Puisi-puisi Eddy Pranata PNP
BULAN SABIT MERAH
asap bercampur debu mengepul serpih-remuk ambulan
di reruntuhan rumah sakit; tenaga medis berguguran—
au, bulan sabit merah dinistakan nafsu-bengis zinonis
membombardir tanpa nurani; roket dan rudal
meluluhlantakkan marwah kemanusiaan; iran + palestina
tercabikluka!
air mata jatuh berderai
menjelma serpih waktu retak rapuh
: “kematian-kehancuran itu memupus kemerdekaan jiwa!”
di langit iran + palestina, bulan sabit merah mengapung
serupa perahu di segara sunyi; nyaris tidak ada suara cinta
hanya debur ombak dan bisik doa lirih: hidup terkadang
serupa puisi tanpa metafora; pahit-getir
perahu berlayar jua ke jauh lautan, meninggalkan debur
di tebing karang dan melupakan mercusuar; sedangkan
luka begitu perih, layar itu robek, temali retas: manusia
resah oleh kegilaan dan kebiadaban zionis
kenapa kaum pecundang itu selalu membabibuta? tidak
peduli pada kehancuran bahkan kematian, tidak peduli
runtuh kemanusiaan, lihatlah, bulan sabit merah tak kenal
menyerah dan bergerak dalam asap debu dan harum surga.
Jaspinka, Mei 2026
AKU MUSLIM, PERIH DALAM PELUK-MU
Setiap melihat rudal dan roket Amerika + Israel
Menggempur Iran. Hati jiwa bergetar. Menggelegak.
Sembilu dua mata serupa mengiris. Aku muslim.
Perih dalam peluk-Mu. Aku kehilangan banyak doa.
: “Aku benci perang. Kehancuran dan kematian!”
Hisbullah tak surut. Fafatnya Ayatollah Ali Khamenei
justru kian membakar jihad. Mengeraskan martir.
: “Setiap hari ialah Asyura, setiap tempat itu Karbala!”
Di sudut-sudut kota Teheran; ratusan orang menggali
puing-puing dengan tangan kosong
Mencari jenazah keluarga yang utuh atau hancur
akibat bom dan serangan dron balistik
: “Harumkanlah ruh mereka dengan wewangian surga,
dan berikanlah kami ketabahan sedalam lautan!,” seru
jutaan warga Iran– suara serak dan sorot mata menyala
Sejak akhir Februari 2026 menorehkan luka nganga
Juga catatan kelam di tengah kobaran konflik
dan Mei– perang terbuka bergeser ke Selat Hormuz
Saling ancam dan serang. Entah sampai kapan.
Aku sujud. Setulus-tulus doa: Sudahilah perang ….
Cirebah, Mei 2026
PERAHU MAHA KASIH
secangkir kopi, laut dan rindu! au, perahu-perahu terhampar
di pantai pangandaran– beberapa saat melukis resah waktu
di atas pasir, lumat kesedihan ditelan ombak dan buih
: “apa yang tidak bisa dilupakan selain kenangan ungu
yang timbul tenggelam di atas gelombang?”
o, secangkir kopi menceritakan perih sendiri dan laut
menyimpan misteri rindu pada perempuan embun
: “kumau hanya puisi, hanya puisi sepanjang hayatku
sesuka-seduka apa pun!”
dan perahu maha kasih kian ke laut jauh– dilambung-lambung
gelombang! ciahhh …
Pangandaran, 14 Mei 2026
WAKTU
waktu begitu cepat memisahkan; gumpalan rindu meleleh
: “setelah menyantap seafood, kita berbagi tangkap peluk
seindah-indahnya, dan udara sungguh amat panas!”
au, engkau tersenyum pada bilangan 2 vs 1…
BRM.11052026
PERAHU CAHAYA
biarkan, biarkanlah tebing karang menerima nasibnya: perih
dan tabah diterpa hempasan gelombang– walau perahu itu
menjauh mungkin akan tanpa kabar, jelas akan sangat
menyakitkan….
air mata penyair; bisa jatuh berderai rasa kehilangan serupa
kelopak mawar gugur; embun meninggalkan tanah dan musim
menjelma waktu retak rapuh
: “akan kuterima walau kematian pun tak memupus cinta!”
au, seberapa tulus air mata– gugur mawar, langkah tak boleh
berhenti walau tak ada waktu berbagi sembilu tak ada tempat
berpeluk, jalan pikiran, kesetiaan bisa cemburu pada hal-hal
yang muskil: “apa pun itu, jarak ruang waktu; tidak akan
merubah batu cinta remuk?”
