Pos

Menjadi Papua dan Demokrasi Ekosofis

Oleh: Bambang-K. Prihandono* Di tengah proses formasi oligarki yang gamblang menampilkan segala hasrat untuk meraih kekuasaan politik-ekonomi, hadirlah sebuah film dokumenter Pesta Babi. Film yang menarasikan proses dibabatnya hutan adat dan segala ekosistemnya, yakni manusia, binatang, tumbuhan dan segala semesta bumi, pun hadir membawa kontroversi. Pro-kontra merebak dari berbagai kalangan mempersoalkan objektivitas, etika, bahkan sampai […]

Karya Seni yang Menggelisahkan Waktu

Oleh : Bambang Supriadi *   Manusia modern terjebak dalam labirin paradoks yang ganjil. Kita menciptakan jemari teknologi untuk merajut waktu dan meringankan beban, namun ironisnya, ruang hidup justru terasa kian menyempit. Segalanya bergegas: informasi melesat, komunikasi memintas, pekerjaan memburu, bahkan kehangatan antarmanusia lekas kedaluwarsa. Dunia seolah telah menghapus jeda, enggan memberi ruang sekadar untuk […]

Mina dan Juragan Belanda: Medium Ideologi Kolonial

Oleh Bambang Supriadi*   Pada tahun 1915, kawasan Harmoni di Jakarta menjadi saksi pembuatan film bisu pendek berjudul Mina dan Juragan Belanda (Het Dienstmeisje Gaat Inkoopen Doen), disutradarai oleh L. Heuveldorp (1915). Film berdurasi kurang dari sepuluh menit ini sering disebut sebagai salah satu film pertama yang diproduksi di Indonesia, meskipun klaim ini masih memerlukan […]

Film Pelajar Purbalingga: Suara Lokal di Tengah Arus Global

Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Ruang Sinema di Tengah Arus Global Festival Film Pelajar Purbalingga (FFP) telah bergeser dari sekadar lomba menjadi ruang produksi makna kultural yang serius. Stuart Hall, dalam Representation: Cultural Representations and Signifying Practices (1997:15), menggarisbawahi bahwa representasi adalah proses aktif membangun makna: “representation is the production of meaning through language […]

Satu Tombol, Seribu Luka: Tipisnya Batas Jarak dan Kemanusiaan

Oleh Bambang Supriadi* Saat jarak menghapuskan pertemuan langsung antar-lawan di medan tempur, esensi kemanusiaan dalam perang pun kian terkikis. Ia tidak lagi hadir sebagai benturan fisik, melainkan sebagai sistem yang bekerja dari kejauhan, rapi, terukur, dan tampak bersih. Perang berubah menjadi operasi, dan manusia menjadi operatornya. Seperti dibaca oleh Grégoire Chamayou, teknologi drone menggeser perang […]

Mendobrak Batas Dinding Imajiner

Oleh Bambang Supriadi* Dahulu, seni peran kerap dipahami sebagai sebuah “ruang kedap” yang menjaga dirinya dari gangguan luar demi merawat keutuhan ilusi. Aktor hadir seolah tidak sedang ditonton, sementara jarak dengan penonton dipertahankan agar dunia lakon tetap terasa utuh. Dalam tradisi realisme teater, jarak ini bukan sekadar konvensi, melainkan cara kerja yang memungkinkan penonton larut […]

Wayang Topeng Malang: Ketika Warisan Budaya Dibiarkan Sekarat di Tanah Kelahirannya Sendiri

Sebuah catatan kritis tentang krisis identitas budaya yang terus kita abaikan bersama   Oleh Yusuf Munthaha* Ada sesuatu yang terasa ganjil ketika kita menyebut Wayang Topeng Malang sebagai “ Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ”, yang telah diakui pemerintah pusat, sementara di saat yang sama, desa-desa yang selama berabad-abad menjadi rahim dari tradisi ini seperti […]

Film Pelajar dan Warisan Budaya Lokal di Purbalingga

 Oleh Abdul Wachid B.S.* Festival Film Pelajar Purbalingga (FFP) bukan sekadar arena lomba; ia merupakan laboratorium kultural tempat generasi muda belajar memaknai, merekam, dan mempertahankan akar budaya melalui praktik sinema. Fenomena ini penting karena memperlihatkan bahwa produksi film di tingkat sekolah bukan hanya soal teknik, estetika, atau kompetisi, melainkan praktik representasi yang aktif membentuk pemahaman […]

Film, Perang, dan Peradaban yang Diabaikan

Oleh Purnawan Andra* Perang hari ini tidak hanya bergerak di peta militer, tetapi juga diam-diam menggerus peta kebudayaan. Dalam konflik yang memanas antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, kerusakan yang terjadi tidak berhenti pada infrastruktur atau korban jiwa. Ia merambat ke sesuatu yang lebih sunyi yaitu warisan peradaban.  Laporan terbaru menunjukkan bahwa sejumlah situs […]

Robert Redford: Penjaga Suara, Pembuka Jalan Legitimasi

Oleh Bambang Supriadi* Robert Redford telah meninggalkan panggung, tetapi gerakan yang ia mulai terus hidup. Api yang ia nyalakan tetap berkobar di tangan para sineas muda, di cerita-cerita yang lahir di pinggir layar, di karya-karya yang tak selalu terlihat. Keberadaannya kini bukan soal kehadiran fisik, tetapi tentang inspirasi yang terus memicu kreativitas, menggerakkan mereka yang […]