Umbi-Umbian digusur Beras, Apakah Tradisi Bakar Batu di Pegunungan Papua akan Hilang?

Oleh Hari Suroto

Penelitian palynology menunjukan bahwa penduduk dataran tinggi Nugini (pegunungan tengah Papua dan dataran tinggi Papua Nugini) pada masa prasejarah telah mengembangkan pertanian mandiri. Penggalian arkeologi oleh Jack Golson di perkebunan teh Kuk, Lembah Waghi, Western Highlands,  Dataran Tinggi PNG, berhasil menemukan bukti langsung adanya pertanian awal di dataran tinggi PNG berupa tradisi untuk membuat drainase di tanah paya-paya un­tuk pertanian keladi sekitar 8000 hingga 4000 SM (Golson dan Gardner, 1990). Sedangkan manusia sendiri, sudah berada di dataran tinggi PNG, sekitar 11 ribu tahun yang lalu. 

Dataran tinggi Nugini yang berada di khatulistiwa yang lebih basah, menurut Belwood (1985) pada masa prasejarah  proses pembukaan hutan tidaklah semudah bagi peladang yang hanya memiliki alat-alat batu. Tumbuhan berkembang dengan subur sepanjang tahun dan pohon-pohon hutan hujan lebih besar dan mungkin hanya bisa dikelupas kulitnya. Lebih penting lagi, hujan yang deras membuat pembakaran mustahil dilakukan. Jadi, bisa dipastikan ada tekanan untuk mengembangkan sistem pertanian yang lebih sedikit membutuhkan pembukaan hutan dan lebih menekankan pada penanaman pohon atau umbi-umbian yang tidak membutuhkan matahari yang terus menerus sebagaimana dibutuhkan oleh biji-bijian, teknik yang dilakukan dalam membuka lahan yaitu dengan teknik menguliti pohon, bukan teknik menebang bersih.

Sementara itu, untuk kawasan pegunungan tengah Papua, hasil analisis polen oleh Haberle et al. (1991: 36-37) terhadap sampel serbuk sari buah merah dari rawa Kalela, Lembah Baliem, yang berada di ketinggian 1400 mdpl, diketahui pembukaan lahan untuk budidaya buah merah berlangsung sekitar 7000 dan 5200 tahun yang lalu. 

Papua memang salah satu di antara sedikit pusat pertanian dini di dunia. Jagung, kentang, ubi jalar, tomat, tembakau dan banyak tanaman pangan penting lainnya berasal dari Amerika, padi dan kemungkinan juga milet dari Tiongkok, sementara jenis serelia yang lazim untuk dunia Barat, yaitu gandum dengan bentuk asalnya emmer dan dinkel serta jelai, gandum hitam dan avena datang dari “daerah bulan sabit subur”, yakni kawasan di sebelah timur Laut Tengah seperti “Mesopotamia” dan bagian timur Turki. Jadi, “angkat topi” untuk orang Papua; leluhur mereka berhasil beralih dari kegiatan berburu, mengumpulkan makanan dan menangkap ikan ke cocok tanam (hortikultura) sesuai kebiasaan setempat ketika di Eropa belum ada pembudidayaan tanaman pangan seperti itu (Schiefenhövel, 2019:26).

Sejarah hortikultura di Lembah Baliem yaitu sebelum dua ribu tahun yang lalu, penduduk Lembah Baliem sudah mengembangkan sistem perkebunan kering basah, mirip dengan apa yang disebut sistem perkebunan “surjan” di Pulau Jawa. Di parit-parit berair keladi ditanam, sedang di bedengan yang kering mereka menanam pisang dan tebu. Tebu (saccharum officinarum), menurut para ahli memang berasal dari Nugini. Walaupun masih ditanam secara tumpang sari (inter-cropping), keladi terutama mulai ditanam secara besar-besaran di lereng-lereng gunung yang tanahnya kering. Perkebunan umbi-umbian di Lembah Baliem, berkembang seiring dengan domestikasi babi, yang telah dibawa masuk ke Nugini 1000 tahun sebelum Masehi. 

