Harmoni dari Cileunyi: Diplomasi Musik Organik, Syiar Budaya Tradisional, dan Inovasi Rampak Seeng di Saung Budaya Yoyon

Oleh: Jasmine Nurul Asyifa*

Di tengah pusaran modernitas abad ke-21, manajemen seni kontemporer sering kali terjebak dalam pandangan yang sangat mekanistik. Seni kerap direduksi menjadi komoditas industri kreatif, di mana keberhasilan sebuah ruang kebudayaan diukur secara kuantitatif melalui optimasi algoritma media sosial, jangkauan kampanye digital, serta kalkulasi keuntungan material yang serba pragmatis. Banyak ruang kreatif modern didirikan dengan orientasi pasar yang kuat, namun sering  kali kehilangan jiwa dan kedalaman nilaikulturalnya. Pada masa tengah arus komersialisasi yang dominan inilah, ekosistem mandiri yang tumbuh di Saung Budaya Yoyon hadir menawarkan perspektif alternatif yang menyentak. Saung ini menjadi sebuah pembaharuan kultural yang membuktikan bahwa daya hidup sebuah tradisi tidak ditentukan oleh seberapa besar modal korporasi yang menyokongnya, melainkan olehkekuatan idealisme, ketulusan sosial, dan kedalaman nilai yang diusungnya.

Saung Budaya Yoyon didirikan secara mandiri pada tahun 2014 dan mulai aktif bergerak setahun setelahnya melalui sinergi organik dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tempat ini mampu berdiri kokoh sebagai representasi idealisme seni yang murni. Lahan tempat berdirinya ruang kreatif tradisional ini dibeli secara bertahap oleh sang seniman yaitu Yoyon Darsono, bukan dari dana hibah komersial atau investasi investor asing, melainkan dari hasil peluh keringatnya mengajar karawitan Sunda dan mementaskan musik etnik di panggung dunia. Rekam jejak petualangan budayanya membentang dari Paris, Aljazair, Amerika, hingga Italia. Keberadaan saung ini secara tegas menolak untuk tunduk pada logika kapitalisasi seni yang serba transaksional.

     Foto Saung Budaya Yoyon        

         Foto Channel Youtube Yoyon Darsono

              Berbeda dengan destinasi wisata budaya komersial yang mematok tarif pertunjukan tinggi demi membiayai operasional, saung ini digerakkan oleh spiritualitas sejati yang oleh Pak Yoyon disebut sebagai “syiar budaya”, yaitu sebuah upaya menyebarluaskan nilai kearifan lokal Sunda tanpa sekat-sekat ekonomi yang membatasi masyarakat. Konsep syiar budaya ini tercermin nyata dalam program pelestarian harian mereka. Anak-anak yang berasal dari perkampungan sekitar Cileunyi dibebaskan untuk datang, berkumpul, dan mempelajari berbagai instrumen gamelan degung, angklung, rampak kendang, hingga menari secara cuma-cuma tanpa dipungut biaya pendaftaran maupun iuran bulanan. Proses transfer pengetahuan ini berjalan secara sukarela, akrab, dan kekeluargaan. Bagi Pak Yoyon, yang juga berprofesi sebagai akademisi senior di bidang seni pertunjukan, fasilitasi gratis ini merupakan implementasi konkret dari tanggung jawab moral seorang pelaku budaya. Beliau sangat menyadari bahwa mata rantai regenerasi tradisi tidak boleh terputus atau terhambat oleh lemahnya daya beli ekonomi masyarakat akar rumput. Maka di saung inilah, anak-anak sekitar dari berbagai kalagan duduk bersama dengan setara, menabuh instrument warisan leluhur mereka, dan perlahan menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas kebudayaannya sendiri di tengah gempuran budaya populer global yang kian masif.

Adapun ketertarikan yang muncul dari para peneliti doktoral, etnomusikolog, hingga wisatawan mancanegara salah satunya mahasiswa pascasarjana dari Roma, Italia untuk datang, menetap, danmelakukan riset mendalam di Saung BudayaYoyon bukanlah produk dari kampanye hubungan masyarakat yang artifisial atau pengelolaan agen perjalanan profesional. Daya tarik global yang luar biasa ini bersumber sepenuhnya dari apa yang dipandang dalam tata kelola seni sebagai ‘arsitektur kredibilitas’ organik. Arsitektur ini dibangun oleh Pak Yoyon secara konsisten sejak dekade 1980-an melalui dedikasi karya nyata. Jauh sebelum istilah personal branding diviralkan oleh para praktisi pemasaran modern, Pak Yoyon telah mempraktikkannya melalui pencapaian artistik yang diakui dunia. Sebagai salah satu konseptor garda depan yang mengawinkan seni karawitan Sunda dengan genre modern dalam grup legendaris Krakatau Ethno Band pada tahun 1989, beliau sukses menanamkan impresi estetis yang mendalam di panggung musik internasional, membuktikan bahwa instrumen etnik memiliki kelenturan untuk berdialog dengan modernitas tanpa kehilangan karakteristik aslinya.

