Di Desa Tambi Puspasari Mancari Diri

Oleh: Supali Kasim* Pencarian apa bagi penari Ni Kadek Yulia Puspasari di Desa Tambi? Awalnya ia menunjukkan gerak tari Pendet. Hanya berbusana biasa, bukan busana tari Bali. Gamelan yang mengiringi juga berasal dari audio sederhana, tetapi menggema. Puspasari seakan-akan menunjukkan perjalanan awalnya memang berakar dari Bali. Tetapi, di sini, terlihat sekali ia tidak mengabarkan sebagai […]

Komunitas Lima Gunung dan Subversi Politik Kebudayaan

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Ditengah perkembangan politik negeri terbesar keempat dari jumlah penduduk yang semakin represif, yang dibutuhkan tidak hanya politik resistensi tetapi politik subversi. Melihat persiapan dan menyaksikan Festival Lima Gunung yang baru usai diselenggarakan di Dusun Warangan, sebuah dusun di lereng Gunung Merbabu; geliat politik subversif itu kuat dirasakan. Perkembangan politik di negeri kepulauan […]

Mati Hidup Topeng Kranggan

Oleh: Muhammad Nasai* Topeng Malang dan perkembangan, serta sejarahnya tidak bisa lepas dari satu daerah yang bernama  Kranggan. Desa Kranggan, kecamatan Ngajum Kab, Malang yang letaknya berada di lereng Gunung Kawi.  Kranggan sendiri adalah daerah kuno, yang mana telah ada sejak era kerajaan, hal ini terlihat dari adanya peninggalan situs kerajaan era Singhasari. Situs peninggalan […]

Resep Koreografi dalam “The Kitchen Under Skin” oleh Kenta Masukawa

Oleh: Razan Wirjosandjojo Remang lampu panggung menyinari Kenta yang sedang intim dengan bahan-bahan dan peralatan masaknya. Langkahnya menyeberangi ruang dalam keheningan, menuju kompor di hadapannya. Ia menyentuh lembut panci yang bertengger di atasnya. Dengan seksama, ia meraba isi panci itu, lalu perlahan meremas butiran-butiran beras yang basah. Pada layar yang menggantung tegak di sisi tengah-belakang […]

Dekonstruksi Madipa Deapati di Panggung Kontemporer

Oleh: Yusuf Susilo Hartono* Koreografer dan akademisi Wa Ode Siti Marwiyah Sipala (Wiwiek Sipala) , dengan pertunjukan terbaru Pilihan Madipa Deapati, menempatkan kembali epik romantik sastra lisan Dato Museng dan Maipa Deapati ke dalam medan seni tari kontemporer, dengan pembacaan ulang wacana gender. Epik dari lokus Bugis–Makassar–Sumbawa tradisional tersebut, ratusan tahun hidup dalam bentangan sastra […]

JERUJI EMAS PANGGUNG REOG

Oleh: Suroto* Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) 2026 terlah berakhir dengan eforia bagi para pemenang. Namun, gaungnya masih terasa hingga hari ini dengan munculnya kritik keikutsertaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur dan berbagai komentar pro dan kontranya. Tulisan ini tidak bermaksud memperpanjang polemik tersebut tetapi sebuah bentuk kegelisahan sebagai penonton yang hadir saat […]

Realisme Tragik Dardanella dan Sejarah Teater Realis Kita

Oleh: Seno Joko Suyono* Naskah dr Samsi yang ditulis Anjar Asmara dan dimainkan Dardanella pertama kali pada akhir Januari tahun 1931 di Medan (yang di dramatic readingkan mahasiswa-mahasiswa teater IKJ pada Sabtu, 28 Juni untuk menyambut 100 tahun Dardanella)  boleh dibilang merupakah bibit bagi munculnya naskah naskah realisme Indonesia. Naskah ini seratus persen  mengangkat kisah […]

Degradasi Topeng Malang: Catatan dari Rumah-Rumah yang Pelan-Pelan Sepi

Oleh: Muhammad Nasai* Ketika Saya Mengira Topeng Malang Hanya Ada di Pakisaji Ada masa ketika saya sungguh percaya bahwa Topeng Malang hanya hidup di satu tempat. Keyakinan itu bukan lahir dari kesimpulan ilmiah, bukan pula dari penelitian panjang, melainkan dari jalur yang sederhana dan umum terjadi: informasi yang tersedia. Apa yang paling sering disebut, paling […]

Tubuh adalah Tanah yang Tertunda

Oleh : Suroto M.Sn. Catatan Dramaturg atas “Mantau: Hutan yang Tidak Memberi Izin Bagaimana cara membalik panggung semen yang beku, lalu menumbuhkan hutan di atasnya? Pertanyaan ini bukan sekadar urusan teknis tata panggung (scenography), melainkan sebuah gugatan ontologis yang mendasar. Dalam karya koreografi “MANTAU: Hutan yang tidak Memberi Izin” karya Raflesia Meirina, yang dipresentasikan dalam […]

Teater sebagai Infrastruktur Rasa: Membaca Proposal Kota: Mimpi adalah Mimpi sebagai Pesta Rakyat Urban

Oleh: Eko Yuds* Proposal Kota: Mimpi adalah Mimpi tidak berhenti sebagai pertunjukan teater. Karya ini bergerak lebih jauh menjadi peristiwa warga, ruang percakapan, arena sosial, dan pesta rakyat urban. Karya ini terbaca dari pengalaman langsung di tengah kerumunan, ketika panggung, warga, hujan, pedagang, dan percakapan melebur menjadi satu peristiwa kebudayaan. Teater dalam peristiwa ini tidak hanya […]