Puisi Abdul Wachid B.S.
NING
Malam turun ke sebuah tanah di antara sawah dan bukit. Bukan hujan, bukan angin. Malam. Ia turun dari punggung gunung, menyusuri rumpun bambu, melewati pematang, menyentuh rumah-rumah yang lampunya satu demi satu memadamkan diri. Dari sebuah pesantren suara ngaji naik ke langit. Satu lampu. Dua. Tiga. Lalu seluruh pesantren menjadi perahu yang berlayar tanpa meninggalkan tanah.
Di lantai paling atas seorang gadis membuka mushaf.
Mushaf terbuka.
Malam terbuka.
Ayat-ayat perlahan menjadi jalan.
Namanya Amanda.
Tetapi malam tidak memanggilnya Amanda.
Malam memanggil:
“Ning.”
*
Di bawah sana sawah menyimpan air, pematang menyimpan jejak kaki, pohon pisang menggigil disentuh angin. Jauh di ladang seorang bapak pulang membawa tanah di telapak kakinya. Tomat merah di tangannya. Satu jatuh, berguling melewati batu, berhenti di ambang pintu.
Tidak ada yang mengambilnya.
Tomat itu menunggu.
Seperti anak yang belum pulang.
Di rumah itu seorang ibu pernah ingin mondok, tetapi uang menutup jalan. Keinginan yang gagal tidak mati. Ia berjalan diam-diam, mencari tubuh lain, lalu menemukan seorang anak perempuan sesudah SMP.
Sebuah tas.
Beberapa pakaian.
Mushaf.
Lalu jalan desa yang panjang di antara sawah.
Amanda pergi.
Seorang ibu seolah mempunyai dua tubuh: satu tinggal di rumah, satu berjalan ke pesantren. Sejak hari itu jarak bukan lagi soal kilometer.
Jarak menjadi rindu.
*
Pagi di pesantren tidak bertanya siapa yang siap.
Ayam berkokok dari belakang dapur. Kentongan mungkin masih terdengar dari kampung sebelah. Azan naik dari menara. Air sumur menyentuh muka: dingin, menggigil, lalu shalat.
Sesudahnya kitab.
Safinatun Najah.
Lubabul Hadis.
Ta‘lim Muta‘allim.
Tajwid.
Minahus Saniyyah.
Kitab-kitab duduk di atas rehal. Tetapi pelajaran tidak tinggal di halaman. Ia turun ke lantai, ke dapur, ke halaman, ke cara duduk, ke cara berbicara kepada orang tua, ke cara menundukkan mata, ke cara menerima amanah, ke cara menahan diri.
Dan dari semua itu ada satu kata yang paling sering diminta hidup di dalam tubuh:
“Inggih.”
*
Di luar pagar, zaman sedang berlari.
Motor-motor membelah jalan. Layar-layar berkedip di kamar. Nama-nama berloncatan. Foto. Status. Undangan. Pekerjaan. Pertunangan. Pernikahan. Uang.
Nama.
Nama.
Nama.
Seseorang bertanya,
“Lha kamu?”
Amanda menjawab,
“Masih mondok.”
Mereka tertawa.
Bukan tawa besar. Hanya tawa kecil yang cukup untuk membuat seorang anak perempuan menoleh kepada dirinya sendiri.
“Masih?”
Kata itu jatuh ke lantai.
Pecah.
Lalu seseorang bertanya lagi,
“Ning?”
“Masih zaman?”
Di tangan Amanda ada mushaf.
Dan di luar pagar zaman berlari lagi.
*
Malam pertama: Mama.
Malam kedua: Bapa.
Malam ketiga: ladang.
Malam kesepuluh: tomat.
Malam keseratus: tanah.
Malam keseribu: rumah.
Setiap tadarus membuka sebuah pintu.
Satu ayat: Mama.
Satu ayat: Bapa.
Satu ayat: pematang.
Satu ayat: air mata.
Mushaf menjadi basah oleh kampung halaman.
Tiga tahun lebih Amanda tidak pulang. Sawah berganti warna. Padi tumbuh, menguning, dipotong, lalu tanah kembali kosong. Musim bergeser. Teman-temannya berjalan lebih jauh. Ada yang bekerja. Ada yang menikah. Ada yang menggendong anak.
Amanda berdiri di depan cermin.
Wajahnya sendiri terlihat asing.
“Apakah aku terlambat?”
Cermin diam.
“Apakah aku salah jalan?”
Cermin tetap diam.
Di luar jendela sebuah motor melintas.
