Pos

Kisah Sanggar Dapur Pangbarep

Oleh Jasmine Nurul Asyifa* Tari bukan hanya soal gerakan yang indah dipandang. Di balik setiap langkah, ada cerita, ada napas, ada perjuangan, dan ada jejak kehidupan. Bagi sebagian orang, tari mungkin hanya hiburan. Namun bagi mereka yang hidup di dalamnya, tari adalah cara untuk memahami diri, budaya, dan dunia. Dari ruang sederhana bernama Dapur Pangbarep […]

Menari dalam Perubahan Zaman

Oleh Purnawan Andra* Hari Tari Internasional setiap 29 April sering kita rayakan dengan panggung, kostum, dan pertunjukan yang tertata rapi. Tari tampil sebagai sesuatu yang indah, terlatih, dan layak ditonton. Namun di balik perayaan itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan: bagaimana nasib tari di tengah perubahan kehidupan kita hari ini? Apakah ia masih hidup sebagai […]

Sulistyo Tirtokusumo dan Kasulistyan

Sabtu, tanggal 18 April lalu terjadi peristiwa kebudayaan menarik di Taman Ismail Marzuki. Lama tak tampil dan hadir  dalam acara-acara seni, tiba-tiba koreografer senior Sulistyo Tirtokusumo (73 tahun), muncul di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Ia melaunching sebuah buku mengenai gaya dan ciri khas gerak-gerak yang diciptakannya dalam tari Bedhaya Sri Nugroho. Buku itu berjudul: […]

Mendekonstruksi Konstruksi Makna Lengger Lanang

Oleh Purnawan Andra* Lengger selama ini sering dipahami sebagai sesuatu yang seolah-olah sudah jelas. Ia adalah tarian rakyat Banyumasan yang lekat dengan tubuh perempuan, hadir dalam ritus, tumbuh dari lanskap agraris, dan mengakar dalam ingatan kolektif. Lengger menari untuk panen, untuk kesuburan, untuk menjaga hubungan antara manusia dan alam.  Dalam banyak ingatan kultural, lengger adalah […]

Memasak Identitas, Merebut Posisi: Simbolisme Hierarki dan Trauma dalam Karya Tari Kontemporer Lu Olang

Oleh Favio Soares Pinto* Deskripsi karya: Pertunjukan diawali dengan seorang perempuan berdiri di tengah panggung gelap. Ia berada di atas empat bangku kayu kecil, tepat di bawah sorotan lampu panggung (spotlight) yang terang dan membentuk lingkaran. Perempuan itu mengenakan pakaian tradisional berwarna gelap bergaya Tionghoa dan memegang tumpukan empat mangkuk putih dengan kedua tangan di […]

Menari di Antara Knalpot dan Hitungan Lampu Merah

Oleh Farhana Izza Zakiatus S.* Siang hari di persimpangan dekat Jogokariyan, terik matahari membuat muka terasa hangat. Bau aspal yang tersengat panas matahari memenuhi jalanan bersama debu dan asap knalpot kendaraan. Tepat di lampu merah, orang-orang berhenti dengan ekspresi dan perilaku yang cukup beragam. Ada yang pandangannya tertuju pada lampu lalu lintas seakan takut lampunya […]

Mengeja Gerak bersama Alexis Jestin

Oleh Razan* Jika gerak saya bayangkan sebagai kata, maka saya bayangkan pula proses menyusun gerak seperti ketika seseorang menata bahasa. Ada saat ketika ia terasa jelas, ada saat ketika ia terdengar ganjil, dan pada saat lain justru kosong. Pertanyaannya pun bergerak ke wilayah yang serupa: sejelas apakah gerak itu diucapkan, kata apa yang dipilih, dan […]

Ovos, Renungan Penderitaan dan Harapan Kebangkitan

Oleh Silvester Petara Hurit* O vos omnes, qui transitis per viam, attendite et videte si est dolor similis sicut dolor meus? (Hai kalian semua yang berjalan lewat, pandanglah dan lihatlah,  adakah penderitaan seperti penderitaanku?) Ratapan kedukaan Maria mengalun pedih. Tangan Darmawan Dadijono terikat dengan kain tenun merah di pojok kiri panggung. Mematung tak berdaya. Ingatan […]

Membaca Gerakan Budaya di Jawa Timur

Oleh Aris Setiawan Pada akhir Agustus 2025, penulis mendapat kesempatan berdiskusi dengan beberapa inisiator gerakan kebudayaan di Jawa Timur. Figur-figur tersebut antara lain adalah Joko Winarko atau yang dikenal sebagai Joko Porong, kemudian Joko Susilo, dan Suwandi. Mereka merupakan komposer yang telah memiliki reputasi mumpuni di wilayah tersebut. Selain itu, hadir pula Abing Santosa, seorang […]

Dewi Sri, Pergelaran Subkultur, dan Politik Kebudayaan

Oleh Purnawan Andra* Nusantara sejak awal bukanlah ruang homogen. Ia adalah pertemuan berlapis dari ratusan bahasa, sistem kepercayaan, adat, dan praktik estetik yang terus bergerak. Clifford Geertz dalam Religion of Java menyebut Jawa sebagai “mosaic of cultural streams,” dan istilah itu tampak hidup di Jawa Timur.  Dalam hal ini, Ayu Sutarto (2004) mengidentifikasi sepuluh subkultur […]