Sekitar 1200 tahun yang lalu, mulailah dikembangkan perkebunan ubi jalar disebut juga betatas di bedengan-bedengan lumpur yang dinaikkan dari rawa-rawa di dasar Lembah Baliem. Namun dalam waktu yang sama, perkebunan di lereng-lereng lembah juga terus digalakkan, yang dibarengi pengembangan teknik-teknik pengawetan tanah secara sederhana, yang ditandai dengan penanaman perdu dan pepohonan seperti casuarina spp., myrtaceae, podocarpaceae, dodonea, dan lain-lain (Aditjondro, 1987:106). 

Penelitian arkeologi membuktikan bahwa domestikasi ubi jalar pertama kali ditemukan di Peru sekitar 2500 SM. Melalui penanaman selektif, akhirnya didapatkan varietas yang berkualitas. Sauer (1950) berpendapat ubi jalar merupakan tanaman asli Amerika Selatan, karena di Amerika Selatan kaya akan varietas ubi jalar, kurang lebih 200 varietas terdapat di daerah pegunungan hingga 8000 m dpl, di pantai dan hutan kontinen hulu Sungai Amazon di Peru, Bolivia, Ekuador dan Kolombia.

Sumber tertulis menunjukkan bahwa ubi jalar dibawa ke Pasifik oleh pelaut Spanyol pada abad ke-16 (Horrocks, et. al., 2008). Spanyol membawa ubi jalar dari Amerika Selatan ke Filipina dan Indonesia sekitar 400 tahun  yang lalu (Yen, 1974:317, Schneider et al.1993), sementara itu ubi jalar mulai dibudidayakan di Lembah Waghi, dataran tinggi PNG pada 250 tahun yang lalu (Golson et. al., 1990:407), dan di Lembah Baliem pada 300 tahun yang lalu (Peter, 2001).

Foto Rumah tradisional Honai di Lembah Baliem (dokumentasi Hari Suroto)

Lembah Baliem berada di dataran tinggi dengan suhu rata-rata adalah sekitar 190 C. Curah hujan tahunan adalah 1800 mm dengan 195 hari hujan. Intensitas sinar matahari rendah, durasi sinar matahari harian rata-rata hanya 3,98 jam per hari, dan tiap hari langit  selalu berawan.  Hal ini berdampak pada hasil panen tanaman pisang maupun keladi yang kurang maksimal. Pertumbuhan tanaman keladi sangat tergantung pada ketersediaan air, pengolahan tanah yang intensif, sedangkan tanaman pisang membutuhkan intensitas sinar matahari. 

Bagi masyarakat di Lembah Baliem, ubi jalar berperan penting sebagai makanan pokok utama sejak tanaman ini diintroduksi ke wilayah ini, walaupun pada saat-saat tertentu, keladi dapat pula berperan penting sebagai bahan pokok tambahan. Dibandingkan dengan keladi, yang merupakan makanan pokok masyarakat Lembah Baliem sebelum masuknya ubi jalar, ubi jalar memiliki beberapa keunggulan. Ubi jalar memiliki daya adaptasi yang luas terhadap kondisi lahan dan lingkungan. Ubi jalar mampu tumbuh dengan baik di daerah tinggi yang tidak bisa ditumbuhi oleh tanaman lain. Selain itu ubi jalar dapat tumbuh di daerah bertemperatur dingin. Jika dibandingkan dengan hasil panen keladi pada luas lahan yang sama, maka hasil panen ubi jalar kuantitasnya lebih banyak. 

Ubi jalar yang tidak terpengaruh oleh ketinggian tempat, temperatur udara  serta jumlah intensitas sinar matahari, sehingga ubi jalar sangat mudah dibudidayakan dengan hasil panen yang maksimal. Selain itu budidaya ubi jalar cukup mudah, baik dalam mendapatkan bibit berupa stek dan dapat ditanam pada lahan di lereng-lereng lembah.

