Obituari: Lanny Andriani
Oleh Agus Dermawan T.*
Patricia Lanny Andriani dikenal sebagai pelukis, guru melukis dan sekaligus penyelenggara pameran seni lukis. Sejak tahun 1980-an namanya tidak pernah lepas dari kegiatan seni rupa. Setelah berkiprah lebih dari 40 tahun, setelah mengarungi hidup yang meriah sekaligus rumit, ia pergi tanpa pamit.
———–
PADA minggu pertama April, isteri saya Iliana Lie, menunjukkan foto kembang sepatu di layar handphonenya. “Ini kembang sepatu dari Lanny. Setelah lama sekali ditunggu akhirnya mekar minggu ini. Merahnya bercahaya sekali,” katanya. Dua emak ini sama-sama menggemari kembang sepatu (Hibiscus). Beberapa kali keduanya bertukar bunga dengan happy. Ia lalu mengirimkan foto kembang sepatu itu ke Lanny.
Tapi pesan foto itu tidak berjawab. Mungkinkah Lanny sedang sibuk? Sangat mungkin. Lantaran pada hariu-hari itu ia harus menyelesaikan lukisan untuk tiga pameran, yang waktunya hampir bersamaan. Di Galeri Semarang, di Galeri 75 – Jakarta dan di Sunrise Art Gallery – Hotel Fairmont, Jakarta. Sementara untuk pameran terdahulu, yang diselenggarakan di Neo Gallery Jalan Tanah Abang, lukisan telah diserahkan.
Beberapa hari kemudian Iliana mendapat kabar bahwa Lanny sedang sakit. HNP (Hernia Nukleus Pulposus) atau syaraf terjepit di punggungnya kembali mengganggu, sehingga ia lemah untuk bertindak. Beberapa hari kemudian terdengar kabar ia masuk rumah sakit. Konon komplikasi. Lanny pun terbaring di ICU.

Patricia Lanny Andriani (1949 – 14 April 2026). Pelukis, guru seni lukis dan pelaksana pameran seni rupa Indonesia. (Foto: Agus Dermawan T).
Selalu yang indah
Lanny adalah pelukis yang berangkat dari akar sangat jelas. Pendidikannya adalah ilmu eksterior dan interior. Satu jurusan yang menuntut penciptaan elemen dan komponen estetik, lantaran eksterior dan interior adalah wahana yang meladeni kenyamanan privat dan publik. Basis ini mendorong penciptaannya kepada paradigma yang mengacu kepada dua hal, yakni karya seni yang enak dipandang mata, dan karya seni yang bisa diaplikasi ke ruang massa. Kedua hal itu menuntun kreasinya ke arah seni yang selalu saja indah.
Karya-karya Lanny sejak lama memang mendekat-dekat kepada obyek tanaman, perdu dan terutama bunga. Selama puluhan tahun bunga diladeni dengan segenap keterampilannya. Kekerapan menggarap bunga ini diam-diam melahirkan intensitas penghayatan. Sehingga lukisan-lukisannya pada periode terakhir kadang sudah “melampaui obyek”. Bunga tidak lagi direkam sebagai alam benda, atau benda semesta, namun digunakan untuk menyampaikan isi hati. Apa yang dilakukan Lanny terhadap bunga mengingatkan saya kepada pelukis perempuan modern Amerika Giorgia Totto O’ Keeffe pada abad 20.
Lanny, yang bernama asli The Siok Lan, lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 1949. Tahun 1968 ia belajar seni di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia, “Asri” Yogyakarta, jurusan Seni Dekorasi. Ketika di “Asri” ia dekat dengan Widajat, yang kala itu menjadi dekan (kepala jurusan). Semua orang tahu bahwa Widajat adalah pelukis papan atas yang selalu mengajak semua orang untuk melukis. Lanny pun terseret. Sekumpulan bunga anggrek hutan yang sering dijadikan aksentuasi dalam lukisan Widajat, dijadikan sebagai titik perhatian.
“Aneh, sejak itu saya selalu ingin melukis bunga. Mungkin ini bentuk penghormatan diam-diam kepada guru saya,” katanya.
Dengan lukisan-lukisan berobyek itu ia mengusung kariernya ke mana saja. Dengan corak yang manis (dan laris) ia bertandang ke banyak negara, bersama sejumlah temannya.
“Karya saya pernah dipajang dalam pameran di Perth tahun 1994. Di International Art Exhibition di Vancouver, Kanada, 1997. Di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Belanda, tahun 2002 dan 2003. Di Brunei Darussalam tahun 2004. Juga di Roma, Itali, tahun 2007. Selain tentu lebih dari 50 pameran bersama, yang saya ikuti sejak 40 tahun lalu,” ia menjelaskan.
Lanny juga dikenal ringan tangan dan enteng kaki, sehingga ia sangat sering direkrut oleh organisasi untuk anut grubyuk.

Lukisan Lanny Andriani, “My Beautiful Flowers”. (Foto: Agus Dermawan T)

Lukisan Lanny Andriani, “White Flower For You” bersama kolektornya, Tossin Himawan dan Lena Tossin. (Foto: Dokumen)
Pada tahun 1993 sampai awal tahun 2000-an ia aktif di YSRI (Yayasan Seni Rupa Indonesia). Dalam perkumpulan yang dipimpin oleh Titiek Soeharto dan Susrinah Sastrowardoyo ini ia sangat banyak berjasa.
Debutnya dimulai ketika YSRI bersama Bradburry International mengadakan The Jakarta International Fine Arts Exhibition pada Oktober 1994, di Jakarta. William R.Burris (Bradburry) mengajak 11 galeri penting dunia, dan saya (sebagai kurator) mengumpulkan 10 galeri besar Indonesia, untuk pameran bersama di Hotel Shangri-la. Lanny ditunjuk sebagai pelaksana pameran dan penataan ruang. Pada tahun-tahun berikutnya Lanny dipercaya oleh YSRI untuk mengorganisasi pameran keliling para pemenang dan finalis Indonesia Philip Morris Art Award ke Bandung, Yogyakarta, Surabaya sampai Bali.
Di YSRI keterampilan Lanny sangat dibutuhkan. Sehingga dalam sejumlah event penting di luar kompetisi, seperti acara pengumpulan dana lewat lelang karya, Lanny selalu dilibatkan. Ia tak cuma cekatan dan rapi dalam mengkoordinasi semua aspek pemajangan, tapi juga pandai memilih orang untuk terlibat dalam seksi-seksi. Hasilnya, semua berjalan lancar serta menghasilkan “nominal besar”. Satu prestasi yang acap tidak dihiraukan oleh para pelaku seni yang hipokrit soal uang. (Meski diam-diam mereka merindukan, ketika menyadari bahwa uang sesungguhnya adalah bantalan.)
Itu sebabnya dalam denyut organisasi besar yang mengadakan event besar, Lanny selalu saja ada. Ketika pada 2002 dan 2003 perusahaan pangan Indofood menggelar Indofood Art Award, Lanny tampil sebagai “orang inti”.
Pada tahun 2010 Lanny mendengar bahwa UOB-POY (Painting of The Year ) – yang sudah belasan tahun diselenggarakan di Singapura dan beberapa negara Asia Tenggara – akan digelar di Indonesia. Ia ditawari sebagai EO (Event Organizer). Menariknya, dan tidak diduga, Lanny bersedia jadi EO asal koordinator kompetisi ini, dan sekaligus koordinator dewan juri adalah ADT, saya, Agus Dermawan T. “Saya sangat percaya Pak ADT,” ujar Lanny.
Sementara dari pihak UOB mengatakan bahwa sejak awal nama ADT sudah digadang-gadang. Bahkan saya kemudian dikontrak menjadi juri “seumur hidup”. Saya pun besar kepala, sampai susah mengenakan topi ukuran apa saja.
