Melacak Asal Muasal Hubungan Indonesia-Rusia

Oleh Victor Pogadaev dan Iwan Jaconiah

MESKIPUN jarak jauh memisahkan Rusia dan Indonesia, keduanya sudah saling bersentuhan sejak lama dan terus berniat mengetahui lebih banyak satu sama lainnya. Seperti bunyi peribahasa Indonesia: “Tak kenal maka tak sayang”.

Pada abad ke-12 dalam babad Rusia Povest vremennih let atau Babad masa lampau, para ahli berpendapat bahwa Nusantara telah dikenal luas dengan sebutan Ostrovtsi atau Kepulauan. Itu jelas juga tercatat oleh seorang saudagar Rusia dari Kota Tver, Afanasy Nikitin, berjudul Perjalanan Melampaui Tiga Laut tentang pengembaraannya di India (1466-1472).

Dalam catatan itu, termaktub maklumat mengenai sebuah negara yang gaib wujudnya di Asia Tenggara, bernama Syabot. Menurut para ahli sejarah, itu adalah sebuah negeri di pulau Sumatra. Nikitin memberitahu mengenai negeri subur itu. Terutama, tentang kekayaan alam, adat istiadat penduduk, dan perdagangan penduduk setempat dengan India dan Cina.

Pada abad ke-18, atas perintah ratu Rusia Catherine Agung maka disusunlah kamus komparatif 180 bahasa dan dialek. Termasuk, Bahasa Indonesia, yang waktu itu adalah bahasa Melayu. Melalui kamus itulah, para ahli mengetahui lebih dalam lagi tentang bahasa dan budaya di Nusantara.

Salah satu orang Rusia pertama yang mengunjungi Indonesia adalah Laksamana I. F. Kruzenshtern. Dia mengepalai ekspedisi keliling dunia pada 1803-1806. Dalam pelawatannya, dia berhasil menyusun dokumentasi Atlas Laut-laut Selatan dan membuat deskripsi pelayaran sepanjang pantai Timur Sumatra hingga Selat Sunda. Sangat lengkap mengenai panjang aliran, kecepatan angin, dan kedalaman laut.

Pada 1852-1854, penulis ternama Rusia I.A Goncharov mengunjungi Ostrovtsi bernama Jawa. Ketika itu, ia ikut bersama sebuah pelayaran keliling dunia dengan menumpangi kapal Pallada. Dia bahkan menyebut pulau Jawa sebagai satu tempat tercantik di dunia.

Tak hanya itu, pada 1869, pengembara Rusia V. Tatarinov juga pernah mengunjungi Jawa. Sesudah perjalanannya, dia menerbitkan sebuah esai panjang dalam Majalah Maritim yang terkenal di jamannya.

Dari semua itu, upaya terbesar dari Rusia dalam memahami Ostrovtsi dilakukan oleh N.N Miklukho-Maclay. Ia berkunjung ke Jawa, Seram, Sulawesi, Ambon, dan Papua pada 1870-1883 selama empat kali pelayaran berbeda. Dia banyak meneliti di wilayah Indonesia paling timur, yaitu Papua (Papua New Guinea) yang kala itu masih belum banyak tersentuh oleh peneliti Eropa.

Maclay membuktikan bahwa orang Papua yang sebelumnya dipandang oleh kaum sarjana Barat sebagai makhluk primitif, tidaklah benar. Ras Papua hanyalah manusia biasa dan memiliki hak hidup setara dengan manusia lainnya.

Di lain sisi, menarik pula bahwa banyak peneliti Rusia juga memunyai hubungan erat dengan Kebun Raya Bogor. Mereka adalah para ahli zoologi dan botani, yaitu Korotnev dari Kiev dan Kamensky dari Odessa. Namun, peranan penting di antara para ahli botani dan pengembara abad ke-19 sampai abad ke-20 adalah A.N. Krasnov, seorang profesor dari Universitas Kharkov.

Pendalaman Krasnov mengenai Indonesia dipaparkan dalam beberapa makalah ilmiah dan dua buku. Kedua buku populer itu berjudul Perjalanan di Pulau-pulau Timur Jauh dan Di Daerah Tropis Asia.

Tak dimungkiri, sebelum abad ke-19, para sarjana Rusia mengadakan lawatan riset atas biaya mandiri. Barulah setelah itu, Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia mulai memberi beasiswa kepada para ahli botani dan ahli zoologi untuk melakukan penelitian, termasuk ke Kebun Raya Bogor, dua tahun sekali.

Para penerima beasiswa itu, antara lain ahli botani Prof Navashin dari Kiev, dua ahli zoologi Pedashenko dan Davidov, ahli botani Prof Golenkin dari Moskow, dan ahli zoologi Ivanov. Karya paling populer tentang Indonesia dihasilkan oleh ahli botani Prof V. Arnoldi dari Universitas Kharkov berjudul Di Kepulauan Melayu.