Ubi jalar pemicu ledakan penduduk

Pelzer (1945) dalam tulisannya yang mendapat perhatian secara luas publik Amerika, menyebutkan bahwa di Lembah Baliem suatu wilayah di dataran tinggi Papua, dengan begitu terampil orang mempraktekan teknik budidaya intensif tanaman ubi jalar, mereka menggunakan pupuk hijau dan kotoran hewan, pengolahan tanah menggunakan kapak batu, membuat saluran air, dan pembuatan lahan terasering di lereng gunung. Peralatan berkebun yang biasa digunakan adalah kapak batu  untuk menebang pohon, sebuah tongkat kayu berujung runcing (sege) untuk menggemburkan tanah. 

Namun patut diasumsikan demikian, mengingat sekitar 8000 tahun silam para leluhur orang Papua penghuni dataran tinggi telah mendomestikasi tanaman pangan lain yang juga penting pada skala dunia, yaitu talas (Colocasia esculenta dan spesies-spesies lainnya). Baru lama setelah itu ubi jalar (Ipomoea batatas), sumber karbohidrat terpenting bagi para penduduk kawasan Melanesia, tiba dari Amerika Tengah dan dari bagian utara Amerika Selatan. Di tempat-tempat ubi jalar menjadi makanan pokok, umbi-umbian tersebut hingga kini menjadi makanan yang dihidangkan kepada tamu dan digunakan untuk keperluan upacara (Schiefenhövel, 2019:26).

Sistem perkebunan ubi-ubian ini menurut Bodley (1979: 99-100), cenderung mendukung populasi manusia yang lebih stabil bila dibandingkan dengan sistem bercocok tanam tumbuhan biji-bijian. Sebab kebun tanaman berumbi ditandai oleh keragaman jenis dan varitas yang lebih tinggi, dan tanaman-tanaman diatur secara tumpang sari yang menyerupai susunan hutan tropika humida yang asli. Hasilnya adalah suatu ekosistem buatan yang cukup mantap dengan lapisan tajuk (dedaunan) yang rapat untuk memanfaatkan sinar matahari secara maksimal demi kepentingan fotosintesa dan meminimalisir pengikisan tanah (erosi).

Pembudidayaan ubi jalar kemudian menjadi faktor pemicu “ledakan penduduk” di Lembah Baliem. Hal ini mengakibatkan lebih banyak penduduk yang terkonsentrasi di Lembah Baliem dibandingkan dengan di daerah pesisir. Keladi merupakan makanan pokok masyarakat pegunungan sebelum masuknya ubi jalar (Muller, 2008; 67-68).

Budidaya ubi jalar di Lembah Baliem membutuhkan banyak tenaga kerja, baik itu waktu penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan maupun pemanenan. Sehingga dapat diasumsikan bahwa pertanian secara keseluruhan dapat mendukung ke­padatan penduduk yang jauh lebih tinggi daripada per­buruan dan pengumpulan makanan dan jelas merupakan perekonomian yang dapat memanfaatkan, bahkan men­dorong bertambahnya tenaga kerja anak-anak dan remaja. 

Pada masa prasejarah, selama 2000 tahun terakhir, sistem pertanian pangan suku Dani di Lembah Baliem dan suku-suku di pegunungan tengah Papua lainnya, telah memasuki tahap paling maju dari sistem pertanian tugal atau hortikultura, yang telah disesuaikan dengan lingkungan alam maupun kebudayaan mereka yang masih menggunakan alat batu. Dalam sistem ini, masyarakat yang hidup dalam pola keluarga besar melipat gandakan manfaat lahan pertaniannya dengan berkebun ubi-ubian dan menanam pohon kayu bakar serta beternak babi di areal yang sama (Aditjondro, 1987:111). 

Introduksi ubi jalar di Lembah Baliem, berakibat terjadi perubahan yang luar biasa di banyak hal baik itu pola pertanian, peningkatan jumlah penduduk, maupun budaya. Introduksi ubi jalar di Lembah Baliem, telah mengubah pola tanam yang sebelumnya didominasi oleh keladi. Ubi jalar mudah dibudidayakan di dataran tinggi dibandingkan dengan keladi. Peningkatan produksi ubi jalar juga diikuti oleh peningkatan jumlah babi yang dipelihara. Budidaya keladi tidak dapat mendukung pengembangan babi secara lebih luas. Rupanya babi tidak menyukai keladi mentah, tetapi lebih suka mengkonsumsi cacing yang tersedia di Lembah Baliem. Namun sejak introduksi ubi jalar, jumlah ternak babi meningkat secara signifikan. Babi menyukai umbi, batang serta daun ubi jalar mentah. 

Dalam upacara adat suku Dani, seperti perkawinan, kematian, pelantikan kepala suku, penyambutan tamu, pesta panen, dan festival budaya, ubi jalar merupakan bahan pangan utama yang dimasak bersama beberapa ekor babi dengan cara bakar batu. Babi dan ubi jalar menjadi bagian utama dalam budaya pegunungan Papua, hal ini terlihat pada tradisi bakar batu. Peningkatan produksi ubi jalar juga diikuti oleh peningkatan jumlah babi yang dipelihara. Bagi penduduk pegunungan Papua yang tergolong dalam masyarakat pig centered, tentu saja ubi jalar merupakan tanaman yang sangat berharga. Ubi jalar dan babi saling melengkapi. Meskipun ubi jalar berprotein rendah (1,8%), tetapi penduduk pegunungan tengah Papua mendapatkan protein dengan mengkonsumsi daging babi.

Dibandingkan dengan keladi, ubi jalar mampu beradaptasi dan tumbuh dengan baik pada kondisi lahan dan lingkungan pada ketinggian 1100 hingga 2800 m dpl yang tidak bisa ditumbuhi oleh tanaman lain. Selain itu ubi jalar dapat tumbuh di daerah bertemperatur dingin. Jika dibandingkan dengan hasil panen keladi pada luas lahan yang sama, maka hasil panen ubi jalar kuantitasnya lebih banyak. 

Keunggulan ubi jalar dibanding bahan makanan pokok lainnya yaitu umbinya lebih besar daripada keladi, umbi cepat masak, bisa tumbuh di tempat yang lebih tinggi, serta makanan yang lebih disukai oleh babi peliharaan. Ubi jalar yang dikonsumsi penduduk Lembah Baliem memiliki karakteristik daging umbi lembek, tidak berserat, manis dan berwarna kuning, jingga dan ungu. Sedangkan ubi jalar yang dijadikan sebagai pakan babi berkarakteristik umbi besar, kulit pecah-pecah, berserat, rasa tawar, bertekstur keras atau lembek sekali. 

Foto Ubi jalar yang dimasak dengan bakar batu (dokumentasi Hari Suroto)

Ubi jalar dalam cerita rakyat Suku Yali

Kehidupan Suku Yali di Lembah Baliem bagian timur, tidak bisa dilepaskan dari ubi jalar dan babi. Menurut cerita rakyat yang dipercaya oleh suku Yali, pengetahuan budidaya ubi jalar dibawa oleh orang yang bernama Sinin dari arah barat. Secara geografis, wilayah barat suku Yali adalah Lembah Baliem yang dihuni oleh suku Dani. 

Bagi Suku Yali ubi jalar berperan penting sebagai makanan pokok utama, walaupun pada saat-saat tertentu, keladi dapat pula berperan penting. Keladi sebagai makanan pokok leluhur, hingga hari ini masih tetap menjadi bagian dalam ritual yang diperlukan untuk berbagai kegiatan upacara.

Siegfried Zöllner yang bertugas di Angguruk, Yalimo pada tahun 1961 hingga 1971 mendokumentasikan cerita-cerita rakyat Suku Yali dan kemudian dibukukan pada 1977 dengan judul Lebensbaum und Schweinekult: die Religion der Jalî im Bergland von Irian-Jaya (West-Neu-Guinea). Dalam buku ini terdapat cerita rakyat berkaitan dengan asal-usul kedatangan ubi jalar ke Yalimo.

Sinin datang dari arah barat ke Pasikni. Di sana dia menggantungkan nokennya yang berisi petatas pada pohon hog. Kemudian dia menanam petatas di Pasikni di sebelah rumah Nelulum. Karena dia dulu menanamnya, maka kami sekarang juga berbuat demikian. Itulah petatas kabilulu. 

Berdasarkan data cerita rakyat yang berhasil didokumentasikan oleh Siegfried Zöllner, menarik untuk disimak adalah bahwa dalam cerita-cerita rakyat dan upacara-upacara adat Yali yang tertua istilah petatas sama sekali tidak disebutkan. Berdasarkan cerita rakyat Suku Yali di atas diketahui bahwa ubi jalar dibawa dari arah barat, melalui serangkaian tukar menukar komoditas. Jalur perdagangan ini diperkirakan dengan menyusuri Sungai Idenburg, Sungai Rouffaer hingga Sungai Mamberamo. Petatas ini adalah bukti adanya hubungan antara penduduk pegunungan tengah Papua dengan penduduk pantai. 

Suku Yali mempunyai pengetahuan dan ketrampilan bercocoktanam serta mengolah tanah secara intensif, memiliki teknik tinggi untuk membangun sistem irigasi, membuat pagar-pagar dengan tekun dan teliti sehingga ketika ubi jalar diintroduksi di wilayah ini, mereka mampu mengembangkan teknik budidaya ubi jalar yang lebih baik disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat, dengan penanaman selektif berhasil mengembangkan varietas yang berkualitas. 

Oleh karena pentingnya ubi jalar bagi Suku Yali untuk dapat menjaga kelangsungan hidup, maka upacara adat petatas merupakan salah satu upacara yang terpenting dalam kehidupan Suku Yali. Upacara tersebut dimaksudkan untuk menjamin datangnya hasil panen. Apabila hasil panen gagal, maka kesalahan bukanlah dicari pada tidak adanya hujan atau buruknya mutu tanah, tetapi diyakini pasti merupakan hukuman roh-roh, karena adanya peraturan yang telah dilanggar. 

Alasan kegagalan biasanya dicari pada adanya pelanggaran ‘inses” (kawin sedarah), yaitu dosa terbesar yang ada. Apabila sebuah pasangan yang melakukan inses ditemukan, maka pasangan itu biasanya dibunuh untuk menjaga agar tidak terjadi bencana bagi masyarakat. Hal ini dianggap harus dilakukan untuk meredakan amarah roh-roh dan untuk menjamin kelangsungan hidup yang lain (Reuter, 2011:53). Upacara adat ubi jalar bertujuan menjamin sebuah panen yang baik, menolak dan mengusir roh-roh dari kebun-kebun dan menjaga dari dampak-dampak perbuatan inses.

Ubi jalar dalam tradisi Suku Dani

Suku Dani di Lembah Baliem berhasil mengembangkan berbagai teknik budidaya, ubi jalar umumnya ditanam secara monokultur, seperti kebun ubi jalar yang terletak di lembah dengan parit-parit yang lebar dan dalam (wen hipere) dan kebun ubi jalar yang terletak di lereng gunung dengan parit-parit kecil dan letak bedeng saling bersilangan untuk mengurangi erosi (wen yawu) serta melakukan penanaman berbagai jenis ubi jalar. Ubi jalar dipanen secara bertahap, setiap panen diambil umbi yang besar saja sekitar 2-3 buah, dan gundukan ditutup kembali. Saat panen yang tepat adalah bila tanah sudah retak, yang berarti umbi di dalam gundukan sudah cukup besar.  

