Sajak-Sajak Tjahyono Widarmanto

MANTRAM BUBUKA

Bismillah.Berjejak pada kedalaman hati, pada aran anahata kutajamkan niat membasuh mencelup kepala, memandikan badan dengan mataair rabbani, dus jasad tubuh reyotku, dus alpaku, dus elingku, dus mani peluhku, dus rohku, dus badan halus kasarku, dus jagat besar jagat kecilku, dus sukma wening. sucilah segala keruh.segala kerak.segala pekat.sucilah segala niat.bersihlah badan, bersilah ruh,suksma.terang dan weninglah batin jadi petunjuk menuju jalan dat rahasia hidup, dat hidup yang tak bercampur gelap. Urip, urip dalam gerak berputar dari kiri ke kanan menuju gerbang terbuka tempat segala rahasia.

Dus, niat ingsun memandikan badan, jiwa, ruh dan suksma, membersihkan badan halus badan kasar, sucikan jagat besar jagat kecil.kucelupkan dengan mata air bersumber pada kodratullah. Byur luar.byur dalam.suci dalam badan rabbani. suci dalam ruh rabbani.wening dalam suksma rabbani. segala melati mewangi seperti dupa di sunya ruri

Bismillah. Berjejak pada kedalaman hati sun awiwiti kucelup kepalaku.kumandikan badan.kubersihkan jiwa.kusucikan ruh.kuweningkan sukma. Dus jasad tubuh reyotku, dus segala alpa, dus elingku, dus mani peluhku.dalam bersih yang suci nyala dzatollah akan membara. Dalam wening dzatollah akan bergerak mengalir mengapung di kedalaman badan, ruh, jiwa dan suksma.byur byur sucilah.byur byur urip, uriplah dalam wening suci

-Ngawi-kedungdhani

 

MANTRAM SADANG PANGAN PAPAN (1)

Hu, segala yang berjualan dan segala yang membeli datanglah berpusar-pusar seperti sungai berderas ke muara.berdengung-dengung seperti lebah.berkecupak-cupak bagai ikan. Hu segala kaki biarlah melangkah segala tangan biarlah berayun menempuh mata angin kiblat papat lima pancer membuka segala pintu rejeki melambai segala laba.meraup seluruh untung

Hu, apa yang kutatap jadilah peluang. Apa yang kuinginkan segera datang dari segala penjuru.dari seberang ttimur akan datang perempuan perempuan pemetik rejeki
Dari penjuru barat akan muncullah anak bajang teja kusuma membukakan segala kunci emas permata.
Dari bujur utara akan muncum anak bajang galih kencana membawakan segala pangan dari yang menjalar, tumbuh dan bergelantungan.
Dari arah barat muncullah anak bajang bersorjan hitam mengusung segala sandang.
Dari sudut selatan muncullah anak bajang membawa lidi jantan membangunkan papan

Hu..segala rejeki tumpahlah dalam kantong sakuku.

-Ngawi-kedungdani-

 

PENUJUM ANGKA

kupilih bilangan-bilangan, kaubentangkan dugaan-dugaan
seperti para blandong memilih pohan jati paling berurat

yang genap kau sisihkan yang ganjil aku pastikan

bilangan tersisih acapkali menebar curiga
yang dipastikan acapkali meletupkan maki
sebab hidup seperti bilangan tak selalu urut

kaupilih genap, konon entah bisikan dari mana
bilangan genap bulat membawa angin utara
dikendarai perempuan gemuk mengejar lembu dari langit.

