Pos

Seni dalam Perenungan Sosiologis

Oleh Jonnie Kirman  Menyertai Pameran Senirupa dengan tema “Mendengarkan dan Merayakan perbedaan” pada tanggal 15 Mei 2022 di Gereja Santo Aloysius Gonzaga, Surabaya, Jawa Timur, Sebagai salah satu seniman yang turut serta pada pameran tersebut, memberikan penelaah dari sudut pandang kesejarahan Senirupa dengan Gereja, dan realitas kehidupan senirupa Indonesia secara umum, khususnya dalam pameran tersebut.  Melihat […]

Kenanglah Selalu Revolusi Ngendon

Oleh Agus Dermawan T. Amat banyak pelukis yang terlibat di medan perang. Sebagian besar selamat. Namun ada yang berakhir dengan kisah memilukan. Abas Alibasyah (1928-2016), pelukis dan penerima Satyalancana Peristiwa Perang, bercerita : banyak perupa ikut maju ke medan perang pada 1942-1949. Namun sebagian besar luput dari sasaran peluru. Karena laskar seniman umumnya bekerja seperti pasukan […]

Antara ruangrupa dan Roger Waters

Oleh Jendoel Hadi Santosa Documenta ke-15 di Kassel, Jerman yang dikuratori ruangrupa menjadi perhatian dunia. Seperti kita ketahui terjadi polemik atas penurunan instalasi “People’s Justice“ karya kelompok Taring Padi, Indonesia. Karya itu berbentuk banner sepanjang sekitar dua belas meter dengan tinggi sekitar delapan meter yang penuh sesak dengan figur campur-baur yang berjudul “People’s Justice” yang dibuat dua […]

Membaca “Garis Merah” Lukisan I Ketut Suwidiarta

Oleh I Made Kridalaksana* Karya seni, apa pun bentuknya, kalau sudah disuguhkan ke ranah publik hak interpretasinya sudah menjadi milik publik. Dominasi pemaknaan sudah bukan mutlak berada pada senimannya lagi. Hal ini disadari betul oleh I Ketut Suwidiarta terkait karya-karyanya pada pameran tunggal yang bertajuk “Crossing the Red Line” di Komaneka Gallery-Ubud, dari tanggal 4 […]

Sejarah Warna Merah dari Bongkasa

Oleh Jayakumara* Oo yeah… I’m the great pretender… Freddie Mercury, Great Pretender. 1 Teratai adalah nama seorang mahasiswi usia 18 tahun yang karena begitu miskinnya bersedia untuk dipoligami oleh seorang tuan tanah di desanya. Sang tuan tanah sendiri sudah memiliki tiga istri dan dengan demikian Teratai adalah istri keempat dari sang tuan tanah. Sesuai tradisi […]

Pirous

Oleh Syakieb Sungkar* Pak Pirous itu seumuran ayah saya. Hanya bedanya, ayah saya sudah lama mati sedangkan Pirous tetap segar bugar sampai sekarang. Ia dilahirkan sebagai Abdul Djalil Saifuddin Pirous, di Meulaboh, pada 11 Maret 1932. Dugaan saya kenapa ayah begitu cepat meninggal dunia, karena: pertama – sudah maunya Tuhan, kedua – ayah saya berbadan […]

Kisah di Balik Lukisan yang Batal Dipinjamkan (Dari Pameran “Revolusi!” di Rijksmuseum, Amsterdam)

Oleh Agus Dermawan T. Tujuh lukisan koleksi Istana Presiden batal dipinjamkan ke Rijksmuseum. Mengapa? Banyak kisah unik di balik lukisan-lukisan yang bernominal amat tinggi itu. Sepanjang 11 Februari sampai 5 Juni 2022 Rijksmuseum Amsterdam menggelar pameran besar berjuluk “Revolusi! Indonesie Onafhankelijk” (Revolusi! Indonesia Merdeka). Pameran ini dikutarori oleh Amir Sidharta, Bonnie Triyana dari Indonesia, dan […]

Wayang Jamur dan Visual Alien, Sebuah Kemungkinan

Oleh Dina Lestari* Wayang  jamur belum pernah dicoba direalisasikan siapapun. Sejak tahun 2021 saya memiliki gagasan  membuat wayang dari bahan fermentasi jamur. Saya melakukan riset mengembangkan wayang kulit kontemporer dengan material kulit organik yang terbuat dari fermentasi mycelium atau jamur. Apa alasan yang mendorong saya untuk membuat wayang kontemporer berdasarkan bahan jamur? Wayang kulit merupakan […]

Kisah Kuat dan Kesenian Alternatif Kolong Jembatan

Oleh Karen Hardini* 1 Isu hubungan seni dan lingkungan  kerap  diangkat pada tataran publik yang lebih luas. Saya teringat  sosok Romo Mangunwijoyo. Bagaimana ia turut membangun mentalitas warga Kali Code. Romo mengajarkan warga Code tidak membuang sampah sembarangan serta membangun Kali Code menjadi indah, dengan arsitektur yang unik. Saya juga ingat Tisna Sanjaya di Bandung. […]

Pada Sampul yang Terpuji

Oleh Wahyudin Lima tahun lalu, saya menutup esai “Sampul”—yang terbit di sebuah media daring yang kini sudah tutup—dengan kata-kata gegabah ini: “Celakanya, perkembangan estetik dan pencapaian artistik sampul buku di republik ini belum beranjak jauh dari apa yang dikerjakan penerbit Pustaka Jaya, Ong Hari Wahyu, dan Buldanul Khuri.” Tiga buku terbitan Yayasan Bentang Budaya dan […]