Penanaman ubi jalar di Lembah Baliem lebih banyak dilakukan oleh kaum perempuan. Laki-laki hanya bertugas membuka kebun, membuat pagar, mengolah tanah, dan membuat saluran air. Pekerjaan lainnya dilakukan oleh perempuan, meliputi penyiapan setek, penanaman, penyiangan, panen, dan pengolahan hasil. Perempuan suku Dani memiliki kearifan lokal berupa pengetahuan yang luas berkaitan dengan ubi jalar yaitu mampu membedakan jenis ubi sesuai kegunaannya, sebagai penentu jenis ubi atau kultivar yang akan ditanam dengan mempertimbangkan jumlah anggota keluarga serta ternak babi yang dipelihara.

Dengan ketergantungan yang hampir total pada ubi jalar untuk konsumsi manusia dan pakan babi, tidak mengherankan bahwa penanaman ubi jalar mengambil makna ritual tertentu dalam budaya Lembah Baliem. Heider (1970: 42-3) membahas beberapa kegiatan ritual terkait

keajaiban kebun ubi jalar, termasuk “jalan arwah”, gua leluhur, dan lahan khusus yang berfungsi sebagai rumah (ai) bagi jiwa, atau esensi (akotakun) ubi jalar yang akan ditanam. Jika akotakun tidak punya rumah, ubi jalar tidak tumbuh baik. Juga, di lahan khusus, sebuah gundukan disiapkan dan ditanam dengan banyak stek ubi jalar sebelum kebun baru ditanam. 

Ubi jalar yang disebut hibiti juguk, dimasak dan dimakan oleh laki-laki, perempuan dan babi. Demikian pula, gapura kebun adalah rumah simbol bagi jiwa ubi jalar (agot-agut) dibangun di lahan khusus (Schneider et al., 1993). Diantara lokasi yang dipelajari oleh Schneider et al. (1993: 30), suku Dani paling banyak di Kimbim mempertahankan tradisi ritual yang berkaitan dengan budidaya ubi jalar. Ubi jalar biasanya dapat dilacak dengan jelas sebagai milik seorang pria atau perempuan mulai dari penanaman hingga konsumsi, tetapi ditawarkan kepada siapa pun yang kebetulan berada hadir di suatu tempat pada waktu makan (Heider, 1970: 24). Ubi jalar yang sangat besar, dengan berat sebanyak dua kg, biasanya dimakan pada upacara-upacara (Heider, 1970: 31).

Budidaya ubi jalar di Lembah Baliem secara tidak langsung telah meningkatkan kesehatan dan mengurangi tingkat kematian masyarakat setempat, ketersediaan ubi jalar yang cukup sebagai pakan dapat mengurangi jumlah rumah tangga yang memelihara babi dengan cara dilepas. Pemeliharaan babi dengan dilepas, selain merusak kebun juga dapat menularkan penyakit hock cholera dan cacing pita.

Foto Bakar batu di Lembah Baliem (dokumentasi Hari Suroto)

Tradisi bakar batu pada suku-suku di Lembah Baliem, menggambarkan bentuk interaksi antara manusia dengan alam dan leluhur. Bakar batu sebagai bentuk  upaya untuk menyeimbangkan alam kembali, serta ungkapan persembahan dan ucapan syukur pada Tuhan. Masyarakat di Lembah Baliem percaya dengan upacara bakar batu akan mendatangkan kesuburan, kedamaian, kekayaan alam yang melimpah, kesehatan, berkat bagi kehidupan masyarakat setempat, dan hal positif lainnya. Bakar batu juga dipercayai dapat mengusir roh jahat, penyakit atau kekuatan jahat lainnya. Hewan yang dikorbankan sebagai simbol persembahan adalah babi yang diakui sebagai hewan bernilai tinggi. 

