Losarium: Licentia Poetica untuk Menciptakan Jejak Terbuka

Oleh: Indro Suprobo*
Write, form a rhizome, increase your territory by deterritorialization,
extend the line of flights to the point where it become
an abstract machine covering the entire plane of consistencyGilles Deleuze & Felix Guattari
Kutipan pernyataan Gilles Deeuze dan Guattari ini merupakan ajakan dan tantangan bagi setiap orang untuk senantiasa menjalani proses berpikir, berimajinasi, mengungkapkan ide dan gagasan dalam aneka rupa tulisan agar dapat memperluas wawasan dan cakupan pengalaman melalui keberanian untuk meninggalkan semua jenis kemapanan, lalu menciptakan cara berpikir dan cara pandang baru yang menyediakan lintasan untuk melesat secara kreatif. Ajakan dan tantangan ini sekaligus merupakan pengakuan bahwa setiap orang memiliki daya dan energi untuk selalu menjadi kreatif, bertumbuh merekah dalam kebebasan gerak dan arah, serta berani menyediakan bahasa-bahasa baru untuk melukiskan dan mengungkapkan kemungkinan, potensialitas dan virtualitas dari setiap realitas.
Losarium, Catatan Kecil dari Losari adalah kumpulan puisi yang ditulis oleh Yuliani Kumudaswari, yang barangkali dapat disebut sebagai manifestasi dari jawaban terhadap ajakan dan tantangan Gilles Deleuze dan Guattari dalam kutipan di atas. Melalui kumpulan puisi ini, Yuliani Kumudaswari sedang menghadirkan seluruh gerakan dan energi menulis, mengembangkan kreativitas, memperluas teritori wacana dan pengalaman dirinya, menciptakan pertumbuhan dan perkembangan yang rhizomatik, serta menciptakan tawaran cara membaca dan mengimajinasikan realitas secara baru, yang sekaligus merupakan tawaran bahasa baru tentang realitas (minor language).
Losarium, adalah sebuah kata yang tak ditemukan di dalam kosa kata bahasa Indonesia. Sebagai licentia poetica, yakni sebagai ekspresi keativitas dan kebebasan untuk menciptakan kata baru dan berbeda demi mencapai tujuan keindahan dan kekayaan nuansa di dalam kesusastraan, Losarium dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan sebuah lokalitas yang disebut dusun Losari di wilayah Kecamatan Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Losarium adalah kata benda yang memiliki kemiripan bentuk akhiran dengan kata benda berjenis neutrum dalam bahasa Latin (verba Latina), meskipun tak ditemukan juga dalam bahasa Latin, namun sekaligus menawarkan dan mencakup makna gerak, energi dan semua kehidupan yang berkaitan dengan lokasi yang disebut Losari. Dalam perspektif Deleuze, makna yang mengandung seluruh gerak dan proses ini disebut sebagai “peristiwa” atau event. Namun pantas dicatat bahwa “peristiwa” atau event yang dimaksudkan oleh Deleuze ini tidak dimaknai sebagai “kejadian” atau sesuatu yang (telah) terjadi, melainkan dimengerti sebagai proses terus-menerus bergerak dan menjadi (becoming). Oleh karena itu kumpulan puisi yang diberi judul Losarium ini merupakan catatan-catatan kecil tentang semua yang disebut peristiwa, tentang semua yang senantiasa terus bergerak menjadi (becoming), yang belum pernah mencapai titik akhir, yang selalu merekah, yang memiliki relasi khas dengan sebuah tempat yang bernama Losari.
Melalui licentia poetica, yakni kebebasan dan hasrat kreatif untuk menciptakan kata serta makna baru demi menggapai keindahan dan kedalaman sastrawi, yang dimanifestasikan di dalam kumpulan puisi Losarium ini, Yuliani Kumudaswari sedang menjalankan proses meninggalkan ketertutupan dan meruntuhkan belenggu kata, menuliskan, menciptakan dan menawarkan imajinasi, cara membaca, serta gagasan baru tentang seluruh peristiwa yang terkait dengan Losari, sambil terus-menerus membuka diri bahwa meskipun telah ia ungkapkan dan ia lukiskan dalam banyak cara, peristiwa itu senantiasa menjadi (becoming) dan menyediakan kemungkinan-kemungkinan yang masih dapat disingkapkan pada waktu kemudian. Peristiwa itu bukanlah sesuatu yang sudah terjadi pada masa lalu, melainkan “ke-sekarang-an yang terus-menerus sedang berproses dan merekah tanpa mengenal kata selesai dan tak pernah berhenti”.
