Pos

The Brutalist: Arsitektur, Kekuasaan, dan Penebusan

Oleh: Bambang Supriadi ICS* The Brutalist (2024) film yang disutradarai oleh  Brady Corbet, mengisahkan perjalanan László Tóth. Ia seorang arsitek Yahudi asal Hungaria yang selamat dari Holocaust dan berusaha membangun kembali kehidupannya setelah bermigrasi ke Amerika Serikat pada akhir Perang Dunia II. Sebagai imigran dengan masa lalu yang penuh luka, ia berharap dapat memulai hidup […]

Film Tari, Membaca Kebudayaan

Oleh: Purnawan Andra* Di masa kini, penyebaran unsur-unsur kebudayaan berlangsung sangat cepat, salah satunya melalui film. Film bukan hanya sebagai representasi, tetapi juga pengalaman dan tindakan melihat. Film menjadi tindakan melihat (act of viewing) dunia seperti yang terlihat, juga sebuah kemampuan (faculty) yang mampu menjembatani dua cara melihat dunia, antara satu cara yang berdasar pada […]

Sebelum Kamera Bergerak

Oleh: Bambang Supriadi* Ada anggapan yang diam-diam telah menjadi keyakinan banyak pembuat film: sinematografi dimulai ketika kamera dioperasikan. Sejak saat itu perhatian tertuju pada spesifikasi kamera, karakter lensa, stabilizer, drone, atau berbagai perangkat pendukung lain yang menjanjikan gambar semakin berkualitas. Seolah-olah kualitas sinema dapat diukur dari kecanggihan alat yang digunakan untuk merekamnya. Padahal kamera hanyalah […]

Jika Dua Sastrawan Austria dan Swiss Jatuh Cinta

Oleh: Sigit Susanto* Pada 21 Juni 2026 stasiun TV SRF Swiss menayangkan film berjudul Perjalanan di Gurun (Reise in die Wüste). Film berdurasi 110 menit ini menceritakan tentang cinta dua sastrawan beken, Ingeborg Bachmann dari Austria dan Max Frisch dari Swiss. Seperti publik sastra tahu, bahwa kedua sastrawan tersebut memang dalam realitas kariernya menjalin tali […]

Menggali Warisan: Merumuskan Inovasi (Membaca Film Samsara karya Garin Nugroho)

Oleh: Bambang Supriadi* Samsara (2024) karya Garin Nugroho, yang dibintangi Ario Bayu dan Juliet Widyasari Burnett, hadir di tengah kecenderungan sinema kontemporer yang masih bergantung pada dialog, penjelasan naratif, dan kecepatan dramatik. Berbeda dari kecenderungan tersebut, film ini justru menanggalkan dominasi verbal dan mengembalikan sinema pada fondasi dasarnya: bahasa gambar, tubuh, ritme, dan musik. Dalam […]

Membersihkan Noda Noda: Tubuh Perempuan, Keterdesakan dalam The Cleaning Lady

Oleh: Bambang Supriadi * The Cleaning Lady, sumber IMP Awards Serial The Cleaning Lady merupakan serial drama kriminal yang pertama kali tayang pada tahun 2022, dikembangkan oleh Miranda Kwok sebagai adaptasi dari serial Argentina–Kamboja La Chica Que Limpia. Produksi serial ini Warner Bros. Television dan Fox Entertainment ini penayangan perdana di jaringan FOX serta distribusi […]

Menjadi Papua dan Demokrasi Ekosofis

Oleh: Bambang-K. Prihandono* Di tengah proses formasi oligarki yang gamblang menampilkan segala hasrat untuk meraih kekuasaan politik-ekonomi, hadirlah sebuah film dokumenter Pesta Babi. Film yang menarasikan proses dibabatnya hutan adat dan segala ekosistemnya, yakni manusia, binatang, tumbuhan dan segala semesta bumi, pun hadir membawa kontroversi. Pro-kontra merebak dari berbagai kalangan mempersoalkan objektivitas, etika, bahkan sampai […]

Karya Seni yang Menggelisahkan Waktu

Oleh : Bambang Supriadi *   Manusia modern terjebak dalam labirin paradoks yang ganjil. Kita menciptakan jemari teknologi untuk merajut waktu dan meringankan beban, namun ironisnya, ruang hidup justru terasa kian menyempit. Segalanya bergegas: informasi melesat, komunikasi memintas, pekerjaan memburu, bahkan kehangatan antarmanusia lekas kedaluwarsa. Dunia seolah telah menghapus jeda, enggan memberi ruang sekadar untuk […]

Mina dan Juragan Belanda: Medium Ideologi Kolonial

Oleh Bambang Supriadi*   Pada tahun 1915, kawasan Harmoni di Jakarta menjadi saksi pembuatan film bisu pendek berjudul Mina dan Juragan Belanda (Het Dienstmeisje Gaat Inkoopen Doen), disutradarai oleh L. Heuveldorp (1915). Film berdurasi kurang dari sepuluh menit ini sering disebut sebagai salah satu film pertama yang diproduksi di Indonesia, meskipun klaim ini masih memerlukan […]

Film Pelajar Purbalingga: Suara Lokal di Tengah Arus Global

Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Ruang Sinema di Tengah Arus Global Festival Film Pelajar Purbalingga (FFP) telah bergeser dari sekadar lomba menjadi ruang produksi makna kultural yang serius. Stuart Hall, dalam Representation: Cultural Representations and Signifying Practices (1997:15), menggarisbawahi bahwa representasi adalah proses aktif membangun makna: “representation is the production of meaning through language […]