Ubi jalar, keladi, buah merah merupakan bahan pangan utama yang dimasak bersama beberapa ekor babi dengan cara bakar batu. Memasak dengan bakar batu diawali dengan membuat lubang dalam tanah. Lubang ini dialasi daun-daunan, kemudian diisi dengan batu yang sebelumnya telah dipanaskan dalam api. Di atas batu panas ditaruh daun ubi jalar, di atas daun ubi jalar ditaruh ubi jalar, keladi, buah merah dan daging babi. Seluruh bahan makanan tadi ditutup dengan daun ubi jalar, di atas daun ubi jalar ditaruh batu panas. 

Saat melakukan bakar batu, pria suku Dani menyusun batu di atas susunan kayu kering kemudian ditutupi dengan daun-daun serta rumput untuk selanjutnya dibakar. Tidak jauh dari lokasi batu dibakar, sebelumnya sudah dibuat sebuah kubangan dalam tanah. Batu panas hasil pembakaran kemudian ditata merata di dalam lubang, selanjutnya di atas permukaan batu panas disusun berbagai jenis bahan pangan seperti sayuran, keladi, ubi jalar, singkong, pisang dan daging babi. Bahan pangan ini kemudian ditutup dengan daun ubi jalar atau sayur-sayuran lainnya.

Bahan pangan ini akan matang dari panas panas yang bersumber dari batu. Setelah semua bahan pangan disusun, tumpukan makanan itu kemudian ditutup rapat dan kemudian meletakkan lagi batu panas. Setelah tiga jam, tumpukan makanan kemudian dibuka dan semua bahan makanan pun sudah matang dan siap disantap.

Beras gusur ubi jalar

Pertanian sawah dengan tanaman padi mudah dijumpai di beberapa lokasi Lembah Baliem. Tanaman padi di sawah ini dibudidayakan oleh suku Dani pada ketinggian 1650 m dpl. Sungguh luar biasa, suku Dani yang sejak prasejarah dikenal sebagai petani tangguh, dengan tanaman utama keladi, pisang, tebu, ubi jalar dan buah merah. Kini mereka telah menghasilkan padi. Budidaya tanaman padi ini diperkenalkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.

Sebelum mereka mengenal bercocok tanam padi, mereka telah dikenalkan beras, yang didatangkan menggunakan pesawat kargo dari Sentani dan Timika. Sejak kehadiran beras di Wamena, membuat Suku Dani lebih banyak mengkonsumsi nasi, sedangkan kebun keladi dan ubi jalar mereka sebagian dibiarkan begitu saja. Hal ini sangat mengkhawatirkan, apalagi dalam budaya memasak dengan cara bakar batu, keladi dan ubi jalar menjadi bahan makanan utama. Beras tidak mungkin diolah dengan cara bakar batu. 

Babi yang merupakan hewan ternak utama mereka sangat menyukai umbi ubi jalar dan daunnya. Babi tidak bisa makan jerami padi. Apakah posisi ternak babi dalam tradisi bakar batu akan tergantikan oleh sapi atau kerbau yang suka jerami? Budaya Baliem harus tetap dipertahankan, walaupun sudah dimulai budidaya padi, tetapi ubi jalar dan keladi tidak boleh dilupakan.

Perlu digalakan kampanye mengkonsumsi pangan lokal, baik tanaman yang dibudidayakan di kebun, hasil meramu di hutan maupun hasil meramu di pesisir pantai. Tanaman-tanaman ini sebelum ada beras maupun sayur-sayuran yang benihnya dibeli di toko, merupakan bagian dari bentuk ketahanan pangan lokal dari dulu. Sayur-sayuran dan umbi-umbian ini dalam tradisinya sudah dikonsumsi dan diolah secara tradisional dan organik yaitu bakar batu, barapen, dipanggang, diasap atau direbus dalam wadah gerabah.

