Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.
BALADA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI SUNAN KALIJAGA
malam tidak jatuh
malam datang
seperti ibu tua
yang berdiri di pagar bambu
memanggil anaknya pulang
lampu-lampu minyak
dipadamkan satu per satu
dari serambi langgar
angin menggeser bau tikar pandan
dan membawa sisa doa
yang belum selesai diaminkan
ada suara
bukan dari mulut
bukan dari langit
tetapi dari dada orang-orang
yang berjaga di gardu
hingga ayam jantan
memecah gelap pertama
kidung itu bergerak
sebelum embun turun
ke pucuk padi
sebelum kelelawar
kembali ke lubang bambu
rumeksa ing wengi
seperti telapak tangan ibu
yang menempel di dahi anaknya
ketika panas tubuh
naik semalaman
aku berdiri
atau mungkin
yang berdiri hanya bayanganku
di halaman langgar
di dadaku
tak ada lagi dadaku sendiri
hanya gaung bedug
yang berputar-putar
di antara tulang rusuk
dan suara itu datang
tanpa derit pintu
tanpa bunyi sandal
teguh hayu luputa ing lara
seperti lampu sentir
yang tetap nyala
meski angin masuk
dari celah gedek
api masuk ke dalam air
seperti bara
yang jatuh ke telaga
dan telaga itu
tetap menyimpan hangat
di dasar lumpurnya
pencuri kehilangan jalan
di tengah pikirannya sendiri
segala niat jahat
rontok seperti daun jati
yang dilepas
musim kemarau panjang
suara itu pecah lagi
bukan kata
seperti getar bedug
yang masih tinggal
setelah bunyinya pergi
bukan lagi kata
seperti lingkar air
yang terus bergerak
setelah batu tenggelam
kidung itu membuka dirinya
kidung rumeksa ing wengi
teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
jin dan gelap
melewati pematang
melewati rumpun bambu
melewati kuburan tua
tetapi tak menemukan pintu
dan pintu itu
dadaku sendiri
sakehing lara pan samya bali
sakeh angkara pan sami miruda
welas asih pandulune
aku tidak terluka
atau mungkin luka
sudah menjadi tanah
dan rumput liar
segala penyakit
pulang perlahan
seperti anak kecil
yang dipanggil ibunya
ketika senja turun
ke sawah-sawah
tanah tidak lagi menakutkan
gua tidak lagi rahasia
kuburan di tepi kebun
hanya tanah
rumput
dan jangkrik petang
pohon beringin
di tikungan jalan
tak lagi membuat orang
mempercepat langkah
dan tubuh ini
seperti rumah tua
yang kembali dihuni cahaya
kayu
besi
batu
angin
duduk bersama
di bawah satu atap
lalu nama-nama datang
tahun-tahun gugur
dari bahu sejarah
darah menemukan lagi
jalan-jalan lama
yang tertimbun lumpur
di dalamku
ada Adam
yang terus belajar
menjadi manusia
dari lumpur
yang belum kering
ada Sis
yang menyimpan hikmah
seperti biji padi
di dalam lumbung
ada Musa
yang berbicara
seperti mata air
yang memecah batu
napasku Isa
seperti embun pagi
yang selalu kembali
sesudah malam
pendengaranku Yakub
yang mengenali kabar
dari tangis
yang datang bersama angin
suaraku Daud
yang membuat besi lunak
seperti tanah sawah
sesudah hujan
nyawaku Ibrahim
yang tetap berjalan
meski membawa kehilangan
di bahunya
dan aku tidak tahu lagi
apakah aku masih satu
atau telah menjadi banyak
seperti sungai
yang bercabang
ke sawah-sawah
namun tetap
air yang sama
rambutku Idris
seperti jejak angin
di hamparan ilalang
kulitku Ali
yang tidak mundur
ketika kebenaran
berdiri di depannya
darahku Abu Bakar
yang mengalir setia
tanpa meminta balasan
tulangku Umar
yang tetap tegak
meski musim berganti
dagingku Usman
yang menjaga sunyi
agar tidak tercerai
dan di ruang paling dalam
Fatimah menjadi sumsumku
seperti rumpun bambu
di tepi jurang
yang menggenggam tanah
saat hujan turun
berhari-hari
Aminah menjadi kekuatan tubuhku
seperti batang padi
yang menunduk
namun tetap berdiri
Nuh di jantungku
yang menyimpan hujan
sebelum awan datang
Yunus di ototku
yang mengajariku
cara bertahan
di dalam perut gelap
dan mataku
bukan lagi mataku
pada bening embun subuh
