Lelaki yang Melukis Jendela Telah Melesat Pergi Selamanya
Oleh: Indro Suprobo*
Mengenang Genthong HSA
Aku wis sepuluh dina nang Rumah Sakit. Wis diperiksa sumsum tulange. Embuh hasile durung ngerti. Dokter isih ragu-ragu, aku iki kena kanker sumsum tulang belakang apa kena kanker tulang. Pancen kuesel lan bosen nang Rumah Sakit, ning kepriye maneh. Jantungku wis suwe bocor. Dadi sak ngertiku, saiki iki wis dudu urusane dokter. Iki wis urusane aku karo Gusti Allah. Wis kari nunggu wektune wae.
(Aku sudah sepuluh hari di Rumah Sakit. Sumsum tulangku sudah diperiksa. Belum tahu bagaimana hasilnya. Dokter masih meragukan apakah aku ini punya masalah kanker sumsum tulang belakang ataukah punya masalah kanker tulang. Memang lelah dan bosan di Rumah Sakit, tapi mau bagaimana lagi. Jantungku sudah lama bocor. Jadi dalam pemahamanku, saat ini sudah bukan urusan dokter lagi. Ini sudah menjadi urusanku dan Tuhan. Tinggal menunggu waktunya saja)
-Genthong HSA, RS Sardjito, 3 Juli 2026
Berita tentang wafatnya Genthong Hariono Selo Ali atau biasa disingkat Genthong HSA, menghentikan aktivitas saya. Secara spontan, seluruh kehadiran, wajah, tatapan mata, polah tingkah dan suaranya, hadir kembali secara sangat intensif di dalam kesadaran. Kami bertemu terakhir kali pada hari Jumat pagi tanggal 3 Juli 2026 di bangsal Rumah Sakit Dr. Sardjito. Genthong HSA adalah seniman teater, penulis naskah, penulis cerpen, penulis puisi, dan pelukis. Dalam catatan profilnya ia menyatakan bahwa ia belajar drama melalui menonton pementasan Willy Rendra dalam Oedipus Rex dan Paraguay Tercinta. Ia belajar melukis di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) yang kini menjadi SMSR, serta di Sanggarbambu dan di Akademie der Bildenden Kunste Muenchen.
Kutipan di atas adalah penggalan dari obrolan terakhir kami di Rumah Sakit Dr. Sardjito, Yogyakarta, saat saya dan istri menjenguknya di pagi hari itu. Ia tidak berbaring di tempat tidur sebagaimana umumnya orang sakit. Ia justru masih berjalan mondar-mandir dan mengangkat kursi sendiri untuk duduk. Perawakan yang tegap dan mata yang tetap cerah menyala, mengiringinya bercerita, menarasikan seluruh pengalaman hidup dan seni menghadapi penyakit yang penuh ketidakpastian. Sesekali wajahnya merekah renyah, menertawakan peristiwa-peristiwa tragis yang dihadapinya.
Di kursi lipat merah Rumah Sakit, ia duduk tegak sambil menumpangkan kaki. Lancar dan tertata, ia bercerita. Persis seperti beberapa bulan sebelumnya ketika di hadapan teman-teman Sastra Bulan Purnama, ia membacakan cerita pendek terbarunya, di aula Museum Sandi Yogyakarta. Hanya dua hal yang berbeda, rambutnya telah dicukur pendek lebih rata dan sesekali ia harus menata nafasnya.
Penggalan obrolan yang saya kutipkan itu menunjukkan bahwa Genthong HSA adalah lelaki yang memiliki keberanian untuk menghadapi ketidakpastian. Ini mengingatkan kepada pokok refleksi fundamental Nietzsche yang disebut sebagai kehendak untuk berkuasa. Kehendak untuk berkuasa ini tidak dipahami sebagai kehendak untuk menundukkan dan melukai orang lain seperti terwujud dalam kebudayaan barbar, melainkan sebagai kehendak untuk senantiasa mengalahkan dan mengatasi diri sendiri agar semakin mampu memaksimalkan seluruh realisasi dari semua kemungkinan atau potensi diri sehingga dapat mengafirmasi dan menghadapi ketidakpastian kehidupan, seperti terwujud dalam kebudayaan asketis.[1] Dalam perspektif ini, keberanian Genthong HSA ini juga menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang senantiasa menjadi Ubermensch, yakni manusia yang senantiasa mengatasi dirinya sendiri. Saya menerjemahkan Ubermensch ini dengan istilah manusia magis, yakni manusia yang senantiasa melampaui diri untuk menjadi lebih berkualitas, menjadi lebih baik, menjadi lebih maju, menjadi lebih mendalam dan sebagainya. Dalam bahasa Latin, magis berarti “menjadi lebih” atau “melampaui”.
