Pos

Bertumbuh dalam Sunyi, Pulang dalam Syukur: Membaca Perpuisian Tania Rahayu

Oleh: Abdul Wachid B.S.* Lahirnya Sebuah Dunia Kepenyairan Ada penyair yang mula-mula menemukan puisinya dari kata-kata besar: sejarah, politik, filsafat, atau kegelisahan zaman. Ada pula yang menemukan jalan kepenyairannya dari hal-hal yang dekat dengan tubuh dan kehidupan sehari-hari: rumah, ibu, bapak, kebun, tanah, musim, luka, dan penantian. Tania Rahayu tampaknya termasuk yang kedua. Dalam sejumlah […]

Ekologi Sastra di Banyumas

Oleh: Abdul Wachid B.S.* Ruang yang Dibuka oleh Sebuah Narasi Kampus. Esai Bayu Suta Wardianto berjudul “Mencari Celah Tumbuh dan Berkembangnya Sastra di Kampus Banyumas”, yang dimuat di  borobudurwriters.id pada 14 Mei 2026, menarik perhatian pada satu ruang yang dalam beberapa dekade terakhir menonjol dalam perkembangan sastra Banyumas: kampus. Pilihan itu memiliki dasar historis. Sejak […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

PUISI-PUISI CINTA INSANIAH   LELAKI TUA PENJUAL KORAN DI PAGI BUTA Masih gelap. Lelaki tua itu berjalan dengan setumpuk koran di atas bahunya. Pagi belum lahir, tetapi berita sudah mencari rumahnya. Setiap koran sebuah pintu. Setiap pintu sebuah dunia yang belum tahu siapa mengetuknya. Ia berhenti. Selembar koran diletakkan di beranda. Tangan itu sebentar menyentuh […]

L.K. Ara dan Poetika Kesetiaan: Membaca Dunia Puitik Seorang Maestro dari Tanah Gayo

oleh: Abdul Wachid B.S.* Mengapa L.K. Ara Perlu Dibaca Kembali Penganugerahan Anugerah Kepenyairan Adiluhung kepada L.K. Ara membuka kembali percakapan mengenai salah satu penyair yang telah menempuh perjalanan panjang dalam sastra Indonesia. Namun, penghargaan semacam itu sesungguhnya bukan titik akhir pembacaan, justru kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana dunia puitik yang dibangun L.K. […]

Ketika Puisi Meluruskan Politik: Seruan Damai dan Kesadaran Kebangsaan

Oleh: Abdul Wachid B.S.* Pendahuluan Indonesia adalah bangsa besar yang dibangun di atas keberagaman. Namun, tidak jarang keberagaman itu berubah menjadi potensi konflik, terutama ketika suhu politik memanas. Sejak awal berdirinya republik ini, politik kerap menghadirkan ketegangan, sementara rakyat membutuhkan keteduhan. Dalam momen-momen demikian, puisi hadir bukan sekadar sebagai karya seni, melainkan sebagai suara hati […]

Lelaki yang Melukis Jendela Telah Melesat Pergi Selamanya

Oleh: Indro Suprobo* Mengenang Genthong HSA Aku wis sepuluh dina nang Rumah Sakit. Wis diperiksa sumsum tulange. Embuh hasile durung ngerti. Dokter isih ragu-ragu, aku iki kena kanker sumsum tulang belakang apa kena kanker tulang. Pancen kuesel lan bosen nang Rumah Sakit, ning kepriye maneh. Jantungku wis suwe bocor. Dadi sak ngertiku, saiki iki wis […]

Strategi Nasional Penguatan Perpuisian Indonesia

Oleh: Abdul Wachid B.S.  Puisi, Peradaban, dan Pertaruhan Masa Depan Puisi adalah salah satu warisan budaya tertua umat manusia. Ia hadir bersamaan dengan kelahiran bahasa dan mitologi; menjadi kendaraan bagi manusia dalam memaknai alam, Tuhan, dan kemanusiaannya. Dalam sejarah Nusantara, puisi tumbuh dalam ragam bentuk: dari mantra-mantra sakral, pantun lisan Melayu, tembang macapat Jawa, hingga […]

Meraba Cahaya di Balik Gelap: Refleksi Spiritualitas dalam Puisi Restu Kurniawan

Oleh: Abdul Wachid B.S.* Puisi adalah ruang perjumpaan antara bahasa, pengalaman, dan perenungan batin. Dalam buku kumpulan sajak Kembali Puisi (Cirebon: Penerbit LovRinz, 2025) karya Restu Kurniawan, perjumpaan ini mengambil bentuk yang khas: lirih, personal, namun menyimpan ketegangan antara kerinduan akan cahaya dan kenyataan akan gelap. Dari “Parodia Anak Jalan” hingga “Sebelum Doa”, penyair mengajak […]

Merenungkan Makna Nyala yang Satu: Refleksi Seorang Penyair dalam Menyusun Karya

oleh: Abdul Wachid B.S.* Pendahuluan Buku Nyala yang Satu (2026) merupakan kumpulan puisi yang bukan hanya berfungsi sebagai ekspresi perasaan, tetapi lebih dari itu, sebagai hasil dari perjalanan spiritual dan pencarian makna kehidupan saya. Di dalamnya terdapat kesadaran akan pencarian hakikat yang lebih dalam tentang Tuhan dan kehidupan manusia, yang selama ini menjadi inti dari […]

Puisi-puisi Fatin Hamama

Surat kepada Air Mata Air mata, selamat pagi. Engkau, apa sebenarnya? Pada luka, engkau mengalir. Pada duka, engkau menetes. Pada bahagia, engkau menggenang. Pada sakit, luka, dan bahagia yang pura-pura, pun engkau menderas. Lalu air mata mana yang bisa membedakanmu? Buaya punya air mata sangat menggoda. Kabarnya duyung juga punya, air mata serupa mutiara dalam […]