Karya Seni yang Menggelisahkan Waktu

Oleh : Bambang Supriadi *

 

Rasa Yang Ditelan Oleh Waktu, Bambang Supriadi

Manusia modern terjebak dalam labirin paradoks yang ganjil. Kita menciptakan jemari teknologi untuk merajut waktu dan meringankan beban, namun ironisnya, ruang hidup justru terasa kian menyempit. Segalanya bergegas: informasi melesat, komunikasi memintas, pekerjaan memburu, bahkan kehangatan antarmanusia lekas kedaluwarsa. Dunia seolah telah menghapus jeda, enggan memberi ruang sekadar untuk menyeka peluh. Alhasil, kita dikutuk untuk terus berlari, mengejar bayang-bayang dari sesuatu yang tak pernah benar-benar usai.”

Dari situ lahir satu bentuk kelelahan baru, kelelahan karena merasa tertinggal dari waktu. Ini bukan sekadar lelah fisik setelah bekerja seharian, melainkan kecemasan konstan bahwa dunia bergerak terlalu cepat sementara kita jalan di tempat. Kita terus-menerus didera rasa bersalah setiap kali mengambil jeda untuk istirahat.

Hari-hari modern dipenuhi rutinitas kecil yang tampak biasa tetapi diam-diam menguras kesadaran manusia. Pesan harus segera dibalas. Pekerjaan terus datang bahkan di luar jam kerja. Notifikasi berbunyi tanpa henti. Media sosial menciptakan ilusi bahwa semua orang bergerak lebih cepat dan lebih produktif dibanding diri kita sendiri. Dalam situasi seperti itu, manusia tidak lagi hidup berdasarkan ritme tubuh dan pikirannya, melainkan berdasarkan tuntutan percepatan yang terus diproduksi dunia modern.

Yang melelahkan bukan hanya banyaknya pekerjaan, tetapi rasa bersalah karena tidak pernah merasa cukup untuk melakukan niat baik.  Kita mulai merasa bersalah ketika lambat membalas pesan. Merasa tidak enak karena lupa menghubungi seseorang. Menunda perhatian-perhatian kecil kepada keluarga, teman, atau orang terdekat karena pekerjaan yang tidak selesai-selesai. Dalam kehidupan modern, relasi antarmanusia perlahan berubah menjadi administratif—dipenuhi jadwal, pengingat, dan daftar tugas.

Kecemasan inilah yang terasa kuat dalam video klip Running Out Of Time dari Paramore. Karakter yang dimainkan penyanyi Hayley Williams bergerak dari satu ruang ke ruang lain seperti seseorang yang terus dikejar sesuatu yang tidak terlihat. Kamar tidur yang tidak nyaman untuk beristirahat, pesta makan malam yang janggal, ruang-ruang surealis, dan situasi sosial yang terasa absurd membangun suasana seperti mimpi buruk manusia modern.

Menariknya, lagu tersebut tidak berbicara mengenai tragedi besar. Ia justru berbicara mengenai kegagalan-kegagalan kecil sehari-hari: lupa membawa hadiah, terlambat datang, tidak sempat memberi perhatian kepada orang lain, atau gagal menyelesaikan niat baik sederhana. Namun justru di sanalah kekuatannya. Lagu itu memperlihatkan bahwa manusia modern sebenarnya tidak kekurangan niat baik, tetapi kehilangan waktu dan energi untuk mewujudkannya.

Sumber gambar: Screenshot dari video Paramore – Running Out Of Time (Official Video), YouTube/Paramore, 2023.

Sumber gambar: Screenshot dari video Paramore – Running Out Of Time (Official Video), YouTube/Paramore, 2023.

Di tengah budaya produktivitas hari ini, manusia didorong terus bekerja dan bergerak, tetapi semakin jauh dari pengalaman hidup yang utuh. Dunia modern memuja efisiensi, tetapi perlahan mengikis kemampuan manusia untuk hadir secara emosional.

Kondisi tersebut membuat manusia seperti hidup secara otomatis. Hari berganti begitu cepat tanpa benar-benar disadari. Pagi berubah menjadi malam, minggu berubah menjadi bulan, lalu tahun tiba-tiba terasa hilang begitu saja. Perasaan inilah yang secara lebih eksistensial muncul dalam lagu Time dari Pink Floyd.

Lagu yang terdapat dalam album The Dark Side of the Moon itu dibuka dengan bunyi dentang jam yang keras dan mengagetkan. Suara tersebut terasa seperti alarm kehidupan: pengingat bahwa waktu terus bergerak bahkan ketika manusia merasa diam.

