Tikuluak Dan Deta Pada Budaya Masyarakat Minangkabau Di Sumatera Barat

Oleh Dr. Indra Utama

 

Pembuka

Kebiasaan menutup kepala dengan kain yang dibentuk sedemikian rupa secara umum memang sudah menjadi tradisi masyarakat di berbagai negara di dunia khususnya di Asia Tenggara. Hampir semua negara di Asia Tenggara memiliki tradisi menutup kepala dengan kain yang khusus dibuat dari bahan-bahan yang terdapat di negara masing-masing. Model dan bentuknya yang khas dari penutup kepala itu menampakkan pula kecirian budaya dan tingkat peradaban dari masing-masing suku yang terdapat di negara tersebut.

Di berbagai negara di dunia, seperti disampaikan oleh Fariz Faizul (https://www.brilio.net/wow/6-tradisi-penutup-kepala-wanita-di-dunia), menyatakan bahawa penutup kepala telah menjadi identitas masyarakat, suku, budaya dan agama. Oleh itu, bentuk lipatan kain, motif ukiran tenunan dan cara pemakaiannya mengikuti kepada kebiasaan masyarakat tempatan. Manakala bahan-bahan yang digunakan pun sengaja diambilkan dari bahan-bahan yang terdapat di alam persekitaran negara itu agar dapat terlihat sebagai ikon budaya masyarakat tempatan. Di beberapa negara dan daerah, model kain penutup kepala bahkan sudah menjadi industri bagi masyarakatnya untuk dijadikan souvenir dan cendera hati. Selain itu, hampir semua bentuk dan disain penutup kepala dari masing-masing kebudayaan tersebut memiliki nilai dan makna tersendiri sebagai simbol budaya masyarakat yang membuatnya. Bermacam nama pun dikenakan kepada kain penutup kepala itu. Ada yang disebut tandak, tanjak, kuluk, tengkolok, justar, songkok, getam, kerudung, segulung, blangkon, udeng, destar, singguluang, saluak, tikuluak dan deta.

Pada masyarakat budaya Minangkabau di Sumatra Barat, kain penutup kepala dibahagikan kepada dua nama untuk membedakan penutup kepala yang dipakai oleh kaum wanita dan lelaki. Untuk kain penutup kepala wanita disebut tikuluak, manakala untuk kain penutup kepala lelaki disebut deta.

Tikuluak, mungkin istilah ini ada kesamaannya dengan Tengkolok di tempat lain. Tikuluak adalah nama yang dipakaikan untuk menyebut penutup kepala kaum wanita Minangkabau. Secara umum bentuk Tikuluak pada budaya Minangkabau menyerupai tanduk kerbau yang juga menjadi ikon kepada budaya minangkabau. Bentuk Tikuluak yang menyerupai tanduk kerbau itu juga sama dengan bentuk atap rumah adat orang Minangkabau yang disebut gonjong rumahgadang. Oleh kerana bentuknya yang menyerupai tanduk kerbau (Bahasa Minangkabau: Tanduak), maka ianya disebut Tikuluak Tanduak.

Tikuluak Tanduak, tanduk kerbau dan gonjong rumahgadang

(Foto: istimewa)

Secara tradisinya, Tikuluak Tanduak dibuat dari kain tenunan yang tebal sebagai hasil kerajinan masyarakat Minangkabau. Bagi orang Minangkabau, kain tenunan tersebut dinamakan kain balapak. Sejak lama daerah yang membuat kain balapak berada di kampung Pandaisikek, Kabupaten Tanahdatar, Sumatra Barat. Kaum wanita dari kampung Pandaisikek umumnya pandai menenun kain balapak. Bahkan untuk mempertahankan tradisi mereka sebagai bentuk kerajinan masyarakat Pandaisikek, di kampung itu ada undang-undang adat tidak tertulis yang menyatakan bahawa tenunan kain balapak hanya boleh dibuat oleh kaum wanita kampung Pandaisikek saja dan tidak boleh diajarkan kepada orang lain yang bukan berasal dari masyarakat kampung Pandaisikek. Apabila ada di antara orang kampung Pandaisikek yang kedapatan mengajarkannya kepada orang yang bukan berasal dari kampung itu, maka orang yang mengajarkan keterampilan menenun tersebut akan dibuang dari kampung Pandaisikek. Kegiatan menenun di kampung Pandaisikek sudah menjadi industri rumahtangga sejak lama sehingga masa kini. Oleh itu, kampung Pandaisikek sampai saat sekarang dikenali sebagai kampung yang memproduksi kain balapak.