begitulah, rahasia itu lari bersama lembu
mungkin saja kantong rejeki tersangkut di tanduknya

kupastikan ganjil.sebab segala yang ganjil itu seperti rajah
berbentuk serat tergurat di telapak tangan kiri
rajah pengundang setiap rejeki untuk singgah digenggaman
namun semua rajah bisa bermakna saat pikiran tetap dan tidak semburat
itu bermakna dua bilangan ganjil yang dikawinkan tak selalu wingit
seperti kuda goyang yang menghujam pengantin perempuan
sebab telah berubah wujud jadi genap dan bulat
menjadi ngangkrang yang menyeret rejeki di genggaman

betapa pahitnya memilih ganjil atau genap
namun setiap penujum harus memilih
dengan teliti dan nyaman hati
seperti memilih sebuah lukisan
tempat segala khotbah dan keindahan disematkan

jari-jari gemetar saat harus tuliskan bilangan
yang ganjil atau genap
seperti ketakutan saat menduga tentang sebuah takdir
apakah itu ranjang pengantin bergoyang atau malah peti mati

usaplah bilangan-bilangan itu seperti meninabobokan anak sendiri
dengan kecemasan atas harapan-harapan yang menguap

menujum adalah mencipta dan berharap

bilangan adalah ketakpastian
takterdugaan yang menyentak

bilangan ganjil atau genap adalah jari yang mengaduk-aduk
pada akhirnya terkatup mencecap ketakpastian.

 

ASMARADHANA di PARANGKUSUMO

Debur ombak membawa bongkah kayu, pecahan dayung serta sobekan layar
bayang-bayang menjelang senja memotretmu
wajahmu ungu.rambutmu tergerai melambai pada angin
leher dadamu bertaburan butir-butir keringat seperti mutiara mengintip di balik kerang
di alis dan kelopak matamu kulihat bayang-bayang firdaus
malaikat dan peri yang menari tayub bedhaya

: engkaukah itu, nini? engkaukah itu, nimas?

Gelisah itu kekal seperti sejarah para perompak laut
pasir-pasir di pesisir mendaraskan wuyung asmaradhanamu
jejak-jejak katresnan yang wingit

-ngawi-parangkusumo

 

OMBAK TERAKHIR

Nala, lanang sejati tak akan lari dari ombak.

itukah suara terakhir dari semula yang riuh lantas terhempas di karang sepi
namun lelaki sejati tak pernah menyesali guratan tapak tangannya sendiri
tak akan menangisi segala kompas yang patah jarumnya tinggal angka-angka ganjil
tak bakal tergoda meralat hidupnya hanya sebab peta-peta yang sobek

setiap debur seperti sirip hiu memburu arah lingsir lintang gubuk penceng
itulah kitab para lelaki yang tak gentar menuju malam yang selalu condong ke selatan

debur itu iguan serupa tanda seru yang digumamkan mulut angin
seperti notasi megatruh dengan gesek rebab. dinginnya meraba kuduk

kami memang para lelaki yang tak gampang percaya pada ramalan dan kutuk hari hitam
kami gerombolan pembangkang keras kepala merasa pewaris yunus pengendara paus

kami tetap saja membentang layar. arah sama saja: utara-selatan, timur-tenggara
sama menuju ombak terakhir yang tak lagi biru apalagi ungu.ugu yang jadi petir

ombak terakhir. gesek rebab dengan megatruh ungu. gubuk penceng yang tersesat
hanyalah sebagian kecil dari takdir kami yang panjang: lelananing laut yang mahir!

Nala, ombak terakhir itu kado paling mulia bagi lanang sejati!

 

RIWAYAT BAHARI

 1. lancang kuning

lihat, kami mentiti buih seperti gugus pari

segala rahasia ombak hanyalah lonceng mainan
segala teluk hanyalah kisah-kisah asmara
segala badai cuma pesta segera usai
: kami sulur laut dan darat!

2. phinisi

kami memiliki bilangan itu: dua tiang utama, tujuh layar mengembang
tiga di depan paling ujung, dua di belakang, dua di samping memburu
gelombang melacak jejak yunus mencatat silsilah nenek moyang paus

3. jukung

inilah titisan sirip hiu pernah mencatat sejarah semangat dan rempah
juga kisah-kisah kisruh membuat sayap camar memutih memburu sarang penyu

4. jung

kami raksasa itu dengan tiang-tiang ganda dan layar-layar lebar, berlapis papan
jangankan gulung ombak, gelegar meriam diredam di geladak-geladak
seperti buah matang berjatuhan dari pohon dan kami pun menyepaknya seperti bola

papan-papan ini seperti jiwa kami yang tersambung dengan kegagahan
tanpa perekat tanpa lem apalagi paku. sebab pengikat kami hanya tekat