Cepat.
Hilang.
Amanda membuka mushaf.
Ayat pertama.
Lagi.
Ayat kedua.
Lagi.
Di luar: cepat.
Di dalam: ulang.
*
Suatu siang makanan datang.
Nasi mengepul. Sambal merah. Gorengan. Es dalam gelas yang seluruh tubuhnya berkeringat.
“Tidak makan?”
Amanda tersenyum.
“Puasa.”
“Lagi?”
Ia mengangguk.
Puasa Dlalail mengisi siangnya dengan kekosongan, kecuali hari tasyrik.
Perutnya lapar.
Aroma makanan masuk ke tubuh.
Tubuh berkata: makan.
Zaman berkata: nikmati.
Teman berkata: hidup cuma sekali.
Amanda memandang gelas es.
Embun turun dari dinding gelas.
Setetes.
Dua.
Tiga.
Setetes itu jatuh.
Di meja ia menjadi lingkaran kecil.
Lingkaran itu membesar.
Menyentuh tangan Amanda.
Naik ke pergelangan.
Naik ke lengan.
Seolah-olah seluruh air di dunia sedang mencari jalan masuk ke tubuhnya.
Amanda mengambil mushaf.
Membukanya.
Satu halaman.
Dua halaman.
Dan sebuah pertanyaan bangkit dari sela-sela huruf:
Amanda.
Aman dari apa?
Aman dari lapar?
Bukan.
Perut tetap berbunyi.
Aman dari haus?
Bukan.
Bibir tetap kering.
Aman dari sedih?
Bukan.
Malam tetap membawa wajah Mama.
Aman dari sakit?
Bukan.
Tubuh tetap dapat roboh.
Aman dari dunia?
Bukan.
Dunia tetap ada di luar pagar.
Motor tetap lewat.
Layar tetap menyala.
Nama tetap mengejar nama.
Lalu,
aman dari apa?
Amanda menutup mata.
Di dalam gelap perutnya seperti sebuah sumur.
Semakin kosong,
semakin dalam.
Ia mendengar sesuatu dari dasar sumur.
Bukan suara manusia.
Bukan suara angin.
Hanya satu kata yang mula-mula kecil,
lalu naik,
naik,
naik,
sampai memenuhi seluruh tubuh:
“Inggih.”
*
Malam itu angin turun dari bukit. Rumpun bambu bergesekan.
Kres.
Kres.
Kres.
Suara itu masuk ke kamar.
Kres.
Kres.
Kres.
Seperti lembaran kitab dibalik oleh tangan yang tidak kelihatan.
Amanda membuka mushaf.
Huruf-huruf tampak bergerak.
Bukan berpindah.
Bernapas.
Satu huruf mengembun.
Satu huruf bergetar.
Satu huruf seperti hendak terbang dari halaman.
Amanda menundukkan kepala.
“Aman dari apa?”
Tidak ada jawaban.
Hanya halaman yang terus terbuka.
Hanya napas yang terus masuk.
Hanya lapar yang tetap lapar.
Dan di dalam lapar itu, sesuatu tumbuh.
Bukan kenyang.
Bukan pula kekuatan.
Kesanggupan.
*
Kemudian suara Abah Yai datang dari suatu pagi yang jauh:
“Menawi dipun dawuhi guru, jawabane harus Inggih.”
Kata itu turun dari telinga.
Masuk ke dada.
Menjadi tulang.
Menjadi kaki.
“Inggih.”
Suatu hari Ibu Nyai berkata,
“Buatkan buket.”
Bunga diletakkan di depan Amanda. Merah. Putih. Hijau. Tangkai-tangkai diam. Pita tergeletak di meja.
Amanda berpikir:
Emang saya bisa?
Bunga tidak menjawab.
Pita tidak menjawab.
Tangan bergerak.
Satu. Dua. Tiga.
Bunga pertama lahir dengan gugup. Lalu kedua. Ketiga.
Buket. Hantaran. Dekorasi.
Tangan itu belajar lebih dahulu daripada keyakinan.
*
Tetapi pernah ada masa ketika Amanda membuat gurunya diam.
Sehari. Tujuh hari. Sebulan. Dua bulan.
Suara Ibu Nyai tertutup.
Dalam pengajian air mata jatuh di antara kitab dan lantai.
“Ibu…”
“Ibu butuhnya bukti, Nduk, bukan air mata.”
Malam itu Amanda menangis.
Air mata jatuh.
Jatuh.
Jatuh.
Tetapi tidak lagi menjadi air.
