Puisi-Puisi Tri Astoto Kodarie

LAUT MALAM, LAMPU PERAHU PADAM

Berulangkali angin mengetuk buritan
laju perahu mengikuti arah gelombang
setelah itu mengarus menyusupi langit gelap

Tebaran jala menyisakan suara
menjaring malam berharap nasib
menelan getir asin air laut yang bertaut
bermulut gelombang

Pada laut dan musim bermata badai
lampu perahu padam merangkul malam
hanya buih laut menggenapkan cerita
hidup terasa bertunas cemas
seperti nafas yang hafal selalu terhempas

Tarikan jala selalu berharap menjaring suara
gelepar tak henti berkejaran sampai ke ufuk timur
laut malam selalu menyemaikan harapan
dari takdir yang menjulur di lidah gelombang.

Parepare, 2021

 

BERSANDAR KE DERMAGA

Tak ada yang menunggu atau ditunggu
mungkin malam terlibat menghadirkan sunyi
bukan angin dan sisa suara gelombang lamat-lamat
ingin menjatuhkan jangkar untuk kemudian menepi
bersandar ke dermaga dan sisa bau amis ikan akan berkisah

Inilah lanskap malam dermaga meramu rindu
serupa daun pintu yang terbuka setengahnya
di mana harapan dan gemuruh ombak saling berpelukan
terkadang membeku di dada sampai berhari-hari
dari malam ke malam berikutnya tanpa alasan

Aku bersaandar ke dermaga tak menggenggam laut
sebab musim bergegas tanpa arah. Aku aminkan saja
saat di kejauhan tak ada tanda mercu suar dari kilatan wajahmu
hanya kubuat sendiri garis-garis cahaya di langit
dan membiarkannya sia-sia disapu kabut

Sepertinya aku dan gelombang sama letihnya
tak sanggup lagi menemui bibir pantai
hanya mampu menjelajah rindu di garis takdir.

Parepare, 2021

 

OBITUARI MUSIM

Dari buritan perahu jukung, kusapa ombak
langit gelap tanpa cahaya. Aku diam memahami
arah yang tak jelas dikepung kegelapan
hanya sekilas kerlip-kerlip lampu nelayan di jauhan

Tak ada suara yang harus diucapkan kecuali nanar mata
menampung kepasrahan di keluasan laut
mungkin musim belum sempurna menyapa angin
atau mencumbu pasang surut waktu

Mungkinkah akan kembali ke pantai
sebab terkabarkan perahu jukung yang retak
terombang-ambing ombak menabrak karang
nasibnya terdampar di pulau sepi

Hanya bayang-bayang cahaya mercu suar yang menyapa
berkelebat dalam pertemuan tak terduga
aku hanya mengusap letih di dada
mencatat riwayat bertemu fana.

Parepare, 2021

 

*Tri Astoto Kodarie, lahir di Jakarta 29 Maret, lalu menjadi warga Purbalingga, Jawa Tengah sampai tamat SMA dan sejak 1982 bermukim di Parepare, Sulawesi Selatan. Mengikuti berbagai kegiatan sastra di berbagai daerah. Buku puisinya yang telah terbit: Nyanyian Ibunda (Artist, 1992) Sukma Yang Berlayar (KSA, 1995), Hujan Meminang Badai (Akar Indonesia Yogyakarta, 2007), Merajut Waktu Menuai Harapan (Frame Publishing Yogyakarta, 2008), Sekumpulan Pantun,: Aku, Kau dan Rembulan (De La Macca, Makassar 2015), Merangkai Kata Menjadi Api (Akar Indonesia Yogyakarta, 2017), Kitab Laut (YBUM Publishing Parepare, 2018), Tarian Pembawa Angin (YBUM Publishing Parepare, 2020) serta puluhan antologi puisi bersama di berbagai kota. Masih aktif di berbagai kegiatan seni serta bergerak di bidang literasi.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *