Membersihkan Noda Noda: Tubuh Perempuan, Keterdesakan dalam The Cleaning Lady
Oleh: Bambang Supriadi *
The Cleaning Lady, sumber IMP Awards
Serial The Cleaning Lady merupakan serial drama kriminal yang pertama kali tayang pada tahun 2022, dikembangkan oleh Miranda Kwok sebagai adaptasi dari serial Argentina–Kamboja La Chica Que Limpia. Produksi serial ini Warner Bros. Television dan Fox Entertainment ini penayangan perdana di jaringan FOX serta distribusi streaming melalui Hulu di Amerika Serikat, dan di beberapa wilayah internasional juga tersedia melalui Netflix sebagai bagian dari lisensi regional.
Di permukaan, The Cleaning Lady adalah kisah kriminal tentang darah yang harus dihapus, sidik jari yang harus dihilangkan, dan rahasia yang harus dikubur. Namun di bawah permukaan itu, serial ini sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang lebih sunyi, yaitu perjuangan seorang perempuan migran yang terus bergerak di antara ketakutan, cinta, dan keterdesakan. Setiap noda yang dibersihkan bukan hanya sisa kejahatan, melainkan juga jejak dari kerja perawatan yang kerap luput dari perhatian. Melalui tubuh dan tenaganya, kehidupan orang lain dapat terus berjalan, sementara dirinya sendiri harus terus berhadapan dengan sistem hukum, ketimpangan ekonomi, dan berbagai bentuk kerentanan sosial yang mengintai setiap saat.

The Cleaning Lady, sumber IMP Awards
Thony De La Rosa, tokoh utama dalam serial ini, merupakan seorang imigran asal Kamboja yang berdomisili di Filipina. Ia sebelumnya berprofesi sebagai dokter. Kehadirannya sebagai perempuan imigran sejak awal sudah berada dalam kondisi “terdorong keluar” dari kehidupan yang stabil. Ia meninggalkan negaranya dan pergi ke Amerika Serikat bukan sebagai pilihan bebas, melainkan sebagai bentuk keberanian yang lahir dari keterdesakan, yaitu mencari pengobatan bagi anaknya yang sakit serius, Luca De La Rosa. Migrasi ini bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi perpindahan siklus kehidupan: dari keterbatasan akses menuju ketidakpastian status, dari ruang domestik menuju ruang global yang tidak pernah netral.
Dalam perspektif feminisme materialis, situasi ini memperlihatkan apa yang dipahami Nancy Fraser sebagai krisis reproduksi sosial, yaitu kondisi ketika kerja perawatan kehidupan atau care work tidak lagi ditopang secara memadai oleh sistem sosial dan negara (Fraser, 2016). Tubuh perempuan dalam konteks ini tidak hanya bekerja, tetapi menjadi penyangga utama keberlangsungan hidup keluarga, bahkan ketika sistem kesehatan dan ekonomi tidak sepenuhnya hadir sebagai pelindung.
Di titik ini, relasi dengan suami menjadi penting bukan sebagai konflik melodramatis, melainkan sebagai struktur ketimpangan yang halus. Suami Thony hadir sebagai figur yang tetap berada dalam keterbatasan realitas di negara asal, sementara Thony bergerak melintasi batas negara dan moralitas. Relasi ini tidak sepenuhnya putus, tetapi mengalami jarak eksistensial, di mana beban keputusan, risiko, dan konsekuensi lebih banyak mengendap pada tubuh perempuan.
Dalam bahasa feminisme kontemporer, kondisi ini menunjukkan distribusi yang tidak setara atas kerja merawat kehidupan dan kerja emosional dalam keluarga, yang sebagian besar masih dibebankan kepada perempuan.Jika dibaca melalui Silvia Federici, tubuh perempuan dalam sistem kapitalisme modern selalu menjadi medan kerja yang tidak pernah benar benar diakui secara penuh. Federici menekankan bahwa kerja reproduksi, yaitu mengasuh, merawat, dan menopang kehidupan, sering kali disembunyikan di balik logika ekonomi formal (Federici, 2012).