Ia menjadi tanah.
Tanah menjadi pematang.
Pematang menjadi ladang.
Ladang menjadi jalan.
Jalan menjadi rumah.
Dan jauh di sana, di rumah yang tidak terlihat dari jendela pesantren, sebuah tomat merah masih menunggu.
*
Amanda ingin pulang.
Pulang!
Kata itu menabrak jendela.
Pulang!
Mama. Bapa. Sawah. Tanah. Tomat. Rumah.
Pulang!
Tetapi suara Abah Yai datang dari belakang pintu:
“Semuanya harus tuntas.
Harus dijalani sampai di titik kamu berhasil.”
Amanda berdiri di ambang.
Di belakang: rumah.
Di depan: jalan.
Di tengah:
“Inggih.”
Dan ketika ia mengucapkannya, jalan di depannya terasa lebih panjang daripada jalan mana pun yang pernah ditempuhnya.
*
Kemudian tubuhnya jatuh.
Kaki kiri membengkak. Panas. Berat.
Tiga hari ia tidak mampu berdiri.
Ke kamar mandi ia ngesot.
Lantai dingin.
Dinding dingin.
Mushaf di dekat kepala.
Di luar,
zaman tetap berlari.
Di dalam kamar,
waktu berjalan dengan lutut.
Siang merangkak ke sore.
Sore merangkak ke malam.
Malam merangkak ke pagi.
Tubuh Amanda tidak bergerak.
Tetapi dari dekat bantal,
mushaf seperti terus berjalan.
Halaman demi halaman.
Huruf demi huruf.
Seolah-olah yang sakit hanya kaki.
Selebihnya,
semuanya sedang menuju suatu tempat.
Ibu Nyai datang.
Melihat.
Lalu suaranya mengguncang kamar:
“Kenapa tidak ada yang menolong?”
Pintu bergetar.
Tangan datang.
Air.
Obat.
Kain.
Doa.
Esoknya Mama datang hendak membawanya pulang.
Abah Yai berkata,
“Rawat di sini.”
Mama memandang Amanda.
Amanda memandang Mama.
Malam datang.
Mama tidur di samping anaknya.
Dan malam itu rumah tidak membawa Amanda pulang.
Rumah sendiri datang ke pesantren.
Sawah datang.
Tanah datang.
Aroma dapur datang.
Suara ibu datang.
Dinding kamar menjadi dinding rumah.
Langit pesantren menjadi langit halaman.
Batas-batas bergeser dalam gelap.
Mama tidur.
Amanda terjaga.
Di luar jendela bulan menggantung.
Di dalam kamar, sebuah padi tumbuh dari lantai.
Satu batang.
Dua batang.
Tiga.
Hijau.
Lalu seluruh lantai menjadi sawah.
Mama tidur di tengahnya.
Mushaf terletak di atas pematang.
Amanda merangkak ke sana.
Tidak ada air.
Tetapi sawah itu berkilau.
Tidak ada angin.
Tetapi padi bergerak.
Tidak ada suara.
Tetapi dari antara batang-batang padi terdengar:
“Inggih.”
Amanda terbangun.
Lantai kembali menjadi lantai.
Mama masih tidur.
Mushaf masih di dekat kepala.
Namun sejak malam itu ia tidak lagi tahu:
apakah rumah datang ke pesantren,
atau pesantren telah lama datang ke rumah.
*
Hafalan datang lagi.
Ayat tersangkut.
Keluar.
Hilang.
Kembali.
Gagal.
Ulang.
Gagal.
Ulang.
Mushaf ikut ke kamar, ke tangga, ke halaman, ke tempat wudu, ke bawah bantal, ke samping tidur, ke dalam mimpi.
Pada suatu malam huruf-huruf keluar dari mushaf.
Tidak berlari.
Tidak berjalan.
Mereka berdiri di lantai.
Satu huruf menjadi Mama.
Satu menjadi Bapa.
Satu menjadi Ibu Nyai.
Satu menjadi Abah Yai.
Satu menjadi sawah.
Satu menjadi jalan.
Satu menjadi rumah.
Dan satu huruf berdiri di pintu.
Tidak punya wajah.
Tidak punya nama.
Hanya suara:
“Inggih.”
Amanda mendekat.
Huruf itu mundur.
Amanda melangkah.
Ia mundur lagi.
Sampai akhirnya huruf itu keluar dari pintu dan berdiri di halaman.
Amanda mengikutinya.
Halaman menjadi pematang.
Pematang menjadi sawah.
Sawah menjadi langit.
Langit menjadi halaman mushaf.
Dan seluruh huruf yang pernah ia hafalkan beterbangan seperti burung-burung putih.
Tidak ada yang tersesat.
Semuanya kembali.
Satu per satu.
Ke tempat semula.
*
Di luar sana zaman bertambah cepat.
Motor.
Layar.
Nama.
Suara.
Panggilan.
Kejar.
Kejar.
Kejar.
Di dalam sana Amanda duduk.
Mushaf terbuka.
Napas masuk.
Napas keluar.
Untuk pertama kali ia tidak mengejar satu ayat.
Ia membiarkan ayat datang.
Huruf datang.
Sunyi datang.
Air mata datang.
Dan sesuatu yang selama ini berlari di dalam dirinya perlahan berhenti.
Bukan dunia yang berhenti.
Bukan zaman.
Bukan jalan.
Hanya satu kegelisahan yang akhirnya kehabisan kaki.
*
Lalu malam paling panjang datang.
Tidak ada bulan.
Tidak ada bintang.
Lampu pesantren padam satu per satu.
Satu.
Dua.
Tiga.
Amanda duduk sendirian dengan mushaf di pangkuan.
Ia membuka halaman.
Hafalan keluar.
Tersangkut.
Ia ulang.
Keluar.
Hilang.
Ia ulang.
Sampai suara sendiri tidak lagi terdengar sebagai suara.
Ia menjadi napas.
Napas menjadi ketukan.
Ketukan menjadi langkah.
Langkah menjadi pintu.
Dan di balik pintu,
Mama.
Bapa.
Ibu Nyai.
Abah Yai.
Sawah.
Gunung.
Rumah.
Semuanya berdiri dalam satu malam.
Tidak ada yang berkata apa-apa.
Hanya Bapa memegang tomat merah.
Mama membawa kain.
Ibu Nyai membawa suara.
Abah Yai membawa satu kata.
Amanda mendengar:
tuntas.
Ia membuka mulut.
Tidak ada suara.
Ia mencoba lagi.
“Inggih.”
Saat itu langit berubah.
Bukan menjadi terang.
Menjadi dekat.
*
Mushaf di tangannya terasa berat.
Berat seperti tanah.
Ia menaruhnya di lantai.
Tanah membuka diri.
Dari bawahnya tumbuh batang padi.
Dari batang padi keluar bunga.
Dari bunga keluar huruf.
Dari huruf keluar suara.
Dari suara keluar nama-nama orang yang dicintainya.
Mama.
Bapa.
Ibu Nyai.
Abah Yai.
Lalu semua nama itu larut menjadi satu suara panjang yang tidak lagi dapat dipisahkan dari suara napasnya.
“Inggih.”
Dan untuk sesaat
Amanda merasa tidak sedang menghafalkan ayat.
Ayatlah yang sedang menghafalkan dirinya.
*
Lalu …
KHATAM.
Tidak ada petir.
Tidak ada langit pecah.
Tidak ada suara dari dunia luar.
Hanya Mama yang menangis.
Bapa yang menunduk.
Mushaf di tangan Amanda.
Dulu ia ingin membuat Mama-Bapa menangis karena dirinya berhasil.
Kini mereka menangis.
Amanda diam.
Angin masuk melalui jendela.
Satu halaman bergerak.
Lalu halaman berikutnya.
Lalu berikutnya lagi.
Seolah-olah mushaf tidak tahu bahwa manusia menyebutnya selesai.
Seolah-olah khatam hanyalah sebuah pintu.
Dan di balik pintu itu,
jalan masih panjang.
*
Tetapi zaman tidak ikut khatam.
Besoknya datang lagi.
Kampus.
Tugas.
Jalan.
Motor.
Layar.
Orang-orang bertanya,
“Setelah ini mau jadi apa?”
Amanda tidak tergesa menjawab.
Di dalam dirinya, kejar-mengejar telah kehilangan bunyi.
Bukan dunia yang ditinggalkannya.
Dunia tetap dunia.
Jalan tetap jalan.
Layar tetap menyala.
Nama tetap mencari nama.
Hanya langkahnya yang tidak lagi meminta dunia menentukan ke mana ia harus pergi.
*
Suatu hari Amanda pulang tanpa kabar.
Bapa sedang memetik tomat.
Ia melihatnya.
Tersenyum.
“Bapa lagi kangen malah tiba-tiba pulang.”
Tangannya masih memegang tomat.
Ia tidak berlari.
Tidak bertanya.
Tidak menangis.