Pangan lokal ini sangat organik dan menyehatkan. Masyarakat yang tinggal di desa tidak perlu ke kota untuk memperolehnya. Sayur-sayuran dan umbi-umbian tinggal ambil di kebun yaitu sayur pakis, sayur buah koteka, daun gedi, jantung pisang, daun genemo, selada air, daun ubi jalar, sayur lilin, bunga pepaya, daun pepaya, daun labu, rebung, dan daun singkong. Umbi-umbian yaitu ubi jalar, keladi, singkong, umbi jalar atau siapu. Sumber karbohidrat lainnya yaitu sagu, pisang dan buah sukun. Bagi masyarakat yang tinggal di kota, dengan membeli dan mengkonsumsi produk lokal maka akan meningkatkan kesejahteraan mama-mama petani Papua.

*Hari Suroto, peneliti arkeologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 

————-

DAFTAR PUSTAKA

Aditjondro, George J. 1987. Perkebunan Pangan di Pegunungan Tengah: Suatu Penyesuaian

Sosio-Ekologis yang Sangat Bijak dalam Manuel Kasiepo, Ishadi SK, Abdul Razak (editor), Pembangunan Masyarakat Pedalaman Irian Jaya. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Hlm. 104-115.

Bellwood, Peter. 1985. Prehistory of the Indo-Malaysian ArchipelagoCanberra: ANU Press..

Bodley, J. H. 1976. Antropology and Contemporary Human Problems. California: Benjamin Cummings.

Golson, J. dan D. S. Gardner. 1990. Agriculture and Sociopolitical Organization in New Guinea

Highlands Prehistory. Annual Review of Anthropology. Vol. 19. Hlm. 395-417.

Haberle, S. G., Hope, G. S. dan De Fretes, Y. 1991. Environmental Change in the Baliem Valley,

Montane Irian Jaya, Republic of Indonesia, Journal of Biogeography 18. Hlm. 25-40.

Heider, K. G. 1970. The Dugum Dani: A Papuan Culture in the Highlands of West New Guinea.

Wenner-Gren Foundation for Anthropological Research, New York. 

Muller, Kal. 2008. Introducing Papua. Daisy World Books.

Horrocks M., J. Grant-Mackie, E. Matisoo-Smith. 2008. Introduced Taro (Colocasia esculenta) and Yams (Dioscera spp.) in Podtanean (2700-1800 years BP) deposit from Me Aure Cave, Moindou, New Caledonia. Journal of Archaeological Science, Volume 35, Issue 1, January 2008. Hlm. 169-180.

Pelzer, K. J. 1945. Pioneer Settlement in the Asiatic Tropics. American Geography Society 29.

Peter, J. 2001. Local Human-Sweet Potato-Pig Systems Characterization and Research in Irian Jaya, Indonesia. A Secondary Literatur Review. International Potato Center (CIP) Support from ACIAR. Hlm. 1-77.

Reuter, Susanne. 2011. Yalimo: die Yali im Bergland von West Papua: ein Portrait. Wahine Verlag.

Sauer, Carl O.1950. “Cultivated Plants of South and Central America” dalam J. H. Steward (ed.) Handbook of South American Indians, Vol. 6, Smithsonian Institution Bureau of American Ethnology, Bulletin 143.

Scheneider, J., C.A. Widyastuti, and M. Djazuli.1993. Sweet Potato in the Baliem Valley AreaIrian Jaya. A Report on Collection and Study of Sweet Potato Germplasm, April−May 1993. International Potato Center. Hlm. 1-54.

Schiefenhövel, Wulf. 2019. Der Spargel aus Neuguinea. NADI 26/2019. Das Magazin für DAAD-Alumni in Indonesien. 

Yen, D. 1974. The Sweetpotato and the Oceania. An Essay in Ethnobotany. Hawaii: Bishop Museum Press.

Zöllner, Siegfried. 1977. Lebensbaum und Schweinekult: die Religion der Jalî im Bergland von Irian-Jaya (West-Neu-Guinea). Theologischer Verlag Brockhaus.