Tong Tong Nostalgia
Oleh: Agus Dermawan T.
Jakarta Fair Kemayoran dibuka pada tengah Juni ini. Kita pun boleh terkenang Pasar Malam Besar Tong Tong di Den Haag, Belanda, yang puluhan tahun diselenggarakan pada bulan Juni pula. Tong Tong adalah pasar malam untuk nostalgia ratusan ribu orang Belanda yang pernah tinggal di Hindia Belanda-Indonesia, sebelum 1950.
——-
INI cerita nostalgia atas Pasar Malam Besar Tong Tong, di Den Haag.
Di dinding stan, nampak tergantung sebuah foto besar berwarna sephia dokumentasi Kolff & Co yang dibuat 1915. Foto itu menggambarkan keanggunan gedung OLVEH (De Onderlinge Levensversekering van Eigen Hulp) di kawasan Pintoe Besar Oetara, Batavia.
“Saya dulu sering ke sini mengantar sejumlah meneer mengurus asuransi. Arsitektur gedungnya elegantie, sehingga menarik perhatian,” kata Marinus Reijken kepada para pengunjung muda pasar malam dengan perasaan bangga. Marinus adalah Hoofd van de Lands Automobieldienst (Kepala Dinas Pengelolaan Kendaraan Bermotor) Hindia Belanda, yang sebelum tahun 1950 hidup dan bekerja di Indonesia.
Di stan lain, yang menyajikan benda-benda kerajinan dari Indonesia Timur, Lie Nie Yoen, isteri Marinus, menatap tajam litografi berobyek satu wilayah di Papua. Gambar yang dikeluarkan oleh Stichting Papua Erfgoed dalam seri “Trip to Papua New Guinea – Le Tour du Monde 1879” itu menggambarkan sejumlah orang berambut keriting, berkulit hitam, sedang duduk berjajar di halaman rumah kayu “kaki seribu”.
“Saya jadi ingat ketika bermukim di Papua selama berenteng tahun. Setiap hari saya mencari kangkung di rawa-rawa untuk dimakan. “O jee, wat is het moeilijk!” (Duh, susahnya setengah mati!)

Komplek Pasar Malam Tong Tong di Den Haag, dilihat dari udara. Untuk masuk harus bayar tiket 10 euro. (Foto: Dokumen).

Suasana Pasar Malam Tong Tong di Den Haag. (Foto: Agus Dermawan T.)
Suasana nostalgia seperti itulah yang muncul dalam Pasar Malam Tong Tong, di Den Haag. Pasar malam untuk merindu-rindu Indonesia, yang diadakan setiap tahun di tengah bulan Juni.
Kaki beranjak lagi dan mata lantas disapa berbagai pernik benda peninggalan Hindia Belanda bernilai historik dan antik. Di satu stan tampak beberapa orang mengamati mata uang rancangan C.A. Lion Cachet bernominal twee honderd golden untuk de Javasche Bank. Lembar duit yang pertama kali dikeluarkan tahun 1933 itu bergambar dua tokoh wayang orang estetik, lelaki dan perempuan.
Di stan sebelahnya pengunjung intelek kelihatan tertarik kepada jajaran buku sejarah, seperti Regen over de Digoel susunan Joop van den Berg yang mendongeng keperkasaan Belanda atas Indonesia masa silam. Atau buku Loetoeng Kasaroeng karya J.J. van der Heijden, yang kover indahnya dikerjakan ilustrator F.A.Schöppel.
Sementara di stan lain tiga kakek seru bercakap-cakap ihwal poster baheula yang didisplay di situ. Di antaranya poster ciptaan N.Broekman “Indie moet bevrijd” yang menggambarkan inlander sedang berontak kepada pemerintahan Jepang. Poster lain berisikan ajakan piknik semua orang Eropa ke Indonesia. Poster itu dibikin oleh J.A.W. von Stein untuk Rotterdamsche Lloyd tahun 1920-an.
Tapi yang paling menggelitik adalah reklame tentang “Botol Tjebok”. Ya, poster produk 100 tahun lalu tersebut memang mengiklankan “botol tjebok”, atau botol untuk wadah cairan pembersih buang air besar, yang berupa campuran air belanda dan bahan kimia lain. Generasi baru Belanda yang sudah menggunakan jet washer tentu terbahak melihat reklame ini. Apalagi ketika diketahui di botol itu tertulis peringatan: “Bukan air minum!”. Lho, memangnya ada kejadian orang minum cairan itu? Keterlaluan.
Pasar Malam Tong Tong adalah arena pelampiasan menyenangkan bagi warga Belanda yang “tersingkir dari Indonesia merdeka.” Karena di sini segala sesuatu tentang Hindia Belanda disajikan dengan seru oleh sekitar 400 stan.
Selain produk “masa lalu” seperti di atas, produk masa kini yang mengacu kepada benda-benda nostalgia Belanda masa silam juga disajikan. Karena itu kerajinan bakiak, batik, tenun ikat Sumba, payung fantasi Tasikmalaya sampai angklung Sunda tidak boleh tidak ada.