    Foto Yoyon bersama Krakatau Band    

Foto Yoyon bersama WNA asal Italia

Maestro seni sejati tidak pernah membutuhkan algoritma internet untuk ditemukan oleh dunia. Melalui kedalaman karya yang terekam dalam literatur ilmiah, dokumentasi digital YouTube, serta jalinan rekomendasi akademik antarkampus dari mulut ke mulut, dunia internasional dengan sendirinya akan menemukan jalan setapak menuju Cileunyi. Fenomena ini menegaskan sebuah tesis penting yaitu diplomasi budaya yang paling efektif dan berdaya tahan lama justru terjadi di tingkat akar rumput, digerakkan secara organic melalui interaksi kultural antar manusia secara langsung. Ketika seorang etnomusikolog asing rela datang jauh-jauh, duduk bersimpuh di atas lantai bambu yang sederhana, dan dengan takzim menyelaraskan ketukan kendang atau tiupan suling di bawah bimbingan langsung sang empu, seluruh sekat geopolitik dan perbedaan bahasa seketika runtuh.

Hubungan bilateral yang formal antarnegara digantikan oleh keintiman universal Bahasa seni. Para penutur asing ini tidak sekadar belajar memukul instrumen, tetapi juga menyerap nilai filosofis universal, seperti konsep keselarasan dan penghormatan terhadap alam yang terdapat dalam kosmologi masyarakat Sunda. Kelangsungan sebuah seni tradisional tidak boleh dibiarkan mandek pada romantisisme masa lalu atau sekadar menjadi replika artefak masa sejarah yang kaku. Tradisi yang hidup senantiasa membutuhkan ruang inovasi yang segar agar tetap relevan dan memiliki daya pikat bagi generasi baru yang tumbuh di era digital. Landasan filosofis inilah yang melatarbelakangi lahirnya karya eksperimental terbaru Pak Yoyon pada tahun 2024, sebuah gubahan musik perkusi kolektif yang dinamis bernama Rampak Seeng. Inovasi instrumen musik ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari kepekaan sosial emosional yang dialami oleh beliau dalam menangkap realitas sosiologis dan memori kolektif lokal di Kawasan Cileunyi Kulon. Daerah ini, secara historis, dikenal luas sebagai salah satu episentrum utama para pengrajin seeng (dandang atau kukusan tembaga khas Sunda yang digunakan secara turun-temurun untuk menanak nasi secara tradisional).

Seiring pergeseran teknologi rumah tangga modern yang beralih ke alat penanak nasi elektronik, eksistensi seeng kian terpinggirkan dari dapur-dapur masyarakat dan terancam punah dari memori sosiologis komunitas lokal. Melalui sentuhan kreativitas dan visi artistiknya, Pak Yoyon berhasil merevitalisasi fungsi perkakas dapur kuno ini menjadi sebuah rumpun instrumen musik perkusi baru yang sangat ekspresif, yang beliau sebut dengan istilah Sengnang atau Seeng Bonang. Komposisi Rampak Seeng tidak hanya menghasilkan harmoni bunyi logam tembaga yang magis, nyaring, dan bertenaga, tetapi aransemen ritmisnya juga bertindak sebagai monumen hidup yang merawat ingatan sejarah komunitas Cileunyi Kulon. Kepingan peradaban domestik yang hampir hilang itu kini bertransformasi menjadi sebuah pertunjukan seni pertunjukan yang megah.

Foto Karya Sengnang

Sebagai wujud pengakuan legalitas kultural atas kebaruan dan nilai historisnya, gubahan inovasi ini telah resmi mengantongi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Republik Indonesia. Rampak Seeng sukses dipentaskan untuk pertama kalinya secara massal di hadapan publik luas dalam perayaan hari besar nasional HUT RI ke-79 di tingkat Kabupaten Bandung, memicu decak kagum sekaligus kesadaran budaya masyarakat akan kekayaan lokal mereka. Melalui integrasi utuh antara kedalaman rekam jejak personal, ketulusan sosial dalam proses transfer pengetahuan, serta keberanian melakukan revitalisasi seni berbasis komunitas, Saung Budaya Yoyon memberikan pelajaran berharga dalam dunia tata kelola seni. Saung ini membuktikan bahwa manajemen seni tradisional yang dikelola dengan dedikasi batin mampu menjadi corong diplomasi budaya yang gaungnya menembus batas-batas benua, menyuarakan kearifan lokal langsung dari sebuah sudut terpencil di pedesaan Sunda.

Foto Penulis bersama Yoyon

Esai ini diadaptasi secara komprehensif dan diperluas dari transkrip diskusi etnografis mendalam mengenai tata kelola seni tradisional, manajemen kebudayaan, serta pelestarian seni berbasis komunitas (Juni, 2026).

*Jasmine Nurul Asyifa, Mahasiswa program pascasarjana ISI Yogyakarta