Merdesa dan Cara Mencintai Desa yang Terus Berubah

Oleh: Eko Yuds*

 

Peluncuran buku tentang Jolenan di Kemetul membuka percakapan tentang ingatan, kerja warga, dan hak generasi berikutnya ikut menentukan masa depan tradisi.

KABUPATEN SEMARANG — Catatan lapangan penulis yang sebagai peneliti merekam Desa Kemetul pada pagi 11 Juli 2026 melalui bentang sawah selepas panen. Matahari yang mulai muncul dari balik perbukitan menyinari petani yang datang bersama kerbau, sementara sebagian hewan memakan rerumputan dan sisa batang padi yang telah dipotong. Pematang, tanah, tenaga, dan pekerjaan sehari-hari menghadirkan lapisan kehidupan yang tidak selalu terlihat ketika sebuah perayaan mulai berlangsung. Pemandangan itu menjadi jalan masuk untuk memahami Jolenan bukan hanya sebagai arak-arakan, melainkan sebagai hasil dari kehidupan yang lebih dahulu bekerja.

Puncak Jolenan pada 18 Juli 2026 memperlihatkan hasil bumi yang disusun, jolen yang dihias, kesenian yang dipentaskan, dan warga yang memenuhi ruang perayaan. Kehidupan sebelum hari puncak memperlihatkan pekerjaan lain berupa perawatan saluran air, pengumpulan bahan, pembuatan rangka, latihan kesenian, pengolahan makanan, dan penyediaan ruang bersama. Tangan-tangan warga menjalankan pekerjaan tersebut dalam waktu yang lebih panjang daripada kemeriahan yang akhirnya tampak di jalan. Pembacaan penulis menempatkan pekerjaan yang sering luput dari perhatian itu sebagai bagian penting dari kehidupan Jolenan.

Pengalaman lapangan tersebut kemudian dibawa ke Merdesa—Kenduri Pengetahuan yang berlangsung di Balai Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu, 29 Agustus 2026. Buku Tradisi Jolenan: Jendela Masa Lalu—Nanti dalam Kini karya penulis diluncurkan melalui pertemuan antara hasil penelitian, seni, literasi, dokumentasi, dan percakapan warga. Satu eksemplar buku diserahkan kepada Istiyani, pengurus Perpustakaan Sekar Kawruh, sebagai koleksi dan bahan pembelajaran masyarakat. Penyerahan tersebut menghadirkan pertanyaan yang lebih besar tentang cara pengetahuan yang telah berpindah ke dalam buku dapat tetap dekat dengan kehidupan orang-orang yang melahirkannya.

Jolenan sebagai tradisi merti desa atau sedekah bumi di Kemetul antara lain ditandai oleh arak-arakan jolen berisi hasil bumi dan pertunjukan kesenian. Kehidupan di balik perayaan tersebut memperlihatkan hubungan dengan tanah, pangan, air, doa, kerja, hubungan bertetangga, dan kemampuan warga mengorganisasi kehidupan bersama. Bentuk perayaan yang terlihat di ruang publik hanya menjadi salah satu bagian dari jaringan hubungan yang membuat tradisi dapat berlangsung. Jolenan melalui sudut pandang tersebut menjadi pintu untuk membaca siapa yang bekerja, siapa yang belajar, siapa yang mengambil keputusan, dan bagaimana perubahan dinegosiasikan oleh orang-orang yang menjalaninya.

Kepulangan penulis ke Kemetul juga membawa pertanyaan pribadi tentang hubungan seseorang dengan tempat asalnya. Kegelisahan yang tumbuh sekitar 2020 menghadirkan pertanyaan tentang apa yang dapat diberikan kembali kepada desa tempat ia lahir. Pertemuan dengan warga perlahan mengubah pertanyaan tentang memberi menjadi kebutuhan untuk mendengar terlebih dahulu. Desa yang tersimpan dalam ingatan seseorang tidak selalu sama dengan desa yang sedang dijalani oleh orang-orang yang tetap tinggal dan bekerja di dalamnya.

Pemikiran Svetlana Boym tentang nostalgia memberi salah satu kerangka untuk membaca kepulangan semacam itu. Boym membedakan nostalgia restoratif yang ingin membangun kembali gambaran rumah yang dianggap utuh dengan nostalgia reflektif yang mengakui jarak, perubahan, dan ketidaklengkapan ingatan. Kerinduan terhadap tempat asal melalui pembacaan tersebut tidak harus berakhir pada keinginan mengembalikan masa lalu. Cinta kepada desa justru dapat tumbuh melalui kesediaan menerima bahwa desa memiliki kehidupannya sendiri di luar ingatan orang yang pernah meninggalkannya.

