Arsip dan Masa Depan Sejarah Musik Indonesia

Oleh Abad Akbar*

 

Arsip menjadi jembatan antara masa kini dan masa lalu. Melalui arsip kita mampu memahami apa yang pernah terjadi maupun apa yang tidak terjadi. Sering kali foto atau surat yang tiba-tiba kita temukan memunculkan kembali berbagai kenangan tentang suatu masa. Begitulah pentingnya peran arsip dalam kehidupan kita. Terlepas dari itu, kehadiran arsip tokoh maupun kelompok tertentu yang memiliki peran besar dalam arus sejarah juga membuka alternatif baru dalam pembacaan sejarah. Salah satunya adalah kolektif musik KuaEtnika.

 Pameran arsip KuaEtnika bertajuk “Merawat Pijar, Menyelaras Bunyi” diinisiasi dan dipanitiai oleh mahasiswa Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta angkatan 2025, dalam rangka menyambut 30 tahun perjalanan grup musik tersebut (1996–2026). Pameran berlangsung di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja pada 2–4 Mei 2026 ini menarik perhatian khalayak umum.

Pembukaan pameran oleh Butet Kertaredjasa. (sumber: Abad Akbar)

Pameran dibuka oleh Butet Kertaradjasa. Dalam sambutannya Butet menjelaskan perjalanan panjang grup musik tersebut. Dari satu panggung ke panggung lain. Ia mengenang perannya sebagai pendokumentasi perjalanan KuaEtnika saat masih menjadi wartawan, sembari mengenang sahabatnya Djaduk Ferianto, pendiri KuaEtnika. Sebagian arsip yang ditampilkan dalam pameran merupakan hasil jepretannya.

Tour kuratorial oleh Nandhika Fardha ketika pembukaan pameran. (sumber Abad Akbar)

Kolektif musik KuaEtnika menunjukkan bagaimana tradisi dapat terus hidup, bahkan bertransformasi menjadi bentuk ekspresi seni yang lebih segar dan relevan dengan zaman. Dalam pameran ini, Nandhika Fardha selaku kurator membagi perjalanan tiga dekade KuaEtnika ke dalam dua sub-ruang, yaitu “Gema Harmoni” dan “Jejak Bunyi”. Ruang Gema Harmoni menyoroti bagaimana KuaEtnika hadir dan berpijar di ruang publik melalui dokumentasi pertunjukan, capaian, hingga berbagai bentuk presentasi karya. Sementara itu, “Jejak Bunyi” mengajak pengunjung melihat sisi yang lebih intim di mana proses eksplorasi, percobaan, hingga dinamika kreatif yang jarang terlihat. Ruang ini juga menjadi tempat khusus untuk mengenang sosok Djaduk Ferianto.

Angga Yuniar sedang melukis penampilan Kuaetnika (kiri) dan memberikan hasil karyanya kepada sang vokalis. (Sumber Abad Akbar)

Pembukaan pameran dihadiri lebih dari 100 pengunjung dengan sajian empat lagu dari KuaEtnika. Di sela-sela acara, terdapat satu hal menarik yang mana seorang seniman cat air yaitu Angga Yuniar melukis secara langsung di lokasi. Praktik melukis di tempat biasanya menjadi kegiatan pendamping pameran, bukan bagian dari pembukaan. Justru Angga Yuniar berani tampil berbeda. Ia melukiskan suasana KuaEtnika saat tampil bernyanyi lalu mempersembahkan karya tersebut kepada sang vokalis.

Sebagai seorang lulusan sejarah saya merasa senang dengan hadirnya pameran arsip seni semacam ini, khususnya arsip seni musik Indonesia. Secara kelembagaan maupun sistem arsip seni di Indonesia masih belum mendapatkan perhatian yang layak, baik dari pemerintah maupun para pelaku seni sendiri. Namun, dalam beberapa tahun terakhir kesadaran untuk menjaga jejak masa lalu mulai tumbuh di kalangan pegiat seni dan budaya.

Upaya seperti seminar dan kuliah arsip mulai dilakukan oleh beberapa lembaga, seperti Dicti Art Laboratory dan IVAA, yang membuka cakrawala baru tentang ilmu kearsipan. Prodi Tata Kelola Seni (TKS) FSRD, ISI Yogyakarta juga membantu mendorong pengumpulan arsip melalui program pembuatan katalog anotasi seniman. Sehingga memunculkan kesadaran akan apa yang sering kita lihat di sekitar kita ternyata dapat menjadi dokumen penting yang bernilai arsip.

Suasana ruang pamer ketika pembukaan pameran (Sumber Abad Akbar)

Dalam dunia musik, beberapa platform seperti Irama Nusantara dan Jogja Sonic Index, maupun lembaga seperti Lokananta dan Museum Musik Indonesia, aktif menyimpan rekaman dan klip lagu yang tercecer dan berpotensi hilang. Kegiatan pengumpulan, perawatan, dan publikasi arsip semacam ini perlu diapresiasi sekaligus didorong keberlanjutannya. Selain menjadi tugas arsiparis pengumpulan arsip juga merupakan tanggung jawab para pelaku seni khususnya musisi di bidang musik dan suara.

Penampilan kolektif musik Kuaetnika ketika pembukaan pameran di PSBK (sumber Abad Abar)

Hadirnya pameran arsip semacam ini menumbuhkan kesadaran baru akan pentingnya arsip dalam kehidupan seni dan kebudayaan. Sejarah memang harus ditulis berdasarkan fakta yang ditemukan, dan di mana fakta itu dapat ditemukan? Arsip adalah salah satu jawabannya.

Pameran ini dapat menjadi salah satu titik mula bagi penulisan sejarah KuaEtnika di masa depan. Menghadirkan perjalanan 30 tahun sebuah grup musik legendaris tentu bukan pekerjaan mudah. Dengan ketekunan dan kegigihan, panitia mampu memberikan gambaran sejarah tersebut, meskipun belum sepenuhnya utuh dan masih dapat terus dikembangkan.

Pameran arsip musik sebelumnya juga pernah dilakukan dengan mengangkat grup musik seperti Koes Plus, musisi Andi Bayou, hingga grup band The Beatles. Pameran-pameran tersebut sama-sama menghadirkan arsip perjalanan musik yang mereka jalani. Dalam konteks ini, KuaEtnika juga membuka jalan bagi para penulis seni dan sejarah agar perjalanan mereka kelak dapat dikenang melalui tulisan yang lebih utuh dan holistik.

Tribute to Djaduk Ferianto sang seniman multitalenta dan pendiri Kuaetnika (sumber; Abad Akbar)

Rasanya, tiga hari penyelenggaraan pameran ini terlalu singkat untuk sekelas kolektif seni seperti KuaEtnika. Harus ada pameran lain yang lebih besar dan lebih megah untuk mengenang sosok Djaduk Ferianto serta perjalanan KuaEtnika. Semoga hal itu dapat segera terealisasi.

*Abad Akbar – peneliti seni budaya.