5. patorani

ikan-ikan terbang adalah buruan kami. armada melebihi kilat
segala laskar susut seperti api direndam dalam mangkuk sup
melihat kami terbang melebihi segala ikan bersayap dan para naga

6. Jalesveva jayamahe

Nala, engkaulah mandala itu. segala rasi adalah cahaya tersimpan di keningmu
serupa taksu yang tumbuh dari segala benih pohon raksasa kelak jadi tiang-tiang
kokoh mengarungi samudra nan yang hingga nansarunai

segala lawan walau sembunyi di pelepah kelapa gading akan hanyut bagai lumut
segala tuan walau sembunyi di sumur paling dasar bercaping sembilan gong
raksasa dan bertimbun abu. tanah. reruntuh batu. onak rumput berdebu
lembing-lembing selalu memburumu dan mereka yang turut beguguruan
menjadi riwayat yang dipahatkan di gapura makam-makam besi

maka, Nala, bersatulah arah itu: langkasuka, selangor, kelatan, tumasik,
tanjung pura, pasir, sambas, kutai, bali, lombok, sumbawa, seram, dompo,
talaut, hingga segala khan gemetar lututnya menatap gula kelapa dan pekak
telinga mendengar guruh cet bang . rabun mata melihat rontek getih getah

serta merta pupuh ketigapuluh satu kitab negara kertagama melagukan kidung itu, Nala,
walau nina bobok sekar mekar luapkan sisa isak ngalir dari arus tabalong hingga pusar laut

maka, Nala, seruan itu: jaleveva jayamahe! berkumandang di segala teluk pesisir,
bergaung di segenap syahbandar, di tiap mercu suar, di punggung gigir ombak

(jalesveva jayamahe! teriakmu itu, Nala, tercatat pula di buku tulis anakku.
sebelum lelap ia bersenandung: negeri moyangku negeri bahari….)

 

SIDHAYATRA

guru, di api mana aku bisa mencuci diri?

jalan ini tak pernah susut sedang tubuhku kian kusut terlunta
menerka peta sambil memegang kitab sajak-sajak rahasia
segala otak kubedah segenap warung dan rumah jalang kutandang
selalu saja cuma jadi penyair yang keliru menafsir semiotika
sampai ujung lidah kelu mengeja aksara dan menerka bilangan

guru, sungguh ajaranmu mengutukku!

segala simpang telah menuju ke tempat yang sama
surga yang sama neraka yang sama seperti teka-teki
mana yang suci mana yang hina
seperti cemas melindap di sela ajal dan cinta

jalan ini menuju bahaya ataukah harapan?
atau menuju perkampungan orang-orang bisu
pemukiman mulut-mulut menganga meramal makna

guru, di mana masa silam,di arah mana masa depan?

sepanjang jalan telah kutulis puisi-puisi
namun selalu saja khilaf mencuri dan sembuyikan makna
menjadi mimpi kosong tanpa tanda baca

sepanjang jalan kewarasan telah coba kupingit
dari segala aroma sangit ceruk birahi
namun tak semua bisa kutampik
juga khuldi yang kau sembunyikan

guru, kitab pengetahuanmu tanpa kamus!

:aku tahu, kau diam-diam menyepakku, maka kutendang pula pintu bilikmu!

 

SINGIR KUBUR

engkaulah, penghuni peti itu!

aku tak bisa menolak sabdamu
sebab aku terlahir dari tanah, dendam dan kutukan
wujudku akan selalu mengelupas di tiap hitungan
jauh sebelum debu mengabarkan kelahiran
jauh sebelum mantra didengungkan sebagai suluk

jangan berharap engkau tuan rumah abadi bagi petimu!

sejak ari-ari lepas melompat dari ketubannya
seperti planton melayang keluar dari ceruk kawah
selalu berseteru dengan musim yang selalu bergegas
melambaikan sayonara pada keriput waktu
tak pernah jadi hantu yang abadi
cuma segugus warna abu-abu serbuk tulang

sedang ruh diam-diam mengendap pergi tinggalkan peti
tanpa kata-kata permisi

akulah khianat itu, penjarah pohon yang sehurusnya kurawat !