Jarak antara Thony dan suaminya tidak hanya diukur oleh batas geografis yang memisahkan Amerika Serikat dan Filipina, tetapi juga oleh distribusi risiko yang semakin tidak seimbang. Keduanya sama-sama menginginkan kesembuhan Luca, namun konsekuensi dari perjuangan tersebut lebih banyak melekat pada tubuh Thony. Ia yang harus menghadapi ancaman deportasi, mencari biaya pengobatan, bernegosiasi dengan berbagai pihak, sekaligus mengambil keputusan-keputusan berbahaya yang dapat mengubah hidup keluarganya. Dalam situasi demikian, cinta keluarga tidak hadir sebagai pengalaman yang dibagi secara merata, melainkan sebagai beban yang sering kali terakumulasi pada satu pihak yang paling dekat dengan sumber krisis.
Serial ini tidak menghadirkan suami Thony sebagai sosok antagonis yang sengaja mengabaikan tanggung jawab keluarga. Justru di sinilah kompleksitasnya. Ketimpangan yang muncul bukan terutama disebabkan oleh niat buruk individu, melainkan oleh situasi sosial yang menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama keberlangsungan hidup keluarga. Ketika Luca membutuhkan perawatan, ketika status imigrasi menjadi persoalan, dan ketika kebutuhan ekonomi semakin mendesak, Thony secara perlahan menjadi pusat dari seluruh pekerjaan emosional dan kerja perawatan yang harus dilakukan.
Dalam konteks tersebut, relasi mereka memperlihatkan bagaimana krisis keluarga sering kali diterjemahkan menjadi kerja tambahan bagi perempuan. Semakin besar ancaman yang dihadapi keluarga, semakin besar pula tuntutan yang diarahkan kepada tubuh perempuan untuk menjaga agar kehidupan tetap berjalan. Karena itu, perjuangan Thony tidak hanya dapat dibaca sebagai perjuangan seorang ibu, tetapi juga sebagai gambaran tentang bagaimana perempuan kerap menjadi benteng terakhir ketika berbagai institusi sosial gagal memberikan perlindungan yang memadai.

Mozaik Keseimbangan & Ketidakadilan – Olahan Bambang Supriadi
Dalam The Cleaning Lady, tubuh Thony bekerja dalam dua lapis sekaligus, yaitu sebagai dokter yang pernah berada dalam sistem formal, dan sebagai “cleaner” dalam sistem informal kriminal yang tidak pernah diakui secara sosial, tetapi justru menopang kelangsungan hidup orang lain.
Di pusat seluruh pergulatan tersebut terdapat Luca, anak laki-laki yang menjadi alasan utama mengapa Thony meninggalkan Filipina dan mempertaruhkan hidupnya di Amerika Serikat. Luca bukan sekadar karakter pendukung yang berfungsi menggerakkan alur cerita, melainkan pusat gravitasi yang menarik hampir seluruh keputusan yang diambil Thony. Ketika pilihan-pilihan moral mulai menjadi kabur, ketika risiko hukum semakin besar, dan ketika kekerasan menjadi bagian dari keseharian, yang terus hadir dalam benak Thony adalah kebutuhan untuk mempertahankan kehidupan anaknya.
Serial ini berulang kali memperlihatkan bahwa keibuan tidak hadir sebagai identitas yang romantis, melainkan sebagai tanggung jawab yang menuntut pengorbanan tanpa batas yang jelas. Dalam berbagai situasi, Thony harus memilih antara keselamatan dirinya sendiri dan peluang kesembuhan Luca. Pilihan-pilihan tersebut tidak pernah benar-benar setara karena kehidupan seorang anak selalu ditempatkan sebagai prioritas yang melampaui kepentingan pribadi sang ibu. Dengan cara inilah The Cleaning Lady memperlihatkan bahwa cinta seorang ibu bukan sekadar perasaan, tetapi juga kerja yang terus-menerus dilakukan melalui pengambilan risiko, pengorbanan waktu, tenaga, bahkan kompromi terhadap prinsip-prinsip yang sebelumnya diyakini.
Di titik ini, sakit yang dialami Luca memperoleh makna yang lebih luas daripada sekadar persoalan medis. Ia menjadi simbol dari kerentanan yang memaksa perempuan untuk terus bergerak dalam situasi yang tidak ideal. Setiap tindakan Thony pada akhirnya selalu kembali pada satu tujuan yang sama, yaitu menjaga agar kehidupan anaknya tetap berlangsung. Karena itu, dunia kriminal dalam serial ini bukanlah tujuan, melainkan jalan memutar yang ditempuh seorang ibu ketika jalur-jalur yang lebih aman tidak lagi tersedia.