Karakter pemberani untuk mengatasi diri ini tampaknya sudah terbentuk sejak ia masih muda. Ia memiliki keinginan sangat besar untuk berkelana ke benua Eropa. Sejak 1969, ia memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman dan memulai perjalanan panjang penuh tantangan. Dengan kapal ia menuju Malaysia, Singapura, Thailand, India. Dari India naik kereta api ke Pakistan, lalu naik bus ke Afghanistan, Iran, Turki, melintasi selat Bosphorus menggunakan motor boat besar, disambung naik bus menuju Frankfurt Jerman, dengan melintasi Bulgaria, Yugoslavia, dan akhirnya menuju ke Muenchen, Jerman. Perjalanan itu tidak selalu mulus. Selalu ada kesulitan dan tantangan, namun beruntunglah selalu menemukan para penolong yang baik hati. Dari Afghanistan, sebelum memasuki Iran, ia mengalami diare hebat sehingga mengotori pakaian dalamnya dan ketika bus berhenti untuk beristirahat, ia terpaksa menaiki bukit dengan selokan kecil alami untuk buang air dan berganti pakaian karena tak ada toilet. Di beberapa wilayah itu kadang ia harus mengingap beberapa hari dan berjalan kaki menikmati suasana. Di Muenchen ini, monolog karyanya yang berjudul “Der Verlierer” dimainkan oleh Eleonora Schneider di Experimentelles Amateur Theater.
Petualangan itu mencerminkan keberaniannya untuk menerima dan menghadapi realitas yang tak semuanya dapat diprediksi dan senantiasa menyimpan ketidakpastian bahkan kekacauan. Keberanian untuk mengatasi diri dalam menghadapi ketidakpastian ini, memberinya energi kreatif untuk tidak mudah dibelenggu dan ditawan oleh situasi dan pengalaman, terutama oleh kesulitan-kesulitan dan halangan. Energi kreatif ini oleh Gilles Deleuze disebut sebagai deterirotialisasi dan kesanggupan menciptakan jalur-jalur baru untuk meninggalkan landasan (line of flight). Meskipun barangkali Genthong HSA tak pernah membaca secara serius pemikiran-pemikiran Nietzsche dan Gilles Deleuze, dalam praktik hidupnya, sejak masa muda hingga memasuki hari-hari lansia, ia telah secara intensif menghadirkannya dalam perilaku dan tindakannya. Seluruh keberanian untuk mengatasi diri sendiri agar dapat menerima dan menghadapi realitas ketidakpastian ini ternyata telah membawanya kepada rasa bahagia.
Tak mengherankan, dalam esai terakhir yang ditulisnya, ia memberinya judul “Tentu Saja Lansia Itu Bahagia”. Ada beberapa alasan yang dikemukakannya mengapa Lansia itu bahagia. Namun ada satu hal yang tampaknya ia temukan sebagai alasan kebahagiaan, yang lagi-lagi terkait dengan keberaniannya untuk mengatasi diri dalam menghadapi kenyataan dan ketidakpastian, yakni keikhlasan. Ia menyatakannya demikian:
“Maka, tentu saja Lansia itu bahagia, sebab setelah mampu ia merendahkan hatinya, menguasai gejolak jiwa yang bisa menggugurkan gunung Mahameru dan/atau meledakkan diri sendiri tentu saja, begitu suka pada ‘Sukses-Sukses Besar, Selalu Mau Menang’, ia tetapi mulai menyadari, betapa per-lunya melatih diri agar tetap bisa ‘legawa’, saat kegagalan dan kekalahan menggerogoti, menghayati dan menghidupi makna keikhlasan hati dalam hidup sehari-hari. Sadar benar ia, hanya dengan keikhlasan hati bisa diraih kebahagiaan hidup sejati, kebahagiaan hidup manusia yang sebenarnya. Ikhlas dalam segala hal, ikhlas menghidupi suratannya bagai-manapun ujudnya, sebagai Orang Biasa sekalipun, seseorang manusia yang apa adanya, sederhana, hidup melepas segala topeng kepalsuan dalam masyarakat, jauh dari tingkah laku ‘over bermain drama’, pasrah sumarah menghidupi lika-liku garis kehidupan yang kerap tak bisa ditawar, hidup mengalir mengikuti aliran arus dengan tetap menjaga agar diri tidak sampai terbawa arus, ‘Ngeli nanging aja nganti keli’, ‘Ngintir namung sampun ngantos kintir’.”[2]
Obrolan terakhir di bangsal Rumah Sakit Dr. Sardjito pagi itu secara jelas menunjukkan keberanian dan keikhlasan dirinya untuk menghadapi ketidakpastian radikal dalam hidupnya, yakni kematian. Keberanian dan keikhlasan itu mengalir dalam ucapannya,”Dadi sak ngertiku, saiki iki wis dudu urusane dokter. Iki wis urusane aku karo Gusti Allah. Wis kari nunggu wektune wae.” (Jadi dalam pemahamanku, saat ini sudah bukan urusan dokter lagi. Ini sudah menjadi urusanku dan Tuhan. Tinggal menunggu waktunya saja)
Pada saat mendengarkan ucapannya itu, saya merasa bahwa Genthong HSA telah benar-benar menyiapkan dirinya untuk menjemput “saat” itu dengan berani, tanpa keraguan, tanpa penyesalan, meskipun barangkali, bagaimanapun juga selalu tersisa di sudut-sudut batin, suatu perasaan kehilangan yang sunyi dan mendalam. Perasaan kehilangan itu pulalah yang musti berani dilepaskan.
Saya menduga, bagi Genthong HSA, obrolan pagi itu sendiri mungkin dihayatinya sebagai ekspresi seni untuk mengafirmasi kekayaan kehidupan yang dilengkapi oleh ketidakpastian yang musti dihadapinya, tanpa harus menyederhanakannya. Maka, daripada berbaring lemah di atas tempat tidur, ia memilih untuk duduk tegak di atas kursi sambil menumpangkan kaki, lalu berbicara, bercerita, mengevaluasi, berefleksi dan memetik makna atas segala pengalaman hidupnya. Ia seperti sedang menjalankan peran sebagai aktor yang menarasikan kisah kehidupan.
Pada 27 Juli 2026, Genthong HSA, benar-benar telah dengan berani dan ikhlas menghadapi “saat” ketidakpastian yang telah diantisipasinya. Ia telah wafat, meninggalkan semua kenangan dan intensitas obrolan yang dihadirkannya.
Untuk menegaskan dan mengenang keberaniannya, saya sertakan puisi yang saya tulis dan saya kirimkan kepadanya pada saat ia bersunyi sendiri di kamar Rumah Sakit beberapa waktu sebelumnya.
Lelaki yang Melukis Jendela
untuk Genthong HSA
Pelukis berambut panjang itu terbaring di ranjang,
Ia tidak sedang menderita sakit melainkan sedang mengurai waktu sedikit demi sedikit,
Ia tak pernah mendedahkan keluh karena ia tahu begitu panjang sudah pengalaman yang ia tempuh.
Pelukis berambut panjang itu terbaring di ranjang,
Ia sedang membolak-balik sudut pandang di tengah terbatasnya ruang,
Maka ia tak pernah meradang sebab ia tahu bagaimana mengembangkan terbatasnya ruang menjadi hamparan lapang tempat jiwa berlari dan berpetualang.
Pagi ini, satu-satunya teman yang menyapanya adalah sunyi,
Ia menyambutnya lalu melukis jendela pada wajahnya,
Jendela itu terbuka, dengan cahaya pagi yang merambat menghangatkan rasa,
Wangi bunga-bunga aneka rupa menelusupkan pesan rahasia,
dari jendela yang dilukisnya itu ia memandang keluar,
menyaksikan kuncup-kuncup merekah dan mekar,
dan bersama desau angin yang lemah, ia melangkah menciptakan arah dan melesat bagai anak panah,
menggapai luas tanpa batas
Ya, lelaki itu senantiasa melukis jendela,
lalu melesat pergi melaluinya,
tak seorangpun dapat mengurung atau mengekangnya.
Dialah lelaki yang senantiasa melukis jendela.
14 Mei 2026
Pakdhe Genthong HSA, selamat jalan. Semoga kami di sini, senantiasa sanggup belajar untuk menciptakan keberanian.
Indro Suprobo, penulis, editor dan penerjemah buku. Tinggal di Jogyakarta.
[1] Lih. St. Sunardi, Nietzsche, LKIS Yogyakarta, 1996, hlm.37-42
[2] Lih. Genthong HSA, “Tentu Saja Lansia Itu Bahagia” dalam Adri Darmadji Woko dkk, Kita Lansia
Terus Berkarya, Bahagia, Penuh Berkah, Tonggak Pustaka, 2024, hlm.111