maka akan kuterima peti penjara itu
tempat tubuhku dirajam panah
luka-luka terbuka dihisap nanah

akulah khianat itu, maling terkutuk itu1

telah kurangkai riwayat sendiri, bunga-bunga mimpi sendiri
saat ada yang berdesis merayu: betapa eloknya bugil itu
maka cahaya itu lunar dalam tubuh
maka terang itu pun jadi lampu kubur
saat jasad ditipu ruh yang diam-diam beringsut pergi
saat belatung dan ulat beranak pinak pada kelamin
persis seperti bugil penggoda itu

dan dengarlah ratapan itu
angin yang menggergaji tulang jadi debu

akulah maling yang harus dikerangkeng di peti itu
akulah, pendosa yang dirajam di peti itu
pengkhianat yang dimakan kutuk dan larva
harus menungging dalam peti pengap itu
sebelum menjadi babi yang ditusuk duburnya.

 

SULUK PENYAIR

/1/
huruf demi huruf berderap antri datang dan pergi
seperti pasukan serdadu menggedor pintu medan perang
hanya dalam sekejap nama-nama yang hidup berluruhan
di dalam simbol-simbol yang kadang seperti gulita buta
kadang terang seterang cahaya halilintar
atau bergelantungan dengan sayapnya abu-abu
menekan hasrat dan pikiran

di luar sana, mimpi-mimpi disobek oleh kehampaan:
“jangan biarkan huruf-huruf itu khianat!”

hari dan kalender menimbun ketakutan yang hampa
merimbunkan ngeri dihantui putus asa diancam
uap malam yang sengit dan durjana
kata-kata sekedar mengambang muram
dikelilingi kematiannya sendiri.

mati yang memanggil-manggil
sebab hidup selalu bertopeng seperti bopeng
diselimuti bedak, parfum dan senyum.

/2/
“kata adalah kebun, di atas pangkuannya bersemi benih
harapan sekaligus ancaman khianat. juga cinta yang dusta!”

kata-kata menjalarkan akar-akar mencari pusarnya
yang konon, dirahasiakan dan disingit semesta.

saling gamit dan menunjuk segala teka-teki:
“ah, bisakah kata berbiak dalam tubuhku
sakral seperti sabda para pertapa
serta ramalan-ramalan para resi
atau tak lebih dari riuh kawanan burung
yang hinggap lantas sekejap minggat?”

oh, kata-kata yang dimantrai, kata-kata yang dinujum!”

warna-warna cahaya sekaligus senja menuju buta
memburu menekan pikiran-pikiran bergelayut
di punggung dan tulang belakang mengalir dalam sum-sum
membuat tubuh gemetar serta gigi-gigi goyah
mengejar takjub sekaligus ngeri seperti peri takut pada petir

/3/
frase-frase itu muntah lantas melipat kipasnya
seperti waktu yang sampai pada debar terakhirnya
uap-uap berbau dupa dan kamboja

waktu yang sururt bisakah kembali pasang?
masa lalu apakah sudah bergegas pergi atau sekedar bertandang
lantas kembali dengan membawa teka-teki baru
ataukah waktu adalah sajak yang belum jadi menunggu dibuahi musim
atau ia sekedar gelembung lembut yang berlahan diam-diam pecah
lantas sirna menuju petang yang diramu dari komposisi pasir dan tangkur.
/4/
penyair tintamu habis untuk menulis tapi puisi-puisi tak terbaca,
tak ada api di puisimu, tak ada yang sanggup membakar tanpa akhir,

tak ada air di puisimu, tak ada sumur yang lunaskan dahaga
tak ada batu di puisimu, tak ada candi dan menara untuk mengintai langit

ah, penyair, matamu cemas tak sanggup menafsir tanda
mengeras seperti fosil lelaki purba buta yang disesatkan
melintasi etalase-etalase mewah, resah, berjejal, dan rumit

penyair, puisimu telah jadi tiang gantungan
mejeratmu dieksekusi mati!
/5/
kenangan itu kau sebut kelahiran kembali
membangkitkanmu dari ikatan belenggu tiang gantungan
menyusuri lagi satu demi satu ruang kosong
kau jadikan kuali tempat memeras kenangan

:tapi, masih saja kau lupa namamu!
yang kau ingat hanya lengkingan babi-babi berbaur dengan dengkur

batinmu terlanjur merongga jadi luka besar menganga
seperti mata terbelalak ngeri lihat luka yang nyeri!

