Pengembangan dan Pemanfaatan Situs Megalitik Tutari Papua

Tutari merupakan situs megalitik yang terletak di Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura. Situs ini berada di bukit dengan ketinggian antara 150 hingga 200 meter dpl. Di Situs Megalitik Tutari dapat ditemui peninggalan-peninggalan yang berasal dari masa megalitik.

Peninggalan-peninggalan yang ada di Situs Megalitik Tutari terdiri atas beberapa jenis. Peninggalan yang ada di situs ini berupa batu berlukis, pahatan batu, jajaran batu, batu temugelang, dan menhir. Temuan lukisan di Situs Megalitik Tutari cukup banyak dan memiliki bentuk motif yang bervariasi. Motif-motif lukisan tersebut merupakan hasil implementasi pengetahuan kognitif masyarakat Tutari tentang lingkungan alam habitatnya, yang dituangkan pada media batu yang tersebar di Bukit Tutari. Motif-motif tersebut juga sebagai gambaran nilai-nilai kehidupan sosial budaya, ekonomi, dan religi suku Tutari.

Keberadaan dan kelangsungan Situs Megalitik Tutari menjadi tanggung jawab semua pihak. Kawasan Situs Megalitik Tutari telah dilindungi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, maka memiliki nilai penting dan bermanfaat bagi umat manusia sehingga perlu dilestarikan. Karena itu, agar Situs Megalitik Tutari dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu yang panjang dan dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang, upaya pelestariannya perlu dilakukan secara berkesinambungan.

Batu sebagai perwujudan panglima perang etnis Tutari. (Foto: Arsip Penulis)

Pengembangan Situs Megalitik Tutari adalah peningkatan potensi nilai, informasi, dan promosi situs Megalitik Tutari serta pemanfaatannya melalui penelitian, revitalisasi, dan adaptasi secara berkelanjutan serta tidak bertentangan dengan tujuan pelestarian. Pemanfaatan Situs Megalitik Tutari adalah pendayagunaan situs megalitik Tutari untuk kepentingan sebesar-besarnya kesejahteraan Masyarakat sekitar dengan tetap mempertahankan kelestariannya. 

Pada permukaan batu Situs Megalitik Tutari, banyak dijumpai alga, lichen, lumut, jamur serta terkena dampak kebakaran lahan yang dapat mengakibatkan proses pelapukan motif gambar.

Menhir di puncak Bukit Tutari. (Foto: Arsip Penulis)

Saat ini, persepsi masyarakat Doyo Lama terhadap Situs Megalitik Tutari terbagi menjadi dua kategori pertama kategori generasi tua, persepsi mereka terhadap Situs Megalitik Tutari hanya berupa tempat sakral dengan mitos-mitos, dongeng-dongeng yang diceritakan secara turun temurun.

Kategori kedua adalah generasi muda atau generasi milenial yang berpendidikan, persepsi mereka terhadap Situs Megalitik Tutari lebih mengarah lebih ilmiah yaitu keberadaan Situs Megalitik Tutari berkaitan erat dengan kepercayaan masyarakat yang hidup di zaman prasejarah yaitu kepercayaan yang bersifat animisme dan dinamisme. 

Usaha yang perlu dilakukan dalam melestarikan Situs Megalitik Tutari yaitu melakukan kajian ilmiah, registrasi, konservasi batu-batu berlukis, membangun pagar batas situs, zonasi, membuat papan informasi situs dilindungi undang-undang cagar budaya, dan mengoptimalkan kinerja juru pelihara situs.

Selain itu, mengingat Situs Megalitik Tutari terletak di alam terbuka yang langsung bersentuhan dengan cuaca, hujan, panas, kelembaban, angin serta rawan kebakaran serta gangguan vandalisme pengunjung maka batu gabro sebagai bahan dasar megalitik Tutari akan cepat mengalami proses kerusakan dan pelapukan.

Lukisan Motif Geometris pada permukaan batu di Situs Megalitik Tutari. (Foto: Arsip Penulis)

Menyikapi hal ini dikhawatirkan gambar motif yang ada di Situs Megalitik Tutari akan mengalami kerusakan jika tidak segera dikonservasi, maka lambat laun kerusakannya akan semakin bertambah parah. Hal ini harus menjadi perhatian dari semua pihak.

Upaya konservasi Situs Megalitik Tutari tidak hanya terbatas pada penyelamatan tinggalan fisik saja, tetapi juga mencakup nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Perlu upaya untuk memelihara Situs Megalitik Tutari sedemikian rupa sehingga maknanya tetap terjaga. Konservasi Situs Megalitik Tutari juga lebih bersifat menemukan kembali unsur-unsur yang membentuk keunikan budayanya. Selain itu juga perlu penyelenggaraan penataan ruang di kawasan Situs Megalitik

Tutari, peraturan zonasi ini menjadi penting artinya terutama yang berkenaan dengan upaya pemanfatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan Situs Megalitik Tutari. Zonasi merupakan penentuan batas-batas keruangan situs Megalitik Tutari dan kawasan megalitik Tutari sesuai dengan kebutuhan. Peraturan zonasi Situs Megalitik Tutari sebagai salah satu instrumen dalam pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan Situs Megalitik Tutari menjadi penting artinya, karena peraturan zonasi ini dapat menjadi rujukan dalam perizinan, penerapan insentif/disinsentif, penertiban ruang, menjadi jembatan dalam penyusunan rencana tata ruang yang bersifat operasional, serta dapat menjadi panduan teknis dalam pengembangan/pemanfaatan ruang di kawasan Situs Megalitik Tutari.

Batu berlukis motif flora di Situs Megalitik Tutari. (Foto: Arsip Penulis)

Perlunya revitalisasi Situs Megalitik Tutari dengan memperhatikan tata ruang, tata letak, fungsi social, dan lanskap budaya berdasarkan kajian. Revitalisasi ini dilakukan dengan menata kembali fungsi ruang, nilai budaya, dan penguatan informasi tentang tinggalan megalitik Tutari. Kajian dalam hal ini adalah kegiatan ilmiah yang dilakukan menurut kaidah dan metode yang sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan keterangan bagi kepentingan pelestarian situs megalitik Tutari beserta tinggalannya. Ilmu pengetahuan dan pengembangan kebudayaan.

Dengan adanya acuan yang jelas serta operasional mengenai bagaimana suatu rencana tata ruang dapat diterapkan, maka persoalan penyimpangan pembangunan terhadap rencana tata ruang setidaknya dapat dihindari dan dicegah. Kegiatan zonasi Situs Megalitik Tutari harus melibatkan beberapa tenaga teknis melakukan penentuan batas-batas penting kawasan Situs Megalitik Tutari seperti batas asli, geografis, kepemilikan, serta batas berdasarkan keperluan dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan cagar budaya. Selain menentukan batas zonasi, perlu juga melakukan pemetaan terhadap temuan-temuan baru di kawasan Situs Megalitik Tutari.

Jalan Arwah di Situs Megalitik Tutari. (Foto: Arsip Penulis)

Pemanfaatan Situs Megalitik Tutari sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya untuk kepentingan pembangunan karakter bangsa seperti pendidikan dan pariwisata budaya dapat dilakukan dengan mata pelajaran muatan lokal.

Situs Megalitik Tutari dapat dijadikan sebagai destinasi pendidikan atau wisata edukasi bagi pelajar sekolah, hal ini guna mendukung program kurikulum Merdeka Belajar atau Kampus Merdeka. Situs Megalitik Tutari memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah bagi siswa sekolah. Dengan membawa siswa langsung mengunjungi Situs Megalitik Tutari sehingga siswa tidak bosan hanya belajar dalam ruang kelas dan dapat memperkaya kreativitas siswa.

Selain itu dengan mengunjungi Situs Megalitik Tutari akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal lebih dekat tentang Situs Megalitik Tutari, meningkatkan rasa ingin tahu siswa tentang Situs Megalitik Tutari, meningkatkan wawasan siswa tentang Situs Megalitik Tutari melalui proses pengamatan langsung di Situs Megalitik Tutari, menumbuhkan motivasi pada siswa untuk menghargai tinggalan arkeologi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Situs Megalitik Tutari dapat dimanfaatkan guna kepentingan pariwisata dengan pendekatan pada wisata sejarah dan wisata budaya. Pemanfaatan Situs Megalitik Tutari sebagai destinasi wisata mengedepankan pelestarian dengan tidak mengubah bentuk, warna ataupun tata letak tinggalan megalitik. Terlebih dengan tidak melakukan tindak vandalisme seperti merusak, mengganggu objek maupun lingkungan sekitar yang dapat memengaruhi kualitas tinggalan megalitik, serta tetap memerhatikan aturan hukum adat dan norma sosial yang berlaku di dalam masyarakat Doyo Lama.

 

Hari Suroto

Peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN