Kim dan Nara Yang Hidup (Krisis Eksistensial Perempuan Modern)

Oleh: Madin Tyasawan MONOPLAY FESTIVAL 2026 Gagasan menarik. Ide menyelenggarakan event yang amat jarang ditemui ini adalah perhelatan yang patut diapresiasi. Monoplay Festival 2026 yang digagas oleh Teuku Rifnu Wikana dan Krisna Aditya ini digelar selama tiga hari (23-25 September 2026) di beberapa venue di Taman Ismail Marzuki. Pada hari pamungkasnya, saya menyaksikan pentas Monoplay […]

Mempertimbangkan Drama wayang

Oleh: Punawan Andra* Tradisi yang Terus Bergerak Belakangan ini, dalam dunia seni pertunjukan kita, kerap dibicarakan istilah drayang. Istilah ini merujuk pada drama wayang, sebuah bentuk pertunjukan yang mempertemukan wayang dengan drama, tari, musik, tata visual, dan berbagai perangkat panggung. Swargaloka (Jakarta), adalah kelompok seni yang kerap memunculkan istilah ini dalam karya-karyanya. Oleh mereka, istilah […]

Venue Seni: Ujung Tombak Pemajuan Kebudayaan

Oleh: Bambang Prihadi Kunjungan Komisi E DPRD DKI Jakarta ke Taman Ismail Marzuki pada 21 September 2026 patut dibaca lebih dari sekadar agenda kerja kelembagaan. Kunjungan tersebut memiliki arti strategis sekaligus simbolik bagi pemajuan kebudayaan Jakarta. Strategis, karena membuka ruang dialog yang lebih kuat antara wakil rakyat, pemerintah, pengelola kawasan, lembaga kesenian, dan pelaku seni. […]

Cello Asep Hidayat dan Tiga Zaman  Musik Kontemporer Indonesia

Oleh: Aristofani Fahmi* Jumat malam, 28 Agustus 2026, Teater Wahyu Sihombing dalam kondisi remang ketika Asep Hidayat berjalan ke tengah panggung membawa cello. Selama satu setengah jam berikutnya, ia membawakan sembilan karya solo cello karya komponis Indonesia, dari yang ditulis tahun 1960 sampai karya generasi termuda hari ini. Pertunjukan bertajuk Suara Nusantara: Suara Cello Menyusuri […]

(Festival) Tari dan Produksi Pengetahuan

Oleh: Purnawan Andra *   Dalam dua dekade terakhir, ekosistem festival tari di Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin beragam. Indonesian Dance Festival (IDF) tetap menjadi rujukan utama bagi tari kontemporer Indonesia, sementara sejumlah festival lain, termasuk Jakarta International Contemporary Dance Festival (JICON), mulai menghadirkan ruang-ruang baru bagi pertunjukan, percakapan, lokakarya, dan kolaborasi lintas negara. Perkembangan […]

Di Desa Tambi Puspasari Mancari Diri

Oleh: Supali Kasim* Pencarian apa bagi penari Ni Kadek Yulia Puspasari di Desa Tambi? Awalnya ia menunjukkan gerak tari Pendet. Hanya berbusana biasa, bukan busana tari Bali. Gamelan yang mengiringi juga berasal dari audio sederhana, tetapi menggema. Puspasari seakan-akan menunjukkan perjalanan awalnya memang berakar dari Bali. Tetapi, di sini, terlihat sekali ia tidak mengabarkan sebagai […]

Komunitas Lima Gunung dan Subversi Politik Kebudayaan

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Ditengah perkembangan politik negeri terbesar keempat dari jumlah penduduk yang semakin represif, yang dibutuhkan tidak hanya politik resistensi tetapi politik subversi. Melihat persiapan dan menyaksikan Festival Lima Gunung yang baru usai diselenggarakan di Dusun Warangan, sebuah dusun di lereng Gunung Merbabu; geliat politik subversif itu kuat dirasakan. Perkembangan politik di negeri kepulauan […]

Mati Hidup Topeng Kranggan

Oleh: Muhammad Nasai* Topeng Malang dan perkembangan, serta sejarahnya tidak bisa lepas dari satu daerah yang bernama  Kranggan. Desa Kranggan, kecamatan Ngajum Kab, Malang yang letaknya berada di lereng Gunung Kawi.  Kranggan sendiri adalah daerah kuno, yang mana telah ada sejak era kerajaan, hal ini terlihat dari adanya peninggalan situs kerajaan era Singhasari. Situs peninggalan […]

Resep Koreografi dalam “The Kitchen Under Skin” oleh Kenta Masukawa

Oleh: Razan Wirjosandjojo Remang lampu panggung menyinari Kenta yang sedang intim dengan bahan-bahan dan peralatan masaknya. Langkahnya menyeberangi ruang dalam keheningan, menuju kompor di hadapannya. Ia menyentuh lembut panci yang bertengger di atasnya. Dengan seksama, ia meraba isi panci itu, lalu perlahan meremas butiran-butiran beras yang basah. Pada layar yang menggantung tegak di sisi tengah-belakang […]

Dekonstruksi Madipa Deapati di Panggung Kontemporer

Oleh: Yusuf Susilo Hartono* Koreografer dan akademisi Wa Ode Siti Marwiyah Sipala (Wiwiek Sipala) , dengan pertunjukan terbaru Pilihan Madipa Deapati, menempatkan kembali epik romantik sastra lisan Dato Museng dan Maipa Deapati ke dalam medan seni tari kontemporer, dengan pembacaan ulang wacana gender. Epik dari lokus Bugis–Makassar–Sumbawa tradisional tersebut, ratusan tahun hidup dalam bentangan sastra […]