Up in the Air dan Negara di Ruang Transit
Oleh: Purnawan Andra*
Ada sesuatu yang menarik ketika publik memperdebatkan frekuensi perjalanan luar negeri seorang presiden. Sebagian orang menganggapnya sebagai bagian wajar dari diplomasi. Sebagian lain melihatnya sebagai tanda bahwa pemimpin lebih sibuk mengurus dunia daripada mengurus rumah sendiri. Perdebatan semacam ini hampir selalu berakhir pada hitung-hitungan teknis: berapa kali berangkat, berapa negara yang dikunjungi, berapa nilai investasi yang dibawa pulang.
Padahal persoalan yang lebih menarik mungkin bukan soal jumlah perjalanan itu sendiri. Yang layak dipertanyakan justru sesuatu yang lebih mendasar: apakah mobilitas yang semakin tinggi masih menghasilkan kehadiran politik yang nyata?
Pertanyaan tersebut terasa relevan ketika menonton film Up in the Air karya Jason Reitman. Film yang dirilis pada 2009 itu berkisah tentang Ryan Bingham (yang diperankan oleh George Clooney), seorang profesional yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di pesawat, bandara, dan hotel. Ia nyaris tidak memiliki rumah dalam pengertian yang sesungguhnya. Hidupnya adalah perpindahan yang terus-menerus.

Sumber fotor: benjweinberg.com
Pada awal film, kehidupan Ryan tampak seperti impian manusia modern. Ia bebas, efisien, dan tidak terikat. Ia hafal jalur tercepat menuju gerbang keberangkatan, mengenali berbagai bandara lebih baik daripada lingkungan tempat tinggalnya sendiri, dan mengumpulkan jutaan miles penerbangan sebagai simbol pencapaian hidup.

Sumber fotor: Alamy.com
Namun semakin jauh cerita berjalan, penonton mulai menyadari bahwa semua mobilitas itu menyimpan kehampaan. Ryan mengenal banyak tempat, tetapi tidak sungguh memiliki tempat. Ia bertemu banyak orang, tetapi tidak benar-benar dekat dengan siapa pun. Ia bergerak terus, tetapi tidak pernah benar-benar sampai.
Citra Kekuasaan
Film yang juga dibintangi oleh Vera Farmiga, Anna Kendrick, Jason Bateman dan J.K. Simmons tersebut sebenarnya sedang membongkar salah satu keyakinan terbesar masyarakat modern saat ini – bahwa semakin banyak bergerak berarti semakin berhasil.
Keyakinan semacam itu tidak hanya hidup dalam kehidupan pribadi, tetapi juga dalam dunia politik. Dalam masyarakat tradisional, legitimasi seorang pemimpin sering dibangun melalui kehadiran. Raja berkeliling wilayahnya. Kepala daerah turun ke kampung-kampung. Pemimpin hadir secara fisik sebagai tanda bahwa ia mengetahui dan merasakan kehidupan rakyatnya.
Globalisasi mengubah logika tersebut. Kini mobilitas menjadi bagian dari citra kekuasaan. Pemimpin yang aktif adalah pemimpin yang terus bergerak. Dari satu konferensi ke konferensi lain. Dari satu forum internasional ke forum berikutnya. Dari satu pertemuan bilateral ke pertemuan multilateral.
Tanpa disadari, kita hidup dalam budaya yang memuja perpindahan. Filsuf Prancis Paul Virilio menyebut gejala ini sebagai dromologi, yakni kondisi ketika kecepatan menjadi sumber kekuasaan. Dalam dunia yang semakin cepat, yang bergerak paling jauh dan paling cepat sering dianggap paling penting.
Tidak mengherankan jika bandara kemudian menjadi salah satu simbol utama dunia modern. Bandara bukan sekadar infrastruktur transportasi. Ia adalah ruang budaya. Di sana berkumpul para diplomat, pebisnis global, investor, pejabat negara, dan berbagai elite yang menghubungkan satu kawasan dengan kawasan lain. Bandara adalah jantung dari peradaban yang percaya bahwa solusi selalu berada di tempat berikutnya.
Namun ada satu hal yang menarik. Bandara adalah ruang transit. Orang datang dan pergi. Tidak ada yang benar-benar tinggal di sana. Tidak ada sawah yang harus dipanen. Tidak ada anak yang harus diantar ke sekolah. Tidak ada antrean beras murah. Tidak ada jalan desa yang rusak.
Bandara menghadirkan dunia dalam bentuk yang sangat berbeda dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena itu, ketika film Up in the Air menjadikan bandara sebagai latar utama, sesungguhnya yang sedang dibicarakan bukanlah pesawat. Yang sedang dibicarakan adalah sebuah cara hidup. Cara hidup yang terus bergerak, tetapi semakin sulit membangun keterhubungan.
Kualitas Keterhubungan
Dalam konteks politik, di sinilah persoalan menjadi menarik. Kita sering mengira bahwa kehadiran dan mobilitas adalah hal yang sama. Padahal keduanya berbeda.
Mobilitas adalah kemampuan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kehadiran adalah kemampuan untuk terhubung dengan realitas yang sedang dihadapi.
Seseorang bisa sangat mobile tanpa benar-benar hadir. Sebaliknya, seseorang bisa berada jauh dari sebuah lokasi tetapi tetap memahami persoalan yang terjadi di sana.
Karena itu, ukuran yang seharusnya dipakai untuk menilai kepemimpinan bukanlah jumlah perjalanan, melainkan kualitas keterhubungan antara negara dan warga negaranya. Apakah masyarakat merasa didengar? Apakah keresahan mereka masuk ke dalam prioritas kebijakan? Apakah negara memahami apa yang sedang terjadi di tingkat paling bawah? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menentukan ada atau tidaknya kehadiran politik.
Dalam banyak kasus, krisis yang dihadapi negara modern bukanlah kekurangan aktivitas. Negara hari ini sangat aktif. Agenda sangat padat. Pertemuan berlangsung tanpa henti. Pernyataan terus diproduksi setiap hari.

Sumber fotor: deadline.com/
Yang justru sering hilang adalah kemampuan untuk mendengarkan. Negara menjadi sangat piawai berbicara kepada dunia, tetapi kadang kurang sabar mendengar suara dari dalam rumahnya sendiri.
Di sinilah Up in the Air terasa lebih relevan daripada sekadar kisah seorang pekerja yang gemar bepergian. Film itu merupakan alegori tentang zaman kita sendiri. Sebuah zaman yang membuat manusia mampu menembus jarak geografis dengan sangat cepat, tetapi belum tentu mampu mengatasi jarak sosial dan emosional yang terus melebar.

Sumber fotor: collider.com
Mungkin karena itu kritik yang paling penting terhadap politik hari ini bukanlah bahwa para pemimpin terlalu sering bepergian. Kritik yang lebih mendasar adalah bahwa mobilitas semakin mudah diukur, sementara kehadiran semakin sulit ditemukan.
Padahal rakyat tidak selalu membutuhkan pemimpin yang paling sering terlihat di panggung dunia. Mereka membutuhkan pemimpin yang tetap mampu mendengar suara dari halaman rumahnya sendiri.
Sebab pada akhirnya, tantangan terbesar kepemimpinan bukanlah bagaimana membawa negara terbang setinggi mungkin, melainkan bagaimana memastikan bahwa setelah terbang begitu jauh, negara tidak kehilangan kemampuan untuk pulang (menghadapi kenyataan sehari-hari).
—




