Petualangan Anak Kampung di Halaman Majalah-majalah

Oleh: Hikmat Darmawan*

 

Bagian 1: Majalah Hai dan Expo

Benyamin boleh aje punya “wajah kampung, rejeki kota”. Saya sepanjang masa kanak hingga remaja merasa sebagai anak kampung di kota. Belakangan saya tahu, oh, rupanya memang ada konsep dalam kajian urbanisme bernama “kampung-kota”. Berarti, saya anak kampung-kota tulen, sejak kepindahan keluarga saya dari Bandung ke Jakarta pada 1978. Lagipula, memang nama kampung-kota tempat saya tinggal itu bernama “Kampung Utan”. Tenanan kampung lah.

“Kampung” bukan lawan kota, tapi malah bisa jadi salah satu unsur kota. “Kampung” di sini, bukanlah “desa” (“village”), sebuah area tinggal penduduk di wilayah rural atau luar/pinggir kota. Karena dirasa tak ada padanan yang tepat dalam bahasa Inggris untuk “kampung”, maka kita mengenal kata serapan “kampong” dalam bahasa Inggris.

Kampung rupanya tercirikan oleh minimnya penataan karena biasanya memang lahir dari sebuah kebutuhan dan kesempatan dalam suatu area, tidak berdasarkan cetak biru atau perencanaan kota. Di kota, kampung ditandai oleh kepadatan. Manusia dan ruang berdesakan. Tapi, bisa jadi kampung-kota juga lahir dari perluasan urbanisasi dengan segala infrastrukturnya, sehingga tadinya si kampung ada di wilayah rural lalu perlahan tapi terasa tiba-tiba terbungkus oleh urbanisasi.

Kampung tempat rumah petakan saya itu tiba-tiba saja terbentuk jadi gang, dengan tembok yang tiba-tiba membuat rumah saya dalam gang. Hidup tiba-tiba sempit dan rumit bagi mata kanak saya. Dan sebetulnya, secara keseluruhan, hidup pada era 1980-an memang terasa serba-perlahan dan mudah jadi menjemukan. Saya memang pembosan. TV hanya bisa memutar satu stasiun televisi, yakni TV Negara: TVRI. Rutinitas sekolah ya main di area kampung, kali-kali kecil, dan di antara pepohonan yang rimbun dan dungu. Ketika tiba-tiba tembok itu menghalangi mata saya menatap lanskap menjemukan itu, hidup jadi lebih menjemukan.

Empat paragraf bicara tentang “kampung-kota” dan perasaan kanak saya waktu itu meghadapi kungkungan kekampungan di atas adalah sebentuk kegelisahan apakah saya mampu dengan persis menggambarkan keajaiban dan petualangan yang diberikan oleh majalah-majalah anak atau remaja yang saya baca waktu itu: majalah Bobo, Hai, Kawanku, Eppo, Si Kuntjung, Ananda, Tom Tom, Gadis, Zin Zin, dan akhirnya, Zaman. Saya ingin secara utuh memberi konteks bagi apa yang saya rasakan saat tenggelam, atau melanglang, bertualang dalam majalah-majalah itu.

 

Tulisan yang mau diwarnai

Rasanya sangat menakjubkan, semua dunia yang terasa asing, ganjil, dan secara total berbeda dengan dunia kampung saya itu. Setiap kali saya membaca majalah Hai pada saat saya berusia 9 hingga 11 tahun, seingat saya, ada perasaan yang khas melihat petualangan Arad dan Maya berhadapan dengan laba-laba raksasa di dunia antah. Atau Kaisar Trigo dan Janno keponakannya dibantu ilmuwan sepuh Peric. Atau petualangan Steven Severijn yang bertualang di Batavia hingga Bali karena ketinggalan kapal laut ke Belanda. Atau, sesekali, nongol komik tentang Batavia dengan para tokoh lokal berwajah lonjong, yaitu komik Ganes TH., Srigala Kota Intan. Yang rutin juga, komik Coki Si Pelukis Cepat, yang memberi khayal bahwa kemampuan menggambar realistik secara kilat bisa memberi penyelesaian terhadap berbagai masalah hidup.

Itu baru komiknya saja, itu pun hanya sebagian kecil. Belum lagi berbagai cerpen dan cerbung, termasuk seri Kiki dan Komplotannya yang tak pernah bisa saya pahami kenapa begitu popular, dan seri Imung detektif cilik yang sangat memikat pikiran kanak saya. Keduanya karya Arswendo Atmowiloto, otak di balik kelahiran dan suksesnya majalah Hai hingga 1980-an. Serial Kiki, saya baca sekarang, terlihat sebagai sebuah upaya Arswendo untuk menulis sketsa anak muda urban.

Rata-rata cerita Kiki pendek sekali, hanya dua halaman saja diselingi ilustrasi kartun –biasanya dari Wedha– yang cukup banyak makan porsi halaman (kadang ada dua ilustrasi, mungkin untuk mengakali cerita yang terlalu pendek dari Arswendo). Judulnya kadang bombastis. Misalnya, Hidup Pak Guru, Cacing pun Ogah Makan Tulangmu (Hai, no. 17 thn. Ke III, 1 Mei 1979). Ilustrasi cerita ini sosok guru, yang kok sekarang saya baru ngeh tampangnya mirip Bagio dalam film Topaz Sang Guru. Tapi ya ndak mungkin, wong film itu rilis di 1981. Apakah ini Namanya life imitates art?

Kebanyakan dalam seri Kiki dan Komplotannya, cerita hanya peristiwa-peristiwa kecil dan dibangun dari percakapan-percakapan yang asing dalam dunia keseharian saya. Apa ini sebuah fungsi defamiliarisasi dalam sastra sebagaimana sabda teori formalisme Rusia dalam memahami karya sastra? Entahlah. Tapi, saya menangkap bahwa memang secara keseluruhan, seri ini bicara tentang anak-anak kota Jakarta akhir 1970-an hingga pertengahan 1980-an dan keseharian mereka dan cara yang di luar keseharian saya.

Saya waktu itu lebih hanyut pada seri Imung. Detektif cilik, dan ada sesuatu yang terasa menggebrak benak saya di nyaris setiap kisah Imung. Arswendo membangun dunia Imung, sebagaimana jurusnya di seri Kiki, dengan menutur kisah-kisah yang bersifat character driven. Imung dan ayahnya datang dari kampung, tinggal di rumah Kolonel Suyatman –sahabat ayah Imung sewaktu revolusi, dan kini pejabat tinggi kepolisian Indonesia. Imung jelas istimewa dari segi ketajaman otak dan gayanya yang serba dewasa, tapi penonton tentu segera ingat bahwa ia korengan tak sembuh-sembuh.

Sekitar 2011-2012, saya juga menyadari, setelah membaca ulang cerita-cerita Imung, bahwa latar kampung itu jadi sudut pandang Imung terhadap berbagai ragam manusia kota yang ia jumpai. Jika didalami, barangkali kita bisa menafsir bahwa tokoh macam Nyoo Han Siang si konglomerat, Tungga Dewi si penyanyi cilik nasional, Tante Mochtar yang anggun dan cantik, Kolonel Suyatman yang jadi ideal polisi galak tapi lurus, adalah sosok-sosok manusia urban yang dipandang dengan sedikit jenaka (atau sinis?) oleh Arswendo sendiri, yang memang selalu bergaya ndeso dan waktu itu baru saja migrasi ke Jakarta.

Entah kenapa, saya selalu terbayang sosok kolonel Suyatman di dunia nyata adalah Anton Sujarwo, Kapolri periode 1982-1986. Nggak sempat nanya pada Mas Wendo semasa hidup, apa akurat bayangan saya. Di masa Orba mengharamkan gambaran buruk sosok otoritas seperti polisi dan militer pada film, Wendo cukup nakal untuk memberi kita sosok polisi nyebelin dalam karakter Mayor Sulaeman Wibowo (yang malah saya rasa mirip dengan Harmoko, menteri penerangan andalan Soeharto). Selebihnya, tokoh dunia kepolisian yang menarik, seperti Ine Moi Wunga Runu (nama yang begitu ganjil buat saya semasa kecil), asisten Kolonel Suyatman yang tak pernah tersenyum tapi sering luluh oleh kesoktahuan Imung.   

 

Majalah Eppo

Ngomong-ngomong soal komik di majalah, pada saat itu juga ada majalah Eppo yang membuat saya tenggelam lebih dalam di “dunia lain” itu. Majalah khusus komik Eropa, berisi komik-komik setrip Eropa.

Banyak anak di Indonesia kadung kepincut oleh si Rambut Merah dan Storm di dunia antah yang brutal di majalah Eppo. Seri Storm digambar oleh Don Lawrence, dengan teknik realisme menggunakan cat air. Lukisan dalam komik, komik lukisan. Lawrence kini masih dipuja di kalangan tertentu pembaca komik di Indonesia. Sekarang saya menekuri, apa yang membuat komik Storm dan Trigan yang digambar secara nyaris hiper-realis itu terasa ganjil sekaligus begitu memikat mata kanak saya?

Trigan yang terbit rutin sebagai seri di majalah Hai, dan pada awal 1970-an sempat terbit pula di majalah Si Kuntjung, jelas menggambarkan mindscape Eropa: para ksatria lelaki pirang kaukasian (yang konon sebetulnya di planet jauh dari bumi) berkostum mirip kerajaan Romawi Kuno tapi dalam dunia dengan teknologi perang dan hidup yang cukup canggih. Sedangkan Storm sebermula adalah astronot yang terdampar ke sebuah bumi yang telah kembali purba. Kaukasoid juga. Tapi yang segera terasa ganjil dari keduanya, gaya penggambaran anatomi Lawrence yang serba tegak-kaku, seperti selalu tegang.

Tapi, semua itu memberi aksen lebih tebal pada keganjilan, dan karenanya keajaiban, dunia khayali yang jauh dari kenyataan pohon kecapi, mangga kwini, tanah becek di samping rumah petak, sumur timba air di dekat dapur, gang kampung kota di bagian pinggir Jakarta Selatan, keseharian yang banal dan waktu itu terasa memerangkap. Trigan dan Storm mengajak, membetot saya masuk ke sebuah dunia lain.

Sekarang sih bisa saja itu dianggap kolonisasi mindscape imajinasi Barat (Eropa dan Amerika). Memang iya. Dancuk, kata saya sekarang, terutama setelah genosida Gaza/Palestina mengalami eskalasi sejak Oktober 2023. Tapi pada akhir 1970-an hingga pertengahan 1980-an? Imaji-imaji itu adalah sebuah koloni pikiran yang memikat dan menjanjikan petualangan asyik.

Saya juga kepincut komik lain di majalah Eppo. Majalah ini terjemahan dari majalah berbahasa Belanda. Rupanya, terbitnya majalah ini tanpa izin resmi dari penerbit asli di Belanda. Di Indonesia sih terbitnya dengan nomor izin terbit dari polisi segala. Waktu itu, memang semua terbitan komik harus dapat surat izin terbit dari kepolisian. Sedangkan majalah dan koran tak bisa sembarangan terbit. Jadi, secara lokal, majalah ini sah, resmi. Tapi, setelah dua tahun, ada yang mengadukan ke penerbit asli, dan mungkin ada ancaman, lantas majalah yang kantor redaksinya di Bogor dan gemar membagikan sepeda mini pada pembaca ini berhenti terbit.

Majalah Eppo memang sebuah saripati komik Eropa. Aneka genre, aneka gaya gambar, seluruhnya per definisi menggambarkan sebuah arusutama industri komik Eropa Barat yang telah mapan sejak 1950-an. Saya tak terlalu terkesan dengan karakter yang jadi nama majalah, yakni Eppo, yang biasanya bikin stress Opa-nya dalam seri gag strip satu halaman.

Selain Storm, di nomor-nomor awal, saya terkesan pada sebuah cerita ganjil tentang seorang pelaut yang terdampar di pulau hantu, digambar oleh Hans G. Kresse. Goresan garisnya, juga anatomi karakter di komik itu, segera bisa saya kenali sebagai guris garis dari penggambar yang sama dengan seri Vidoq di majalah Zaman. Anatominya dan juga ekspresi wajah, terutama kalau karakter sedang kaget, takut, ngeri, sangat maksimal nyaris karikatural di dalam kerangka garis realisme. Hans juga saya kenali sebagai penulis/penggambar seri Si Kulit Merah, terbitan Indira. Ada tiga judul sempat terbit pada 1980-an, yakni: Keturunan Angin, Penguasa Guntur, dan Kawanan Penjahat.

Tapi cerita itu, Rahasia Pulau Setan, tamat tanpa jadi seri berkelanjutan di Eppo terbitan Indonesia. Yang lebih awet, seri Roel Dijkstra, juga beraliran gambar realis. Cerita demi cerita bergulir, sampai terhentinya majalah Eppo edisi Indonesia dua tahun kemudian. Saya belum menyadari bahwa sesungguhnya saya tak suka nonton sepak bola. Jadi, sebagai “bocah lelaki”, saya merasa harus menyukai komik sepak bola ini. Memang, lini cerita kedua cukup berkesan karena menampilkan sosok seorang Cina gemuk yang sakti, dan mengajarkan kesaktiannya kepada Roel.

Kalau sekarang sih, melihat gambaran si orang Cina yang gemuk, tonggos, mata sipit, dan kulit kuning seperti itu ya bikin risih. Cringe. Rasis bener dah, gambaran visualnya. Tapi, pada saat yang sama, ada semacam pelajaran dini tentang perlunya tak berprasangka pada ras Cina, buat saya yang masih anak kampung itu. Justru dengan visual yang rasis, pesan tentang pentingnya melampaui penampilan (oh, ternyata orang dengan penampilan aneh, dan “Cina” itu, sakti dan penuh kearifan). Orientalisme dilunakkan dalam sebuah kerangka pikir bahwa orang Cina memang “nyentrik”, tapi baik kok.

Seri yang saya suka, bergaya kartun dengan garis-garis bold line dan dinamis serta ekspresif, Agen 327. Ini cerita spy ala James Bond, tapi tokohnya sudah tua dan jelek. Rangkai cerita pertama adalah tentang kelompok Satanis dengan pimpinan berkostum topeng domba. Garis-garis gambarnya segaya dengan setrip Eppo dan bertahun-tahun kemudian, setelah saya dewasa dan mulai memerhatikan seni komik secara lebih serius, saya melihat bahwa gaya bold line komik Eropa ini sangat dipengaruhi André Franquin (Gaston dan Marsupilami).

Franquin sendiri dianggap pelopor sebuah gaya komik yang khas bersama Jijé (Joseph Gillain) yang sempat menggambar untuk seri Tanguy and Laverdure. Mereka berdua dianggap mengembangkan “Atom Style” lewat mazhab Marcinelle. Franquin sebetulnya dibina (ditutori) oleh Jijé, bersama beberapa komikus Eropa terkenal seperti Jean Giraud (Moebius) dan Jean-Claude Mézières (penggambar seri Valerian, salah satu seri komik terbaik di dunia menurut saya dari dunia komik Franchopone).

Semua nama dan karya mereka saya jumpai sejak saya membaca Eppo dan sesudahnya. Ini sudah melantur, tapi tak apa. Mungkin saya sedang menekuri betapa lewat komik saya mendapati “dialog budaya” yang cukup luas semasa masih jadi anak kampung itu. Lagipula, seingat saya, pada saat itu memang komik-komik Eropa menemukan pasar yang kuat, khususnya lewat Penerbit Indira yang telah menerbitkan seri Tintin edisi Indonesia sejak 1976. Memang, kemungkinan besar, majalah Eppo yang terbit tanpa izin dari Eropa itu akibat membaca pasar komik Eropa tumbuh subur ketika itu.

Memandang ulang majalah Eppo dan komik-komik Eropa ketika itu, yang kini saya miliki, mungkin sebagai pelampiasan karena tak mampu memiliki banyak komik dan majalah saat itu, saya terbentur pada relasi saya sendiri dengan Eropa. Terutama setelah genosida di Gaza yang merupakan eskalasi pendudukan, apartheid, dan genosida terhadap orang Palestina oleh Israel sejak 1948, saya merasa ada yang berubah. Saya curiga, apakah kegandrungan saya pada komik-komik Eropa itu sejenis kolonisasi budaya Barat?

Dalam konteks itu, saya mungkin secara emosional merevisi pandangan saya ketika beranjak remaja dan terpapar aksi Bob Geldoff protes terhadap album-album bootleg pertunjukan Live Aid yang terbit “resmi” di Indonesia: apakah bangsa saya memang bangsa maling? Sekarang, saya malah mikir, lhah Eropa itu kaya dan maju justru karena maling banyak hal selama berabad-abad dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin.***

 Bersambung: Majalah Si Kuntjung dan Kawanku

—-

*Hikmat Darmawan Peneliti Budaya Popular