 

PAGEBLUK

/1/
telah kutenungkan cemas itu
: benih kematian paling wingit
rahasia lungkrah penjerat tubuh
lantas membuat kalian lupa bahagia
sebab segala kapal telah karam
segala syahbandar jadi rumah hantu
segala kota jadi gurun yang lelap
segala dusun tinggal lengang dan debu

kutenungkan hantu-hantu api
memburu jasad-jasad kalian hingga tersesat
menelan cemas pada larva yang gerayangi paru-paru
: nikmatilah takutmu!
sebab akulah anak panah jahat
birahi pada tubuh yang perlahan pucat
terkapar dan terkulai ke gulita kubur

tubuh akan sakit oleh cahaya
akan ngilu oleh gulita
lantas surut jadi kerangka
bersijingkat perlahan menuju kubur
: segala dahaga itu tak ada periginya!
/2/
inilah ngeri yang ngilu itu
bertamu di setiap rumah
bersama debu dan asap abu-abu
maka, siapkan perjamuanmu!

pesta mayat dengan tarian ngeri
orkesta bunyi sirene berdenging-denging
: itulah keretamu
meluncur menuju kamar mayat
/3/
jangan sentuh aku!
kau hantu api pekikkan kata-kata celaka
pencucup ubun-ubun menghisap ruh
merambat dari kaki lantas membumbung jadi asap

jangan sentuh aku!
biarkan aku sendiri jadi berhala tubuhku
kulitmu penuh rajah sengsara berkabar bau neraka

jangan mendekat!
nafasmu melafazkan kutuk kubur
berkelip-kedip ngeri merayu jasad

jangan, jangan kabarkan bisu itu!
/4/
Gusti, udara memerih
bersama jerit dan kabar mati
langit bunting dengan tuba
ratap tangis membumbung di atap-atap rumah
di segala arah bau tulang keropos
bau sangit tubuh diasap celcius

warna-warna ruh berterbangan di jalan-jalan
seperti asap dupa bergentanyangan

dengkur-dengkur meracau tentang hari mati
bergerak dari bilangan 0 menuju deret ukur tak terbilang
pada hitingan kesekian paru-paru pecah menjadi rongga
lubang intip kawah neraka

Gusti, tubuh-tubuh melapuk kelamin pun nglumpruk putus asa
: aduhai, aduhai kami lupa mantra tolak bala
pun kami lupa jalan pulang ke rumahMu!

 

TAKWIL GUNUNG (1)

pada yang menjulang telah kuserahkan tubuh
mendongak ke sarang matahari, tempat segala air dan pasir
menyeruput sisa-sisa usia yang tertinggal di ujung uban
dan aku menghitungnya sia-sia

pada tebing kokoh sarang angin
tempat para hanuman dan sena berteka-teki
tentang batu, tombak dan gada
serta peta-peta warisan
juga aroma wangi serupa dupa

maka, aku sunyi itu
menerka wilayah mata angin bersliweran

pada yang menjulang telah kuserahkan tubuh
namun segala ilmu memudar bersama bilangan
lunar dalam senjakala

: ah, di ketinggian menjulang ini usia tak tergapai.
teka-teki tetap misteri dan ingatan gagal dikenang

ah, pada julang tebing itu aku menunggu kapan jasad dikubur timbuni batu!

