Komodifikasi Kue-Ku Lasem dalam Arus Ekonomi Kreatif

Oleh: Favio Soares Pinto*

 Pelestarian tradisi yang termanifestasi dalam memori leluhur, penyesuaian terhadap lingkungan baru yang diwujudkan melalui adaptasi lokal, serta perubahan orientasi menuju nilai komersial yang tercermin dalam ekonomi kreatif.

Gambar 1. Wawancara dengan Mbak Agni di Studio, Lasem. (Dokumentasi: M. Three/2026)

Mbak Agni menjelaskan makna filosofis dan fungsi sosial kue-ku di Lasen. Kue-ku tidak dapat dipahami sekadar sebagai kuliner biasa. Berdasarkan pembacaan terhadap berbagai wawancara, penelitian, dan referensi, kue-ku merupakan memori yang diturunkan dari generasi ke generasi. Pengetahuan tentang kue-ku, termasuk praktik pembuatannya, ditransmisikan secara turun-temurun, bukan hanya soal resep, melainkan juga praktik membentuk adonan hingga proses mencetaknya. Hal ini menciptakan kedekatan emosional yang kuat dalam keluarga. Kue-ku memiliki nilai filosofi karena digunakan dalam berbagai ritual. Kebudayaan Tionghoa pada hakikatnya merupakan aliran filsafat, bukan agama dalam pengertian Barat. Kue-ku selalu hadir dalam ritual penting, seperti daur hidup manusia (kelahiran, pernikahan dan kematian), sembahyang keluarga, dan pemujaan komunal di kelenteng. Motif pada cetakan kue-ku juga sarat makna, seperti kura-kura yang melambangkan panjang umur dan kesejahteraan, buah persik yang melambangkan berkah berupa banyak anak dan rezeki, serta ikan sebagai lambang kesejahteraan. Selain motif figuratif, terdapat pula motif geometris yang juga muncul dalam kebudayaan Hindu-Buddha, terutama Buddha, yang ketika masuk ke Tiongkok melahirkan berbagai variasi garis. Menurut Mbak Agni, motif-motif tersebut tidak hanya bersifat artistik, melainkan juga memiliki fungsi dan simbolisme tertentu.

Gambar 2. Cetakan Kayu di Studio, Lasem. (Dokumentasi: Favio Soares Pinto/2026)

Mbak Agni menjelaskan bahwa cetakan kue-ku dibuat dari kayu pilihan dengan tingkat ketahanan tinggi dan tidak mudah rusak, mengingat cetakan ini diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika tukang kayu memilih kayu yang keras dan awet, hal itu mencerminkan kesadaran lingkungan dan ekologis, sebab dengan kualitas yang tahan lama, ia tidak perlu menebang pohon atau membuat cetakan baru secara sering. Hal ini berbeda dengan praktik produksi massal yang mengutamakan kuantitas dan perputaran produk. Menariknya, dalam masyarakat Lasem, kue-ku hadir dalam setiap momen, baik untuk sembahyang leluhur di rumah maupun di kelenteng, sehingga kue-ku identik dengan kehidupan ritual masyarakat setempat. Variannya pun beragam, dari ukuran kecil hingga besar, dengan warna merah yang melambangkan kebahagiaan, meskipun di daerah lain dikenal pula warna hijau, putih, atau hitam.

Mbak Agni menjelaskan bahwa bahan-bahan pembuatan kue-ku, seperti tepung ketan dan isian kacang hijau, merupakan bahan lokal dalam konteks adaptasi lokal. Perubahan isian terjadi pada beberapa daerah, misalnya di Yogyakarta dikenal dengan nama kue kebo yang berisi unti kelapa dengan gula kelapa dan pandan, meskipun bentuk dan warnanya tetap sama. Agni menekankan bahwa kue-ku adalah warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage) yang hidup (living heritage). Ketika Mbak Erlita mencoba menghidupkan kembali pembuatan kue-ku, muncullah memori ibunya yang dulu masak bersama, meskipun Erlita tidak pernah diajari secara langsung. Proses ini membangkitkan ingatan keluarga, yang kemudian meluas menjadi ingatan komunal.

Terkait asal-usul cetakan, Mbak Agni menduga bahwa pada awal kedatangan orang Tionghoa di Nusantara, mereka membawa serta cetakan kue-ku dari Tiongkok. Seiring waktu, ketika mereka menetap dan beradaptasi, cetakan yang rusak diperbarui atau dibuat di Nusantara dengan motif yang mungkin masih merujuk pada motif asli. Menariknya, ditemukan pula cetakan dengan motif yang berbeda dari motif Tionghoa standar, seperti motif bunga sederhana yang bukan motif Tionghoa, yang diduga merupakan buatan pengrajin kayu Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa kue-ku juga diadopsi oleh masyarakat Jawa di Lasem untuk acara-acara istimewa seperti lamaran, selamatan, dan bulan Ruah (tahun baru Islam), meskipun mereka tidak lagi mengetahui makna filosofis di balik kue-ku.

Kue-ku saat ini tengah bertransformasi menuju bentuk baru sebagai produk ekonomi kreatif. Mbak Agni menyebutkan bahwa di Singapura, cetakan kue-ku telah dijadikan sabun organik ukir. Lasem sendiri saat ini tengah melakukan upaya revitalisasi untuk menciptakan produk turunan seperti magnet, gantungan kunci, atau perhiasan. Meskipun masih ada keluarga yang memproduksi kue-ku untuk dijual di pasar setiap hari, jumlahnya semakin berkurang. Generasi muda cenderung membeli daripada membuat sendiri. Kue-ku pun telah bertransformasi menjadi camilan harian, isian snack box, atau produk untuk berbagai acara, sehingga terlepas dari nilai filosofisnya dan lebih berfungsi sebagai produk kuliner biasa. 

Gambar 3. Kue-ku & Cetakan kue. (Dokumentasi: Mito Freitas/2026) 

Mbak Agni mengakui bahwa perubahan teknik pembuatan sebagai hal yang wajar dalam living heritage. Hal terpenting, bagaimana warisan budaya tak benda ini tetap relevan pada zamannya, tidak berubah secara drastis, dan masih diakui oleh masyarakat sebagai kue-ku. Mbak Agni memberikan contoh dari Thailand, di mana tradisi mengarak kucing sebagai simbol tolak bala kemudian memasukkan karakter Doraemon dalam arak-arakan tanpa menghilangkan makna spiritualnya. Selama ada kesadaran komunal yang mengakui kue-ku sebagai sesuatu yang bermakna, perubahan bentuk atau teknik tidak menjadi masalah.

Mbak Agni secara pribadi, tidak memiliki pengalaman kedekatan dengan kue-ku sejak kecil (berasal dari tradisi Jawa muslim), ia tidak memiliki ikatan emosional atau makna personal terhadap kue-ku. Namun, sebagai peneliti dengan latar belakang sinologi, ia memahami dan menghargai kebudayaan ini sebagai warisan ibu. Mbak Agni juga mencatat bahwa resep-resep kue-ku ditulis oleh para nyonya Tionghoa, kadang dalam bahasa Hokkian, dan buku resep dari Lasem asli telah dicetak oleh Ibu Juli, seorang warga asli Lasem.

*Favio Soares Pinto, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.