Meditasi, Sebuah Pengalaman Meksiko-Indonesia

Oleh Inés Somellera

Saya lahir di Meksiko dan sejak sangat muda, saya cenderung tertarik pada buku-buku spiritual, serta studi-studi tentang pikiran, yoga dan meditasi. Di saat yang bersamaan, saya juga memiliki keinginan yang besar untuk menjadi seorang seniman. Sejak saat itu, saya diberikan anugerah dan kesempatan yang luar biasa untuk melakukan dan bahkan memadukan kedua hasrat tersebut.

Setelah saya berrefleksi, pengaruh spiritual-yoga-meditasi terbawa kedalam perjalanan saya dalam berkesenian dan begitu juga sebaliknya.

Ketika sekarang saya menetap di Indonesia, saya bersama beberapa sahabat, telah mendirikan sebuah wadah dalam bidang seni dan humaniora, bernama ESAS, dimana dedikasi dengan sentuhan seni mengalir dalam semua program budaya, lingkungan hidup termasuk memadukan seni dengan ‘well being’.

Saya mengajar Yoga sejak usia muda. Saya menemukan sesuatu yang sangat saya cintai, sehingga dorongan untuk belajar semakin serius. Saya mengikuti berbagai kursus dan memperoleh sertifikasi. Sambil berkesenian, saya terus menggeluti yoga dan meditasi dan berimprovisasi menjadi sesuatu dorongan yang alami. Saya biasa mengakhiri kelas Yoga Nidra dengan meditasi dan hal ini menjadi bagian dari rasa yang alami untuk saya.

Inés Somellera di Taman Sari

Inés Somellera di Taman Sari, Yogyakarta (Foto: Desiree Harahap)

Langkah mana yang saya tempuh, kerap kali sesuai dengan jalan yang terbuka bagi saya dimana berbagai jenis yoga dan praktik meditasi terus memperkaya pengalaman.

Saya ingin bercerita dari dua pengalaman yang telah membentuk pendekatan saya.

Semasa remaja, ayah saya berkesempatan membawa saya ke studio Yoga di San Diego, California. Saya diberitahu bahwa gurunya adalah seorang yogi dari India yang dianggap sebagai orang bijak di antara murid-muridnya. Studionya terlihat biasa, tidak menyiratkan kemewahan apapun, dengan kelompok yang jumlahnya juga biasa saja, tapi di situ terlihat bahwa lingkungan tersebut sangat menghormati keberadaan satu sama lain. Lalu tiba-tiba pintu terbuka, saya melihat seorang pria tinggi dan ramping, melangkah dengan ringan melewati ruangan sampai dia berhenti di bagian tengah ruangan. Ia memakai pakaian putih bersih, dan wajahnya berjanggut.

Dengan segera, keheningan memenuhi seisi ruangan ketika ia menyalakan lilin sambil berkata: “Anda akan menatap api yang menyala dan cobalah untuk tidak menutup mata, fokus pada napas Anda”.

Saya mengingat pengalaman itu sebagai pengalaman pertama saya dalam meditasi. Setelah beberapa saat, saya merasakan air mata mengalir, tetapi saya tenang dan mata saya tidak sekalipun berkedip. Tetap memandang cahaya. (Disini saya mengalami dengan sadar agar tetap fokus pada cahaya karena terdorong rasa ingin tahu apa yang ada dibalik cahaya ini)

Inés Somellera di Bromo

Inés Somellera di Bromo. (Foto: Desiree Harahap)

Momen lain yang berpengaruh bagi saya, adalah rencana “pencarian” ke sebuah vihara Buddha di Thailand. Saat tiba, saya tidak melihat vihara yang saya harapkan, tak seorang biksupun tampak. Yang ada hanya sebuah gubuk di mana saya menemukan seorang wanita yang sedang membersihkan buah yang besar dan runcing. Akhirnya saya tahu bahwa wanita tersebut adalah direktur biara dan ketika saya bertanya tentang program beserta jadwalnya, ia menjawab; “Tidak ada program, tidak ada jadwal. Disini, Anda akan mengamati pikiran Anda dan mengamati tubuh Anda. Ketika Anda ingin bergerak, lakukanlah secara perlahan dan amati mengapa Anda melakukannya”, kemudian dia terdiam dan kembali melanjutkan aktivitasnya.

Saya ditunjukkan ke sebuah pondok yang sangat kecil. Dan selama 12 hari, saya menghabiskan hari-hari saya di dalam tanpa meninggalkan pondok itu sampai pada hari kepulangan saya. Saya bahkan tidak diizinkan untuk berlatih Yoga atau meditasi!

Saya melewati waktu yang amat sulit untuk mencari tahu apa yang sebetulnya saya lakukan di sana. Walau banyak pertanyaan dalam diri yang mungkin belum memperoleh jawaban, saya tetap mencoba untuk mengikuti instruksi yang diberikan. Ada beberapa saat di mana saya hampir saja putus asa. Saat berpamitan, dia berkata kepada saya: “Jangan lupa. Selama Anda memiliki tubuh ini, Anda akan mengalami penderitaan. Dan seperti yang Anda amati di sini, Anda menghabiskan waktu Anda untuk menyembuhkan penyebab dari penderitaan: seperti merasa lapar dan menyembuhkan derita lapar, lalu ke kamar mandi untuk menyembuhkan derita tubuh, lalu berbaring, menyembuhkan derita kantuk dan lain sebagainya”.

Inés Somellera di Savannah Bromo

Inés Somellera di Savannah Bromo. (Foto: Desiree Harahap)

Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk benar-benar memahami makna dari pengalaman ini.

Keduanya adalah pendekatan berbeda untuk ajaran yang sama, yaitu: kita harus belajar memahami pikiran dan rangsangan kita. Kita juga harus memperlakukan tubuh kita dengan hormat, layaknya sebuah kuil.

Perjalanan selanjutnya, cukup panjang, saya dipertemukan dengan berbagai pembelajaran yang memperkaya: meditasi transendental begitu saya berlatih meditasi Buddhisme; kemudian Energi Pranakasi di Jakarta, belajar taichi di Palembang, lalu mengambil Bali Husada 1, dan akhirnya meditasi mindfulness melalui kelompok spiritual Beshara.

Inés Somellera di Tarung Stone

Inés Somellera di Tarung Stone, Sumba (Foto: Desiree Harahap)

Dari kesemua pembelajaran dapat disimpulkan MEDITASI adalah praktik sederhana yang dapat diakses oleh kita semua dan bisa dikembangkan dari waktu ke waktu sesuai kondisi masing-masing karena bersifat sangat personal.

Tidak ada salah dan benar. Tidak perlu teknik ini dan itu dalam metode meditasi.

Saya memahami bahwa latihan pernapasan melengkapi awal dari meditasi dan merupakan bagian dari praktik yang tersedia bagi kita untuk kemajuan Diri. Bahkan dapat menjadi alat yang ampuh bagi kesehatan fisik dan mental, sekaligus dapat menyentuh spiritualitas.

Untuk berlatih meditasi, kita hanya membutuhkan tiga unsur: TUBUH, NAPAS dan KESADARAN.

Kesadaran adalah aspek terpenting dari gaya hidup sehat. Sejak awal, kita telah diajarkan untuk ikut serta dalam berbagai aktivitas: keikutsertaan, keterlibatan, hubungan relasi, pengalaman macam-macam, dan juga ‘sibuknya’ pikiran. Semua itu, membuat kita seolah yakin pada gagasan tentang siapakah diri kita. Namun, tidak ada yang mengajari kita untuk berhenti sejenak dan memberikan perhatian kepada diri kita…”to just be”.

Tanpa sadar, kita semakin tergiring untuk lebih banyak lagi beraktivitas. Dan entah kenapa, kita merasa baik-baik saja dengan hal ini, seolah-olah hidup kita baru bernilai jika kita melakukan sesuatu di setiap waktu.

Kesadaran secara esensi adalah melampaui pikiran (beyond thinking). Bukan berarti Anda mengabaikan pikiran itu sendiri, tetapi bagaimana Anda dapat memberi diri Anda sesuatu yang jauh lebih besar. Hal itu terkadang disebut intuisi, kadang juga bisa disebut ranah kreativitas, namun saya menyebutnya sebagai kesadaran.