Hasil dari UOB-POY tahun 2011 sampai 2015 cukup memuaskan. Dari lima kali kompetisi, Indonesia tiga kali memenangkan UOB Southeast Asian Painting of The Year. Yakni untuk tahun 2012, 2014 dan 2015.
Kompetisi besar ini melibatkan juri nasional dan regional. Seperti Suwarno Wisetrotomo, Jean Couteau, Kwok Kian Chow (Direktur dan pendiri Singapore Art Museum dan National Art Gallery, Singapura), Richard Winkler (perupa Swedia), Amir Sidharta, Kuss Indarto, Edwin Rahardjo, Choo Thiam Siew (Presiden Nanyang Academy of Fine Art, Singapura), Rifky Effendy, Watie Moerany Santosa, Santi Saptari dan saya sendiri. Atas pilihan nama-nama juri itu Lanny ikut merekomendasi.
Lanny mendapat penghormatan.
Setelah lima kali berturut-turut menjadi juri, menjelang tahun 2016 saya mengundurkan diri dari UOB-POY. Dalih saya, agar “warna kompetisi menjadi berbeda”. Lucunya, Lanny juga ikut mundur sebagai EO. Alasannya: “agar pelaksaaan pamerannya juga berubah.”
Yang harus diapresiasi, dalam berbagai acara besar yang ditangani itu, Lanny tidak pernah berhasrat mengikutkan karyanya. Padahal boleh saja. “Ini untuk mereka yang berlomba. Saya kan cuma nyambut gawe,” katanya.

Lukisan Lanny Andriani, “Popies”. (Foto: Agus Dermawan T)

Lukisan Lanny Andriani, “Among The White”. (Foto: Agus Dermawan T)
Pengalamannya sebagai pelaksana pameran seni rupa di mana-mana membuka peluang Lanny untuk menggelar pameran di banyak tempat. Ia pun menyelenggarakan pameran lukisan di berbagai mal besar secara berkala di Jakarta. Dan yang tak boleh dilupa, Lanny juga aktivis organisasi IWPI (Ikatan Wanita Pelukis Indonesia), serta penyelenggara kursus melukis. Para isteri menteri, selebritas dan keluarga presiden menjadi muridnya.
Dalam beberapa acara, Titiek Soeharto (Ketua aneka program YSRI), tak henti memperhatikan kerja Lanny. Dan ia mengutus saya (sebagai Wakil Ketua) untuk cermat mengamati. Atas pengamatan yang saya lakukan, laporan saya selalu terbilang: “Kerja Lanny istimewa, Mbak. Semuanya beres res res!”
Atas jawaban itu Titiek Soeharto selalu tertawa. “Lha iyo. Wong sampeyan kancane!” (Lha iyalah, ‘kan kamu teman baiknya!)
Sahabat setengah abad
Saya memang teman baiknya. Saya berjumpa dengan Lanny pada 1971, atau 55 tahun lalu! Saya mengenal dia sebagai “rakanita” yang “kejam” dalam arena perpeloncoan di STSRI “Asri”. Teringat benar, kala itu saya disuruh menyembah di ujung lututnya. Setelah perploncoan, saya dekat dengannya. “Saya suka bergurau. Kalau nggak begitu, badan gatel semua,” katanya.
Tahun berbilang. Saya telah bermukim di Jakarta, dan Lanny di Bekasi. Saya dengar ia bekerja di biro travel. Tak jelas, apa hubungan seni rupa dengan tamasya. Namun akhirnya diketahui, kemampuannya dalam berbahasa Inggris dan sedikit Prancis, menaruh dirinya sebagai agen komunikasi ke luar negeri.
Pada suatu periode saya bekerja sebagai penulis tetap bidang seni rupa di majalah Laras. Di majalah itu eh, kerap muncul gambar desain interior dan eksterior rancangan Lanny. Saya lantas terhubung lagi. Lanny kadang juga mengirim karyanya ke majalah Femina. Saat itu saya bekerja di majalah Gadis, yang satu atap dengan Femina. Di situ saya bertemu dengan Lanny, setelah berbilang tahun tak berjumpa.
