Sajak-sajak Alexander Robert Nainggolan

07:48

lidah hujan masih tercecap di aspal jalan. pagi redup, ketika kota terbangun dengan rutinitasnya. seorang perempuan melangkah di sisi batu-batu yang licin oleh lumut. mengunyah berita di layar telepon pintar. sisa kelakar, pesan-pesan nakal yang gatal terlilit ingatan. matahari makin menjauh. ia ingin berbenah membiarkan remah masa lalu rebah.

meski ia tahu, pagi belum sampai di tubuhnya.

2021

 

Fragmen-Fragmen Ashabulkahfi

“biarkan gua itu tertutup. hingga 309 tahun…”

tujuh pemuda, membiarkan tubuh lelahnya istirah. maka janganlah sedih hinggap, sebab tak aakan ada lagi fitnah yang tanak. ketika mereka tertidur, sesungguhnya dunia telah menghilangkan bengis dari kata. hingga tercelup dalam titah. ihwal raja zalim yang akan hilang. sebelum pintu di goa itu jadi cahaya terbuka.
tanpa ada yang mampu menduga, sesungguhnya sudah berapa lama mereka tertidur?
*
maka ditempuhlah jalan terjauh. setelah jenuh dengan percakapan yang tak rampung. bahkan saat subuh berlalu. dari bukit-bukit paling jauh. meninggalkan gemerlap istana, berlari hingga ke ujung. sejauh tubuh mampu menempuh. dari setiap bekas tapak, bersembunyi dari sang raja yang zalim. sebab kata-kata sudah tak pernah tahu makna. tak ada yang pernah paham dengan setiap cakap.
sebelum mereka tertawan. ada garba yang terbuka. dan terlelap hingga bertahun-tahun.
muksalmina, tamlikha, marthunis, nainuwis, sariyulis, dzunawis, falyastathyunis, dan anjing bernama qithmir
*
ada yang terbangun karena lapar. hari telah siang. berangkatlah ke pasar dan belilah sekadar makanan. tapi jangan tampakkan wajah supaya tidak terbaca. di sebuah keriuhan pasar, sekeping logam uang tak lagi berlaku. kadaluarsa.

tapi tahun berapa sekarang? siapa nama raja sekarang?
*
tidur bukan sekadar tidur. bukan lelap atau tubuh yang tumbuh. tapi debar bertahun-tahun hanya tertempuh dalam bilangan setengah hari. dan tidur itu menjelma puisi. nikmat yang tak bisa dibeli.
*
“biarkan mereka berkisah. ihwal yang telah tanggal dan wiwayat menjadi kalimat yang tercatat. beratus-ratus tahun kemudian…”

2021

 

Hujan yang Tak Utuh

kini ia telah selesai, di antara humus tanah. dan lenyap menimpa debu. tak lagi utuh, mengayuh di antara keremangan mimpi dan orang-orang yang gemar membanggakan diri sendiri.
kini ia telah terlepas. dari awan dan air yang lesap di sepanjang jalan kota. tak lagi diusiknya barisan kendaraan yang macet. genangan yang memanjang dan riuh lampu dan suara klakson. ia telah selesai dengan semuanya. tak lagi memberikan tempat teduh bagi tubuh para pejalan menuju rumah.

2021

 

Laut di Depan

laut di depan. ombak yang melingkar. bertindihan ke pantai. meninggi, seperti masa lalu. biru yang menyapu genangan retina. di kejauhan, sebuah kapal kayu makin mengecil. ke ujung cakrawala. melampaui pulau-pulau terluar. gelombang yang bergetar di antara samar kabar.

laut di depan. bayangan kekasih. dan ia ingat ciuman pertama. getah cahaya dari asmara yang penuh liku. namun ia tahu, perempuan itu akan selalu menunggu. seperti juga waktu. mendadak batu dan dipenuhi ragu.

Anyer, 2021

 

Pagi di Hari Imlek

mungkin masih menunggu, bekas lampion merah di genangan matamu. tarian dengan lingkar naga yang terus menguntit ruas masa kecil. atau bau mercon dari udara yang pecah. tapi ini masa pandemi, rindu tak sempat keluar dari halaman rumah.
dan liukan naga itu, seperti riuh hujan sore hari yang menempa angka tahun. menyala ketika lampion itu bercahaya. begitu merah. dan asap hio yang membekas di ruangan. seperti membuka jalan bagi usia. remah cahaya merekah. barangkali hari-hari ke depan dipenuhi keberuntungan. semoga tahun ini dipenuhi dengan karung kebruntungan.

2021

 

Belantara Kata

– edrida pulungan

ia melangkah sepanjang selasar gedung di kota besar. kata-kata mengerubunginya seperti semut pada gula. ia tertawa dan menelusup ke dalam aksara. mengunci diri dalam rutinitas yang lepas. berkeliaran dari tempat satu ke tempat lain. hinggap di sejumlah seminar dan pasar. berpetualang ke negeri-negeri jauh.

namun semakin disibaknya segala kata. ia tak pernah menemukan dirinya sendiri. berpuluh-puluh tahun sesudahnya. bahkan saat ia telah mahir bicara dalam pelbagai bahasa. ah, mengapa ia tidak kembali pada kata sejak bayi? barangkali di sana ia bisa bersembunyi dan meneguk saripati kata. sama ketika ia mulai belajar membaca kata.

