Puisi-puisi Seno Joko Suyono
Dua arca Yang Lelah di Museum
Terlalu banyak menerima umat
Yang meminta berkah dan permohonan-permohonan
selama ratusan tahun
Kulihat mata kedua arca itu lelah
Meski terpejam seolah meditasi
Kulihat ada sedikit embun di pelupuknya
“Bagaima Anda tahu. Anda dari mana?”
Aku merasa arca itu gusar bertanya kepadaku
Aku merasa bersalah dan akan berusaha hati-hati
Agar tidak bertanya-bertanya sembarangan
Aku tidak ingin menduga apakah betul bibirnya yang tersungging
Hanya pahatan semu untuk memberikan umat
Harapan saat mereka menunduk berdoa
Dan meminta minta penyelamatan
Kutekan kesangsianku bahwa masa depan
Akan lebih berlangsung baik
Bila tiap hari kita percaya, bahwa sesungguhnya arca ini
Tengah menunggu waktu tepat untuk turun ke dunia
Sebagai juru penebus
Ia akan menjelma menjadi manusia
Mengajarkan lagi dharma yang katanya tak akan dikenal lagi
Dan membimbing semua orang
Agar bebas dari siklus penderitaan
Maka aku menyeka mataku di kegelapan
Dan kembali ikut berbaris dari belakang
Serta berpura-pura menggumamkan sesuatu
Seperti pengunjung museum lain yang juga berpura-pura
Mengharap di masa kelahiran mendatang akan bisa menjadi muridnya
Heungbokjeon, Gyeongbokgung*
Siluet Gunung Bugaksan bisa ditatap dari jendela kamarmu
Menyandang status terendah, aku tak bisa membayangkan
Apa yang kau lakukan di jam-jam menunggu
Selain menatap Gunung Bugaksan yang berkabut
Aku enggan mengimajikan kisah guide itu
Seorang dayang pagi hari kemungkinan menyisir rambutmu
Mendadanimu dengaan kostum sesuai
Memercikkan parfum terpilih
Dan lalu kau menanti panggilan raja
Yang rasanya berabad-abad, penuh ketakpastian
“ Ada 8 tingkat selir. Yang paling rendah
diremehkan oleh selir atasnya . Dayang-dayang bisa jadi malas melayani,
menyembunyikan minyak wanginya. Dan raja mustahil mengenalnya,
apalagi membuatnya hamil” cerita
guide itu makin seperti sinetron-sinetron
Aku tak ingin mendengar kisah
Seorang perempuan mati
Menahan hasrat dan fantasi memiliki anak berdarah biru
Aku tak ingin mendengar cerita
Protokoler-protokoler yang menindas
Letupan letupan birahi
Aku hanya ingin melihat samar Gunung Bugaksan
Yang kau pandang saat jemu
Sembari jemarimu mengaduk secangkir teh ginseng
Merasa jam jam menunggu adalah titian ajal
*Tempat tinggal para selir di istana Gyeongbokgung
City Hall
Aku menghindari mengirim shareloc tempat dudukku ini
Sebentar lagi aku masuk ke taman pohon pohon tua
Berdiri di antara istana dan museum kolonial
Mencari Mapple oranye yang meneduhkan
Tadi aku melihat sesorang berambut panjang di jalan
Dilingkari anak-anak muda
Ia mendemonstrasikan ketrampilan jari-jarinya menghilangkan dan
memunculkan gelang-gelang di luar logika
Aku ikut bertepuk tangan riuh
Masih ada keajaiban di luar reklame reklame digital
Aku ingin mencari gelangnya yang bersembunyi di udara
Makin banyak tontonan dan kerumunan di sini menjelang sore
Jiwaku adalah jiwa yang gembira menyaksikan sulapan penjual obat
Biarkan aku tersesat beberapa jam di sini
Aku senyapkan notifikasi-notifikasi tanda bahaya yang terus muncul di telefon genggam
Dulu raja seolah-olah berada di pusat semesta
Saat menggambar matahari, bulan, lima puncak gunung, ombak, pohon pinus
Kini mahasiswa-mahasiswa menganggap di pusat dunia
Tatkala berada di lingkungan 3D dan mixed reality
Di jalan setapak ini mungkin aku merasa di pusat Seoul
Bila menemukan pertunjukan berjalan di atas tali yang penuh humor
Hari Raya Chuseok*
Arwah -arwah akan berkumpul dengan keluarga
Menikmati hidangan kue beras setengah bulan
Arwah arwah akan ikut antri
Membeli wijen, madu, kacang merah, kacang hijau, kastanye
Dari tadi memesan Matcha Bingsu
Aku tetap jauh di belakang
Mungkin di tengah-tengah terus berdatangan
Roh roh yang menyamar menjadi pegawai-pegawai yang menikmati tanggal merah
Hari libur ini adalah hari penghormatan kepada dunia tak tampak
Aku akan hati-hati di subway
Terutama di stasiun-stasiun dekat pekuburan
Karena aku yakin banyak yang menyongsong anak-cucunya tabur bunga
Dan menginginkan mereka membungkuk sangat rendah di hadapannya
Sukma-sukma itu tentu membuntutimu ke rumah dan mengajakmu memasak bersama
Tapi tak ada undangan darimu yang mengajakku ke apartemen pribadimu
Makan bersama dengan almarhum canggah-canggahmu
Aku cuma menunggu giliran panjang di kios makan umum
Yang tak sampai membuat pesananku diterima, selama berjam-jam
*Di hari raya yang tahun ini jatuh di akhir September, Korea libur 3 hari