Tenunan kain balapak sengaja dibuat tebal dari benang berwarna sehingga terlihat cantik dan mudah dibentuk untuk keperluan membuat Tikuluak. Biasanya, warna benang yang digunakan untuk membuat kain balapak itu adalah warna emas ataupun dengan warna khas adat Minangkabau iaitu merah, kuning dan hitam.

Ada tiga bentuk Tikuluak Tanduak pada budaya Minangkabau yang mewakili daerah tempatannya. Sepertimana banyak dihuraikan pada berbagai tulisan tentang daerah utama orang Minangkabau, menyatakan bahawa daerah asal masyarakat suku Minangkabau adalah di persekitaran tiga gunung pedalaman pulau Sumatra Bahagian Tengah iaitu Gunung Merapi, Gunung Singgalang, dan Gunung Sago. Kehadiran orang Minangkabau yang menduduki daerah persekitaran gunung-gunung itu seterusnya menjadi daerah utama masyarakat suku Minangkabau yang disebut Luhak Nan Tigo, iaitu Luhak Tanahdatar, Luhak Agam dan Luhak 50 Koto. Sehingga masa kini, daerah Luhak Nan Tigo disebut sebagai Pusat Alam Minangkabau. Pada masa kini pula, ketiga-tiga Luhak tersebut sudah menjadi tiga kabupaten di dalam sistem pemerintahan Republik Indonesia di Sumatra Barat.

Luhak Tanahdatar diibaratkan sebagai bumi yang lapang, airnya yang tawar dan ikannya yang banyak. Pengibaratan Luhak Tanahdatar ini menjadi tanda dari karakter penduduknya yang ramah, suka damai, dan berjiwa sabar. Luhak Tanahdatar merupakan daerah pertama yang berdiri di Minangkabau. Di daerah ini pula kerajaan Pagaruyung berkuasa pada tahun 1347 sampai 1375. Oleh itu, Luhak Tanahdatar dinyatakan sebagai Luhak Nan Tuo. Manakala Luhak Agam digambarkan sebagai buminya yang panas, airnya yang keruh dan ikannya yang liar. Penggambaran ini merupakan simbol dari karakter penduduknya yang keras hati, berani, dan tidak takut berkelahi. Luhak Agam adalah daerah kedua yang wujud sesudah Luhak Tanahdatar. Adapun Luhak 50 Koto digambarkan sebagai buminya yang sejuk, airnya yang jernih dan ikannya yang jinak. Melambangkan masyarakatnya yang berkepribadian lembut, tenang, dan suka damai. Luhak 50 Koto ini merupakan luhak terakhir yang wujud di Luhak Nan Tigo. Oleh itu, Luhak 50 Koto disebut pula sebagai Luhak Nan Bungsu. Sebagai suatu rumusan citra diri dari ketiga perlambangan itu, tidak mustahil hal tersebut mencerminkan pula tentang keadaan sikap dan perilaku masyarakatnya yang ditampilkan melalui model pakaian salah satunya berupa model Tikuluak.