: ibu

2021

 

Yang Tak Dihapus Hujan

beberapa kejadian tak pernah lengkap dihapus hujan. mungkin ia tamat namun tak benar-benar lesap. semacam sisa lumpur yang ditinggalkan banjir dini hari. kerap tersisa, beberapa ingatan tentang nuh yang selalu menempuh jalan akal. dan lembab tanah saat ia terjatuh. jauh di bilangan hari yang keruh.

bukankah ada kekuatan bagi hujan? air yang berkerumun seperti pasukan serdadu berani mati yang tak terbendung. dan diantara getir petir dan gemuruh dingin. akan ada yang menyisa bagi aroma lembab di dinding atau kain pakaian.

ah, bagaimana aku bisa menandai setiap jejak yang pernah lunak di tanah? ketika engkau menjauh namun hujan tak sungguh menghapusnya. mungkin tentang masalalu yang telah lusuh. dan pelbagai rindu yang tak kunjung sembuh.

2021

 

Di Ketinggian

rempah pagi. sedikit kebisingan yang menyisa dari ombak laut semalam. lampu yang menyala di sudut matanya. kota yang jauh dan angin gigil meraba di ketinggian. tapi gema musik dari lantai dasar merebut tubuhnya. mungkin ia akan berjalan ke pantai esok pagi. ia ingin membeli banyak udang dan menyantapnya dengan lelehan saos padang. atau berlarian sepanjang pesisir berkawan remah pasir.

seperlempar mata menerjang. gemuruh ombak membawanya pada ketinggian. sebelum hari-hari baru mengepungnya.

2021

 

Sepasang Kaki di Dalam Banjir

– harun agustin

ia telah menenggelamkan diri. mulanya hanya kaki. lalu sedikit sunyi. dingin yang asing. kulit ari telapak yang mulai sedikit gatal. ia merenangi fragmen dan hampir tenggelam. berapa banyak puisi yang ia jemput dari air mengalir. jalan keluar masuk yang selalu dihapalnya namun kini berpalang. sungguh, ia tak pernah lupa pulang. ketika plastik dan sejumlah barang mengambang.

ia tak pernah tenggelam!

2021

 

Anak Sulung

– syifa

karena terlahir sebagai anak pertama, ia menyimpan kegembiraan dan kesedihan. maka ia pun menyiapkan pakaian dan sepiring nasi untuk adiknya. menjaganya seharian atau menegurnya saat salah melangkah. dan terlahir sebagai sulung, acapkali membiarkan tubuhnya terpulung. namun ia tau takdir adalah desir bagi cahaya hari ke depan. ia akan terjaga mengarsir setiap doa, bagi ibu dan ayah.

2021

 

*Alexander Robert Nainggolan (Alex R. Nainggolan) bekerja sebagai staf Unit Pengelola Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPPMPTSP) Kota Adm. Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di banyak media cetak dan online, diantaranya: Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Jurnal Sajak, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Seputar Indonesia, Berita Harian Minggu (Singapura), Bali Post, News Sabah Times (Malaysia), Surabaya News, Suara  Merdeka, Pikiran Rakyat (Bandung), www.sastradigital.com, www.angsoduo.net, Majalah Sagang Riau, www.detik.com, dll.  Ia juga pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi di LPM PILAR FE Unila. 

Karyanya juga dimuat dalam buku  antologi, diantaranya: Ini Sirkus Senyum…(Bumi Manusia, 2002), Puisi Tak Pernah Pergi (KOMPAS, 2003), Muli (DKL, 2003), Dari Zefir Sampai Puncak Fujiyama (CWI, Depdiknas, 2004), La Runduma (CWI & Menpora RI, 2005), 5,9 Skala Ritcher (KSI & Bentang Pustaka, 2006), Negeri Cincin Api (Lesbumi NU, 2011), Akulah Musi (PPN V, Palembang 2011), Sauk Seloko (PPN VI, Jambi 2012), Negeri Abal-Abal (Komunitas Radja Ketjil, Jakarta, 2013), Seratus Puisi Qur’an (Parmusi, 2016), Kota, Kata, Kita (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Prov. DKI Jakarta bekerja sama dengan Yayasan Hari Puisi, 2019).  Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016). 

Ia juga telah memenangkan lomba penulisan artikel, sajak, cerpen, dan karya ilmiah, di antaranya yang terbaru adalah: Puisi Umum Terbaik tingkat nasional yang ditaja Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Prov. DKI Jakarta bekerja sama dengan Yayasan Hari Puisi (2019), Juara II Lomba Cipta Puisi HB Jassin yang ditaja Bengkel Deklamasi Puisi dan Dispursip Prov. DKI Jakarta (2019).