Untuk Pameran Abstrak Lee Dai Won
: National Museum of Modern and Contemporary Art, Deoksugung
Lanskap pertanian warna warni, panorama pegunungan kemerah merahan
Di kanvas sepanjang 5 dan 7 meter melampaui tatapan mataku
Tubuhku ditarik bentang, tubuhku diseret ke sebuah repetisi tak berkesudahan
Aku tenggelam dalam tamasya perulangan ranting dan halimun
Kota sibuk ini memiliki banyak titik healing tak terduga
Garis, titik, bidang, tekstur cat kuning kecoklatan, hijau kehitaman,merah intens,
bercak putihmu yang ditumpuk membawaku ke ritme terapi
Aku melangkah menyusuri visual ilalang basah suatu padang yang menenangkan
Nothing Here Makes You Sad
Tidak ada apapun di sini yang membuatmu sedih, katamu
Ya betul, kebun orchard, bunga bunga musim semi,cabang-cabang pohon musim saljumu
Membuatku tetap ingin bertahan di sini
Kota ini cepat membuatku bosan
Kota ini cepat membuatku lelah
Jiwaku tak pernah terpedaya oleh ketertiban, kedisiplinan
irama-irama repetitif yang membuat mata kering
Semakin lama dipandang, tapi sapuan-sapuanmu merahmu membuatku
Merasa ada kegembiraan yang tidak memiliki awal dan akhir
Betah atau tidak betah, aku melihat kau menawarkan penyembuhan
Stasiun Jongno 3
Jangan terus menerus memintaku melihat Naver Maps
Jangan tiap kali mengingatkan Google Maps tak bisa membaca huruf huruf Haegul
Aku menavigasikan diriku tanpa aplikasi peta
Ukuranku adalah wajah ibu-ibu setengah baya
yang bergelantungan di pegangan tangan subway
Lihatlah kursi merah: Seat for The Pregnant Woman selalu kosong
Aku suka bila ada lelaki uzur bertopi baret lalu duduk mengisinya
Aku selalu kemudian merasa aman
Arah yang kutuju tak salah
Selalu kucari seorang penumpang yang membaca buku
Yang tak mau mendengarkan pengumuman stop stasiun berikutnya
Aku mau menduga-duga tema novel apa yang menulikannya
Jangan memaksaku mencari pintu keluar dekat mesin top up
Kartu keretaku bergambar seorang gadis yang tengah berdoa
Saldoku selalu cukup dan tak perlu terus menambah pulsa 10 ribu won
Gate manapun selalu terbuka walaupun aku belum menyentuhnya
Jangan turun tangga pintu emergency atau penumpang dengan kursi roda
Atau melangkah di travelator yang berjalan lambat
Biarkan aku menduga-duga mana anak tangga yang benar
Patokanku adalah pensiunan yang hati-hati melihat trap
Jadi duduklah dulu bersamaku di depan kios informasi
Semua yang ingin kulalui adalah jalur normal
Bagi seorang penyair yang baru menulis di usia tua
Taman Rahasia Changdeokgung
Jika tempat ini adalah tempat melatih firasat
Jeda adalah hal terpenting
Penundaan adalah penyingkapan
Dan sastra mengambang di kolam-kolam
Bunga plum yang dingin
Bisa menjadi alusi bagi kerajaan yang tanpa gairah
Mari teguk minuman hangat di cawan ini
Kau tak akan mabuk tapi menderita keindahan
Jamuan-jamuan makan mengumpulkan sarjana
Saling menyesuaikan rima dan membuat sajak bersambungan
Pavilyun yang menjorok ke telaga buatan
Tempat kenangan disimpan dalam memoar
Bangunan-bangunan di atas bukit adalah perpustakaan
Dengan 30.000 volume buku
Kitab kitab klasik Konfusionis dirawat
I Ching ditebarkan sampai ke atap-atap
Aku menunggu di loket yang sold out tiketnya
Sembari membaca kitab Analek yang dulu kudapat
Di kuliah-kuliah filsafat Cina dua semester
Tian dulu selalu diajarkan sebagai Tuhan
Tapi di sini kulihat keharmonisan alam di luar kehendak
Dan kegugupan manusia metropolitan
Hwangap Janchi*
4 tahun lagi akan kuajak kau kemari
Di sini umur 60 tahun dirayakan dengan hormat
Dianggap telah mencapai satu siklus penuh kalender
Dan kelahiran kembali seseorang memasuki siklus baru
Kita sama sama tua nanti
Kita sama-sama letih nanti
Akan kusewakan kontrakan sederhana
Namun ada dapur di dalam kamar
Dan ada shower panas di kamar mandi
Serta bisa jalan kaki ke stasiun terdekat
Kita tak usah mengenakan kostum tradisional hanbok
Tak terbayangkan kita memakai jubah luar tradisional
Kau menggunakan kaus kaki tebal
Aku berbusana resmi pejabat zaman Joseon
Kita tetap di kamar saja
Kau memasak sambil telanjang bulat
Dan aku mendekap tubuhmu yang keriput dari belakang
Seolah-olah meniupkan sajak di rambut putihmu
Lalu tempat tidur berkelambu
Adalah tempat terbaik untuk memasuki awal
Putaran hidup baru setelah menyelesaikan satu siklus
Dosa-dosa dan karma baik kita buat lagi untuk panjang umur
*Hwangap Janchi adalah pesta tradisional Korea untuk merayakan seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun.
