Pos

Kegelisahan Metodologis di Balik Penulisan Metodologi Penciptaan Seni

Oleh: Kasiyan* “Ketika praktik menjadi pengetahuan, dan penciptaan menjelma riset, di sanalah seni berbicara sebagai cara manusia memahami dunia.” Tulisan ini merupakan refleksi penulis atas proses penyusunan buku Metodologi Penciptaan Seni: Refleksi Kritis dan Pendekatan Komprehensif (UNY Press, 2025), setebal 554 halaman, yang mengkaji paradigma dan praktik metodologi penciptaan seni dalam perspektif Practice-Based Research dan […]

Tubuh Buruh Pemetik Teh dan Sejarah yang Ditanam

Oleh : Selvi Agnesia Pertunjukan tari Akar Emas Hijau, mengangkat sejarah teh dalam konteks kolonialisme yang beririsan dengan sistem kapitalisme. Disampaikan lewat gestur tubuh-tubuh keseharian buruh pemetik teh yang didisiplinkan. Pencarian “Ketubuhan dan akar diri” adalah dua pondasi utama yang digunakan Ela Mutiara, koreografer asal Sukabumi-Jawa Barat sebagai landasan berkarya. Setelah sejak 2020, ia mengeksplorasi […]

Azuzan JG: Obsesi Pak Hombing Teater Realis itu harus memiliki Notasi Yang Jelas

Tahun ini akan terbit buku diktat penyutradaraan Wahyu Sihombing (almarhum). Diktat ini digunakan oleh Wahyu Sihombing tatkala mengajar di prodi teater IKJ. Diktat ini berisi tentang bagaimana menyutradarai teater realis. Secara sangat ilmiah dan jelas Wahyu Sihombing dalam diktat itu menjelaskan  prinsip-prinsip penting penyutradaran teater realis.Wahyu Sihombing juga mengajarkan bagaimana cara membedah adegan-adegan dalam naskah-naskah […]

Perlukah Kota Malang punya “amfiteater?”

 Ruang Kesenian yang lebih demokratis –   Oleh Yusuf Munthaha* — Sering terjadi dalam pertemuan tanpa agenda di kedai-kedai kopi yang menginvasi hampir setiap sudut Kota Malang saat ini,  seringkali muncul pertanyaan dan pernyataan retoris;  di kota yang menyebut dirinya Kota Pendidikan, kota yang melahirkan seniman, dramawan, penari, dan musisi dari puluhan lembaga pendidikan seni […]

Peta Buram: Membaca Wajah Perteateran Kota Malang

Catatan dari Forum Serat, DKM Malang — 15 April 2026 Oleh Yusuf Munthaha* Ada sesuatu yang menarik ketika Bayu Kresna Murti menyebut peta perteateran Malang sebagai “invisible map” — peta yang ada, tapi sulit dibaca. Bukan karena petanya hilang. Tapi karena kita mungkin belum cukup serius duduk bersama untuk menggambarnya. Forum Serat yang digelar Dewan […]

Pertunjukan Tanpa Sutradara: Ritual, Liminalitas, dan Performatifitas Tubuh di Pantai Parangkusumo

Oleh Ramanda Noviandri* Angin malam di Pantai Parangkusumo terasa lebih dingin dari biasanya. Pasir masih menyimpan sisa panas siang hari, tetapi udara laut yang bergerak pelan membuat tubuh merinding. Malam itu adalah Selasa Kliwon, salah satu malam yang dianggap memiliki energi spiritual kuat dalam kosmologi Jawa.  Saya datang bukan sebagai peziarah, juga bukan sebagai wisatawan. […]

Enlightened Javanese: Yasadipura, Ricklefs, dan Modernitas Jawa Abad ke-18

Oleh: Eko Yudi Prasetyo* Ada sesuatu yang tampak ganjil—bahkan nyaris kontradiktif—dalam cara M.C. Ricklefs berbicara tentang Yasadipura I, sebab Ricklefs pernah ikut menempatkan Yasadipura I pada puncak kanon pujangga keraton Jawa. Ricklefs sendiri secara eksplisit menulis bahwa ia pernah mendeskripsikan Yasadipura I sebagai “one of the greatest court poets in the history of Modern Javanese […]

Melacak Jejak Metateater Payung Hitam: Ketika yang Tersisa Hanya Tubuh

Catatan Herry Dim* SUATU ketika atau bisa juga seperti yang kita rasakan saat ini, bahwa tidak ada lagi yang kita miliki selain tubuh. Lakon seperti “Ben Go Tun” (Saini KM) yang mengeritik masalah sosial seperti penipuan, kebohongan, dan kolusi hingga “Menunggu Godot” (Samuel Beckett) yang di dalam psikologi kita seperti halnya menunggu datangnya keadilan1, itu […]

Teater sebagai Pilihan Sikap: Alienasi Publik dan Masa Depan Kritik Seni

Oleh Eko Yuds* Catatan kecil dari malam ketiga puasa tetap menjadi pintu masuk yang paling jujur bagi kegelisahan ini. Saya menyempatkan diri berkunjung ke kediaman seorang teman—sosok yang menurut saya cukup menarik, cerdas, loyal, dan setia kawan. Kami berbuka dengan kudapan sederhana dan secangkir kopi yang aromanya seperti sengaja mengundang percakapan panjang. Dari obrolan ringan, […]

Utopia Pertunjukan: Ketika Seni Menolak Menjadi Sekadar Simulasi

Oleh Eko Yuds* Antara Tubuh Yang Hadir Dan Bayangan Yang Diproduksi Layer Apakah seni pertunjukan masa depan masih membutuhkan tubuh manusia, atau cukup layar, sensor, dan algoritma yang bergerak rapi seperti mesin kasir emosi. Dunia hari ini memproduksi pengalaman visual dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara waktu kontemplasi manusia justru semakin menyempit. Teknologi […]