Puisi-puisi Irna Novia Damayanti
Perkenalan
perkenalkan namaku puisi yang dilahirkan dari kasih sayang ilahi
mataku masih berwarna kasih sayang ibu dan doa-doa para guru
jika ada kebaikan dalam hidupku berarti doa dan kasih sayang serupa musim kembang menebar aroma kebaikan
namun jika ada luka berarti lisanku sedang terbata kehilangan cahaya dalam menjelaskan diriku siapa
Karangtengah, 2022
Sebelum Sholat
Re, aku belum takbir
tapi masih hafal bahwa hidup dan matiku hanya untuknya
meski sesekali nafsu dan kesadaranku masih milik uang dan harta kekayaan
aku masih punya waktu
menyusun sebuah doa yang baru
jadi maukan kita bismillah bersama
sebelum menyembah secara sempurna ?
Rajawana, 2021
Saat Malam Bersholawat
cahaya lampu terapung di permukaan kolam
suara sholawat masih terdengar
dan orang-orang satu demi satu datang
menjemput rindunya di masjid
lalu kau di mana saat ini ?
apakah berhenti menjadi kesepian dan
menjelma daun jatuh di antara langkah kaki pejalan
atau kau benar-benar menepi
membuat dunia sendiri yang
menjauhkan tubuh dari realita
atau barangkali kaulah yang
berdiri di belakangku merupa doa
sehingga aku sudah sampai
di antara nyala lampu dan
nyala rindu
Karangtengah, 2021
Depan Rumahmu
musim kemarau telah datang berkunjung
menyapa wajahmu di dalam rumah
kau masih duduk manis sambil menikmati percakapan
dan kenangan saat berlari di hutan
kejernihan menjadi binar matamu
dan degup jantungmu seperti kehilangan alamat pulang
sementara di halaman rumahmu
ada gelisah yang pasrah
tertimbun dedauan kering
kau tidak punya sapu atau
sengaja tidak mengurusnya ?
atau memang dijadikan pupuk
agar pohon mangga semakin besar
dan kau akan semakin bahagia bermain
dengan dingin di halaman rumah
atau masa lalumu lupa mengajari
membersihkannya?
akh, pertanyaanku tidak pernah sampai
padamu
rindu hanya menjadi daun-daun asing yang
menyita seluruh waktumu
menyentuhnya
mengamati garis-garisnya
sampai kalimatku habis terbakar api
dan melesat ke langit
Rajawana, Mei 2019
Suatu Hari
aku ingin mengajakmu berhenti di perempatan jalan
melihat orang-orang yang kalah dengan bunyi klakson
debar yang disimpan lampu lalu lintas
lelah yang beterbangan dengan debu juga polusi
atau orang yang kehilangan arah dan melaju tanpa tuju
aku kadang gagal membaca tanda bahaya
suatu hari pun kau akan mengerti jika airmata
akan menerobos tiba-tiba
padahal kau sedang menjadi pengguna jalan yang baik
rencanamu masih dalam tanganmu
belum berjalan sebab lampu merah masih menyala
pada pemberhentian ini
aku masih ingin menjadi bagian nafasmu
menunggu rindu pada matamu
dan melesat pada tujuan yang pasti
seperti kali pertama
kau belajar mengendarai puisiku
yang belum selesai kubuat
kau tiba-tiba saja datang dan membscanya
Rajawana, Mei 2019
Nur
aku melihat seekor burung gereja
hinggap di atap musala
setelah iqamah dikumandangkan
2025
Ritual Jubah Putih
;Eyang Dramantaka
darahmu yang mengalir
selalu meminta ritual dilaksanakan dengan
memberikan jubah putih kepada perempuan yang akan melepas masa lajangnya
dan darah ini akan tetap mengalirkan doa kebaikan untuk eyang
meski wajah tak pernah dikenalkan takdir kepadaku
dan ritual jubah putih selalu ada
untuk memberikan keaguang anak cucumu
2025
Rumah Perjalanan
bus ini terus melaju
memaksa mata ini memandangi hamparan sawah
toko-toko yang memanggil pelanggannya
juga nama-nama daerah yang mengantri minta diabadikan dalam puisi
kupandangi rumah-rumah dari kaca jendela
dengan lebih teliti
sebagai reverensi ketika nanti bisa membangunnya sendiri
meski perkiraan dan pendapatan seperti menertawakan di dalam kepala
ditambah lagi harga-harga menembus langit
ah rumah ini masih terbentang jauh dan
berdiri di atas angan-angan dan senyum hibur
dan tak mungkin untuk tidur
juga melepas beban kerja di tubuhku
rumah yang ramah hanyalah harapan
meski ketika kesadaran terbangun
rumah itu hancur menjadi perjalanan yang belum usai
Karangrau, 2025
Aku Memotretmu
kamu berusaha menampakkan wajah yang ceria
menawarkan senyum paripurna
pun bertanya-tanya kepadaku
memastikan gaya terbaik dalam potret
usia yang sedang berusaha melangkah
ego yang mengalah dengan tata krama
untuk menjemput mimpi dengan fatihah
adalah gaya terbaik, nak
Pasir wetan, 2025
—
*Irna Novia Damayanti, lahir di Purbalingga 14 September 1992. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul Jarum Pentul (Wawasan Ilmu, 2022) Karyanya pernah dimuat di Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Tanjungpinang Pos, Merapi, Indopos, Solo Pos, Minggu Pagi, Radar Surabaya, Radar Banyumas, Padang Ekspres, Satelit Pos, Pos Metro, Medan Bisnis, Koran Madura, Sastra Mata Banua, Haluan, Banjarmasin Post, Bali Pos, Buletin Bener, Majalah Sagang, Poetry Prairie, Buletin Provokatif, Nusantaranews, Buruan.co, Ma’arif NU Jateng, Iqra.id, Becik.co, Teplok.id dan lainnya.