Jika Running Out Of Time berbicara tentang kepanikan sehari-hari manusia modern, maka Time bergerak lebih jauh menuju kesadaran filosofis tentang hidup yang perlahan habis. Lagu itu menggambarkan manusia yang menghabiskan masa mudanya dengan merasa masih memiliki banyak waktu, hingga suatu hari menyadari bahwa hidup ternyata telah berjalan terlalu jauh.

Sumber @Just_pinkfloyd di X/Twitter.

Ketakutan terbesar dalam lagu tersebut bukan kematian itu sendiri, melainkan kemungkinan bahwa manusia menjalani hidup tanpa benar-benar menyadarinya.

Tema itu terasa sangat dekat dengan kehidupan modern hari ini. Banyak orang bangun pagi, bekerja, pulang dalam keadaan lelah, lalu mengulang rutinitas yang sama selama bertahun-tahun. Kehidupan berjalan cepat, tetapi kesadaran manusia tertinggal di belakangnya. Orang menjadi terbiasa menjalani hidup seperti mesin yang terus bergerak tanpa sempat bertanya apakah dirinya benar-benar bahagia.

Kecemasan semacam itu pernah digambarkan secara sangat menyentuh dalam film Ikiru karya Akira Kurosawa.  Film tersebut menceritakan seorang pegawai birokrasi yang selama puluhan tahun hidup dalam rutinitas administratif yang monoton. Hari-harinya diisi pekerjaan berulang tanpa makna emosional. Namun ketika ia mengetahui bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, ia mulai menyadari bahwa selama ini ia sebenarnya tidak benar-benar hidup.

Tokoh dalam Ikiru bukan manusia yang gagal secara sosial. Ia bekerja, disiplin, dan menjalani rutinitas sebagaimana mestinya. Tetapi film itu memperlihatkan sesuatu yang lebih tragis: seseorang dapat terlihat hidup dari luar, padahal secara batin ia telah lama kehilangan pengalaman hidup yang sesungguhnya.

Poster film Ikiru, sumber Wikipedia.

Kegelisahan yang sama muncul dalam film Synecdoche, New York karya Charlie Kaufman. Film tersebut memperlihatkan seorang seniman yang terus mencoba memahami hidup melalui karya besarnya. Namun waktu bergerak terlalu cepat. Tubuh menua, hubungan retak, dan kehidupan berubah tanpa pernah benar-benar bisa dikuasai. Tahun demi tahun berlalu seperti kabut yang perlahan menelan kehidupan tokohnya.

Film itu terasa seperti metafora tentang manusia modern yang terus sibuk membangun hidup, tetapi tidak pernah benar-benar sempat menjalaninya.

Dalam seni rupa, kecemasan terhadap waktu mungkin paling ikonik muncul dalam lukisan The Persistence of Memory karya Salvador Dalí. Jam-jam yang meleleh dalam lukisan tersebut seolah menunjukkan bahwa waktu bukan sesuatu yang kokoh dan stabil. Dalam pengalaman psikologis manusia, waktu dapat berubah bentuk. Kadang terasa sangat lambat ketika manusia menderita, tetapi juga d apat bergerak sangat cepat ketika hidup dipenuhi rutinitas dan distraksi.

Dalí memperlihatkan bahwa waktu bukan sekadar persoalan angka dan jam, melainkan pengalaman batin manusia terhadap hidupnya sendiri.

 

Percistence of Memory -Salvador Dali, sumber: Dipi

Karya-karya seni tersebut sebenarnya berbicara mengenai satu hal yang sama: manusia takut pada waktu karena waktu terus bergerak tanpa pernah menunggu siapa pun. Namun mungkin yang paling menakutkan bukan waktu itu sendiri. Yang lebih menakutkan adalah kemungkinan bahwa hidup berlalu sebelum manusia sempat memberi makna terhadap hidupnya. Banyak orang tidak benar-benar takut menjadi tua. Yang mereka takutkan adalah menyadari bahwa usia bertambah sementara hidup terasa belum sungguh dijalani.

Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, seni akhirnya menjadi ruang kontemplasi yang semakin penting. Musik, film, dan seni rupa memberi kesempatan bagi manusia untuk berhenti sejenak dari percepatan hidup modern. Seni mengingatkan bahwa manusia bukan mesin produktivitas semata. Manusia memiliki kelelahan, kehilangan, penyesalan, dan kebutuhan untuk hadir secara utuh dalam hidupnya sendiri.

Barangkali manusia tidak pernah benar-benar kalah oleh waktu. Yang paling sering terjadi, manusia terlalu sibuk mengejar hidup sampai lupa menjalaninya.

——
*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographers Society.