aku seperti meminjam
pandangan
Kanjeng Nabi Muhammad
yang memandang sawah
sesudah panen
sungai yang membawa jerami
langit yang rendah
oleh hujan
dan wajah manusia
tanpa membeda-bedakan
siapa yang dicintai Tuhan
dan tiba-tiba
tidak ada aku
tidak ada mereka
tidak ada malam
yang memusuhi siang
tidak ada tubuh
yang membatasi doa
yang tinggal
desir angin tebu
di sepanjang pematang
di sungai
di dada manusia
kidung rumeksa ing wengi
teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
rumeksa ing wengi
bukan perlindungan
pulang
seperti anak
yang menemukan jalan pulangnya
setelah lama tersesat
dan malam tidak selesai
embun masih turun
ke rumput
angin masih berjalan
di pematang
dan tubuh itu
sawah yang basah oleh embun
jalan tanah
selepas hujan
serta suara ayam
dari kejauhan
yang membuka pintunya
kepada fajar
Sunan Kalijaga tidak datang
ia menjadi sungai
yang mengaliri sawah
ketika kemarau
memecah tanah
dan aku menghilang
bukan ke atas
bukan ke dalam
ke rumah sunyi
yang sejak awal
menungguku pulang
2026
BALADA GIRI KEDATON SUNAN GIRI
kabut turun di Bukit Giri
pelan seperti napas bumi
yang masih tertahan
di dada petang
embun mulai menempel
di rumput-rumput pendek
dan suara laut dari pesisir Gresik
datang samar
seperti bunyi perahu malam
yang hilang di balik kabut
melewati orang-orang
yang menuruni jalan pasar
dengan keranjang kosong
di pundaknya
senja belum tenggelam sepenuhnya
tetapi beduk telah bergerak pelan
dari serambi yang belum terlihat
suara itu menyentuh udara
lalu hilang ke dalam angin bukit
seperti batu kecil
yang tenggelam
ke dasar sumur tua
jalan menuju bukit masih basah
pohon-pohon diam
dan langit menggantung rendah
di atas atap pesantren
cahaya sore tinggal tipis
di sela daun dan genting
seperti daun-daun nangka
yang pelan-pelan
tak lagi memantulkan cahaya sore
di halaman yang dingin oleh embun petang
anak-anak mulai duduk melingkar
sarung mereka lusuh
kaki mereka telanjang
dan tangan-tangan kecil itu
mengepal rapat
di depan dada
seolah menyimpan sesuatu
yang belum boleh keluar
sebelum azan magrib
tawa pecah sebentar
kemudian hilang ke dalam angin
seperti burung pipit
yang terlambat pulang
ke rumpun bambu
dari serambi panjang
suara ayat bergerak perlahan
melewati pohon-pohon basah
dan genting yang mulai redup oleh senja
beberapa santri berjalan
membawa kitab di dada mereka
langkah kecil itu
naik turun di jalan bukit
seperti sedang menghafal
irama beduk
yang memantul dari bukit ke bukit
Bukit Giri tidak tinggi
tetapi orang-orang datang kepadanya
untuk belajar melihat hidup
ketika cahaya luar
mulai meninggalkan benda-benda
sementara di halaman
permainan mulai bergerak
sebuah suweng berpindah tangan
cepat dan nyaris tidak terlihat
mata anak-anak mengikuti geraknya
lalu kehilangan jejaknya kembali
cahaya kecil itu
seperti sengaja sembunyi
dari tangan
yang terlalu ingin menggenggam
setiap tebakan
membuat rahasia bergerak lebih jauh
anak-anak tertawa
namun di sela tawa itu
ada sesuatu yang terasa lebih tua
daripada usia mereka sendiri
cublak-cublak suweng
suwengé ting gelèntèr
suara itu melayang pelan
di udara petang yang mulai dingin
bercampur dengan bau rumput
dan tanah halaman pesantren
seperti asap dapur
yang naik perlahan
dari kampung-kampung di bawah bukit
mambu ketundhung gudèl
lagu kecil itu bergerak
di antara lingkar permainan
seperti anak pasar
yang pulang membawa kantong kosong
lalu berkali-kali meraba sakunya
Pak Empong léra-léré
seorang anak menunduk
menahan senyum
sementara telapak tangannya
tetap rapat
menyimpan rahasia
Sapa ngguyu ndhelikaké
mata mereka saling menebak
tetapi rahasia selalu berpindah
sebelum keinginan sempat menangkapnya
langit makin redup perlahan
warna-warna daun
mulai larut ke dalam bayang
dan wajah anak-anak
pelan-pelan berubah samar
di bawah cahaya senja
yang terus menipis
sir, sir pong dhelé kopong
sir, sir pong dhelé kopong
lagu itu berputar
di antara tangan-tangan kecil
yang belum tahu
betapa dingin telapak tangan
ketika suweng
tak berada di sana
seorang anak membuka telapak tangannya
: kosong
anak lain membuka tangannya
: kosong
dan setiap kekosongan
membuat langit terasa semakin dekat
seperti cincin kecil
yang dilepas perlahan
dari jari
yang lama memakainya
di serambi yang mulai redup
seseorang memandang permainan itu
tanpa banyak bergerak
jubahnya disentuh angin bukit
matanya tenang
seperti permukaan air
yang lama diam
di bawah cahaya senja
ia tidak menghentikan permainan
ia hanya melihat
bagaimana manusia kecil itu
belajar kehilangan
sebelum mengenal harga pasar
belajar bahwa suweng
lebih suka berpindah tangan
daripada dikurung
di dalam genggaman
di bawah bukit
pasar mulai menyalakan
cahaya-cahaya kecilnya
sementara langit
pelan meninggalkan warna
pedagang menata kain
suara tawar-menawar bergerak
di antara bau ikan
dan debu jalanan
orang-orang dewasa
menyembunyikan hidupnya sendiri
lebih rapat daripada anak-anak
menyembunyikan suweng
mereka mengejar emas
mengejar kuasa
mengejar nama
tetapi semakin petang
wajah mereka terasa semakin jauh
dari dirinya sendiri
sementara di halaman pesantren
permainan belum selesai
sebuah suweng masih berpindah
dari telapak
ke telapak lain
dan rahasia itu terus bergerak
pelan
di antara tawa dan tebakan
seperti cahaya kecil
yang hanya mau singgah
kepada tangan
yang lupa cara memiliki
seorang anak menebak
: salah
anak lain tertawa
lalu menundukkan kepala
seolah baru kehilangan sesuatu
yang tidak bisa disebutkan
langit mulai gelap perlahan
burung-burung melintas rendah
menuju pohon-pohon basah
laut di kejauhan
pelan-pelan kehilangan warnanya
dan sawah-sawah di bawah bukit
mulai larut warnanya
ke dalam gelap
ketika beduk magrib bergerak
dari serambi
yang mulai tenggelam oleh malam
anak-anak berdiri
satu demi satu
permainan selesai
tanpa ada yang benar-benar menang
embun turun
dari ujung rumput
dan tangan-tangan kecil itu
tetap membawa kekosongan
meski suweng telah ditemukan kembali
di serambi yang mulai sepi
seseorang masih duduk diam
memandang permainan itu
sebuah suweng kecil
yang sejak tadi
berpindah dari telapak
ke telapak lain
angin bergerak perlahan
suara anak-anak menjauh
menuruni jalan bukit
dan Giri Kedaton
kembali menjadi sunyi
sementara malam
turun sedikit demi sedikit
ke daun-daun
ke genting
ke jalan tanah
ke dada manusia
seekor kunang-kunang
menyala sebentar
di rumpun rumput basah
lalu hilang
ke dalam gelap
2026
BALADA MENARA SUNAN KUDUS
langit petang menggantung
di atas kota Kudus
merah tipis
seperti bara sekam
yang belum padam seluruhnya
asap naik
dari warung-warung pasar
bau cengkih
bercampur bau tembakau
ikan asin
kain basah
dan debu jalan batu
pedagang mulai menghitung uang
seorang perempuan
mengikat kembali dagangannya
seorang lelaki tua
menutup peti rempah
tetapi pasar
belum sungguh-sungguh diam
masih ada suara tawar-menawar
yang tersangkut
di bawah atap seng
lampu minyak dinyalakan
satu demi satu
cahayanya kecil
bergoyang
di dinding toko kayu
seekor sapi berjalan pelan
di lorong pasar
kulitnya cokelat tua
tulang punggungnya tampak
di bawah senja
anak-anak mengikuti dari belakang
sementara orang dewasa
sibuk mengejar hitungannya sendiri
garam berpindah tangan
lada berpindah tangan
uang berpindah tangan
dan petang
pelan-pelan menarik warna
dari wajah manusia
di ujung jalan
menara bata merah berdiri diam
lumut menempel
di sela tubuh tuanya
akar waktu
seakan tumbuh
di antara bata-bata itu
burung gereja
keluar masuk
dari lubang kecil
yang menghadap barat
angin menyentuh dindingnya
dan bata-bata tua itu
tetap menyimpan panas matahari
yang sejak siang
berdiam di sana
beberapa anak berlari
melewati halaman masjid
suara gamelan samar
masih datang
dari kampung seberang
dan bau dupa
yang tertinggal dari masa lampau
kadang masih lewat
bersama angin petang
Kudus seperti sebuah perahu
satu kakinya
masih berdiri di masa silam
satu kakinya lagi
melangkah ke hari baru
dan keduanya
tak saling menolak
dari serambi dekat pasar
seorang tua
melagukan syair perlahan
tak banyak orang mendengar
namun suaranya bergerak
masuk ke warung kopi
ke halaman rumah
ke kandang sapi
ke jendela-jendela kayu
yang mulai ditutup malam
ia berkisah
tentang pohon yang berbuah
karena menunduk
tentang padi yang berisi
karena merunduk
tentang manusia
yang membesar
ketika mengecilkan dirinya sendiri
petang makin rendah
bayang menara
jatuh panjang
ke halaman masjid
anak-anak berhenti berlari
burung-burung mulai pulang
dan dari tubuh bata merah itu
beduk bergerak
dug…
suara itu memantul
ke pasar
ke lorong sempit
ke kandang sapi
ke sumur tua
ke jalan batu
yang mulai basah
oleh embun malam
dug…
seorang pedagang
menghentikan hitungannya
dug…
seorang ibu
mengangkat wajahnya
dari keranjang sayur
dug…
seekor sapi
menoleh perlahan
matanya bening
tenang
seperti tidak pernah mengenal
permusuhan manusia
dan suara beduk itu
terus berjalan
melewati atap-atap rumah
melewati pohon sawo
melewati rumpun bambu
hingga masuk
ke dada orang-orang
yang mulai lelah
menjadi dirinya sendiri
di bawah menara
orang-orang mengenang
sebuah cerita lama
tentang seekor sapi
yang tidak dijadikan alasan
untuk menunjukkan kuasa
tentang seorang wali
yang memilih menjaga hati manusia
daripada memenangi perdebatan
tentang kasih sayang
yang lebih tinggi
daripada kemenangan
angin petang turun
membelai tanduk sapi
yang masih berdiri
di dekat pasar
dan tiba-tiba
hewan itu terasa
lebih mengerti damai
daripada banyak manusia
langit semakin gelap
lampu-lampu minyak
menjadi lebih jelas
anak-anak berhenti bermain
para pedagang
menutup pintunya
dan kota perlahan
mengembalikan suaranya
kepada malam
dari menara
beduk bergerak lagi
dug…
dug…
dug…
seperti jantung tua
yang tetap setia
menjaga umur kota
orang-orang berjalan
menuju serambi
langkah mereka pelan
sandal bergesek
di atas batu halaman
tak ada yang membawa pasar
tak ada yang membawa jabatan
tak ada yang membawa namanya
semuanya tinggal di luar
seperti debu
yang ditinggalkan kaki
ketika memasuki rumah
dan menara itu
tetap berdiri
bukan sebagai tanda kuasa
bukan sebagai tanda kemenangan
tetapi seperti pohon tua
yang memberi teduh
kepada siapa saja
yang lewat di bawahnya
malam turun
sedikit demi sedikit
ke lorong Kauman
ke atap-atap kayu
ke kandang sapi
ke halaman masjid
ke bata merah
yang mulai dingin
ke pasar
yang kehilangan suaranya
sementara dari kejauhan
suara sandal menjauh
suara jangkrik mulai naik
dan angin bergerak
di antara daun-daun asam
Menara Kudus tetap tegak
seperti beduk yang tak selesai berbunyi
meski kayunya telah diam
seperti nasihat
yang tak selesai berjalan
meski mulut yang mengucapkannya
telah lama menjadi tanah
dan malam terus turun
ke jalan batu
ke rumput-rumput liar
ke tanduk sapi
ke serambi masjid
ke dada manusia
yang perlahan belajar
bahwa yang membuat hidup
tetap tegak
bukan kerasnya tangan
bukan tingginya menara
sebab bata akan retak
kayu akan lapuk
dan suara beduk
suatu hari
berhenti pada kayunya sendiri
yang tinggal
hanya hati
seperti halaman masjid
yang tetap terbuka
bagi sandal yang bersih
bagi sandal yang berlumpur
bagi orang yang datang
bagi orang yang pulang
sebagaimana langit malam
yang tak pernah menolak
seluruh bintang
2026
BALADA KINANTI SUNAN MURIA
kabut turun pelan
di lereng Muria
seperti kain lurik
yang ditinggal petang
lalu menghampar
di kebun kopi
dan pagar-pagar bambu
tanah basah