Interaksi dengan kesultanan 

Ilmuwan Rusia tidak saja meneliti alam Indonesia, tetapi juga membantu penduduknya berjuang melawan penjajah Belanda. Berkat usaha sejarawan Rusia E.I. Gnevusheva, kita mengetahui fakta penyertaan seorang insinyur pertambangan Rusia V. P. Mamaliga (Maligin ataupun Memelige) dalam pemberontakan bersenjata antikolonial rakyat pulau Bali dan Lombok pada 1894.

Tentu menarik pula episode hubungan Rusia-Indonesia ketika Kesultanan Aceh pada 1873-1904 melawan kolonial Belanda. Pihak Aceh di bawah Sultan Muhammad Daud Syah II pun beberapa kali memohon Rusia untuk memberi perlindungan sebagai daerah protektorat.

Sebagai akibat aktivitas politik luar negeri Rusia di Timur Jauh dan penyebarluasan kekuasaannya di daerahnya yang berbatasan dengan Asia Pasifik pada abad ke-19 maka pemerintah tsar memberi perhatian ke Indonesia.

Kapal-kapal perang Rusia dalam perjalanan ke Vladivostok sering singgah ke pelabuhan Jawa dan Sumatra. Pada 1885 di Batavia didirikan konsulat tidak resmi Rusia dan pada 1893 atas usul Kementerian Maritim Rusia diubah menjadi konsulat resmi.

Tetapi perluasan hubungan antara Rusia dan Hindia-Belanda (kini, Indonesia) tidak terjalin sesuai harapan. Bahkan perdagangan langsung tidak diadakan. Perdagangan dilangsungkan melalui pihak ketiga, antara Belanda, Jerman, dan Inggris.

Komoditi ekspor utama Rusia ialah kerosin, namun persaingan dengan Amerika Serikat maka pasokannya ke Indonesia terus berkurang. Dari Indonesia, Rusia mendatangkan kebutuhan melalui negara ketiga, seperti kopi, indigo, rempah-rempah, timah, teh, dan kopra, dengan nilai sekitar 15 juta rubel per tahun.

Pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, ahli-ahli Rusia mengambil bagian dalam perkembangan industri petroleum di Hindia-Belanda. Pada 1894 di daerah Babat dekat Palembang, insinyur Rusia F.F. Klyaye menemukan sumber minyak tanah.

Pada 1897, kompeni Hindia-Belanda menandatangani kontrak dengan insinyur Rusia A.V. Ragozin dari Baku untuk membangun kilang pengolahan minyak di Muara Enim (Sumatra Selatan). Proyek dan semua gambar rajah kilang itu didesain oleh ahli teknik Rusia A.V. Adiyasevich. Saat itu, dia datang ke Indonesia bersama dengan sekelompok ahli-ahli Rusia. Sebuah kelompok lainnya bekerja di Balikpapan. Direktur kilang minyak saat itu ialah G.D. Gurgen dari Armenia.

Konsul Rusia pertama dan terakhir di Batavia M.M. Bakunin selama empat tahun (1895-1899) telah berkali-kali mengajukan usulan untuk membuka hubungan langsung antara Rusia dan Indonesia. Dia menganjurkan kepada Komite Armada Sipil Rusia membuka jalur pelayaran reguler antara Odessa dan Vladivostok dengan persinggahan di Indonesia.

Menurut Bakunin, di sana pasti ada muatan untuk Rusia. Dia berpendapat bahwa ada manfaat jika pihaknya mengambil beberapa varietas tumbuhan tropis Indonesia untuk ditanam di daerah subtropis Rusia. Sayang, usul-usulnya tidak disambut baik sehingga dia kecewa dan menulis dalam bukunya berjudul Negeri Belanda Tropika yang diterbitkan pada 1902. Karena dinilai tidak bermanfaat, konsulat resmi Rusia pada 1899 mendapat status ‘tidak resmi’ dan pada 1913 ditutup.

Selain itu, fakta menarik lain adalah di bidang penerbangan. Patut disebut seorang penerbang Rusia A.A. Kuzminsky. Dia pernah berkunjung ke negeri-negeri timur pada 1912 dan menjadi penerbang pertama yang memamerkan aksi udaranya di langit Jawa dan Sumatra.

Keragaman budaya Indonesia 

Kekayaan seni budaya Indonesia sudah sejak lama memukau masyarakat Rusia. Pada 1910, penyair ternama Konstantin Balmont mengunjungi Jawa. Keindahan alam dan keramahan penduduk dia abadikan dalam beberapa puisi. Salah satunya berjudul Gamelan.

Gamelan – bak laut – tak berujung, 

Gamelan – bak bayu – tak habis. 

Meronggenglah gadis Jawa ramping 

Dengan wajah pucat dan manis. 

Lemah lunglai tiada tara lagi, 

Harumnya rempah bibir anggrek, 

Halusnya seroja embun pagi 

Yang dibuka bagi birahi tak serik. 