Mata uang Twee Honderd Gulden yang jadi bagian nostalgia. (Foto: Agus Dermawan T.)

Iklan obat penyakit kulit tahun 1930-an dipajang di Pasar Malam Tong Tong. (Foto: Agus Dermawan T.)
Pasar malam yang dalam sehari dikunjungi 8.000 – 12.000 orang ini digelar di atas lahan berluas 20.000 meterpersegi dengan dilingkungi taman. Letaknya gampang dijangkau lantaran cuma selemparan sendal butut dari Stasiun Sentral Den Haag. Lalu, meski disebut “pasar malam”, festival ini dibuka dari pukul 12.00 siang. Tutup pukul 23.00 ketika langit malam musim panas mulai gelap.
Para pelukis straat
Pasar Malam Tong Tong adalah pasar yang digarap dengan setting serta penataan yang rapi gaya londo. Yang menarik – pada waktu saya ke sana – nama lorong-lorong penghubung antarblok pasar diambil dari nama tokoh pelukis Belanda yang populer di Hindia Belanda. Maka jadilah (Jan) Tooropstraat, Nieuwenkampstraat, (Gerard Pieter) Adolfsstraat sampai (Willem van der) Doesstraat. (Ini mengingatkan saya kepada satu “kampung” di Vught, s’Hertogenbosch, Belanda, yang nama jalannya memakai nama-nama pelukis. Seperti Rembrandtlaan, Jacob van Ruisdaelstraat, Adriaen van Ostadestraat, Gerrit Berckheydestraat. Bahkan di situ ada gedung kantor yang arsitekturnya bernuansa lukisan neo plastisisme Piet Mondriaan.)
Kenangan atas Indonesia memang merebak di pasar yang dinaungi tenda-tenda putih berbentuk kerucut itu. Di sehampar areal, dibikinlah sebuah bangunan yang merupakan replika rumah orang Belanda zaman dulu ketika berada di Indonesia. Rumah itu elok, teduh, tenang, dengan perdu dan mawar terang menyala. Replika rumah dibangun agar mereka yang kangen Indonesia bisa berpotret di sana. Meski untuk itu harus betalen, alias bayar. Dua euro tarifnya.
Dalam 12 hari penyelenggaraan, tak kurang dari 100 acara musik dan tari dipentaskan. Sekitar 75 acara workshop mengenai dunia kerja khas orang Indonesia diadakan. Seperti membuat janur, main gamelan, menari tradisional sampai kerokan dan pijit enak. Juga tak kurang dari 100 acara kookdemonstratie (demo memasak) makanan Indonesia dipertunjukkan. Dari bikin lumpia, memasak toge goreng sampai bikin martabak yang adonannya dilempar-lempar ke angkasa.
Termasuk tentu membikin onde-onde, yang pendemonya selalu bilang:
“Ini kue ajaib dari Indonesia. Lihatlah 3.456 wijen yang menempel di atas permukaannya. Ini rumit dan penataannya membutuhkan ketelatenan luar biasa. Sehingga sebiji onde-onde baru bisa diselesaikan dalam sehari semalam!” Penonton tertawa setelah tahu bahwa menata 3.456 wijen itu hanya dengan cara dilumurkan saja.

Suasana bersantap di Toko Oen. Kenangan toko legendaris di Malang yang ada sejak 1930. (Foto: Agus Dermawan T.)

Acara pertunjukan di Pasar Malam Tong Tong, atau TTF (Tong Tong Fair) di Den Haag, dengan gaya panggung masa sekarang. (Foto: Dokumen)
Khusus untuk musik, Pasar Malam Tong Tong acap mementaskan penyanyi senior Wieteke van Dort (kelahiran Surabaya, wafat pada 2024) dan Anneke Grönloh (kelahiran Tondano, Minahasa, wafat 2018). Kadang mendatangkan krontjongorkest uit Bogor Irama Kesuma dan keroncong asli Rayuan Samud’ra. Kerontjong Toegoe juga pernah pentas dengan merdu. Kemunculan orkes ini melengkapi kehadiran Toto Salmon, Waljinah, Ais Lawa Lata yang tampil pada kurun sebelumnya.
Selain musik, seni rupa Indonesia seperti lukisan bulu karya Cak Kandar juga pernah dipamerkan di situ. Bahkan Cak Kandar sempat diprotes Greenpeace dengan tuduhan pembantaian pithik untuk sekadar dimanfaatkan bulunya. “Kaget aku. Padahal bulu yang saya pakai berasal dari pithik yang sudah jadi ayam goreng di restoran,” kata Cak Kandar.
Di Pasar Malam Tong Tong dari tahun ke tahun selalu ada replika Toko Oen. Atas ikon ini orang akan ingat restoran dan toko es krim yang berdiri di Malang 1930 silam! Ini legenda. Lantaran pada tempo doeloe seganep meneer en mewrouw Olanda ada sanget menjoekainja.
Tak ketinggalan restoran Indonesia yang menawarkan nasi padang, soto koya surabaya, lontong capgome dan lain-lain. Perut saya langsung kenyang setelah tahu harga seporsi rames 12 euro (sekarang sekitar Rp250.000,-). Padahal di warung Kelapa Gading rames begituan cukup 30.000, pake telor 35.000, tambah daging 41.000.
Selain yang “menakjubkan” seperti harga rames tadi, ada pula yang mengharukan. Itu adalah ruang Ontmoetingpunt Senioren Express, sudut tempat berkumpul para orang tua yang dulu pernah lalu-lalang di jalan-jalan Hindia Belanda. Para mantan mantan ambtenaar, pengusaha dan mantan serdadu KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger) itu sebagian besar tentulah sudah bungkuk, bahkan ada yang berkursi roda. Dengan gigi yang tidak lengkap lagi, setiap hari mereka ngobrol di situ dengan wajah berbunga-bunga. Kadang terharu ketika mengenang masa lalu. Saya melihat ada seorang Opa sedang menghitung teman sepantarannya, yang setiap tahun berkurang jumlahnya.
Tjalie Robinson punya gawe
Pasar Malam Tong Tong pertama kali diadakan tahun 1959 atas gagasan Vincent Mahieu alias Jan Boon, atau yang dikenal dengan nama Tjalie Robinson. Wartawan dsan budayawan yang lama di Indonesia ini memahami, betapa setelah 10 tahun penyerahan kedaulatan Indonesia dari Belanda 1949, lebih dari 300.000 orang Belanda yang pernah hidup di Indonesia merasa kesepian. Ia berkehendak membuat forum berkumpul dan bernostalgia.
Demi merealisasi itu ia bekerja sama dengan organisator Stichting Tong Tong. Pada tiap bulan Juni (bentang musim panas) acara yang diformulasi sebagai pasar malam ini diadakan. Semula kecil belaka. Namun lama-lama, atas jasa Stichting Tong Tong, jaarmarkt ini menjadi besar, sehingga disebut Pasar Malam Besar. Karena logo Tong Tong selalu tertera di situ, orang lalu menyebut “Pasar Malam Besar Tong Tong”.
Pada dekade pertama jumlah kaum penostalgia masih sangat banyak jumlahnya. Tapi bersamaan dengan waktu, satu persatu mereka pamit pergi pamit, bahkan tanpa pamit. Namun kerinduan kepada Indonesia sempat diturunkan kepada anak-cucunya, yang kemudian menjadi pengunjung tetap pasar malam tahun-tahun berikutnya. Bahkan di tangan generasi baru ini pasar malam jadi lebih berkembang pada 1980-an.