menyimpan jejak langkah malam
yang belum selesai pergi
di sela akar
jejak cangkul belum selesai pagi
seperti alur air kecil
yang masih mencari jalan
ke petak sawah berikutnya
air dari batu
mengalir tanpa tergesa
melewati akar kopi
dan rumpun talas
menuju parit kecil
di bawah pohon pisang
ayam hutan memecah sunyi
lalu hilang lagi di semak
seperti batu kerikil
yang dilempar ke sendang
dan tenggelam kembali
kanthi laku kang utami
angin lewat
di antara batang jagung
tak lebih jauh
daripada yang diperlukan
tangan-tangan petani
bergerak perlahan
membetulkan galengan
mengangkat rumput liar
membersihkan saluran air
langkah tidak lagi mengejar hari
hari justru turun sendiri
ke tanah yang baru dicangkul
tidak ada perintah
hanya gerak
seperti air
yang mengisi petak sawah
tanpa bunyi
pasar lereng Muria
kain terbentang di tanah
gula kelapa
beras
garam
cabai kering
dan tembakau rajangan
ditata di atas tikar
orang-orang menimbang
segenggam demi segenggam
lalu pulang membawa
yang diperlukan
di sela tawar-menawar
keinginan berhenti di bibir
seperti hujan
yang tertahan di puncak awan
seekor kambing berdiri
di bawah pohon nangka
talinya longgar
ia mengunyah daun muda
tanpa tergesa
Sunan Muria
tidak datang
tidak pergi
hanya tinggal
pada petani
yang tidak memotong padi
sebelum benar-benar menguning
pada pedagang
yang mengembalikan timbangan
ketika jarumnya bergeser
pada perempuan
yang menyisakan beras
untuk tetangga sebelah
di sela kerja
di sela pulang
di bawah bambu yang baru dipotong
di sudut warung
yang masih menyimpan bau kopi panas
tidak ada nama
tetapi cara memandang berubah
seperti embun
yang diam-diam turun
ke daun-daun jagung
titenan kanthi dikanthi
air sendang
tidak diambil lebih dari cukup
pagi masih menempel
di batu licin
padi dijemur
di halaman rumah
burung pipit
turun sebentar
lalu terbang kembali
ibu-ibu di pematang
menunggu air
tenang di petak sawah
sebelum membuka pintu salurannya
seperti orang tua
yang menunggu anaknya selesai bicara
mrih wahyu ilham amrih
di bawah randu
seorang lelaki
mengikat tali sapi
tanpa tergesa
daun randu jatuh
ke bahunya
lalu ke tanah
tak ada yang mengejarnya
air bergerak di parit
membawa daun-daun kecil
menuju hilir
ilmu menempel
pada telapak kaki
yang pulang membawa lumpur sawah
bukan pada mulut
yang ingin didengar
gunung Muria malam
kabut naik kembali
menutup jalan setapak
yang siang tadi dilalui anak-anak
pasar kehilangan suaranya
tinggal bau ikan asin
di tikungan jalan
lampu minyak
di rumah-rumah kayu
menyala kecil
seperti kunang-kunang
yang hinggap di jendela
angin turun
membawa tanah basah
dan bunyi bambu
yang saling bersentuhan
gunung tidak hanya berdiri di utara
ia ikut tumbuh
pada petani
yang tetap menugal
meski hujan belum pasti datang
pasar tidak hanya berada di bawah
ia ikut hidup
pada perempuan
yang berhenti menawar
ketika tahu harga itu
untuk biaya sekolah anak penjualnya
kabut bukan langit
ia turun dari tubuh kerbau
yang baru pulang
Kinanti tidak terdengar
ia langkah petani
yang berhenti sebentar
di pematang
untuk melihat air
sudah sampai ke ujung sawah atau belum
Sunan Muria tidak hadir
ia seperti asap dapur
yang naik dari rumah-rumah bambu
tidak dicari
tetapi terasa ada
malam turun pelan
ke kebun kopi
ke daun singkong
ke kandang kambing
ke jalan batu
ke sendang
ke pematang
pintu-pintu kayu ditutup
tanpa bunyi engsel
dan semua yang disebut
tidak lagi berdiri sebagai nama
hanya satu napas
yang berjalan
di antara ladang
pasar
air
kabut
dan tubuh manusia
yang tahu kapan bekerja
dan tahu kapan berhenti
sebelum menjadi berlebih
2026
*Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (2023), Sekumpulan Esai Sastra Hikmah (2024), Buku Puisi Balada Kisah untuk Anak Cucu (2025).
Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).***




