Pandangan Bong Joon-ho tentang Sinema Masa Depan

Bambang Supriadi ICS ranabiru554@gmail.com Apa yang terjadi ketika manusia dapat dikloning? Dalam Mickey 17, Bong Joon-ho menjadikan pertanyaan itu sebagai pintu masuk untuk membayangkan perubahan teknologi sekaligus menggugat kembali pengertian tentang identitas, tubuh, dan martabat manusia. Menariknya, cara membaca Bong terhadap sesuatu yang belum sepenuhnya terbentuk juga tampak ketika ia diminta Sight & Sound memilih […]

Nonton Film Odyssey di Open Air Swiss

Oleh: Sigit Susanto Kamis, 30 Juli 2026 menjelang pukul 21.00 aku naik sepeda ontel menuju Open Air di tepi danau Zug, untuk menonton film bahasa Jerman Die Odysee (Odyssey). Seorang satpam berseragam biru memeriksa tiketku dan aku berlengggang masuk arena berpagar besi itu. Kulihat banyak orang sedang menikmati makanan dan minuman di meja-meja berpayung. Maklum […]

 Perfect Days: Narasi Tanpa Kegaduhan

Oleh: Bambang Supriadi ICS*   “Bukan selera penonton sinetron.”Kalimat itu mungkin muncul setelah beberapa menit pertama menyaksikan Perfect Days (2023), film karya sutradara Jerman Wim Wenders. Reaksi tersebut dapat dimengerti. Film ini tidak dibuka dengan konflik, kejutan, atau peristiwa yang segera menggerakkan cerita. Sebaliknya, Wenders mengajak penonton mengikuti kehidupan sehari-hari Hirayama, seorang petugas kebersihan toilet […]

Ketika Homerus Berjumpa Walmiki dan Abiyasa dalam “The Odyssey”

Oleh Agus Dermawan T. Film monumental dan laris, The Odyssey, sangat menarik dicermati. Apalagi ketika dalam kisah Yunani kuno ini ada sejumlah adegan sangat mirip dengan Ramayana dan Mahabharata. ———— FILM The Odyssey beredar pada tengah Juli 2026. Film hebat yang digarap oleh Christhoper Nolan, 56 tahun, sutradara film Oppenheimer (2024) sang pemenang Oscar. Film […]

The Brutalist: Arsitektur, Kekuasaan, dan Penebusan

Oleh: Bambang Supriadi ICS* The Brutalist (2024) film yang disutradarai oleh  Brady Corbet, mengisahkan perjalanan László Tóth. Ia seorang arsitek Yahudi asal Hungaria yang selamat dari Holocaust dan berusaha membangun kembali kehidupannya setelah bermigrasi ke Amerika Serikat pada akhir Perang Dunia II. Sebagai imigran dengan masa lalu yang penuh luka, ia berharap dapat memulai hidup […]

Sebelum Kamera Bergerak

Oleh: Bambang Supriadi* Ada anggapan yang diam-diam telah menjadi keyakinan banyak pembuat film: sinematografi dimulai ketika kamera dioperasikan. Sejak saat itu perhatian tertuju pada spesifikasi kamera, karakter lensa, stabilizer, drone, atau berbagai perangkat pendukung lain yang menjanjikan gambar semakin berkualitas. Seolah-olah kualitas sinema dapat diukur dari kecanggihan alat yang digunakan untuk merekamnya. Padahal kamera hanyalah […]

Jika Dua Sastrawan Austria dan Swiss Jatuh Cinta

Oleh: Sigit Susanto* Pada 21 Juni 2026 stasiun TV SRF Swiss menayangkan film berjudul Perjalanan di Gurun (Reise in die Wüste). Film berdurasi 110 menit ini menceritakan tentang cinta dua sastrawan beken, Ingeborg Bachmann dari Austria dan Max Frisch dari Swiss. Seperti publik sastra tahu, bahwa kedua sastrawan tersebut memang dalam realitas kariernya menjalin tali […]

Menggosok Barang Lama: Film Kantata Takwa

Oleh: Bambang Supriadi Film Kantata Takwa, karya Erros Djarot dan Gotot Prakosa, menempuh perjalanan panjang hampir 19 tahun sebelum akhirnya menemukan ruang rilisnya. Film ini lahir pada tahun 1991 dan baru muncul ke publik pada tahun 2010, seolah melewati satu putaran waktu yang nyaris utuh dalam diam. Sebuah rentang yang tidak lazim dalam sejarah produksi […]

Ebu Gogo: Antara Mitos dan Sains

Oleh: Bambang Supriadi* Di Flores, tersimpan sebuah kisah lama yang terus diwariskan secara turun-temurun. Kisah itu berbicara tentang Ebu Gogo, makhluk misterius yang konon pernah menghuni hutan-hutan terpencil dan gua-gua batu di pulau tersebut. Dalam tradisi lisan masyarakat setempat, Ebu Gogo digambarkan sebagai sosok bertubuh kecil, berbulu lebat, bergerak dengan cara yang janggal, memiliki kemampuan […]

Menggali Warisan: Merumuskan Inovasi (Membaca Film Samsara karya Garin Nugroho)

Oleh: Bambang Supriadi* Samsara (2024) karya Garin Nugroho, yang dibintangi Ario Bayu dan Juliet Widyasari Burnett, hadir di tengah kecenderungan sinema kontemporer yang masih bergantung pada dialog, penjelasan naratif, dan kecepatan dramatik. Berbeda dari kecenderungan tersebut, film ini justru menanggalkan dominasi verbal dan mengembalikan sinema pada fondasi dasarnya: bahasa gambar, tubuh, ritme, dan musik. Dalam […]