Thony De La Rosa mengalami penurunan status sosial yang ekstrem. Dari seorang dokter di Filipina, ia berubah menjadi seorang petugas kebersihan (cleaner) di Amerika Serikat. Perubahan ini bukan sekadar perpindahan profesi atau kedudukan sosial, melainkan jejak dari sebuah tatanan yang tidak selalu menyediakan tempat bagi mereka yang hidup dalam kerentanan. Sebagai imigran tanpa dokumen, ia menjalani hari-harinya dalam bayang-bayang deportasi, ketidakpastian, dan rasa takut yang sewaktu-waktu dapat menjelma menjadi kenyataan.
Peralihan menuju dunia kriminal dalam serial ini berlangsung secara bertahap dan nyaris tanpa pilihan lain yang benar-benar aman. Ketika Thony tanpa sengaja menyaksikan sebuah pembunuhan dan kemudian terlibat dalam upaya membersihkan lokasi kejahatan, ia tidak sedang membuat keputusan moral yang bebas. Sebaliknya, ia berada dalam posisi di mana status imigrasinya yang rapuh, kebutuhan biaya pengobatan Luca, serta ancaman dari pihak-pihak yang lebih berkuasa mempersempit ruang geraknya. Serial ini dengan cermat memperlihatkan bagaimana seseorang dapat terseret ke dalam wilayah abu-abu bukan karena hasrat untuk melakukan kejahatan, melainkan karena seluruh pintu keluar yang tersedia perlahan tertutup satu per satu.
Yang menarik, kemampuan medis yang dahulu menempatkan Thony sebagai seorang dokter justru menjadi alasan mengapa ia dibutuhkan oleh jaringan kriminal. Pengetahuan yang sebelumnya digunakan untuk menyelamatkan pasien dalam ruang praktik kesehatan kemudian digunakan untuk merawat tubuh-tubuh yang terluka akibat kekerasan. Di titik ini, The Cleaning Lady memperlihatkan ironi sosial yang tajam: kompetensi profesional tidak hilang ketika seseorang mengalami migrasi dan kemiskinan, tetapi dapat berpindah fungsi mengikuti struktur kekuasaan yang melingkupinya.
Adegan-adegan ketika Thony membersihkan darah, menghapus jejak kekerasan, dan merapikan ruang yang baru saja menjadi lokasi kejahatan menjadi simbol yang terus berulang sepanjang serial. Darah tersebut bukan hanya bukti kriminalitas yang harus disembunyikan, melainkan penanda dari batas moral yang terus dinegosiasikan.
Dalam setiap tindakannya, Thony tidak sekadar bekerja sebagai pembersih noda. Setiap noda yang ia bersihkan bukan sekadar pekerjaan domestik, melainkan ruang negosiasi moral yang memicu pertanyaan mendasar: sampai sejauh mana seseorang dapat memegang teguh prinsip, ketika napas orang yang dicintai justru bergantung pada kompromi-kompromi yang lahir dari keadaan paling terdesak?
Dilema ini menempatkan Thony pada titik nadir kesadaran manusiawi, di mana integritas diri kerap kali harus ditukar dengan kelangsungan hidup. Ia tidak sedang memilih antara benar dan salah, melainkan terjepit di antara dua pilihan yang sama-sama menghancurkan nurani, menjadikannya subjek liminal yang terus-menerus mendefinisikan ulang batas-batas etika di tengah retakan dunia yang tak pernah sepenuhnya bersih.

Saksi yang terjebak dunia kriminal. Sumber Netflix. Olahan Bambang Supriadi
Dalam kondisi demikian, Thony memasuki dunia kriminal bukan karena pilihan, melainkan karena keterdesakan untuk mempertahankan kehidupan keluarganya. Pekerjaannya sebagai pembersih jejak kejahatan perlahan menyeretnya ke dalam lingkaran kekerasan yang tidak pernah ia rencanakan. Ia menjadi saksi sekaligus bagian dari jejaring yang mengurungnya, hidup di wilayah abu-abu antara korban dan pelaku.
Jika kerangka ini diperluas, Judith Butler membantu membaca bagaimana subjek perempuan tidak pernah sepenuhnya stabil, melainkan selalu dibentuk oleh kondisi kerentanan yang mengitarinya (Butler, 2004). Thony adalah figur yang terus berubah bentuk: dokter, ibu, imigran tanpa dokumen, saksi, pelaku, sekaligus korban. Identitasnya tidak pernah benar-benar utuh karena selalu dinegosiasikan melalui tekanan sosial, ekonomi, dan politik yang ia hadapi.