Inés Somellera di Candi Borobudur

Inés Somellera di Candi Borobudur (Foto: Felia Salim)

Dari sudut pandang semua tradisi, seluruh dunia menderita dari kurangnya perhatian atau attention deficit’. Karena kehidupan ini seakan-akan hanya berkisar harusnya melakukan ini dan itu tanpa kesadaran akan keberadaan itu sendiri: always doing …not being. Sehingga seolah tidak ada tempat bagi kita untuk “beristirahat”; tempat kita untuk berada dengan diri sendiri atau mengenal diri (to know oneself).

Kesadaran itu tidak terbatas bahkan tersedia tanpa batas di setiap saat. Menjangkau kesadaran bukan bermotivasi imbalan tertentu. Seperti Anda bermeditasi karena Anda harus menjadi lebih baik dalam sesuatu hal. Itu hanya sebuah ide. Tidak melakukan apapun berarti betul-betul tidak melakukan apapun. Berarti kita melepaskan segala keinginan dan ekspektasi yang ada, bahkan pada momem saat ini, akhir hari ini ataupun akhir tahun. Berserah pada apapun yang akan terjadi pada tiap saat dan mampu berdiri dengan apa adanya saat ini.

Awareness Meditation, hendaknya selalu dimulai, seolah sebagai pemula pada setiap momen: ‘moment by moment’.

Inés Somellera di Savannah Bromo

Inés Somellera di Savannah Bromo (2). (Foto: Desiree Harahap)

Bagi saya meditasi adalah tindakan mengenal diri atau secara esensi mencintai-diri. Meditasi juga tindakan menjaga kewarasan, hanya dengan berhenti selama beberapa menit, dengan beberapa tarikan napas, dan tiba pada “keberadaan” (“drop into being”).

Dimensi ini bisa menambah nilai hidup Anda.

Kita mungkin benar-benar tiba ke dalam perwujudan tubuh serta pikiran kita, dan mungkin menemukan sesuatu. Kita tidak tahu apa hasilnya, itulah ironinya, bahwa kita sudah ada di sini.

Ini adalah tentang kehadiran, kesadaran akan momen ini – the awareness of the present moment. Apakah Anda telah bermeditasi selama bertahun-tahun atau Anda hanya ingin tahu cara lain dalam bermeditasi, Anda ada di sini hari ini.

Inti dari Awareness Meditation adalah menyatukan berbuat (doing) dan keberadaan (being). Berbuat disini akan menjadi jadi lebih bermakna, lebih indah, lebih seimbang, lebih jelas, tercerahkan, dan non-dualistik: dimana bagi hubungan dengan eksternal: dunia luar, hubungan dengan keluarga dan kerabat, dan hubungan internal, kita dengan diri sendiri, termasuk tubuh kita, kesehatan kita, fisik dan mental, akan semakin baik.

Inés Somellera Meditasi

Inés Somellera membimbing Meditasi Daring Bulan Purnama Juli 2021 yang diselenggarakan oleh Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) dan Komunitas Yoga Patanjali

Esensi dari meditasi adalah menyadari keterhubungan (kepekaan mendiferensiasikan atau discernment). Menyaksikan keterhubungan kita menjadi pengalaman apapun pengalaman itu. Dalam memulai proses meditasi, terkadang kita akan menemukan hal-hal yang menyakitkan, atau hal-hal yang tidak menyenangkan, atau hal-hal yang membahagiakan atau hal-hal yang menantang.

Disinilah kita dapat ‘memutuskan’ untuk menyesuaikan diri atau misalnya memperkuat toleransi kita terhadap rasa sakit dan gangguan atau dengan kata lain: menerima kondisi secara objektif – apa adanya. Disini kita dapat mengamati perubahan yang terjadi pada keadaan mental, emosional, dan spiritual kita.

Semua adalah bagian dari hidup kita. Cara terbaik untuk tetap berada diatas pasang surutnya ‘intervensi’ pikiran, adalah dengan memperkuat kesadaran akan hubungan dengan diri kita sendiri melalui meditasi ini (awareness meditation).

Dalam meditasi kita ingin mencipatkan ruang yang luas dalam kesehari-harian.

Ruang ini, dengan sering kita berpraktek, akan menjadi ruang yang netral.

Ruang yang netral untuk energi positif mengalir dan rasa untuk terima kasih dalam setiap saat.

*Guru Yoga dan meditasi. Co-founder dan Executive Producer ESAS Empu Sendok Arts Station.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *