Pos

Mahkota dari Sampah, Doa dari Lampu Merah: Kritik atas Seni Jalanan yang Terlupakan

Oleh: Elvin Anderson* Setiap sore, ketika matahari mulai bergerak ke barat, dan kendaraan mulai mengular di perempatan Prawirotaman, Yogyakarta, seorang pria setengah baya dengan tubuh dibaluti kostum warna hijau menyala muncul dari balik pagar SPBU. Dengan perlahan, dia merapikan aksesoris kepala yang terbuat dari kumpulan sendok plastik bekas yang disemprot warna emas, dibentuk bagaikan mahkota, […]

Aku Ora Rumongso Diduweni: Taman Gandrung Terakota, Penipuan Royalti, dan Perlawanan Sunyi Seorang Maestro

Oleh : Elvin Anderson* Sore itu, 11 April 2026, angin dari kaki Gunung Ijen membawa dingin yang menusuk namun anehnya menghangatkan dada. Saya duduk di bangku amphitheater Taman Patung Terakota, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Di hadapan saya, ribuan patung tanah liat berdiri bisu. Tapi saya menangkap mereka tidak bisu. Mereka menari. Di depan, seorang perempuan tua […]

Mencari Celah Tumbuh dan Berkembangnya Sastra di Kampus Banyumas

Oleh: Bayu Suta Wardianto* Saya sebetulnya kurang begitu percaya, lembaga pendidikan (khususnya universitas) dapat menghasilkan para penulis hebat, apalagi sastrawan. Walaupun kita tidak bisa mengesampingkan bahwasanya kampus memiliki andil penting dalam membentuk pola pikir siapapun yang berada di dalamnya –tidak hanya mahasiswa yang belajar– tetapi juga pengajarnya. Sederet nama-nama besar sastrawan Indonesia seperti Pramoedya Ananta […]

Kafka Pulang ke Eropa sebagai Wayang

oleh : Sigit Susanto* Langit kota Zug biru bertabur cahaya matahari hangat, Sabtu, 9 Mei 2026. Kafe Zündhölzli yang berada di depan stasiun kereta api Zug, tepatnya di Alpenstrasse. 13, kota Zug mulai didatangi tamu. Pentas wayang kulit lakon Metamorfosis karya Kafka akan digelar dua kali dari pukul 15.30-16.15 dan 17.00-17.45. Menjelang pukul 15.00 beberapa […]

Estetika di balik “Tari Gandrung”

Oleh: Brusheila Devi Proboyasti* Refleksi Kritis atas Pengalaman di Jiwa Jawa Ijen dan Taman Gandrung Terakota – Banyuwangi Seni sebagai Pengalaman Hidup Seni pertunjukan, terutama tari tradisional, kerap dipahami masyarakat sebagai sekadar tontonan yang indah dan menghibur. Namun, pemahaman semacam itu melupakan hakikat terdalam dari seni itu sendiri, yaitu sebagai pengalaman hidup yang utuh dan […]

Dua Timur, Satu Pesona Gandrung

Oleh: Almeida Ganefabra*     Perjalanan akademik sering kali dipahami sekadar sebagai kegiatan belajar di luar ruang kelas. Padahal, di balik agenda resmi, selalu tersimpan pengalaman manusiawi yang jauh lebih berkesan daripada catatan materi kuliah. Begitulah yang saya rasakan saat mengikuti eskursi akademik ke Banyuwangi, sebuah perjalanan menuju ujung timur Pulau Jawa yang menghadirkan sensasi […]

TALK SHOW & RETREAT 2026 BHANTE SUJATO “BE. HERE. NOW.”

TALK SHOW & RETREAT 2026 BHANTE SUJATO “BE. HERE. NOW.” PELUNCURAN BUKU “ASK BHANTE” Bhikkhu 33 vassa. Tradisi hutan silsilah Ajahn Chah. Pendiri website SuttaCentral. Penerjemah Tipitaka. Pendiri Pertapaan Lokanta, Sydney. WAISAK PUJA ============ JAKARTA Minggu, 31 Mei, 14.30 V. Dharma Sukha 1.500 kursi 081283604671   TALKSHOW ========== PEKANBARU Selasa, 2 Jun, 18.00 Hotel Furaya […]

Tubuh yang Cair dalam Persimpangan Budaya

Oleh: Brusheila Devi Proboyasti* Kritik atas “Bedhaya Hagoromo” dalam Indonesian Dance Festival 2024 Pada 2 November 2024, rangkaian Indonesian Dance Festival (IDF) 2024 resmi dibuka di Jakarta. Festival dua tahunan yang telah lama menjelma menjadi ruang penting bagi perkembangan tari kontemporer, baik di kancah nasional maupun internasional, pada festival tersebut mengusung tema “Liquid Ranah”. Tema […]

Menari dalam Perubahan Zaman

Oleh Purnawan Andra* Hari Tari Internasional setiap 29 April sering kita rayakan dengan panggung, kostum, dan pertunjukan yang tertata rapi. Tari tampil sebagai sesuatu yang indah, terlatih, dan layak ditonton. Namun di balik perayaan itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan: bagaimana nasib tari di tengah perubahan kehidupan kita hari ini? Apakah ia masih hidup sebagai […]

Museum Penataran Blitar: Meruwat, Merawat, dan Mengingat Sejarah dalam Ruang Pamer

Oleh Galih Qodry Azizi* Museum Penataran Blitar dalam kunjungan menghadirkan suasana yang tenang. Ruang pamer terasa rapi dan tertata. Deretan artefak batu berdiri kokoh di atas pedestal kayu yang kini bewarna kuning pastel. Cahaya masuk dari pintu museum dan membentuk siluet halus pada permukaan arca. Kesan awal yang muncul bukan hanya tentang melihat benda lama, […]