Di Bekasi, Lanny menjadi pengurus Alasta (Alumni Asri Jakarta dan sekitarnya) yang jumlah anggotanya hampir 100. Tiap kali para perupa Alasta pemeran bersama, saya diminta membuat artikel pengantarnya. “Saya harap tiga hari sudah jadi,” kata Lanny memaksa. Mengingat saya dulu pernah disuruh menyembah, maka saya menurut saja.
Lanny merasa bahwa dirinya perlu membantu memamerkan dan menjualkan karya pelukis sealmamater. “Banyak dari teman kita yang hidupnya repot,” ujarnya. Sementara lukisan Lanny sendiri sudah punya tempat dalam lingkaran pengoleksian. Di Istana Presiden Cipanas, di Museum Purna Bakti Pertiwi, di keluarga besar Rokok Djarum, di keluarga para petinggi Indonesia Raya, serta di dinding rumah dan kantor para kolektor di mana-mana.
Tahun demi tahun kami lewati. Saya dengar Lanny berpisah dengan suaminya. Dan si suami lantas menikah lagi dengan jodoh baru di Yogyakarta. Lanny yang jomblo berusaha dicarikan jodoh oleh para temannya. Ada pengusaha dari Cirebon yang menghampiri. Ada pelukis duda dari Bandung yang didekatkan. Namun Lanny, yang keras hati, berani, “terlampau tegas” dan ceplas-ceplos, memilih hidup sendiri.
Lalu – (ssssst!!!) – ihwal ia dan isteri mantan suaminya, ada cerita menarik.
“Isteri mantan suami saya kalau ke Jakarta selalu kabar-kabar. Dan kadang saya undang nginap di rumah saya di Bekasi. Kemudian kami bersama-sama ke Mangga Dua, belanja. Di Mangga Dua kadang saya bertemu dengan mantan suami saya. Hehehehe. Senang, ya,” kisahnya.

Lanny Andriani berdiri di belakang kursi rodanya, dengan ditemani Windi (manager pameran Artotel, Jakarta), Christiana Gouw (galeris) dan Amir Sidharta (kurator dan direktur balai lelang). (Foto : Agus Dermawan T).
Lanny, dan juga saya, tentu semakin tua. Karena kesehatan, tahun 2021 Lanny terpaksa duduk di kursi roda. Namun, ini hebatnya, dengan kursi roda itu ia tetap aktif berkunjung ke tempat pameran dan berbagai pertemuan. Sejumlah sahabatnya setia membantu dalam perjalanan.
“Kita ‘kan tinggal menunggu saja. Teman-teman saya di grup Indonesia Lima, tinggal saya dan Sri Hadhy. Yang lain, Sutripto, Idran Yusup dan Syaukat Banjaransari sudah duluan. Sambil menunggu, bukankah kita harus berbahagia?” ujarnya filosofis. Ah, menunggu apa?
Lalu pada satu pertemuan ia mendadak berkata.
“Gus, kamu selama ini selalu menulis obituari para pelukis dan perupa yang meninggal dunia. Hampir tak ada penulis lain yang perduli dan menuliskannya. Lha kalau kamu yang mati, siapa yang menulis kamu?”
Tentu saja menjawab cepat, “Malaikat!”
Pada hari Selasa, tanggal 14 April, saya mendapat kabar duka dari anak tunggalnya, Silvester Willy Koes. Ibundanya baru saja wafat, pukul 10.04 di Rumah Sakit Helsa Jatirahayu, Bekasi. Selanjutnya disemayamkan di Rumah Duka St. Carolus, Jakarta, untuk dimakamkan di San Diego Hills pada Kamis, 16 April 2026. Cerita pun, untuk sementara, berhenti di sini.
Akhirnya, selamat jalan Lanny Andriani, sahabat seni rupa Indonesia. Iliana titip kembang sepatu untuk menghias surga.***
*Agus Dermawan T. Kritikus. Penulis buku-buku budaya dan seni.





