Pandangan Bong Joon-ho tentang Sinema Masa Depan
Bambang Supriadi ICS ranabiru554@gmail.com
Apa yang terjadi ketika manusia dapat dikloning?
Dalam Mickey 17, Bong Joon-ho menjadikan pertanyaan itu sebagai pintu masuk untuk membayangkan perubahan teknologi sekaligus menggugat kembali pengertian tentang identitas, tubuh, dan martabat manusia.
Menariknya, cara membaca Bong terhadap sesuatu yang belum sepenuhnya terbentuk juga tampak ketika ia diminta Sight & Sound memilih 20 filmmaker yang dianggapnya akan memainkan peran penting dalam perkembangan sinema dua dekade berikutnya.

Poster film Mickey 17.Sumber;Wikipedia
Jika kloning dalam Mickey 17 menjadi cara Bong membayangkan kemungkinan perubahan manusia, maka 20 filmmaker pilihannya menjadi cara ia membaca kemungkinan perubahan sinema melalui karya-karya yang telah hadir hari ini.
Bong Joon-ho adalah salah satu sutradara penting Korea Selatan yang reputasinya telah melampaui batas sinema Asia. Sejak Memories of Murder, The Host, Mother, Snowpiercer, dan Okja, ia dikenal sebagai filmmaker yang mampu bergerak bebas di antara genre sekaligus menyelipkan persoalan sosial di dalamnya. Monster, thriller, fiksi ilmiah, komedi gelap, maupun drama keluarga baginya bukan sekadar bentuk hiburan, melainkan perangkat untuk membaca manusia di dalam struktur kekuasaan, kelas, dan ekonomi.
Reputasinya mencapai titik global melalui Parasite (2019). Film tersebut memenangkan Palme d’Or di Cannes dan kemudian menjadi film berbahasa non-Inggris pertama yang memenangkan Oscar untuk Best Picture; Bong juga meraih Oscar sebagai sutradara. Pada 2020, Sight & Sound bahkan menjadikannya guest editor dan memberinya ruang untuk memilih 20 filmmaker yang menurutnya penting untuk diperhatikan.

Poster film Parasite. Sumber:IMDb
Perjalanan Bong sendiri menunjukkan bahwa ia tidak pernah melihat genre sebagai batas. Snowpiercer menggunakan kereta api sebagai metafora struktur kelas. The Host menggabungkan monster dengan kritik sosial. Okja menggunakan kisah makhluk hasil rekayasa genetika untuk menyentuh persoalan industri makanan dan kapitalisme. Dalam Mickey 17, persoalan itu bergerak ke wilayah lain: tubuh manusia sendiri menjadi sesuatu yang dapat diproduksi, digunakan, mati, lalu digantikan. Sight & Sound juga membaca film tersebut sebagai satire politik tentang kondisi kerja yang rentan dan kehidupan modern.
Kloning dalam Mickey 17, dengan demikian, bukan sekadar gimmick fiksi ilmiah. Ketika Mickey dapat “dicetak” kembali setelah kematian, pertanyaan yang muncul bukan hanya apakah teknologi semacam itu mungkin, tetapi apa yang terjadi pada pengertian kita tentang manusia ketika tubuh dapat diperlakukan sebagai komoditas. Di sinilah Bong menjadi menarik sebagai pembaca zaman.
Membaca yang Belum Terjadi
Daftar 20 filmmaker pilihannya untuk Sight & Sound juga tidak dibuat berdasarkan popularitas semata. Nama-nama tersebut antara lain Ali Abbasi, Ari Aster, Bi Gan, Jayro Bustamante, Mati Diop, Robert Eggers, Rose Glass, Ryusuke Hamaguchi, Kirsten Johnson, Jordan Peele, Yoon Ga-eun, dan Chloé Zhao. Mereka berasal dari latar budaya dan tradisi sinema yang sangat beragam. Bahkan Sight & Sound mencatat bahwa para filmmaker tersebut umumnya baru memiliki maksimal dua film panjang ketika dipilih Bong.
Mengapa mereka?
Bong sendiri memberikan petunjuk. Ia mengatakan bahwa ia tidak ingin sekadar mengumpulkan 20 sutradara tersebut untuk berbicara mengenai masa depan. Ia justru ingin membicarakan film-film yang telah mereka buat. Tetapi, menurutnya, pembicaraan itu pada akhirnya tidak terhindarkan akan menyentuh masa depan sinema.
Ia memberi contoh Days of Being Wild karya Wong Kar-wai. Ketika menontonnya, kita mungkin sudah dapat membayangkan kemungkinan yang kelak berkembang menjadi In the Mood for Love. Demikian pula Blood Simple karya Coen bersaudara dapat dibaca sebagai jejak menuju No Country for Old Men.
Bong tidak sedang meramal. Ia sedang membaca tanda-tanda. Masa depan sinema, dalam cara pandang seperti itu, tidak muncul dari ruang kosong. Ia tumbuh dari film-film yang sedang dibuat hari ini, dari keberanian filmmaker mengubah bentuk, genre, cara bercerita, maupun cara memandang dunia.

Poster film Days of Being Wild.Sumber: IMDb
Bukan Satu Bahasa
Yang segera terlihat dari daftar Bong adalah keberagamannya.
Ari Aster menggunakan horor untuk memasuki wilayah trauma keluarga dan psikologi. Jordan Peele menjadikan horor dan thriller sebagai perangkat untuk membicarakan ras dan sejarah Amerika. Bi Gan bermain dengan ingatan, ruang, dan waktu. Ryusuke Hamaguchi menemukan kekuatan dramatik dalam percakapan dan relasi manusia. Mati Diop mempertemukan persoalan migrasi, identitas, dan dunia supernatural. Chloé Zhao membangun film melalui kedekatan dengan manusia dan lanskap sosial yang dipotretnya. Sementara Kirsten Johnson, yang sebelumnya dikenal sebagai sinematografer dokumenter, membawa persoalan etika melihat dan merekam ke dalam penyutradaraannya.
Bong tidak sedang mencari keseragaman di antara mereka. Justru perbedaan itulah yang tampaknya menarik perhatiannya. Mereka memperlihatkan bahwa sinema tidak harus bergerak menuju satu bentuk universal. Sebaliknya, sinema dunia mungkin akan semakin plural: lebih banyak suara, lebih banyak pengalaman lokal, lebih banyak bentuk, dan lebih banyak cara memandang manusia. Dalam hal ini Bong sendiri merupakan contoh yang kuat.
Parasite sangat Korea dalam latar sosial, arsitektur, keluarga, bahasa, dan pengalaman kelasnya. Namun persoalan yang diangkatnya dapat dipahami penonton di berbagai belahan dunia. Lokalitas tidak menghalangi universalitas. Justru pengalaman yang sangat spesifik dapat menemukan sesuatu yang dirasakan manusia di tempat lain.Mungkin itulah salah satu hal yang dibaca Bong dari para filmmaker pilihannya: sinema dunia tidak harus semakin seragam untuk menjadi semakin global.
Masa Depan Ada di Dalam Gambar Hari Ini
Jika dilihat dari perspektif seorang filmmaker, perubahan sinema tentu tidak hanya berlangsung pada tingkat cerita. Ia juga terjadi pada gambar. Bagaimana kamera memandang tubuh manusia. Bagaimana ruang digunakan. Bagaimana cahaya membentuk atmosfer. Bagaimana durasi sebuah shot memengaruhi persepsi. Bagaimana dokumenter dan fiksi saling menembus.
Bagaimana genre dapat dibongkar dari dalam.

Nobody Knows Anything, karya Kristen Johnson. Sumber: Plex
Bi Gan, misalnya, memperlihatkan kemungkinan sinema yang memperlakukan waktu dan ruang secara berbeda. Jordan Peele menunjukkan bahwa genre populer dapat menjadi bahasa kritik sosial. Kirsten Johnson memperlihatkan bahwa persoalan siapa yang memegang kamera dan siapa yang dilihat kamera juga mengandung persoalan etika. Karena itu daftar Bong dapat dibaca sebagai lebih dari sekadar daftar sutradara muda yang menjanjikan. Ia adalah peta kemungkinan bahasa sinema.
Dan di sinilah Mickey 17 kembali relevan. Bong membayangkan manusia yang hidup dalam kondisi ketika teknologi telah mengubah batas-batas tubuh dan identitas. Tetapi sebagai filmmaker, ia juga tampaknya sadar bahwa perubahan teknologi akan selalu berhubungan dengan perubahan cara kita melihat dunia. Jika manusia berubah, cara sinema merepresentasikan manusia pun mungkin berubah. Jika masyarakat berubah, bentuk cerita dan bahasa visualnya pun akan mencari bentuk baru.
Sebuah Peta, Bukan Ramalan
Ada satu hal yang menarik dari pilihan Bong: ia tidak menunggu sejarah memberikan pengakuan kepada para filmmaker tersebut. Ia memilih mereka ketika sebagian dari mereka masih berada di awal perjalanan.
Ini mengandung risiko. Tidak ada jaminan bahwa seluruh nama itu kelak akan menjadi auteur besar. Tetapi mungkin Bong memang tidak sedang mencari kepastian. Ia mencari potensi. Sebuah peta tidak harus menjamin ke mana seseorang akan sampai. Ia hanya menunjukkan kemungkinan jalan.
Demikian pula daftar Bong. Ia bukan daftar “20 sutradara terbaik masa depan”, melainkan pembacaan terhadap kemungkinan-kemungkinan yang sudah mulai tampak dalam karya mereka. Dan mungkin di sinilah hubungan Mickey 17dengan daftar tersebut menjadi semakin jelas. Dalam Mickey 17, Bong menggunakan fiksi ilmiah untuk bertanya: manusia seperti apa yang mungkin muncul ketika teknologi mengubah pengertian tentang tubuh dan kehidupan?
Melalui 20 filmmaker pilihannya, ia mengajukan pertanyaan lain: sinema seperti apa yang mungkin lahir ketika generasi filmmaker baru mulai mengubah cara kita melihat dunia? Dua pertanyaan itu berangkat dari kegelisahan yang sama: membaca sesuatu yang belum selesai.
Bong Joon-ho, bukan hanya seorang sutradara yang membuat film tentang masa depan. Ia juga seorang cinephile yang mencoba mengenali jejak-jejak masa depan di dalam film-film yang sedang dibuat hari ini, itulah fungsi sebuah peta.

Bong Joo-ho.Sumber:Britanica
***
*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographers Society.