Losarium, yang pada mulanya merupakan nama tempat, yakni sebuah Resto dan Caffee di wilayah Losari, Kecamatan Ngaglik, Sleman, yang merupakan teritori, dalam kumpulan puisi ini, oleh Yuliani, telah di-deteritorialisasi-kan sehingga tidak hanya menjadi penanda tempat, melainkan sebagai penanda peristiwa, sesuatu yang bergerak dan terus-menerus berlangsung dan menjadi. Ia juga menjadi kata yang mencerminkan seluruh cara baru dalam membaca realitas dan pengalaman, cara baru untuk mengungkapkan perasaan, imajinasi, kegelisahan, keterlibatan, dan seluruh pengetahuan yang menubuh di dalam dirinya, yakni pengetahuan yang diperoleh dari seluruh kehadirannya. Losarium tidak lagi menunjuk makna sebagai kata benda, melainkan telah diperluas menjadi kata yang menunjukkan gerak, proses, aktivitas, keberlangsungan, intensitas, intensionalitas, yang berpusat pada diri Yuliani yang sedang menapaki jejak-jejak untuk terus-menerus menjadi (becoming). Dengan demikian, Losarium menjadi sebuah penanda tentang ke-Yuliani-an, yakni seluruh gerak Yuliani yang sedang menjadi dirinya tiada henti. Tak dapat disangkal dan ditolak lagi, membaca dan mencermati Losarium, pada gilirannya menjadi gerak membaca dan mencermati subyektivitas Yuliani (bukan subyek Yuliani), yakni seluruh proses kemenjadian Yuliani dalam singularitasnya, dalam keterbedaannya, dalam keunikan dan kekhasannya. Namun pada akhirnya, membaca Losarium, mau tak mau juga mengakibatkan para pembaca itu sendiri terlibat, merangsek mendalam, menyelam ke dalam proses kemenjadian dirinya sendiri di dalam seluruh singularitasnya masing-masing, di dalam jejaring konteks dan pengaruh yang menjadikan dirinya terbedakan dari yang lain. Sehingga cara baca dan cara para pembaca itu menghayati serta mencermati Losarium, akan menjelma menjadi “peristiwa” yang lain lagi bagi dirinya sendiri.
Losarium, Catatan Kecil dari Losari, adalah kreativitas dan kebaharuan yang ditawarkan oleh Yuliani Kumudaswari untuk melihat, merasakan, mengenali, membaui, mence-capi, mencermati, mendengarkan, menyentuh, meraba, mengingat, mengetahui dan membaca seluruh realitas secara baru dan menantang. Seluruh diksi, metafora, alegori yang dipilih di dalam kumpulan puisi ini menunjukkan kreativitas dan kebaharuan itu. Namun yang pantas dicermati, sebagai catatan dari Losari, ia bukanlah sesuatu yang telah selesai dan berhenti. Ketika dibaca ulang, catatan-catatan kecil itu senantiasa merupakan proses yang sama sekali baru dan masih berlangsung dan menawarkan kemungkinan-kemungkinan tersembunyi yang masih dapat senantiasa disingkapkan.
Kutipan bait terakhir dari puisi berjudul Losarium ini menegaskan sesuatu yang sangat penting:
Losarium telah kehilangan aroma tungku
menyisakan palang nama di sudut jalan
: setia menunjuk arah
“pernah berdiri Losarium di samping mahoni”
Bait terakhir ini menegaskan bahwa Losarium memang telah kehilangan makna sebagai teritori. Sebagai sebuah tempat, ia hanya tinggal sebagai benda diam tanpa aktivitas. Namun melalui kumpulan puisi ini, Yuliani Kumudaswari telah meninggalkan ketertutupan, keterbatasan, keman-degan, dan keterkungkungan teritori itu, lalu dengan segala kreativitas dan gerak kebaharuannya, ia memperluas teritori itu, menciptakan cara baca, imajinasi dan bahasa yang baru, sehingga palang nama yang tersisa di sudut jalan yang setia menunjuk arah itu, dibacanya dengan cara dan bahasa yang sama sekali baru dan berbeda, yakni: akan senantiasa berdiri Losarium di samping mahoni. Ia adalah peristiwa, yang senantiasa menjadi, yang senantiasa bergerak, yang senantiasa mengalir, yang senantiasa menjalar. Sehingga pada akhirnya, melalui kumpulan puisi Losarium ini, Yuliani Kumudaswari sedang menyediakan papan nama yang terpasang di sudut jalan, yang setia menunjuk arah. Ia menunjukkan arah menuju jejak-jejak yang senantiasa terbuka, yang menyimpan segala macam kemungkinan untuk terus-menerus disingkapkan.
—
*Indro Suprobo, Penulis, Editor dan Penerjemah Buku, tinggal di Yogyakarta.





