Pos

Komunitas Lima Gunung dan Subversi Politik Kebudayaan

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Ditengah perkembangan politik negeri terbesar keempat dari jumlah penduduk yang semakin represif, yang dibutuhkan tidak hanya politik resistensi tetapi politik subversi. Melihat persiapan dan menyaksikan Festival Lima Gunung yang baru usai diselenggarakan di Dusun Warangan, sebuah dusun di lereng Gunung Merbabu; geliat politik subversif itu kuat dirasakan. Perkembangan politik di negeri kepulauan […]

Haaland, Setelah Vigeland

Oleh:  Agus Dermawan T.*  Pada babak perempat final Piala Dunia 2026 Norwegia dikalahkan Inggris, 1-2. Namun demikian peran Haaland, penyerang Norwegia, sangat merasuk dalam hati. Atraksi Haaland di lapangan melambungkan Norwegia sebagai negeri atraksi seni. ————- Perupa Tisna Sanjaya jelas penggemar sepak bola. Tak ada satu sesi pertandingan Piala Dunia 2026 yang ia tinggalkan. Sambil […]

Film Tari, Membaca Kebudayaan

Oleh: Purnawan Andra* Di masa kini, penyebaran unsur-unsur kebudayaan berlangsung sangat cepat, salah satunya melalui film. Film bukan hanya sebagai representasi, tetapi juga pengalaman dan tindakan melihat. Film menjadi tindakan melihat (act of viewing) dunia seperti yang terlihat, juga sebuah kemampuan (faculty) yang mampu menjembatani dua cara melihat dunia, antara satu cara yang berdasar pada […]

Mati Hidup Topeng Kranggan

Oleh: Muhammad Nasai* Topeng Malang dan perkembangan, serta sejarahnya tidak bisa lepas dari satu daerah yang bernama  Kranggan. Desa Kranggan, kecamatan Ngajum Kab, Malang yang letaknya berada di lereng Gunung Kawi.  Kranggan sendiri adalah daerah kuno, yang mana telah ada sejak era kerajaan, hal ini terlihat dari adanya peninggalan situs kerajaan era Singhasari. Situs peninggalan […]

Studio Plesungan on Stage

Studio Plesungan ON STAGE “ROOT” oleh Hari Ghulur Rabu, 8 Juli 2026 19:30 – 22:00 WIB Di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah ROOT merupakan karya terbaru Hari Ghulur yang mengolah sikap mendak atau tanjak serta hubungan antara tubuh dan objek. Hubungan ini menciptakan koreografi sebagai peristiwa daya tahan dalam menghadapi ketidakstabilan dan ketidaknyamanan. Terpal […]

Harmoni dari Cileunyi: Diplomasi Musik Organik, Syiar Budaya Tradisional, dan Inovasi Rampak Seeng di Saung Budaya Yoyon

Oleh: Jasmine Nurul Asyifa* Di tengah pusaran modernitas abad ke-21, manajemen seni kontemporer sering kali terjebak dalam pandangan yang sangat mekanistik. Seni kerap direduksi menjadi komoditas industri kreatif, di mana keberhasilan sebuah ruang kebudayaan diukur secara kuantitatif melalui optimasi algoritma media sosial, jangkauan kampanye digital, serta kalkulasi keuntungan material yang serba pragmatis. Banyak ruang kreatif […]

Seni Pertunjukan dan Politik Kehadiran

Oleh: Purnawan Andra* Setiap Kamis, sekelompok orang berpakaian hitam berdiri diam di depan Istana Negara. Mereka tidak banyak berorasi, tidak keras meneriakkan slogan, suasananya bahkan nyaris seperti tidak banyak yang berbicara. Yang terutama mereka lakukan hanya berdiri sambil memegang payung hitam dan foto orang-orang terdekat mereka yang hilang hingga kini. Di tempat lain, beberapa waktu […]

Motayok: Tradisi Pengobatan Tradisional Bolaang Mongondow

Oleh: Hari Suroto* Motayok merupakan tradisi pengobatan yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Motayok berupa ritual tarian untuk mengobati orang sakit dengan bantuan roh leluhur melalui bolian. Saat melakukan ritual motayok, bolian menari diiringi musik gimbal (gendang) dan golantong (gong), bolian didampingi oleh seorang yang disebut mokokapoi untuk memanggil roh, dan […]

Dekonstruksi Madipa Deapati di Panggung Kontemporer

Oleh: Yusuf Susilo Hartono* Koreografer dan akademisi Wa Ode Siti Marwiyah Sipala (Wiwiek Sipala) , dengan pertunjukan terbaru Pilihan Madipa Deapati, menempatkan kembali epik romantik sastra lisan Dato Museng dan Maipa Deapati ke dalam medan seni tari kontemporer, dengan pembacaan ulang wacana gender. Epik dari lokus Bugis–Makassar–Sumbawa tradisional tersebut, ratusan tahun hidup dalam bentangan sastra […]

JERUJI EMAS PANGGUNG REOG

Oleh: Suroto* Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) 2026 terlah berakhir dengan eforia bagi para pemenang. Namun, gaungnya masih terasa hingga hari ini dengan munculnya kritik keikutsertaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur dan berbagai komentar pro dan kontranya. Tulisan ini tidak bermaksud memperpanjang polemik tersebut tetapi sebuah bentuk kegelisahan sebagai penonton yang hadir saat […]