Pada masyarakat Luhak Tanahdatar, karena luhak ini merupakan daerah pertama yang wujud di Minangkabau dengan keberadaan kerajaan Pagaruyungnya, maka model dan bentuk Tikulaknya adalah bertingkat. Model Tingkuluak yang bertingkat itu nampaknya menjadi penggambaran dari ketinggian peradaban Luhak Tanahdatar sebagai daerah Luhak Nan Tuo dengan kerajaan Pagaruyung yang memerintah Minangkabau. Untuk daerah Agam yang digambarkan buminya panas, airnya keruh, ikannya liar dengan karakter masyarakatnya yang keras hati, berani, dan tidak takut berkelahi, maka model bentuk ujung Tikuluaknya adalah runcing. Manakala di daerah Kabupaten 50 Koto digambarkan buminya sejuk, airnya jernih, dan ikannya jinak yang melambangkan masyarakat yang berkepribadian lembut, tenang, dan suka damai, maka bentuk ujung Tikuluaknya adalah tumpul. Sampai saat ini belum didapat informasi kenapa terjadi perbedaan dari segi bentuknya itu. Tentu saja kenyataan ini dapat membuka peluang untuk melakukan penelitian lebih dalam lagi berkaitan bentuk dan fungsi tikuluak tanduak pada masyarakat Minangkabau.

      

Tikuluak Daerah 50 Koto, Tikuluak Daerah Agam dan Tikuluak Daerah Tanah Datar

(Foto: Istimewa)

Adapun Deta atau Destar, adalah juga kain penutup kepala tetapi khusus dikenakan untuk kaum lelaki Minangkabau. Kononnya, di dalam kehidupan kesehariannya lelaki Minangkabau masa dahulu, deta selalu dipakai sebagai kelengkapan yang tidak terpisahkan dari kehidupan kaum lelaki. Kaum lelaki Minangkabau tidak akan merasa lengkap apabila tidak memakai deta di kepalanya. Namun pada masa kini, deta sudah jarang dipakai di dalam kehidupan sehari-hari. Kalaupun ada hanya dipakai ketika kaum lelaki belajar pencaksilat di sasaran, iaitu tempat berlatih pencaksilat di halaman depan surau (Indra Utama, 2017:4). Pada sebahagian perkumpulan pencaksilat, deta juga digunakan sebagai tanda untuk melantik anggota baru. Deta tersebut dikenakan kepada anggota baru oleh guru pencaksilat di hadapan anggota perguruan lainnya. Oleh hal demikian, pemakaian deta bagi lelaki yang ikut belajar ilmu beladiri pencaksilat pada budaya Minangkabau menjadi kelengkapan yang tidak boleh ditinggalkan dan selalu dipakai ketika mereka berada di sekitaran pembelajaran pencaksilat atau sasaran.


Pemakaian deta kepada anggota baru, dan Deta di kepala pesilat Minangkabau pada sebuah perguruan Pencaksilat.

(Foto: Istimewa)

Deta dibuat dari kain segi empat dengan ukuran 110cm x 110cm yang dililitkan di kepala mengikut model pemakaian pada kebiasaan masing-masing orang yang memakainya. Cara pemakaian deta adalah dengan melipat kain seluas 110cm x 110cm itu dalam bentuk segitiga yang kemudian digulung untuk dikenakan di kepala pemakainya dengan model sendiri-sendiri sesuai kebiasaan tempatan. Oleh itu, pemakaian deta antara satu dengan yang lainnya adalah berbeda-beda. Akan tetapi, bagi anggota perguruan pencaksilat biasanya model pemakaian deta mengikut kepada arahan guru pencaksilat itu sendiri. Hal ini bermakna, bahawa pemakaian deta di masing-masing perguruan pencaksilat memiliki kecirian sendiri-sendiri sesuai keinginan guru pencaksilat. Barangkali model pemakaian deta di masing-masing perguruan pencaksilat akan memberi tanda khusus pula kepada perguruan pencaksilat itu.

Sama seperti tikuluak yang memiliki ragam bentuk, model dan warna, maka deta pun memiliki hal yang sama pula. Bagi pemakaian masyarakat umum, biasanya deta dibuat dari potongan kain biasa sahaja dengan warna hitam atau putih. Namun yang lebih umum dipakai pada budaya Minangkabau adalah yang terbuat dari kain ukiran batik. Pada budaya masyarakat Minangkabau juga ada tradisi membuat batik yang disebut Batik Tanahliek. Bentuknya hampir sama dengan batik yang terdapat di Jawa, tetapi dengan perbedaan pada bentuk ukirannya. Pada budaya Minangkabau, ukiran batik pada kain lebih banyak meniru bentuk tumbuh-tumbuhan.

 

 

 

 

 

 

Kaum lelaki Minangkabau dengan deta di kepala

(Foto: Istimewa)

Ada bermacam model pemakaian deta pada masing-masing daerah atau perkumpulan pencaksilat pada budaya Minangkabau. Mulai dari pemakaian sederhana yang hanya melilitkan kain di kepala sahaja dan pemakaian yang rumit dengan model lipatan yang berbelit-belit. Kerumitan pemakaian deta di berbagai kampung dalam budaya Minangkabau memperlihatkan pula tingkat peradaban orang Minangkabau. Pada sebahagian masyarakat Minangkabau, sepertimana dijelaskan pada siaran kominfo Kota Padangpanjang menyatakan, bahawa keberadaan deta bukanlah sekedar ikat kepala biasa. Sebab, deta dianggap sebagai kelengkapan pakaian yang berkaitan dengan filosofi Minangkabau yang memberi simbol kewibawaan dan kehormatan kepada pemakainya. Hal sedemikian juga menjadi tanda terhadap kedudukan dan martabat pemakainya dalam status sosial mereka di tengah kehidupan bermasyarakat. Kenyataan ini nampak pada saat ada acara pengangkatan kepala suku kaum dimana model dan perlambangan yang dipakai pada deta mencerminkan kewibawaan dan kehormatan kepala suku yang dilantik.

                         

Model deta yang dipakai kepala suku kaum (Pangulu) Minangkabau.

(Foto: Istimewa)

                 

Model Deta untuk pakaian sehari-hari dan sebagai pakaian para pesilat.

(Foto: Istimewa)

Fungsi Tikuluak dan Deta Pada Budaya Masyarakat Minangkabau 

Memahami kebudayaaan sebuah suku bangsa dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain adalah melalui bentuk seni pertunjukan, seni rupa, ukiran, bentuk rumah, makanan dan kelengkapan pakaian. Bentuk dan model pakaian suku bangsa tampaknya memang telah menjadi simbol yang dapat difahami sebagai ekspresi budaya tertentu. Memandangkan bentuk penutup kepala dapat difahami sebagai salah satu ekspresi budaya masyarakat pemakainya, maka dapat dinyatakan bahawa bentuk dan model penutup kepala memiliki keupayaan pula sebagai alat komunikasi yang dapat dipelajari dan difahami perbedaan-perbedaannya berdasarkan latar belakang budaya masyarakatnya. Perbedaan-perbedaan itu berkaitan pula dengan bentuk, model ataupun gaya pemakaiannya sehingga dapat dikenali sebagai hal yang mencirikan budayanya.

Tikuluak dan Deta pada budaya Minangkabau jelas memiliki model dan gaya yang dapat dilihat dari bentuknya. Bagi masyarakat Minangkabau, sepertimana telah dijelaskan pada bahagian awal makalah ini, pemakaian penutup kepala selain ditujukan untuk membedakan model pakaian kaum perempuan dan lelakinya, juga dapat menjadi tanda kewibawaan, kehormatan, kemuliaan, status, dan identitas pemakainya.

Di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, sebagaimana dijelaskan oleh Wisran Hadi (1988:4) menyatakan bahawa kehidupan orang Minangkabau secara adat diatur mengikut Undang-Undang dan Hukum Adat yang menetapkan pembagian peranan berbeda antara kaum perempuan dengan kaum lelaki dalam kehidupan mereka. Dalam pembagian peranan itu kaum perempuan ditempatkan pada posisi yang dimuliakan dan menjadi kebanggaan keluarga serta menjadi pewaris harta pusaka. Oleh itu, kaum perempuan ditempatkan di rumahgadang sekaligus diberi hak untuk menggunakan harta warisan berupa rumah dan hasil sawah ladang. Orang Minangkabau menyatakan bahawa kehidupan mereka merujuk kepada kemuliaan kaum perempuan yang dikenali sebagai budaya matrilineal. Manakala kaum lelakinya pula ditempatkan sebagai penjaga marwah keluarga dan penjaga harta warisan. Oleh itu, kaum lelaki Minangkabau mesti berada di luar rumahgadang yang hidup di alam luas sebagai penjaga harta pusaka serta menjaga keselamatan kaum perempuan yang menjadi bahagian dari keluarga mereka. Kehidupan kaum lelaki di alam luas mengharuskan mereka mesti pandai bersosialisasi dengan individu-individu lain di tengah kehidupan masyarakat. Sebagai tempat tinggalnya, kaum lelaki Minangkabau tidur di surau milik kaum bersama teman sebayanya di bawah bimbingan lelaki tua yang dipanggil guru. Pada kehidupan di alam luas itu lelaki Minangkabau perlu belajar menjadi lelaki yang berjiwa kesatria di bawah bimbingan guru, mesti pandai bersilat ilmu beladiri, pandai bersilat lidah atau berargumentasi, berani merantau dan memiliki keterampilan khusus untuk menjalani kehidupan mereka secara mandiri. Salah satu ciri yang menandakan keberadaan kaum lelaki Minangkabau itu adalah dengan memakai deta di kepalanya. Pemakaian deta di kepala lelaki boleh jadi pertanda kelelakian orang Minangkabau sekaligus sebagai tanda lelaki tersebut merupakan anggota dari sebuah perguruan pencaksilat.

Pembagian peran antara kaum perempuan dan kaum lelaki pada budaya Minangkabau berakibat pula kepada gaya hidup dan perilaku masyarakatnya baik dalam tingkah laku sehari-hari dan di dalam berpakaian. Kaum perempuan Minangkabau, kerana ditempatkan pada posisi yang dimuliakan, maka kaum perempuan Minangkabau perlu menjaga marwah pribadi dan keluarga mereka melalui cara berpakaian yang lazim diterima masyarakat Minangkabau. Zubaidah (2010:30-56) menyatakan bahawa pakaian kaum perempuan Minangkabau yang lazim diterima oleh masyarakat Minangkabau sejak dahulunya adalah yang menutup aurat dari rambut sampai ke kaki. Model pakaiannya adalah berbentuk baju kurung, kain kodek (kain sarung) dan selendang sebagai penutup kepala yang disebut tikuluak. Pemakaian penutup kepala dari kain tersebut adalah wajib dilakukan dan tidak boleh ditinggalkan.

   

Tikuluak kaum perempuan Minangkabau.

(Foto: Istimewa)

Tikuluak, sebagai antara kelengkapan pakaian kaum perempuan Minangkabau untuk menutup kepalanya, secara asasnya memang berbentuk tanduk kerbau. Akan tetapi di dalam pemakaiannya juga dibedakan antara kaum perempuan yang sudah tua dan kaum perempuan usia muda, terlebih ketika mereka mengikuti acara resmi atau upacara tertentu seperti acara perkahwinan, pelantikan kepala suku dan pesta adat. Pada acara-acara tersebut kaum perempuan yang sudah tua biasanya memakai tikuluak yang berwarna gelap dengan lilitan yang sederhana. Manakala tikuluak untuk kaum perempuan usia muda adalah berwarna cerah dengan pemakaian yang lebih bervariasi. Hal ini menampakkan perbedaan dimana pemakaian tikuluak untuk perempuan yang sudah tua memperlihatkan kewibawaan dan kehormatan pemakainya, sedangkan pemakaian tikuluak untuk perempuan usia muda memperlihatkan keanggunannya. Khusus pemakaian tikuluak untuk kaum perempuan yang sudah tua di Luhak Tanahdatar tidak didapati yang bertingkat. Tikuluak bertingkat itu hanya terlihat dipakai oleh kaum wanita usia muda sahaja.

      

Model Tikuluak untuk orang tua dan model Tikuluak model baru untuk orang muda

(Foto: Istimewa)

       

Model Tikuluak untuk orangtua dan model Tikuluak untuk orang muda di Kabupaten 50 Koto.

(Foto: Istimewa)

Sebagai ungkapan bentuk kewibawaan dan kehormatan kaum perempuan yang sudah tua dalam budaya Minangkabau, maka mereka dipanggil Bundo Kanduang. Panggilan Bundo Kanduang mengisyaratkan penghormatan paling tinggi kepada kaum perempuan Minangkabau. Manakala kepada kaum perempuan usia muda, mereka dipanggil limpapeh yang berarti bunga yang indah. Istilah limpapeh biasanya diikuti oleh kata rumahgadang sehingga menjadi limpapeh rumahgadang. Makna dari kata ini adalah bunga yang cantik di rumahgadang sebagai tempat hunian kaum perempuan.

Berbeda hal-nya dengan fungsi pemakaian deta bagi kaum lelaki Minangkabau. Pemakaian deta menampakkan status sosial yang berperingkat sebagai bahagian penting dari kelengkapan pakaian kaum lelaki. Model pemakaian deta untuk orang biasa umumnya dililitkan sahaja di kepala dan tidak dimaknai sebagai hal yang istimewa selain hanya sebagai pertanda kelengkapan pakaian kaum lelaki dan sebagai anggota perkumpulan pencaksilat. Akan tetapi, bagi kaum lelaki yang memiliki status sosial tertentu di tengah kehidupan masyarakat Minangkabau pemakaian deta di kepala memiliki makna khusus.

Khusus untuk deta yang dipakai oleh Raja Alam Kerajaan Pagaruyung dinamakan Deta Dandam Tak Sudah (Dendam Tak Sudah). Istilah dandam tak sudah juga dipakaikan kepada nama tengkolok pada budaya Melayu di Malaysia. Manakala bentuk deta dandam tak sudah yang dipakai oleh Raja Alam Kerajaan Pagaruyung nampak hampir sama dengan tengkolok orang Melayu di Malaysia. Di Minangkabau, Deta Dandam Tak Sudah hanya khusus dipakai oleh Raja Alam Pagaruyung sahaja. Kepala suku kaum yang pada budaya Minangkabau disebut Pangulu tidak memakai deta tersebut sebagai kelengkapan pakaian kebesarannya.

Untuk kepala suku kaum di Minangkabau atau Pangulu, deta yang dipakai dinamakan deta gadang (destar besar). Sebahagian orang Minangkabau ada pula yang menyebutnya Saluak Batimbo. Zulkifli Datuak Sinaro Nan Kuniang menyatakan bahawa ciri khas model pemakaian deta gadang atau saluak batimbo sebagai penutup kepala Pangulu pada budaya Minangkabau adalah memiliki kerutan di bahagian keningnya. Kerutan di bahagian kening itu memberi simbol bahawa kepala suku kaum adalah orang pilihan untuk menjadi Pangulu yang memiliki kefahaman terhadap banyak hal berkaitan Undang-Undang Adat Minangkabau. Bila kerutan itu dibuka maka akan terlihat menjadi lebar dan luas sebagai perumpamaan isi fikiran pemakainya. Oleh itu, Deta Gadang atau Saluak Batimbo tersebut menjadi kelengkapan yang khas untuk pakaian kepala suku kaum budaya Minangkabau.

Deta Dandam Tak Sudah Sultan Muhammad Taufiq Thaib Tuanku Maharajo Alam

(Raja Alam Pagaruyung) dengan Istri.

(Foto: Istimewa)

Barisan Pangulu dengan pakaian kebesarannya.

(Foto: Istimewa)

Penutup

Perbincangan mengenai tradisi penutup kepala pada budaya Minangkabau adalah berkaitan dengan jatidiri kehidupan orang Minangkabau yang mengamalkan adat istiadat Minangkabau. Hal tersebut Nampak pada pembahagian peranan dan tugas antara kaum perempuan dan lelakinya yang berdampak kepada sikap hidup sehari-hari di dalam berperilaku dan berpakaian.