Ingatan masa kecil dapat membawa seseorang kembali kepada tempat asal, tetapi pengalaman warga yang tinggal dan bekerja di sana harus memiliki kekuatan untuk mengubah gambaran tentang desa itu sendiri. Kedekatan emosional dapat menjadi pintu masuk, tetapi kedekatan tersebut tidak otomatis memberikan kewenangan untuk menentukan bagaimana desa seharusnya dipahami. Kehidupan warga menghadirkan perubahan yang lahir dari kebutuhan keluarga, pekerjaan, teknologi, pendidikan, organisasi, dan hubungan sosial yang terus bergerak. Kerendahan hati menjadi penting ketika seseorang ingin mencintai desa tanpa membekukan desa di dalam gambaran masa lalu.

Penelitian di Sendang Kenanga pada 10 Juli 2026 memperlihatkan hubungan antara tradisi dan pekerjaan yang bersifat sangat konkret. Warga yang telah menyelesaikan sebagian besar pembersihan kawasan mengikuti doa dan makan bersama, sementara pekerjaan lain masih terlihat pada semak, dedaunan, sampah, dan bagian saluran air. Pak Trimo menyebut perawatan mata air tersebut sebagai usaha diuri-uri, sebuah tindakan merawat agar sesuatu tetap hidup. Istilah tersebut menempatkan keberlanjutan bukan sebagai keadaan yang terjadi dengan sendirinya, melainkan sebagai hasil dari pekerjaan yang harus terus dilakukan.

Air membutuhkan saluran yang terpelihara, hasil bumi membutuhkan tanah dan tenaga, sedangkan perayaan membutuhkan orang-orang yang bersedia mengerjakan banyak pekerjaan sebelum hari puncak tiba. Penelitian juga tidak memastikan bahwa seluruh bahan yang menghiasi jolen berasal dari sawah atau kebun Kemetul. Batas pengetahuan tersebut penting karena gambaran tentang tradisi mudah berubah menjadi cerita yang lebih indah daripada kenyataan apabila setiap unsur langsung diasumsikan berasal dari ruang lokal. Pertanyaan mengenai asal bahan, perubahan pertanian, dan cara pengadaan kemudian membuka lapisan lain dari hubungan antara perayaan dan kehidupan ekonomi warga.

Ruang rumah dan dapur memperlihatkan ukuran kontribusi yang jauh lebih luas daripada uang dan penampilan di jalan. Warga menyediakan tempat, meminjamkan peralatan, mengolah makanan, menerima tamu, membersihkan ruang, mengatur konsumsi, dan memberikan waktu untuk kebutuhan bersama. Sebagian kontribusi hadir sebagai tenaga, ruang domestik, penggunaan barang pribadi, dan pekerjaan perawatan yang tidak selalu tercatat sebagai pengeluaran. Pembacaan tentang gotong royong menjadi lebih cermat ketika perhatian tidak berhenti pada kebersamaan, tetapi juga melihat siapa yang bekerja, seberapa besar beban yang ditanggung, dan apakah seseorang memiliki ruang untuk menyatakan keterbatasannya.

Pengalaman Ibu Maryati memperlihatkan hubungan antara kerja dan kesempatan memengaruhi keputusan. Keterlibatan perempuan dalam lingkungan RT yang ia ceritakan mencakup penyusunan konsep jolen, penentuan tema dan yel-yel, latihan, serta pengaturan konsumsi. Ibu-ibu dalam latihan lagu di RT 12 juga mengusulkan perubahan aransemen agar lagu terdengar lebih dinamis, dan usulan tersebut kemudian diterima. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa partisipasi memperoleh arti ketika kehadiran seseorang mempunyai akibat terhadap keputusan yang diambil bersama.

Pengalaman satu lingkungan tentu tidak dapat dianggap mewakili seluruh Desa Kemetul, tetapi batas tersebut justru membuat kesimpulan menjadi lebih hati-hati. Gotong royong tidak cukup dinilai dari jumlah orang yang hadir atau banyaknya pekerjaan yang berhasil diselesaikan. Penghargaan terhadap kerja juga perlu memperhatikan pembagian tanggung jawab, kesempatan menyatakan keberatan, pengakuan terhadap tenaga yang dikeluarkan, dan ruang untuk ikut menentukan. Cinta kepada tradisi kehilangan kepekaannya apabila kelelahan orang yang merawatnya selalu dianggap sebagai kewajiban yang wajar.

Pertanyaan tentang kerja kemudian membawa pembacaan kepada persoalan pewarisan pengetahuan. Pembuatan jolen membutuhkan kemampuan membaca berat, keseimbangan, kekuatan bahan, dan cara mengikat struktur agar tetap aman ketika dibawa. Keterampilan menari, memasak, memainkan musik, membaca kondisi tanah, membuat rangka, dan mengatur perayaan juga tumbuh melalui latihan, kesalahan, koreksi, pengulangan, dan waktu. Pengetahuan semacam itu berpindah melalui hubungan antara orang yang belajar, orang yang bersedia mendampingi, dan ruang yang memungkinkan keterampilan terus dicoba.

Buku ekoYuds yang sebagai peneliti merumuskan proses pewarisan tersebut dalam lima lapis: mengenal, memahami, mampu melakukan, mampu mengajarkan kembali, dan memperoleh ruang untuk ikut menentukan. Lima lapis tersebut menggeser ukuran regenerasi dari sekadar kehadiran menuju kemampuan, kepercayaan, dan kewenangan. Seorang anak muda dapat hadir tanpa memahami pekerjaan, dapat membantu tanpa menguasai keterampilan, dan dapat bekerja tanpa mempunyai ruang untuk memengaruhi keputusan. Pewarisan menjadi lebih utuh ketika orang yang belajar pada akhirnya memperoleh kemampuan sekaligus kepercayaan untuk ikut menentukan arah.

Istilah diwongke memberi bahasa yang dekat untuk menggambarkan kebutuhan agar seseorang didengar dan dihargai sebagai manusia. Generasi yang lebih muda membutuhkan ruang untuk mengatakan sanggup atau tidak sanggup, mengusulkan perubahan, mempertanyakan cara lama, dan memilih tanggung jawab yang dapat dijalankan. Generasi yang lebih tua dalam proses pewarisan tidak hanya menghadapi tugas mengajarkan pengetahuan, tetapi juga tantangan untuk berbagi kewenangan. Tradisi tidak benar-benar diwariskan apabila generasi berikutnya hanya menerima pekerjaan tanpa memperoleh hak untuk ikut menentukan.

Perangkat digital menjadi salah satu bagian dari perubahan yang sedang dihadapi oleh kehidupan kebudayaan di Kemetul. Rifki Muhammad Azis, guru sekaligus Ketua Sanggar Nyai Ketul, melihat teknologi sebagai alat untuk belajar, menciptakan karya, merekam kegiatan, dan memperkenalkan kesenian kepada khalayak yang lebih luas. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa teknologi dan tradisi tidak selalu berdiri sebagai dua kutub yang saling meniadakan. Pertanyaan yang lebih penting terletak pada cara teknologi digunakan, siapa yang menggunakannya, dan akibat yang muncul terhadap praktik budaya sehari-hari.

Gagasan Trikon Ki Hadjar Dewantara dapat membantu membaca hubungan antara kontinuitas dan perubahan tanpa menempatkan keduanya sebagai lawan. Kontinuitas menempatkan perkembangan kebudayaan sebagai kelanjutan pengalaman sendiri, konvergensi membuka ruang perjumpaan dengan unsur lain, sedangkan konsentrisitas menjaga kemampuan untuk mengenali pijakan sendiri di tengah hubungan yang lebih luas. Kerangka tersebut memperoleh makna ketika kembali kepada pengalaman konkret warga yang menghadapi perubahan bentuk, bahan, teknologi, dan cara berorganisasi. Kehidupan kebudayaan pada akhirnya tidak bergerak melalui teori saja, tetapi melalui pilihan yang dibuat oleh orang-orang yang mengerjakan dan menanggung konsekuensinya.

Perubahan bentuk jolen memberikan contoh tentang kebutuhan untuk menilai akibat dari kreativitas. Bentuk yang semakin rumit dapat menumbuhkan kebanggaan dan membuka kemungkinan estetis baru, tetapi bentuk tersebut juga dapat meningkatkan biaya, berat, waktu pengerjaan, kebutuhan bahan, persoalan konstruksi, dan risiko bagi pemikul. Daya tarik visual tidak cukup menjadi ukuran apabila beban pekerjaan dan keselamatan orang-orang yang terlibat tidak diperhitungkan. Keputusan tentang sesuatu yang layak diteruskan karena itu perlu melibatkan orang-orang yang akan membuat, membawa, merawat, dan menanggung akibat perubahan tersebut.

Merdesa membawa persoalan-persoalan tersebut kembali ke ruang desa melalui buku, foto, infografis, film dokumenter, seni, kegiatan anak, dan Jagongan Kawruh. Pertemuan tersebut menghadirkan peneliti, tokoh agama, seniman, budayawan, sastrawan, dan warga sebagai bagian dari percakapan mengenai hasil penelitian. Kehadiran banyak orang tidak dengan sendirinya membuat sebuah forum menjadi partisipatif apabila pengalaman warga hanya ditempatkan sebagai objek pembicaraan. Nilai pertemuan justru terletak pada kesempatan warga untuk menanggapi, mengoreksi, mempertanyakan, dan menilai kembali pengetahuan yang disampaikan kepada mereka.

Peneliti membawa catatan, dokumentasi, dan hasil pembacaan, sementara narasumber membawa pengalaman serta kerangka pengetahuan dari bidang masing-masing. Warga membawa pengetahuan tentang waktu kerja, kebutuhan keluarga, keterbatasan tenaga, hubungan antartetangga, dan kebiasaan yang mereka jalani setiap hari. Pertemuan antara berbagai jenis pengetahuan tersebut menjadi berarti ketika tidak ada satu pihak yang menganggap dirinya memiliki kata terakhir. Kesediaan untuk saling mendengar menjadi syarat agar pengetahuan bergerak dua arah dan tidak berhenti sebagai sesuatu yang dibicarakan tentang warga.

Buku Tradisi Jolenan: Jendela Masa Lalu—Nanti dalam Kini juga menunjukkan upaya menjaga batas kewenangan pengetahuan. Penelitian tidak menetapkan satu tahun tertentu sebagai awal Jolenan dan tidak memaksakan satu nama sebagai tokoh pendirinya ketika bukti yang tersedia belum mencukupi. Cerita yang diwariskan, pengalaman langsung, dan keterangan yang belum terverifikasi ditempatkan menurut tingkat kepastiannya masing-masing. Perbedaan ingatan dipertahankan agar pembaca dapat mengetahui bagian yang telah ditemukan, bagian yang masih diperdebatkan, dan bagian yang membutuhkan penelusuran lebih lanjut.

Sikap terhadap keterbatasan bukti menjadi penting karena penelitian tentang tradisi tidak memberikan hak kepada peneliti untuk mengucapkan kata terakhir tentang kehidupan orang lain. Pengetahuan yang lahir dari penelitian seharusnya membuka ruang pemahaman, bukan menutup kemungkinan bagi versi dan pengalaman lain. Keterbatasan yang dinyatakan secara terbuka justru memberikan dasar yang lebih kuat bagi kepercayaan pembaca terhadap hasil penelitian. Integritas pengetahuan tumbuh ketika peneliti dapat membedakan sesuatu yang diketahui, sesuatu yang diduga, sesuatu yang diceritakan, dan sesuatu yang belum dapat dipastikan.

Persoalan serupa muncul ketika kehidupan desa berpindah ke dalam foto, video, dan layar digital. Kamera memilih sudut, jarak, waktu, dan momen, sedangkan penyunting memilih gambar, urutan, suara, dan konteks yang akhirnya diterima penonton. Dokumentasi karena itu tidak pernah hanya menjadi tindakan merekam, sebab setiap pilihan visual juga membentuk cara orang lain memahami kehidupan yang direkam. Tanggung jawab dokumentasi mencakup penjagaan konteks, persetujuan penggunaan gambar, kesempatan melakukan koreksi, dan pertimbangan terhadap akibat representasi bagi orang-orang yang muncul di dalamnya.

Sebuah gambar dapat terlihat indah, dramatik, atau menarik bagi penonton, tetapi kualitas visual tidak otomatis membuat representasi tersebut adil. Kehidupan warga tidak seharusnya direduksi menjadi latar eksotis yang hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan estetika penonton. Ruang koreksi warga menjadi penting ketika dokumentasi mulai beredar dan memperoleh makna di luar konteks awal pengambilannya. Hak untuk direpresentasikan secara wajar pada akhirnya berhubungan kembali dengan pertanyaan yang sama tentang siapa yang mempunyai kewenangan menentukan cara sebuah kehidupan diceritakan.

Merdesa menjadi bagian dari diseminasi hasil kajian yang mendapat dukungan Dana Indonesia Raya melalui pengelolaan Dana Abadi Kebudayaan bersama Kementerian Kebudayaan dan LPDP. Dukungan publik tersebut memberi ruang bagi penelitian untuk diterbitkan, didokumentasikan, dan dipertemukan kembali dengan masyarakat. Nilai sebuah dukungan tidak berhenti pada terlaksananya acara atau tercetaknya buku apabila hasilnya tidak mudah diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Manfaat jangka panjang baru dapat dinilai melalui penggunaan, kesempatan melakukan koreksi, akses terhadap dokumentasi, dan kemungkinan warga memakai hasil penelitian untuk kebutuhan yang mereka tentukan sendiri.

Penyerahan buku kepada Perpustakaan Sekar Kawruh menjadi salah satu langkah yang dapat dilihat dari proses pengembalian hasil penelitian. Kehadiran buku di perpustakaan membuka kemungkinan bagi warga untuk membaca, menilai, membandingkan, dan menggunakan kembali pengetahuan yang telah dihimpun. Keberadaan buku tetap tidak dapat dianggap sebagai akhir dari proses karena kehidupan yang ditulis akan terus bergerak setelah halaman terakhir selesai dicetak. Hubungan antara penelitian dan masyarakat membutuhkan ruang yang memungkinkan hasil kajian kembali masuk ke dalam percakapan kehidupan sehari-hari.

Kerangka Merdesa juga memuat Rembug Desa yang diarahkan untuk membicarakan prioritas, penanggung jawab awal, dan kemungkinan pertemuan lanjutan. Rencana keberlanjutan tersebut berhadapan dengan kenyataan bahwa setiap pelaksana memiliki pekerjaan, keluarga, tenaga, dan waktu yang terbatas. Keinginan untuk meneruskan program tidak seharusnya menghasilkan beban baru bagi orang-orang yang sejak awal telah banyak bekerja untuk menjaga kehidupan bersama. Keberlanjutan memperoleh arti ketika rencana dapat disesuaikan dengan kemampuan nyata manusia yang akan menjalankannya.

Nama Kenduri Pengetahuan membawa gagasan tentang sesuatu yang dibagikan kepada banyak orang. Pengalaman warga yang dihimpun melalui sawah selepas panen, mata air yang dirawat, ruang latihan, dapur, percakapan, kesalahan, ingatan, dan kerja kemudian hadir kembali melalui buku, gambar, film, dan forum. Pengetahuan tersebut belum sepenuhnya kembali hanya karena telah dipresentasikan kepada masyarakat. Pengembalian memperoleh arti yang lebih dalam ketika warga dapat memakai, mengoreksi, mengembangkan, atau bahkan menolak sebagian pembacaan sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri.

Buku yang kini berada di Perpustakaan Sekar Kawruh membawa sebagian jejak kehidupan Kemetul, tetapi buku tersebut tidak pernah dapat menyimpan seluruh pengalaman desa. Sebuah penelitian selalu bekerja melalui pilihan terhadap peristiwa, percakapan, waktu, dan sudut pandang tertentu. Kesadaran terhadap keterbatasan itu justru menjaga buku agar tidak berubah menjadi klaim bahwa seluruh Kemetul telah selesai dijelaskan. Buku tersebut lebih tepat dibaca sebagai sebuah jendela yang membuka kemungkinan untuk melihat, bertanya, dan melakukan penelusuran lebih lanjut.

Masa depan Jolenan tidak hanya bergantung pada seberapa meriah arak-arakan dapat dipertahankan dari satu periode ke periode berikutnya. Keberlanjutan Jolenan juga bergantung pada apakah pengetahuan masih berpindah, keterampilan masih dipelajari, pekerjaan masih dapat ditanggung secara manusiawi, dan keputusan masih dapat dinegosiasikan. Tangan yang telah lama bekerja membutuhkan ruang untuk berbagi pengalaman, sementara tangan baru membutuhkan kesempatan untuk belajar sekaligus mengembangkan cara mereka sendiri. Kehidupan tradisi tumbuh ketika pewarisan tidak berhenti pada penyalinan bentuk, tetapi membuka kemungkinan bagi manusia untuk memahami, melakukan, mengajarkan, dan menentukan.

Cinta kepada desa yang terus berubah tidak menuntut desa tetap sama dengan gambaran yang tersimpan di dalam ingatan. Cinta tersebut menuntut kesediaan untuk melihat perubahan, mendengar pengalaman orang lain, mengakui beban kerja, dan berbagi ruang keputusan dengan generasi yang akan datang. Generasi berikutnya mungkin akan membawa teknologi, bentuk, bahasa, dan cara kerja yang berbeda ketika mereka meneruskan sesuatu yang dianggap berharga. Ingatan mendapat masa depan ketika orang-orang yang mewarisinya juga memperoleh ruang untuk hidup.

 

*Eko Yuds (Titah Manah Wening), Teaterawan