Jln. Sumatera No.3 Ciputat. Tangerang ide kreatifnya mengalir terus. Ia membuat karya-karya segar – yang dalam skala ukuran besar dan tingkat kesulitan – cukup rumit pengerjaannya. 

“ Aku melihat-melihat kembali karya-karya lamaku yang sudah ada di ruang workshop.  Apakah masih ada yang sesuai dengan kondisi sekarang? Kemudian aku mulai memilih salah satu karya untuk dikerjakan kembali atau diterjemahkan ulang,” katanya kepada BWCF. 

Di Studionya yang diberi nama: Yatra (artinya dalam bahasa Sansekerta Maju Terus) tahun ini ia misalnya tengah berproses menyelesaikan karya instalasi besar berjudul: Naranta Bawasra. “Karya ini berupa karya instalasi gantung yang terdiri dari kepingan-kepingan logam yang sudah dibentuk,” terang Yani. Luas bidang gantungnya 500 cm x 700 cm. Dari ketinggian menggantung komponen beragam dari yang tertinggi 30 cm sampai dengan terendah 260 cm. Jumlah komponen benda yang digantung kurang lebih 2.800 buah dengan berat satuan berkisar dari 30 gram sampai dengan 150 gram. “Naranta Bawara, saya ambil dari Bahasa Sansekerta artinya Gemerincing nan Berkilau, ”kata Yani. 

Kepingan Logam

Bentuk satuan komponen karya Naranta Bawara. (Foto dokumentasi Yani Mariani)

Kawat pengait

Kawat kait penggantung ke bidang rangka (modul 10 cm) karya Naranta Bawara. (Foto dokumentasi Yani Mariani)

Menurut Yani, saat dia mengerjakan karya ini tiba-tiba ada seorang temannya –pengusaha yang tertarik dengan karya tersebut. “Teman saya ini sedang membangun hotel di kota Semarang. Dia minta karya: Gemerincing nan Berkilau ini dipajang di hotelnya nanti,” kata Yani. Yani tidak menduga muncul permintaan itu. “Dari main-main jadinya serius. Akhirnya  saya membeli dan membikin tambahan bahan-bahan karena harus menyesuaikan dengan ukuran ruangan di hotel tersebut yang luas dan tinggi,” tutur Yani..

karya Yani Mariani Naranta Bawasra

Foto progres pengerjaan karya Naranta Bawasra (1). (Foto dokumentasi Yani Mariani)

karya Yani Mariani Naranta Bawasra

Foto progres pengerjaan karya Naranta Bawasra (2). (Foto dokumentasi Yani Mariani)

“Sampai hari ini sudah hampir 70 %  karya Naranta Bawasra rampung,” kata Yani. Di tengah-tengah mengerjakan Naranta Bawasra tiba-tiba juga ada kabar baik yang diterima Yani Mariani. “Tiba-tiba 3 hari yang lalu aku ditelp oleh Galeri Nasional untuk ikut dalam seleksi The 9th Beijing Internasional Art Biennalle China 2022 dengan tema The Light of Life. Lima seniman dari Indonesia diminta oleh Galnas ikut tahap seleksi, yaitu aku sebagai pematung, Ichwan Noor pematung juga, kemudian Budi Adi Nugroho, serta Lugas Syllabus dan Dicky Takndare,” ungkap Yani.

Untuk Bienalle Beijing Yani Mariani mengajukan karya yang baru selesai dipamerkan Galery Ciputra Artprenuer Jakarta. Dari tanggal 25 Februari hingga 1 Juni 2021 kemarin Ciputra Artprenuer mengadakan pameran virtual 100 karya dari 100 seniman Indonesia mulai dari seni lukis, seni patung, instalasi, videografi, dan fotografi dengan tema: Hidup Berdampingan Dengan Musuh. “Karyaku yang ikut dalam pameran bersama Ciputra Artprenuer ini yang aku usulkan ke Beijing Biennalle dan judulnya aku sesuaikan menjadi Wings of Hope. Judul ini aku terjemahkan secara luwes dari Kepak Sayap Membuka Langit yang aku buat pada tahun 2020.”

Media yang dipakai Yani untuk membuat karya Wings of Hope ini adalah kombinasi antara plat Galvanis dan plat Kuningan, dengan teknik Modeling, Kenteng dan Las Sambung. Dimensinya: tinggi 157 cm dengan diameter kurang lebih 80 cm. Rencananya karya-karya yang lolos seleksi The 9th Beijing Internasional Art Biennalle China 2022 ini akan ditampilkan di National Art Museum of China, Beijing sebagai main venue dan Non Sports Stadiums of the 2022 Olympic and Paralympic Winter Games sebagai branch venues, mulai tanggal 18 Januari sd 1 Maret 2022. 

karya Yani Mariani Wings of Hope

Foto karya Wings of Hope (1). (Foto dokumentasi Yani Mariani)

karya Yani Mariani Wings of Hope

Foto karya Wings of Hope (2). (Foto dokumentasi Yani Mariani)

“Tanggal 19 Agustus ini aku akan kirim informasi lengkap mengenai karyaku sebagai bahan seleksi ke panitia Biennalle Beijing. Jika lolos seleksi, maka pada bulan Oktober karya akan dikirim kesana. Kenapa tanggal 19 Agustus aku kirim materi? Karena aku tunggu setelah ulang tahunku tanggal 17 Agustus ha ha…” ungkap Yani.

Wah. Rupanya Yani Mariani Sastranegara hari ulang tahunnya pas hari kemerdekaan Republik Indonesia. Ia lahir 17 Agustus tahun 1955 di Rangkas Bitung. Selamat Ulang Tahun ya Yan. Merdeka!

—©BWCF2021—

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *