Khotbah Nasirun
Oleh: Agus Dermawan T.
Nasirun, kelahiran Cilacap, Jawa Barat, 1965, wafat pada 1 Agustus 2026 di Yogyakarta. Perupa amat terkenal ini memberangkatkan karyanya dari dua tradisi yang diturunkan orang tuanya. Ibunya, Supiyah, wanita berlatar Sunda Wiwitan. Ayahnya, Samrustam, orang Jawa yang meniti tradisi dengan kedalaman. Nasirun banyak mewariskan rupa seni dan cerita kehidupan.
————-
SAYA mengenal Nasirun sejak tahun 1990-an. Namun perkenalan itu sebatas “kenal-kenal ayam”, lantaran pertemuannya selalu di tengah keramaian, seperti pagelaran kolosal seni rupa di Yogyakarta sampai kala ia pameran “Ojo Ngono” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.
Rasa akrab baru terbentuk pada 2018, ketika saya dan Nasirun ditunjuk sebagai juri Indonesia Painting Contest di Jakarta. Kompetisi “melukis cepat lima jam” untuk para pelukis profesional se Indonesia ini diselenggarakan oleh NU Gallery, pimpinan tokoh NU (Nahdlatul Ulama) dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Nabil Harun, atau Gus Nabil.
Ketika masuk ruang pertemuan, Mustofa alias Cak Topa, koordinator kompetisi, “memperkenalkan” saya kepada Nasirun.
“Ini Mas Agus, wakil dari juri NU cabang Katolik. Sedangkan Mas Nasirun wakil dari juri NU cabang….”
“Mistik!” sahut Nasirun cepat.
Seisi ruang tertawa, karena kata “mistik” selaras belaka dengan penampilan Nasirun, yang gondrong, berkumis lebat. Sering bersarung, dengan mengenakan kain semacam selendang kashmir panjang di pundak. Meski tidak beraroma kemenyan.

Perupa Nasirun (Cilacap, 1 Oktober 1965 – Yogyakarta, 1 Agustus 2026). (Foto: Dokumen)
Dalam rapat Nasirun digadang sebagai Ketua Dewan Juri. Namun Nasirun menolak. Alasannya, kalau ia tampil di podium, peserta akan mengira bahwa dewan juri kompetisi ini dipimpin oleh seorang dukun.
“Saya ‘kan mirip dukun gaib di banyak film horor,” ujarnya. Akhirnya panitia menetapkan Yusuf Susilo Hartono, juri NU cabang jurnalistik, sebagai ketua.
Nasirun terlihat sangat lega.
Dalam pertemuan itu saya bercerita, bahwa pada tahun 1996 kesehatan mata saya pernah diperiksa oleh Prof. Dr. Istiantoro Soekardi, dokter mata istimewa di Jakarta Eye Center. Istiantoro tahu bahwa saya adalah kritikus seni rupa. Lalu, sambil memeriksa ia menanyakan persoalan lukisan-lukisan koleksi Museum Nasional Indonesia – Affandi, Basoeki Abdullah, Raden Saleh – yang (kala itu sedang) hilang dan kemudian masuk dalam lelang Christie’s Singapura. Dari pembicaraan itu saya mestimulasi Istiantoro agar menjadi kolektor.
“Jadi kolektor? Saya akan mencoba,” katanya.
Dua minggu kemudian saya periksa ulang kepada Istiantoro. Dan, lihat, di dinding prakteknya sudah terpajang dua lukisan apik, yang menggambarkan semacam mahluk-mahluk gaib. Karya Nasirun!
Nasirun tertawa mendengar cerita itu. Namun dengan cepat ia menukas.
“Hi hi hi. Dokter mata kok malah salah lihat ya. Masak lukisan saya yang dipilih!” katanya. Tangannya menggamit selendang, dan didekatkan ke wajahnya.
Cerita nyata ihwal Istiantoro itu saya tulis dalam buku Sihir Rumah Ibu, terbitan Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2015. Saya berhasrat mengirim buku itu kepada Nasirun. Saya pun minta alamat rumahnya via handphone.
“Sejak dulu, saya tidak memakai handphone,” kata Nasirun.
Semua orang terpana.
Usai perlombaan kami menanda tangani piagam untuk para peserta dan pemenang. Ketika menorehkan tanda tangan Nasirun berkata.
“Kalau bikin tanda tangan begini, saya selalu teringat Ibu saya. Dia pernah berkata dalam bahasa Sunda : Janten jalma anu dihormat. Saeutik corat-coret maneh gé geus aya hargaan. Artinya, jadilah orang yang dihormati. Sedikit coretan saja sudah ada harganya.”
Sungguh nyata, tanda tangan Nasirun mahal nilainya.

Nasirun, kanan bawah, kala menanda tangani piagam peserta dan pemenang lomba. Yang mengenakan blangkon adalah Nabil Harun atau Gus Nabil. (Foto: Iliana)
Bersih hati, bersih tangan
Pertemanan kami berlanjut. Suatu kali ketika di Yogyakarta saya berkunjung ke rumah, studio dan museum Nasirun di Jalan Wates, Perum Bayeman, Bantul. Bangunan itu sunyi.
“Bapak sedang tidur siang,” kata puterinya. Dan ia tak berani membangunkan.
“Saya tidak ingin mengganggu. Cuma pengen lihat studio dan museumnya.” Saya pun boleh masuk dan menyelinap ke banyak sisinya.
Setelah belasan menit beringsut di museum, Nasirun muncul dari satu sudut.
“Hi hi hi, ada Mas Agus. Kok saya nggak diberitahu. Untung saya sudah mandi, jadi rada resik,” katanya.
“Ora opo-opo Run. Sing paling penting iku resik atine resig tangane,” sahut saya, bergurau. Maksudnya: yang penting itu kebersihan hati dan kebersihan tangan.
“Iya ya….tidak nyolongan,” kaya Nasirun berguyon pula, sambil tertawa lepas.
Dalam perjalanan keliling museum, Nasirun lalu membicarakan soal kebersihan hati dan kebersihan tangan. Fokusnya adalah hati dan tangan orang-orang yang dipercaya dan diberi amanah serta jabatan. Ia mengambil pegawai tinggi negara alias pejabat sebagai contoh. Dari situ ia lalu ingat pesan dari berbagai buku. Di antaranya adalah bagaimana pejabat harus bersifat dan bersikap, agar bisa menjadi manusia panutan. Dan apabila sudah jadi panutan, bagaimana caranya untuk berjalan paling depan. Atau jadi pemimpin yang membimbing banyak orang.
Maka Nasirun pun mulai “berkhotbah”.
“Menurut saya, pejabat harus memahami dan mengikuti kearifan alam. Seorang pejabat harus sadar atas apa yang menjadi laku, atau perilaku. Bukan atas apa yang bisa laku, dalam pengertian bisa dibeli dan dijual,” katanya.”
Dan kearifan laku itu ia ungkapkan dalam kalimat-kalimat piwulang di bawah ini.

Nasirun, Agus Dermawan T dan Iliana di studio dan museum Nasirun, di Yogyakarta. (Foto: Dokumen)
“Ada laku hambeging candra atau meniru perilaku rembulan. Maknanya, seorang pemimpin harus mampu memberikan penerangan yang hangat dan menyejukkan seperti bulan bersinar terang. Laku hambeging dahana atau meniru perilaku api. Maknanya, seorang pemimpin harus tegas seperti api yang sedang membakar. Ada pula laku hambeging kartika atau meniru seperti bintang. Maknanya, seorang pemimpin harus memiliki rasa percaya diri, meski menyadari dirinya kecil dibanding matahari dan bulan.”
Nasirun membetulkan posisi selendangnya.
“Lalu laku hambeging kisma atau meniru perilaku tanah. Maknanya, seorang pemimpin harus selalu sabar dan berbelas kasih dengan siapa pun, seperti tanah yang tak pernah perduli siapa yang menginjaknya. Laku hambeging samirana atau meniru perilaku angin. Maknanya, seorang pemimpin harus terus waspada, di mana pun ia berada. Tak boleh lupa laku hambeging surya atau meniru perilaku matahari, yang maknanya seorang pemimpin harus bisa memberikan inspirasi kepada bawahan. Dan terakhir laku hambeging tirta atau meniru perilaku air. Seorang pemimpin harus berlaku adil seperti air, yang selalu rata permukaannya. Hi hi hi.”
Sambil tertawa Nasirun menutup mulut dengan selendangnya.
“Gaya ya, sok filsafat. Tapi, Mas Agus pasti lupa kalau ungkapan-ungkapan itu saya ambil dari tulisan Mas Agus dalam buku tentang pelukis Tionghoa. Saya tidak tahu buku itu sekarang ada di mana,” katanya.
“Ora soal Run. Aku yo nyontek perkataan orang-orang pintar, kok,” sahut saya.
Sebagai orang yang hidup di Yogyakarta Nasirun sangat suka ajaran-ajaran yang terungkap dalam kosmologi Jawa itu. Meski mendalami dan menjalankan pikiran-hati dunia Jawa itu dia akui agak sulit. Tapi ia ingat pesan Ayahnya: Sopo sing tekun golek teken mesti tekan. Artinya, siapa saja yang sabar, ulet dan tekun mencari tongkat (penyangga ilmu pengetahuan), pasti akan sampai ke tempat tujuan.
Apabila pada kemudian hari – sampai wafatnya – Nasirun dikenal sebagai seniman yang lembut, baik hati, pemurah, rendah hati, rame dan lucu, tak lain adalah hasil dari piwulang Jawa itu.
Itu sebabnya kala berbicara ia sering memberi tuntunan (tanpa menggurui) lewat berbagai ungkapan manis. Misalnya, sapa kang arsa urip mulya, den prayitna ngedaleni talining mega. Siapa yang ingin hidup mulia, kuat-kuatlah mengendalikan tali mega. Tali mega adalah kiasan dari tebaran keinginan sing ora-ora.
Benda hidup, orang mati
Saya terus beringsut di studio Nasirun yang dipenuhi berbagai gambar dan benda itu. Ada lantai berlukis, yang digarap kala ia menganggur pada tahun 2020 sampai 2022, kala bencana Covid-19 melanda segenap manusia. Ada botol-botol gelas yang ia beli dari laboratorium rumah sakit yang sudah merawat banyak orang.
“Dulu di laboratorium rumah sakit botol-botol ini hidup. Tapi kemudian botol-botol ini jadi benda mati. Dan akan menjadi hidup apabila dihidupkan oleh mereka yang hidup,” katanya. Karena itu puluhan botol yang tegak kaku itu ia koleksi untuk dihidupkan lagi.
“Saya tahu persoalan hidup dan mati ini setelah mempelajari Ki Ageng Suryomentaram,” tutur Nasirun.

Lukisan Nasirun, “Air Mata Ibunda”. (Foto: Agus Dermawan T).
Ia lalu berjalan menuju ke satu meja yang menaruh beberapa buku. Di situ ada kitab Filsafat Rasa Hidup – Ki Ageng Suryomentaram terbitan Yayasan Idayu, Jakarta 1974. Ia tunjukkan beberapa halaman. Di antaranya yang menjelaskan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang segala apa yang ada. Filsafat memberi jawaban atas pertanyaan: ada apa dengan segala yang ada di atas bumi dan di kolong langit.
“Di sini bisa kita baca. Segala apa yang ada di kolong langit dapat dibagi atas dua bagian, yaitu benda mati dan benda hidup. Benda mati itu berupa piring, meja, batu, botol-botol rumah sakit, dan sebagainya. Sementara benda hidup itu berupa tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia. Jadi segala apa yang ada hanya terdiri dari benda hidup dan benda mati. Selebihnya dari itu tidak ada.”
Ia membuka lanjut kitab lusuh itu, dan “berkhotbah” lagi sambil membaca sejumlah baris.
“Dalam buku ini dijelaskan bahwa wujud manusia sebagai benda disebut badan atau raga. Raga manusia dapat bergerak sendiri, sehingga jadi benda hidup. Namun kalau raga itu tidak dapat lagi bergerak, maka raga itu disebut benda mati. Sementara kita diajari bahwa hidup itu bersifat laku, atau lelampahan, atau perjalanan spiritual agung kehidupan. Laku atau lelampahan ini bisa menghidupkan benda yang sudah mati. Dengan begitu, walaupun raga orang itu sudah jadi benda tidak hidup, spirit agungnya, lakunya, lelampahannya tidak akan pernah mati.”
Nasirun lalu diam sejenak, dan lantas tercenung.
“Saya kok ya kepingin seperti itu, ya. Hidup terus setelah kematian. Hi hi hi. Opo mungkin?”
Selendangnya yang bercorak poleng keabuan-abuan, digamit lagi untuk menutup seluruh wajahnya. *
Agus Dermawan T. Kritikus seni rupa, penulis buku-buku budaya.