Tjalie Robinson, penggagas Pasar Malam Besar Tong Tong, 1959. (Foto: Dokumen).
Gagasan Pasar Malam Tong Tong diadopsi dari Pasar Malam Gambir yang diadakan oleh sekelompok orang Belanda di Lapangan Gambir (kini lapangan Monumen Nasional) Batavia, tahun 1898. Pasar malam ini diadakan karena didorong dua hal. Iklan koran Bintang Barat terbitan 30 Agustus 1898 menulis: “Oentoek hiboeran dan permaenan bagi pendoedoek negri, dan oentoek pemoedjian bagi hari tahon dan bertachtanja Sri Baginda Maharadja Poetri Wihelmina di Negeri Olanda”.
Pada Pasar Malam Gambir yang dinanti saban tahon oleh warga Belanda dan inlander itu tersaji berbagai macam stan dan acara. Dari depot makanan, tonil, akrobat sampai lotere. Koran Pembrita Betawi edisi Senin, 27 Agustus 1906 mengabarkan bahwa di pasar malam ada “kampoeng” yang menampilkan “toekang oekir wajang Batoe Soekaboemi, toekang bikin kendi dan perioek dari Banten, dan keradjinan rakjat Djawa Koelon”.
Pasar Malam Gambir usai riwayatnya ketika Jepang masuk 1942. Tapi tahun 1959 menjelma jadi Pasar Malam Tong Tong di Den Haag sana, dan jadi Jakarta Fair tahun 1968.
(Info, pada 2026 ini Jakarta Fair digelar di JIEXPO Kemayoran, pada 11 Juni sampai 12 Juli. “Pameran dan Hiburan. Terbesar – Terlengkap – Terlama” bunyi promosinya.)
Akan tinggal kenangan
Ada wacana Pasar Malam Tong Tong akan ditiadakan mulai dekade kedua tahun 2000. Masalahnya, warga Belanda yang punya darah “Hindia Belanda” sebagian besar sudah pada tiada. Selain itu warga Belanda juga ingin berhemat dalam keuangan, bersamaan dengan krisis ekonomi Eropa.
Namun wacana pembubaran ini urung karena kenangan Indonesia tak bisa lepas dari kelindan nostalgia orang-orang Belanda. Bukankah para opa dan oma yang “ons voorgegaan” atau “sudah jalan duluan” pernah mewariskan kenangan mendalam ini kepada anak dan cucu? Maka Pasar Malam Besar Tong Tong harus tetap ada.
Zaman terus beringsut. Oleh karena sebutan Tong Tong dianggap kurang modern dan kurang Indonesia, maka sejak beberapa tahun lalu namanya diganti jadi Jalan Jalan Festival. Tempatnya tidak lagi di lapangan Molieveld, tapi di kawasan Lange Voorhout, yang juga tak jauh dari Stasiun Sentral Den Haag. Dan diadakannya tidak lagi bulan Juni, namun Agustus dan September.
Jalan Jalan Festival sempat absen selama Covid-19, tahun 2020 dan 2021. Ketika diadakan lagi tahun 2022, eh, pengunjungnya sedikit. Atas hal ini faktornya banyak. Indonesia (mendadak) sudah kurang melekat (baca: kurang menarik) bagi generasi setengah tua dan muda Belanda masa kini. Nostalgia atas Indonesia sudah tidak lagi menyapa benak Gen-Z Belanda. Zaman sudah berubah, Bro! ***
Agus Dermawan T. Pengamat seni dan pelancong. Penulis buku “Perjalanan Turis Siluman: 51 Cerita dari 61 Tempat di 41 Negara.”