Untuk Pameran Abstrak Yoo Young Kuk*
: Seoul Museum of Art
Gunung Bugagsan di utara
Gunung Inwangsan di barat
Gunung Namsan di Selatan
Gunung Naksan di timur
Semua ada di hatimu
Aku diajak melihat inti Seoul
Bukan fisik tapi hening gunung
Gunung bukan hanya sesuatu yang didaki
Tapi cakrawala lain yang harus dicari ke diri
Aneka citra geometrik tak pernah serupa
Palet vermilion kuat, hangat , energik
Sapuan krem, keseimbangan, keteduhan
Torehan ultramarine, keluasan, kedalaman
Tatkala kau 8 kali pendarahan otak
35 kali dirawat di rumah sakit
Segitiga-segitiga hijau,hitam, biru tua dengan layer-layer oranye
Tetap muncul dari kuasmu
Pukul 9 pagi datang studio keluar jam 6 sore
Tertib,tiap hari tak perduli hidup dengan alat pacu jantung
Gunung-gunung yang kau lihat di masa kecilmu di Uljin, Gyeongsalbuk-do
Makin menjadi bahasa khidmat ketika kesehatanmu memburuk
Tubuhmu melemah, gunung makin jauh dari pemandangan
Hanya pokok, penuh perenungan
Tatkala kau wafat 2002, gunung gunung di kanvasmu menjadi biksu di dalam diri
Memperingati 110 tahun kelahiranmu, aku datang untuk meditasi
*Pelopor lukisan absrak Korea, yang 110 tahunnya diperingati dengan pameran karya-karyanya bertema: A Mountain Within Me
Kitab Mencius di National Folk Museum Korea
Aku ingat Haksu Tjhie Tjay Ing* dulu berpakaian hitam melintas di kampus
Sosoknya bagai seorang guru kebijakan turun pertapaan
Aku ingin mengikuti kelasnya tapi tak bisa
Aku ingin mendengar uraiannya tentang doktrin jalan tengah Konfusius
dan kitab Mencius
Di museum ini aku mendapat pengertian
Di zaman Joseon kitab-kitab itu diajarkan semenjak kelas menengah
Agar masyarakat tahu menempatkan diri
Melakukan kebaikan dalam rumah tangga dan negara
Kulihat sarjana-sarjana pengajar dikelilingi murid dipatungkan
Diletakkan di etalase kaca besar
Dan para pengunjung membayangkan ucapan-ucapan apa yang keluar darinya
Kulihat dokumen-dokemen sertifikat dan ijazah dipamerkan
Ujian-ujian negara tingkat awal dan tinggi penguasaan kitab dilakukan
Kaligrafi-kaligrafi puitik diwajibkan
Sebuah sajak dituntut menanamkan kebajikan calon pejabat
Aku berbalik. Sajak-sajakku adalah sajak tak bermoral
Penuh noda dan kekecewaan
Keragu-raguan dan kebimbangan
Mungkin karena dulu aku tak memasuki kelas Haksu Tjhie Tjay Ing
*Almarhun sesepuh Matakin yang dulu mengajar di UGM
Hujan di Depan Kuil Jogyensa
Rintik merambat berjalan lebih cepat dari petunjuk-petunjuk trotoar
Aku meneduh di tempatmu.
Tak kutabuh drum tiga kali seperti semestinya
Kulihat jalan hujan adalah jalan satori
Ordo ordo yang bertahan sedikit
Zen adalah caramu menjaga keberlangsungan hidup
Gerimis yang setengah setengah , hilang timbul
Adalah latihan mengolah intuisi
Hujan adalah koan – teka-teki yang tak bisa dipecahkan
Hujan turun seperti melepaskan keterikatan
Hujan membasuh debu membersihkan batinku dari kelekatan
Apa yang ada di antara tidak ada
Rambutku basah, punggungku terasa dingin
Hujan makin deras, aku tak bisa membayangkan berjalan mencari halte
Aku berlatih tidak melakukan apa-apa
Untuk bisa bergerak lebih jauh dari mendung hari ini
**Seno Joko Suyono menulis kumpulan puisi: Di Teater Dionysos serta dua novel: Kuil di Dasar Laut dan Tak Ada Santo dari Sirkus.