 

TAKWIL GUNUNG (2)

seperti menhir
batu panjang menjulang tunggal
tegak pada putaran masa dan kuasa nasib
bukan karena perkasa namun disekap pasrah
tak sanggup menerka ramalan-ramalan
cuaca, arah dan bilangan-bilangan

serupa menhir
batu tunggal menjulang panjang
hanya mampu menjadi sekedar penanda
batas-batas asing yang kabur
lambang tubuh yang dipendam pasir dan batu

 

TAKWIL GUNUNG (3)

di ketinggian serupa phalus menjulang
adam menyembunyikan sisa rusuknya
yang kelak akan dimantrai menjadi gairah bercumbu

“di antara batu-batu itu akan kusembunyikan perempuan pesona itu!
guru tak akan tahu dan segala kitab alpa mencatatnya!”

segala tebing serupa phalus tetap bergetar
oleh syahwat di ubun-ubun
berubah kelelawar-kelelawar berdesir
berterbangan berebut merajut sangkar di selangkang

di batu-batu itu, di ketinggian itu
dipahat riwayat birahi sepasang perayu

 

TAKWIL GUNUNG (4)

Prometheus pencuri ulung itu menyimpan nyala api di tebing-tebing itu!
kisah itu didongengkan simbok berkali-kali sebelum tidur sambil nembang kinanti

maka, semenjak kumiliki sepatu baru dan peliku disunat
kukhianati seluruh syahbandar, dermaga dan pulau
juga laut yang tiba-tiba di mataku menjadi titisan durga
perempuan yang mengangkang pasrah dilayari pulau-pulau.

lantas kutinggalkan melankoli sendu itu
mendaki segenap tebing dan julang:
“aku menyukai negeriku, tapi dongeng simbok adalah perayu ulung.kulambaikan tangan.
kudaki yang menjulang bukan sekedar mengarus. sebab firdaus ada di ketinggian bukan sekedar di kedalaman!”

dongeng simbok menuntunku pada celah-celah batu
serupa sisiphus menebak guratan-guratan batu
ruang dan modra tempat bersarang segala angin, bising, dan sunyi
tempat api itu disekap dalam rahasia ceruk kawah berbau mengur belerang

: simbok, simbok kutemukan api yang disingit promotheus si maling aguna itu. kini aku pewarisnya!

 

SAMADHI GUNUNG

/1/
biarkan dalam ketinggian menjulang ini aku sunya ruri, Gusti
biarkan rambutku memanjang dalam uban
sebab dalam warna kusamnya akan kukenal batas
seperti juga yang menjulang ini
pada batasnya akan lantak menjadi batu-batu
/2/
Gusti, jadikan tebing menjulang ini tempatku modra dalam bhavana
biar kutanggalkan sepuluh asubhaku, jalan lapang melebur samsara
lihatlah moha ini menutup segala panna hingga jalanku miring
seperti kepiting menyuruk menubruk segala benda membuatku mabuk
menghalang rintang menuju rumah nibbana.
Gusti, jadikan aku jatuh dalam sumarah menatap ketinggianMu
menjulang tak terduga menebus segala yang tak terbayang
/3/
di batu-batu ini yang menyimpan gelegak
lahar yang lapar pada batinku
ijinkan kupahat dan kudaras segala kidung
untuk memanggilmu, Gusti
melebihi segala adzan melampaui segala moksa
/4/
Gusti, aku sudah berada di puncak ketinggian ini
mencoba menguntit kemana Engkau sembunyi

di puncak ini kutatap jalan raya di kampung-kampung
menggoda dengan imbalan waktu, hingga tak secuil pun tersisa
hanya lelah tersenyum menatap kematianku.pelan-pelan
/5/

Gusti, di celah-celah batu ini, entah halimun atau lamunan memaksa pelupukku terbakar
mataku merabun tak kuasa meraba apalagi mengapai-gapai
jalanan terjal, padas-padas runcing, semak berduri, ular-ular meringis
jejakku bersimbah nanah gagal menerabas arah dan peta

di ujung terjal, jiwaku takluk terduduk bersimpuh
menatap langit sarang matahari tempat singgasanaMu

terlalu cepat aku tersengal dihalau risau
pasrah dan takluk pada puncak keheningan
:“sungguh aku ingin terjun ke pusat lembahMu”

/6/
bahkan setelah aku mendekam di ketinggian ini
masih juga belum sanggup kuterka ketinggianmu, Gusti.
isyarat-isyaratmu masih saja kabur dan lunar diterpa api doa
matahari itu lebih mencintai dengan baranya,
sedang aku acapkali hanya sanggup mengulang-ulang sumpah

dalam ketinggian ini, Gusti, janganlah bertiwikrama lagi
sungguh ruhku lelah mengumbar janji mendaki langit rahasiaMu

duh, Gusti, kaki dan hati tak sanggup lagi mendaki!