Dalam tarian berulang – tangan

Merajat-rajut jaringan gerak, 

Kunang-kunang riang beterbangan, 

Gamelan buat jantungku berdetak. 

Di tempat seroja bergoyangan 

Kunang-kunang sama bertunang

Berpisah, semula kesayangan – 

Terang-gelap-terang-gelap-terang. 

Gugus bintang tuju tengah malam, 

Tengah malam ada api di gunung. 

Bunyi itu masakan menghilang? 

Tari dongeng buat terpegun. 

Di balik gunung bersahut-sahut

Bunyi logam, tali yang tipis.

Gamelan – kental bagaikan maut

Gamelan – perigi mimpi tak habis. 

Pada saat meletusnya Perang Dunia Pertama di Eropa, hubungan Rusia-Hindia Belanda yang rapuh kian mengalami kerenggangan. Namun, kembali mesra seusai Perang Dunia Kedua. Rusia mendukung proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dan membuka kembali hubungan diplomatik dibawah Proklamator Soekarno.

Pascarevolusi Oktober 1917 di Rusia, sejumlah peneliti, pelancong, dan pesastra Rusia bermigrasi ke timur. Termasuk, ke wilayah Indonesia di mana mereka turut memberikan sumbangan besar terhadap pembangunannya.

Misalnya insinyur I.T. Blagov pada 1918 pindah melalui Cina ke Jawa. Ia menghabiskan tiga tahun ikut serta dalam pembangunan obyek-obyek hidro-listrik. Juga pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, yang dibangun kembali sesuai rancangan yang diciptakannya.

Contoh lainnya, ialah seorang ahli geologi V.A. Petrushevsky. Tetiba di Jawa pada 1921 dan mulai kerja di departemen pertambangan. Dia ambil bagian dalam 280 ekspedisi penyelidikan daerah cincin api. Ia pun pernah turun ke 68 kawah gunung api. Salah satu gunung api di pulau Lomblen, Nusa Tenggara Timur. Atas kerja kerasnya maka namanya didedikasikan sebagai nama gunung, Petrush.

Terpenting ialah bahwa fondasi kuat hubungan bilateral kedua negara telah diletakkan sejak lama. Penelitian masalah-masalah Indonesia secara ilmiah juga sudah dirintis sejak lama pula. Setiap penelitian tidak dapat dipisahkan dari strategi pemerintah Uni Soviet (Rusia) untuk menyokong gerakan pembebasan nasional yang dipandang sebagai sekutu dalam geliat perjuangan melawan kolonialisme.

Pada 1930-an, akademisi A. A. Guber meletakkan asas-asas penyelidikan masalah Indonesia di Rusia. Ia menghasilkan sejumlah penelitian yang sangat bermanfaat. Buku fundamental pertama tentang Indonesia berhasil ia tulis berjudul Indonesia: catatan sosial-ekonomi. Guber tidak saja memberi arah kepada penyelidikan Indonesia di Rusia, namun juga mendidik ahli-ahli baru sekaligus mendirikan seminar Indonesia-Melayu di Moskow.

Sekarang, wadah pertemuan para peneliti tentang negara-negara di Asia Tenggara itu di bawah naungan Persatuan Nusantara, sebuah lembaga nirlaba, yang meneruskan pemikiran dan ide Guber. Para ahli fokus menghasilkan banyak karya di bidang sejarah, politik, ekonomi, bahasa, dan budaya Indonesia.

Hubungan diplomatik Rusia-Indonesia sudah lama terjalin. Ada sebuah harapan untuk meningkatkan kemesraan yang lebih lagi ke masa depan. Tidak hanya stigma negatif terhadap Rusia di saat Orde Baru berkuasa. Namun jauh sebelumnya, kita perlu melihat sejarah panjang bahwa para peneliti Rusia telah ikut memberi sumbangsi dalam ilmu pengetahuan.

Ke depannya, perlu sekali meningkatkan kerja sama antara peneliti Indonesia-Rusia untuk berkolaborasi di ranah sosial, ekonomi, budaya, dan sastra. Hal itu demi sebuah peradaban yang mulia. Meneruskan cita-cita Soekarno agar Indonesia menjadi bangsa yang beradab dan mulia.

*Penulis: 

Victor Pogadaev Sejarawan, Profesor (Madya) di Akademi Diplomatik Kemenlu Rusia. Penulis Kamus Rusia-Indonesia, Indonesia-Rusia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010,.

Iwan Jaconiah, Penyair, PhD (kandidat) Kulturologi di Universitas Sosial Negeri Rusia. Ia adalah pesastra pertama Indonesia yang meraih Diploma of Honor Award pada X International Literary Festival “Chekhov Autumn” di Yalta, Krimea, Rusia (2019) dan Diploma Award pada International Poetry Festival “Taburetka” di Monchegorsk, Murmansk, Rusia (2017).

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *