Melihat Merah Putih Compang-Camping

Oleh: Doddi Ahmad Fauji *

Perempuan itu bersimpuh dalam balutan mukena seputih kapas, putih yang bagai awan suci, duduk di atas sajadah dalam posisi tahiyat akhir. Ia bukan sedang salat loh. Dari sebuah teko kaca, ia mengucurkan cairan merah pekat bak anggur ke dalam gelas kaca bening berkaki, gelas yang biasa mendenting untuk bersulang ala borjuis Eropa.

Sekilas, laku itu tampak seperti penistaan terhadap atribut-atribut Islami. Namun sesungguhnya, ia adalah cermin yang retak, yang mengkritik dirinya sendiri dan para muslimah yang mukenanya seputih salju, tetapi lidah dan lakunya masih berlumur debu dosa, yang tampak saleh di sebatas kain, tapi laley dalam laku lampah, yang bila ditelisik dengan jeli, akan tampak di dalamnya citra pseudo (palsu), hipokrit (munafik), dan vanity (pencitraan). Itulah topeng kemunafikan bangsa kita yang mengaku bergama, sehingga kian ironis bagey serigala berbulu domba.

Setelah anggur dituang ke dalam gelas, ia meminumnya lalu menumpahkannya lagi. Ia mengguyurkan juga ke atas kepala. Merah itu pun merembes, mengalir seperti darah luka, membasahi wajah, lalu luruh melaburi putih mukena.

Jika ditatap dengan kacamata estetik, adegan itu terasa dramatis, puitis, sekaligus kritis yang kronis. Performance itu sesungguhnya sedang membongkar jiwa bangsa Indonesia yang oleh budayawan Mochtar Lubis disebut bermental hipokrit yang kental. Pertemuan merah yang mengalir dan putih yang suci itu menjelma menjadi sebuah metafora visual, yakni bendera Merah Putih yang corencang centang-perenang. Putihnya tak lagi suci, merahnya tak lagi berani. Itulah potret bangsa kita yang kini terkapar dalam pagblug dengan kesakitan yang merayap dari hulu hingga hilir.

Adegan itu adalah satu dari sekian persembahan dalam Aksi Estetik #2 yang digalang Aliansi Bandung Ngagoak bersama seniman dan masyarakat Bandung. Bertempat di Kebun Seni Kreativitas Budaya, Jl. Tamansari No. 69 Bandung, pada Minggu 13 September 2026, sejak pukul 14.30 hingga jelang magrib.

Dalam Aksi Estetik #2 itu, ada orasi tentang ketimpangan MBG oleh Guru Rahmat Suprihat dan Panembahan Herry Dim, juga deklamai puisi oleh Rinrin Candraresmi, Dini Destari, Untung Wardojo, Abah Yusef Muldiyana, dan lainnya. Suasana di Kebun Seni menjadi hidup dan berdenyut karena sajian musik dari Musik Akustik Kampungan, Manjing Manjang, Komunitas Penyanyi Jalanan Bandung (KPJ), tarian dari anak-anak KPJ, performans dari Lab Tubuh BuahBatu 212 dan Tonny Broer, Performance dari Maximus Pristonius dan geng Kuma Aing Anying, dari tiga Ibu Elly Dzarah, Rinrin Candraresmi, Desti Apa Ini, serta performance dari Komet Radenroro yang tadi saya deskripsikan. Semua sajian itu satu nada dan irama, adalah luapan aspirasi publik yang jelas dan tegas merespons kondisi sosial-kultural Indonesia, yang kian harut nan marut (seperti dua nama malaikat dalam Quran, yang mengajarkan trik sihir dan sirik). Sebuah kekacowan yang lahir dari pertarungan politik para elite Par-Tai, yang mencoreng-morengkan penegakan hukum, dan akhirnya merembet hingga membuat roda ekonomi terasa zigzag dan galijeg, baik makro maupun mikro. Bagi para seniman yang didukung jurnalis di Bandung itu, kebobrokan yang meresahkan itu harus ditegur, dengan cara yang kritis, logis, etis, dan estetis, yang diusahakan mengandung kaidah magnitude, gimix, eyescathing, dan instagramable.

Performance dari Komet Radenroro, alumni Seni Rupa UPI angkatan 1983, itu salah satu yang artikulatif namun simbolik dalam menyuarakan keresahan, yang bermula dari kemunafikan kita semua, penguasa dan pengusaha, hingga rakyat jelantah. Namun kemunafikan rakyat, tidak merusak APBN dan tatanan hukum, tidak melahirkan defisit anggaran negara, sedangkan yang dilakukan para elite penguasa dan kaum ‘jegud’ saat ini, telah nyata-nyata membuat pajak naik dan mencekik, harga-harga barang mulai ngaléléwé (perundungan), sedangkan gaji pegawey rata-rata jalan di tempat.

Tentang maksud dan proses kreatif performance dari Komet, ia menuturkan bahwa penileyanku sudah tepat sebagey salah satu tafsir, karena performance art yang di Bandung sering disebut seni Perengkel Jahé, adalah multi tafsir, namun tafsiranku mengena.

Di sisi lain, sebagéy ibu rumah tangga yang harus mengurusi saat suami sakit dan harus cuci darah, hingga akhirnya sang suami mangkat, membuat kenangan berkabung itu serasa sejalan dengan nasib bangsa yang murung.

“Kalau nanti Akang amati saya sering membawa simbol darah atau warna merah, karena saya ngurus almarhum suami 12 tahun cuci darah, tiap 2x seminggu selalu melihat darah akhir ke-save kuat dalam ruang memori saya,” kata Komet saat saya minta menuturkan proses kreatif performance art di Kebun Seni itu.  Saya jadi teringat ritual memanggil setan seperti yang dilakukan para seniman di Pekalongan September 2026 ini, yang melahirkan kontra dan pro dari masyarakat. Salah satu kritikus seni yang menggunakan nama samaran ‘Edykopi Tanpasusu MagisterAbsurd’ menyiangi alam pikir, bahwa sebenarnya aksi para seniman di Pekalongan itu, adalah sedang mengeritik hipokrisi di kalangan alim dan soleh/solehah di rungan, namun banyak salah di lingkungan.

“Saya terjun keperfomance art, karena babeh Willem Chrisriawan, dosen ISBI yang sudah pesiun, saya sempat dikirim ke Jepang oleh Beliau, setelah Intan anak perupa Eddy Hermanto, dikirim lebih dulu. Sayang event NIPAF Jepang (Perfomace art level SeAsia) itu gulung tikar karena pademi covid,” kata Komet.

Aksi Estetik akan memasuki yang ketiga, direncanakan Minggu, 11 Oktober 2026, dimulai kisaran pukul 14.30, masih bertempat di Kebun Seni Kreativitas Budaya. Wan Kawan, Lur Dulur, Baraya sekalian, mari kita berhimpun dan mendengung bersama.
***

* Doddi Ahmad Fauji, Pupuhu Aliansi Bandung Ngagoak