dan istirahatlah dari rasa sakit, hidup memang terkadang
serupa puisi tanpa metafora; pahit-getir
seandainya perahu berlayar jua ke jauh lautan, meninggalkan
debur di tebing karang dan melupakan mercusuar; sedangkan
luka begitu perih, jangan tengok ke belakang walau layar itu
robek walau temali retas: seseorang sangat menyesal telah
menjadi penyair yang kalah oleh nasib
yang hancur karena cinta
kalau pun harus terluka, tak ‘kan mengucur darah sebab sembilu
yang kaugoreskan tak ‘kan mengalahkan kekuatan cinta
kenapa peziarah itu sangat merindukan pertemuan? tidak
seperti penyair yang malang, yang menyesal karena imaji
kata-kata tidak lagi berdaya: “pada sisa usia apakah bisa
mati tanpa cahaya perempuan embun, tanpa taburan mawar
dari surga…” au, buku catatan kekalahan akan ia larung di
laut terjauh-terdalam…
apa yang kausembunyikan dari rasa sakitmu? selain dosa
dan usia menua kian rapuh, malam pun berguling senyap,
embun mulai berguguran– membasahi duka duri mawar
: “kalau aku mati, kubawa cinta puisi ke dalam kubur!”
dan ke laut hatimu jua kulayarkan perahu cahaya dari
tulang rusukku, selamanya, selamanya!
Jaspinka, April 2026
AKU TAKUT SEKALI DICAP MELANGGAR HAM
seseorang itu, konon lelaki pemabuk jabatan dan cuan,
berkepala plontos, berjubah hitam, bertutup kepala hitam—
sepertinya sangat kukenal, menggigil berkeringat dingin
di depan cermin, semula sunyi-senyap lalu lamat-lamat
ada suara serupa bisikan halus tak henti-henti…
: “program makan bergizi gratis adalah bagian dari
pemenuhan hak asasi manusia, sehingga pihak yang ingin
menghapus atau menolak dianggap menentang HAM,”
suara serupa bisikkan itu perlahan kian keras, bergema dan
memantul-mantul hingga ke langit
seseorang yang sangat kukenal itu, menepuk-nepuk dadanya,
berjalan terhuyung, mata-merahnya menyala, dan au, lihatlah,
tubuhnya serupa mengecil menjelma bulatan cahaya, aku
terpesona; bulatan cahaya itu melayang ke arahku dan tanpa
ampun masuk ke dalam mulutku, ke dalam tenggorokanku,
ke dalam ruang paling dalam jiwaku
dada dan kepalaku seperti ditaburi bara api
: “ya Allah, ampun aku, akulah Si Buruk Rupa dan Si Miskin
harta, yang telah jauh berlayar di lautan-Mu, dengan iman
tak seberapa, dengan salah-dosa tak terhingga…”
aku takut sekali dicap melanggar HAM
aku menyaksikan jutaan orang terpesona kekuasaan
tak berani berkata-kata; tirani dan angkara!
Cirebah, 15 April 2026
AKU TERBIUS PIDATO-PIDATO
ya Allah, izinkan kubakar dosa-dengkiku
dengan arang lapar haus
: aku nikmati berkah-Mu
walau sekerat daging, walau seteguk cinta
aku abu di atas tungku pembakaran musim
sesabar-sabarnya meniup-niup luka
doaku tak ada lagi korban
33.626 pelajar keracunan sejak 2025-april 2026
dan aku mendengar pidato-pidato di televisi
: “harmonisasi dari hulu ke hilir, dari regulasi dan
penyediaan hingga penyaluran sasaran pemenuhan gizi!”
ya Allah ya Tuhanku jadikan aku umat-Mu
tetap di jalan lurus berjalan mengulum cahaya
yang tidak melubangi perahu lain orang
yang tidak memanfaatkan punggung lain orang
yang tidak menggunting dalam lipatan
yang tidak musang berbulu ayam
yang tidak menyimpan api dalam sekam
yang tidak berlidah sembilu dua mata
yang tidak bermulut batang tebu
yang tidak ular berkepala lima!
aku terbius pidato-pidato di televisi
: karena makan gratis, anak tumbuh cerdas!
membangun bangsa, menekan malnutrisi dan stunting!
meningkatkan kualitas es-de-em!
fondasi indonesia emas!
aku terhuyung di pojok rumah, perutku mual.
Cirebah, 14 April 2026
—
*Eddy Pranata PNP — penyair Minangkabau kelahiran kota Padang Panjang, 31 Agustus 1963. Juara 3 Lomba Cipta Puisi FB Hari Puisi Indonesia 2020, meraih anugerah Puisi Umum Terbaik Lomba Cipta Puisi tahun 2019 yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI bekerja sama dengan Yayasan Hari Puisi Indonesia. Juara 1 Lomba Cipta Puisi Sabana Pustaka tahun 2016, Nomine Penghargaan Sastra Litera tahun 2017 dan 2018, Nomine Krakatau Award 2017 dan 2019. Sejak tahun 2014 mengelola Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat, Indonesia.
Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019), Tembilang (2021).
Puisinya disiarkan di Majalah Sastra Horison, koran Jawa Pos, Kompas, Tempo, Media Indonesia, Indopos, Suara Merdeka, Republika, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Raykat, Medan Pos, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Haluan, Singgalang, Minggu Pagi, Asyik.asyik.com., dll. Puisi-puisinya juga terhimpun ke dalam puluhan antologi bersama.
Tahun 2025 bulan September mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta dan ia adalah penerima apresiasi/penghargaan dari pemerintah (Badan Bahasa) tahun 2025 atas dedikasinya berkarya sastra terus menerus sejak tahun 1980.