Dalam konteks ini, keibuan menjadi pusat gravitasi naratif sekaligus beban eksistensial. Anak yang sakit bukan sekadar motif cerita, melainkan titik tempat seluruh keputusan Thony bermula dan kembali. Luca menjadi simbol dari kerentanan yang memaksa seorang perempuan terus bergerak, bahkan ketika pilihan yang tersedia semakin sempit dan berisiko. Karena itu, dunia kriminal dalam serial ini bukanlah tujuan, melainkan jalan memutar yang ditempuh untuk mempertahankan kehidupan.
Menakar dan Membaca Perspektif di Indonesia
Resonansi persoalan tersebut terasa dekat dengan realitas Indonesia. Di berbagai ruang urban seperti Jakarta, Bekasi, dan kawasan industri sekitarnya, keberlangsungan kehidupan sehari-hari banyak ditopang oleh kerja perempuan, baik sebagai pekerja rumah tangga, buruh pabrik, maupun pekerja informal. Ketika krisis ekonomi atau kesehatan muncul, perempuan sering menjadi pihak pertama yang menyesuaikan ritme hidup melalui tambahan jam kerja, pekerjaan sampingan, atau bentuk-bentuk kerja rentan lainnya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa beban kerja produktif dan reproduktif masih terkonsentrasi pada perempuan, sementara perlindungan sosial yang tersedia sering kali tidak memadai.
Temuan Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sektor informal di Indonesia masih menyerap jutaan pekerja perempuan.
Di saat yang sama, berbagai laporan International Labour Organization (ILO) dan Bank Dunia menunjukkan bahwa perempuan cenderung menanggung beban ganda, yaitu menjalankan kerja produktif di ruang publik sekaligus kerja reproduktif di ruang domestik. Ketika guncangan ekonomi terjadi, beban penyesuaian tersebut sering kali berpindah ke tubuh perempuan melalui tambahan jam kerja, pengurangan waktu istirahat, dan meningkatnya tanggung jawab perawatan keluarga.

Nafas kasih di tengan ruang yang menekan”. Sumber: Netflix
Dalam konteks tersebut, Thony De La Rosa dapat dibaca sebagai representasi ekstrem dari pengalaman yang lebih luas. Ia bukan sekadar tokoh kriminal dalam sebuah serial televisi, melainkan gambaran tentang bagaimana tubuh perempuan kerap menjadi penyangga terakhir ketika keluarga berhadapan dengan krisis. Batas antara kerja, perawatan, dan pengorbanan menjadi semakin kabur karena seluruhnya berlangsung pada tubuh yang sama.
Di sinilah kekuatan utama The Cleaning Lady berada. Serial ini tidak semata-mata berkisah tentang kejahatan, kartel, atau pengejaran aparat hukum, melainkan tentang kerja-kerja yang membuat kehidupan tetap berlangsung meskipun dunia di sekitarnya terus retak. Dalam kerangka feminisme materialis, Thony adalah representasi dari infrastruktur sosial yang tak terlihat: sosok yang menopang kehidupan orang lain sambil menanggung konsekuensi yang jarang diakui.
Pada akhirnya, yang dibersihkan Thony bukan hanya darah yang tercecer di lantai atau jejak kejahatan yang tertinggal di sudut kota. Ia juga berusaha membersihkan ruang hidup keluarganya dari ancaman yang terus datang silih berganti: penyakit, kemiskinan, ketidakpastian status, dan kekerasan yang mengintai dari berbagai arah. Namun seperti banyak perempuan pekerja dalam dunia nyata, setiap noda yang berhasil dihapus selalu digantikan oleh noda baru yang lahir dari sistem yang sama. Dunia mungkin tampak bersih di permukaan, tetapi The Cleaning Lady mengingatkan bahwa selalu ada tubuh-tubuh yang bekerja di balik layar untuk menanggung biaya tersembunyi dari kebersihan itu.
Referensi
Butler, J. (2004). Precarious life: The powers of mourning and violence. Verso.
Federici, S. (2012). Revolution at point zero: Housework, reproduction, and feminist struggle. PM Press.
Fraser, N. (2016). Contradictions of capital and care. New Left Review, 100, 99–117.
***
*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographers Society.