Ia menyelesaikan petikannya.
Baru pulang.
Satu tomat di tangan.
Satu anak di sampingnya.
Senja turun di atas sawah.
Burung-burung pulang ke rumpun bambu.
Rumah tidak pernah bertanya mengapa anaknya begitu lama.
Di halaman, sebuah tomat merah berguling perlahan.
Kali ini tidak jatuh.
*
Di pesantren suara Ibu Nyai terdengar dari halaman.
Santri-santri yang tadi duduk santai mendadak mencari sapu. Ada yang membuka kitab. Ada yang mengangkat kain. Ada yang pura-pura sibuk.
Suara itu melewati halaman.
Masuk ke kamar.
Masuk ke tahun-tahun.
Dan suara guru tidak benar-benar hilang.
Ia berpindah.
Dari telinga ke tulang.
Dari tulang ke laku.
Dari laku ke kehidupan.
*
Kemudian panggung.
Lampu.
Mikrofon.
Hadroh.
Khotmil Qur’an.
Suara rebana memukul malam.
Mikrofon diletakkan di tangan Amanda.
Tangan yang dahulu memegang bunga.
Tangan yang pernah gemetar.
Tangan yang membawa mushaf ketika kaki tidak mampu berjalan.
Pertanyaan lama datang:
Emang saya bisa?
Amanda memandang guru.
Guru tidak menjawab.
Mikrofon didorong sedikit lebih dalam ke tangannya.
Maka:
“Inggih.”
Suara itu keluar.
Panggung menyala.
Amanah datang lagi.
Khataman.
Acara sekolah.
Panggung lain.
Mikrofon lain.
Pertanyaan itu masih tinggal:
Emang saya bisa?
Tetapi jawabannya telah lebih dahulu tinggal di tubuh.
“Inggih.”
*
Usia sembilan belas.
Lantai tiga.
Lemari kosong.
Semua pakaian hilang.
Tersisa sarung batik cokelat, baju garis abu-abu, jilbab hijau pinjaman teman.
Amanda mendongak.
Pakaian-pakaian tergantung di langit-langit.
Bulan-bulan kecil bergoyang tanpa langit.
“Ini ambilnya gimana?”
Tawa pecah.
Lalu air mata.
Roti warung.
Lilin kecil.
Buket buatan tangan.
Malam itu lantai tiga menjadi perahu.
Sahabat-sahabat menjadi laut.
Dan untuk beberapa saat zaman yang gaduh kehilangan suaranya.
Hanya tawa.
Hanya lilin.
Hanya seorang gadis yang bahagia dengan pakaian seadanya.
*
Malam kembali.
Sawah gelap.
Gunung menjadi bayangan.
Rumpun bambu berbisik.
Pesantren menyalakan satu lampu.
Dua.
Tiga.
Amanda membuka mushaf.
Dari halaman tercium tanah.
Dari tanah terdengar ngaji.
Dari ngaji terdengar suara Ibu Nyai.
Dari suara Ibu Nyai terdengar Abah Yai:
Tuntas.
Amanda menutup mushaf.
Bukan karena selesai.
Malam baru saja membuka halaman berikutnya.
*
Di sebuah pondok yang mungkin tidak bernama apa-apa, seorang gadis baru datang.
Tasnya kecil.
Mushafnya besar.
Ia duduk di tepi ranjang.
Dari kampung di bawah bukit terdengar azan.
Ia rindu.
Ia takut.
Ia ingin pulang.
Di luar jendela bulan menggantung.
Bukan bulan.
Buah.
Belum dipetik.
Tiba-tiba sebuah suara:
“Sanggup?”
Gadis itu diam.
Di luar sana zaman masih berlari.
Layar masih berganti.
Nama masih mengejar nama.
Orang-orang masih takut disebut terlambat.
Gadis itu menyentuh mushaf.
Membuka halaman.
Satu ayat.
Napas.
Satu ayat.
Napas.
Lalu:
“Inggih.”
Pintu terbuka.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya jalan panjang dan gelap dengan embun di kedua sisinya.
Gadis itu berdiri.
Membawa mushaf.
Membawa lapar.
Membawa rindu.
Membawa amanah.
Di belakangnya lampu pesantren menyala.
Di kejauhan sebuah rumah membuka pintu.
Dan dari sawah yang belum terang
satu tomat merah
jatuh
ke tanah.
2026
*Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (2023), Sekumpulan Esai Sastra Hikmah (2024), Buku Puisi Balada Kisah untuk Anak Cucu (2025).
Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).