Berbagai kemajuan dalam bidang pendidikan dan teknologi informasi telah menyebabkan terbukanya ruang pengetahuan yang berpengaruh pula kepada sikap hidup dan perilaku masyarakatnya terutama dalam hal berpakaian. Bila dahulunya ada aturan cara berpakaian yang mengikut kepada aturan adat tempatan sehingga pakaian dapat menampakkan kecirian suatu suku bangsa, maka pada saat sekarang semuanya sudah berubah. Penampilan cara berpakaian Nampak sudah terlihat sama.

Kesamaan dalam hal perilaku kehidupan tersebut menyebabkan adanya kerinduan untuk mengkaji ulang identitas kita dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah di dalam bentuk penutup kepala yang digunakan sebagai tanda keberadaan sebuah suku bangsa termasuk dalam hal ini adalah suku bangsa Minangkabau.

Mungkin pada masa yang akan datang, bilamana kajian berkaitan penutup kepala yang menjadi identitas sebuah suku bangsa tidak diteruskan, boleh jadi salah satu bentuk produk kebudayaan ini akan hilang dan ditinggalkan. Kenyataan ini nampaknya sudah mulai berlaku pada saat sekarang.

*Penulis adalah Pensyarah Senior Fakulti Seni Gunaan & Kreatif, Universiti Malaysia Sarawak. 

 

Bibliografi

A.A Navis (1984). Alam Terkembang Jadi Guru, Adat dan kebudayaan Orang Minangkabau. Jakarta: PT Grafiti Press.

Amir M. S. (1997). Adat Minangkabau, Pola dan Tujuan Hidup Orang Minangkabau. Jakarta: PT. Mutiara Sumber Widya.

Ampera Salim dan Zulkifli (2004). Minangkabau Dalam Catatan Sejarah Yang Tercecer. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia.

Chris Barker (2000). Cultural Studies, Theory and Practice. London: Sage Publications. Terjemahan Tim KUNCI Cultural Studies Center (2005). Cultural Studies, Teori dan Praktek. Bandung: Mizan Media Utama.

Edi Sedyawati (1981). Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta: Sinar Harapan.

HAMKA (1984). Islam dan Adat Minangkabau. Jakarta: Pustaka Panjimas.

Indra Utama (2017). Tari Minangkabau Dari Pancak dan Pamenan Ke Tari Persembahan. Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Malaya.

Ibrahim Datuk Sangguno Dirajo (1919). Curaian Adat Alam Minangkabau. Bukittinggi: Fort De Kock.

M. Nasroen (1971). Dasar Falsafah Adat Minangkabau. Jakarta: Penerbit Bulan Bintang.

M. Rasyid Manggis Datuk Rajo Pangulu (1971). Minangkabau, Sejarah Ringkas dan Adatnya. Padang: Sridharma.

Masrul Malik (2006). ”Pencaksilat Sebuah Pancaran Kekayaan Kebudayaan Minangkabau.” Makalah seminar. Disampaikan dalam acara Minangkabau Contemporary Dance Festival (MCDF) di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, 12hb Disember 2006.

MID. Jamal (1986). Filsafat dan Silsilah Aliran-Aliran Silat Minangkabau. Bukittinggi: CV. Tropic.

Mochtar Naim (1984). Merantau Pola Migrasi Suku Minangkabau. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sjafri Sairin (2002). Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia, Perspektif Antropologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wisran Hadi (1988). “Menoleh Kembali Kesenian Minangkabau, Di Antara Tari Minang dan Tari Kabau. Makalah, disampaikan pada peringatan Hari Sumpah Pemuda di ASKI Padangpanjang, tanggal 28 Oktober 2008.

Zubaidah dkk (2010). Fungsi dan Makna Simbol Pakaian Adat Kaum Perempuan Serta Implementasinya Pada Upacara Adat Di Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Laporan Penelitian. Universitas Negeri Padang.

https://www.brilio.net/wow/6-tradisi-penutup-kepala-wanita-di-dunia