Sulistyo Tirtokusumo dan Kasulistyan

Sabtu, tanggal 18 April lalu terjadi peristiwa kebudayaan menarik di Taman Ismail Marzuki. Lama tak tampil dan hadir  dalam acara-acara seni, tiba-tiba koreografer senior Sulistyo Tirtokusumo (73 tahun), muncul di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Ia melaunching sebuah buku mengenai gaya dan ciri khas gerak-gerak yang diciptakannya dalam tari Bedhaya Sri Nugroho.

Buku itu berjudul: Kasulistyan, Dokumentasi Karya dan Wiled Sulistyo Tirtokusumo dalam Tari Klasik Jawa Gaya Surakarta. Kasulistyan adalah istilah dari murid-murid Sulistyo yang sejak dari kecil belajar dari Sulistyo menari Jawa klasik untuk menamai gerak-gerak yang khas Sulistyo. Penulis buku ini adalah antropolog Dr Dwi Kumoratih dan filolog, kandidat doktor sastra Jawa Naufal Anggito Yudhistira. Buku ini diterbitkan oleh komunitas murid-murid Sulistyo, Komunitas Nirantara Dance Project, sebuah komunitas yang berfokus ke tari klasik Bedhaya dan Serimpi. 

Sampul buku Kasulistyan, Dokumentasi Karya dan Wiled Sulistyo Tirtokusumo dalam Tari Klasik Jawa Gaya Surakarta.

Ketua Nirantara, Henny Rachmawati mengatakan dalam pengantar buku, buku  ini merupakan upaya pendokumentasian sistematis atas  struktur gerak, notasi gendhing, kostum dan konteks penciptaan karya Bedhaya Sri Nugroho. Sebagai murid Sulistyo sejak kecil, ia mengenang bagaimana Sulistyo keras menempa murid-muridnya agar kuat secara teknik dan rasa. Sulistyo menurut Henny  tidak pernah membiarkan gerak dilakukan asal-asalan, setiap sikap tubuh, setiap arah pandang bahkan setiap jeda gerak harus memiliki makna.

Sesi paparan buku “Kasulistyan, Dokumentasi Karya dan Wiled Sulistyo Tirtokusumo dalam Tari Klasik Jawa Gaya Surakarta” dipandu oleh Dr. Nungki Kusumastuti.

Buku ini meski tidak terlalu tebal (140 halaman) secara desain menarik. Dilengkapi dengan foto-foto yang menampilkan seorang penari menampilkan postur dan teknik dasar serta vokabuler gerak-gerak Kasulistyan, gerak  yang bergaya khas Sulistyo Tirtokusumo tersebut. Hal demikian jarang dalam terbitan buku-buku Indonesia. Dalam desain buku-buku maestro tari dan teater terbitan luar foto-foto demikian sering menjadi hal utama. Buku-buku terbitan SCOT (Suzuki Company of Toga) misalnya yang menerbitkan buku-buku tentang teknik/metode pelatihan tubuh khas teaterawan senior Jepang, Tadashi Suzuki selalu menampilkan rangkaian foto bagaimana aktor-aktor SCOT  memperagakan ketahanan dan ekspresi tubuh berdasar  sistem pelatihan kaki yang diajarkan Tadashi Suzuki.   

Dalam sambutannya di acara launching, Ahmad Mahendra, Direktur Jendral Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan, Kementrian kebudayaan Republik Indonesia berjanji akan membeli buku yang dibandrol 250 ribu itu sebanyak 100 buku dan akan membagi-bagikannya ke berbagai lembaga kebudayaan. Mahendra tampak sangat menghormati Sulistyo, karena tahun 2000-an awal saat dirinya masih pegawai biasa di kementrian, Sulistyo adalah petinggi kementrian  – atasan beliau. Sulistyo adalah bekas Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi di Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2006-2009.

Sambutan dari Bapak Ahmad Mahendra, Direktur Jendral Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan, Kementrian kebudayaan Republik Indonesia di akhir pergelaran tari.

Tari Bedhaya Sri Nugroho yang dibahas di buku ditampilkan secara perdana dalam acara launching malam itu. Bedhaya ini ditarikan 9 penari murid-murid Sulistyo Tirtokusumo antara lain: Henny Rachmawarti, Triretno Candraningsih, Niniek Listyani Gyat, Dewi Kumoratih, Pratiwi Wiluyanti, Maria Sofia Trimawarsanti, Santi Dwisaputri Tedjakusuma, Agnes Sarila Wiridhani, Widi Kusumawardhani. Tari ini diciptakan Sulistyo sekitar tahun 2005 an.  Sri Nugroho adalah kisah perjalanan manusia dalam meraih cita-citanya. Sri berarti: raja atau penguasa sementara Nugroho berarti: anugrah. Dalam leaflet progam yang dibagikan kepada penonton, disebut Sulistyo memasukkan tiga ragam gerak tari klasik Jawa di karyanya itu yaitu Kebyak Kolong Sampur – simbol kesiapan menghadapi tantangan, Nyangga Kanan Kiri – simbol keseimbangan dalam perjalanan hidup, serta Sekaran Siyam – simbol keberhasilan yang diraih seseorang.

Pertunjukan tari Bedhaya Sri Nugroho.

Selain tari Bedhaya Sri Nugroho, pada malam launching itu juga ditampilkan cuplikan karya tari Sulistyo Kusumo Panji Sepuh  sebagai klimaks. Tari ini awal dipentaskan Sulistyo Tirtokusumo tahun 1993 dan langsung menempatkan Sulistyo sebagai koreografer klasik yang karyanya juga bisa didekati dalam perspektif kontemporer. Karya Panji Sepuh ini bertolak dari kisah di kraton Surakarta bahwa seorang yang akan menjadi raja harus menari seorang diri dalam sebuah ruangan khusus. Sebuah tarian untuk menelliti dirinya sendiri secara spiritualitas. Saat mementaskan Panji Sepuh di tahun 1993, Sulistyo bekerja sama dengan penyair Goenawan Mohammad dan komponis Tony Prabowo serta empat penari perempuan ternama Indonesia yang malang melintang dalam dunia tari tradisi dan dunia tari kontemporer yaitu Maria Darmaningsih, Elly D Luthan, Wiwiek Sipala dan Restu Imansari Kusumaningrum.  “Saat tahun 1993 durasi pementasan Panji Sepuh satu jam. Dimainkan dua penari pria, dan empat penari wanita. Ini adalah kisah seorang calon raja yang untuk mempersiapkan dirinya harus menari seorang diri di ruang penyimpanan pusaka-pusaka kraton. Dia dalam kesunyian, seorang diri harus sampai merasakan getaran-getaran kematian Goenawan membuat lirik tembang dan Toni Prabowo membuat komposisi musiknaya berdasar 9 rebab….” kata Sulistyo Tirtokusumo.

Sulistyo Tirtokusumo dalam karya Panji Sepuh.

Sulistyo Tirtokusumo sendiri ikut terlibat dalam cuplikan Panji Sepuh malam itu. Ia bersila tenang. Di umurnya yang 73 tahun, wajahnya tampak tak berubah jauh saat dia aktif di pemerintahan tahun 2000 an awal. Awet muda. Ia mengambil sebuah topeng kuning perlahan dan mengenakannya. Empat penari  Maria Darmaningsih, Elly D Luthan, Wiwiek Sipala dan Restu Imansari Kusumaningrum muncul. Mereka tampak raut mukanya telah tua sekarang dibanding tahun 1993. Betapapun demikian gerakan-gerakan sederhana mereka amat tertangkap getaran rasanya. Itu malah membuat Panji Sepuh sebagai sebuah tari yang memang esensinya spiritual cukup terasa kuat meski hanya disajikan cuplikannya. Juga saat salah satu dari penari itu menembang. Auranya kena. Empat penari perempuan itu lalu memakai topeng-topeng putih. Topeng-topeng itu dulu dibuat oleh seniman TIM, Galkis yang kini sudah almarhum.     

Empat penari, Maria Darmaningsih, Elly D Luthan, Wiwiek Sipala dan Restu Imansari Kusumaningrum dalam karya Panji Sepuh.

Sejak tahun 1993 kita ketahui, Panji Sepuh ini beberapa kali dipentaskan. Dan bahkan mengalami modifikasi-modisikasi setting. Di tetar salihara, Panji Sepuh ini pernah dipentaskan dengan sutradara teater Yuddhi Tadjudin. Dan setnya menjadi sangat menarik. Mungkin nanti dokumentasi perjalanan Panji Sepuh bisa menjadi buku yang diterbitkan oleh Nirantara. Lengkap dengan arsip-arsip fotonya baik di panggung maupun di belakang panggung. Panji Sepuh amat penting bagi dunia tari kita sebab karya itu bisa dibaca baik secara tradisi maupun kontemporer.   

Penulis: Seno Joko Suyono

BWCF 2026