 

KERETA SENJA (3)

*) obituary Mas Iman

kereta masih saja melengking-lengking
terperosok dalam lorong-lorong senja.
rel-rel lurus tak berkelok
abai pada stasiun-stasiun yang letih

: laju-lajulah kereta, kuucapkan sayonara pada bumi yang khianat
kuucapkan selamat jumpa awan langit yang bersih!

kereta meluncur cepat melengking-lengking lintasi lorong-lorong senja
engkau menuju kota terakhir: kota cahaya sunya ruri yang putih
yang acap kali kau sebut dalam puisi!

 

GERIMIS

*) kwatrin alit buat Mas Iman

rintiknya menjelma megatruh yang nglangut
kabarkan warna candik ala di petang yang pucat
berkisah tentang riwayat dingin jadi sarang sunya ruri
tempat segala hari lunas dari janji waktu.

 

SEPERTI MUSAFIR

*) obituary Mas Iman

Seperti juga para musafir yang selalu dahaga, kau selalu sibuk bertanya sambil membolak-balik kitab, mungkin buku puisi tentang rahasia waktu yang konon lenyap bersama amblasnya buah-buah kuldi saat dijarah para khianat yang memburu peta-peta rahasia tempat kotak-kotak wasiat penyimpan kalkulator penghitung usia disingitkan.

Seperti juga para musafir lain, engkau pun gagal menghitung uban di kepalamu sendiri. Setiap kau buka kitab keramat itu maka burung-burung berterbangan, ikan-ikan berenangan. Burung-burung dan ikan-ikan bertubrukan, sayap dan siripnya lantas dikubur di palung antara langit dan samudera. Waktu sebentar lagi dikuburkan dalam-dalam, desahmu.

Para musafir seperti engkau selalu ingin sendirian bersedekap di keheningan sambil memandangi kalender-kalender kuno yang wingit sambil sesekali menghirup aroma kopi di cangkir seraya menyenandungkan serat dan suluk yang memanggil-manggil segenap roh untuk jadi juru tafsir menunjuk mana musim paling suci dan mana cuaca paling terkutuk.

Seperti para musafir lainnya, engkau selalu lupa tempat-tempat yang pernah kau singgahi dan selalu menggigil saat meriwayatkan para malaikat bermata ungu yang berkeliling membagi-bagikan kalender yang sarat bilangan-bilangan penat yang harus diterka dan ditafsir. Betapa lunglainya!

Para musafir seperti engkau selalu memburu sunya ruri yang tanpa jejak namun seperti firdaus tempat angin, hujan, musim kering, abu-abu, hijau, ungu berkelindan dan kau menyebutnya sebagai meditasi yang sesuci puisi yang sanggup luput dari dusta.

Seperti musafir yang lain, kau begitu rindu pada sebuah mata air atau telaga untuk mencelupkan tubuhmu kuyup-kuyup hingga rambutmu yang klimis menuliskan aksara-aksara yang membebaskan dari detak arloji yang memburu.

Duh, musafir engkau telah bebas dari waktu!

 

*Penyair, tinggal di Ngawi. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sedangkan studi Pascasarjananya di bidang Linguistik dan Kesusastraan diselesaikan pada tahun 2006, pernah studi di program doktoral Unesa. Buku puisinya “Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak” menjadi salah satu penerima anugerah buku puisi terbaik versi HPI di tahun 2016. Buku puisi terbarunya “Kitab Ibu dan Kisah-Kisah Hujan” (2019), menjadi salah satu buku puisi terpuji versi HPI tahun 2019.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *