Dari Meme ke Mim: Ketika Teks yang Kita Ambil Mulai Mengambil Kita
Oleh: Abdul Wachid B.S.*
Ada buku yang sejak awal disusun sebagai buku. Ada pula buku yang menemukan bentuknya setelah tulisan-tulisan yang semula berjalan sendiri-sendiri dipertemukan. Kleptoteks: Budaya Kritis ala Meme karya Nizar Machyuzaar (2026) termasuk jenis yang kedua. Tulisan-tulisan yang terkumpul di dalamnya pada mulanya hadir sebagai esai-esai lepas, lahir dari persoalan dan kegelisahan yang tidak selalu sama. Setelah berada dalam satu himpunan, masing-masing tulisan memperoleh kemungkinan untuk dibaca ulang melalui tulisan yang lain. Pertanyaan yang semula berdiri sendiri mulai saling menyapa. Gagasan yang tampak kecil dalam satu esai menemukan bentang persoalannya ketika berhadapan dengan esai berikutnya.
Perubahan dari esai-esai lepas menjadi buku, dengan demikian, bukan sekadar perubahan bentuk penerbitan. Pengumpulan tersebut menghasilkan sebuah bangunan pemikiran. Bagian pertama bergerak dari sejarah, landasan teoretis, jenis, media, representasi, hingga nalar kritis meme. Bagian kedua membawa pembicaraan lebih jauh: kleptoteks, cara berpikir warganet, meme yang dijalani, korupsi yang dijalani, posisi kreator, demokrasi, ekonomi, kemudian sampai kepada “Mim: dari Ritus ke Situs”. Semakin jauh pembacaan berlangsung, semakin sulit memandang meme hanya sebagai gambar, video, tulisan, atau lelucon yang beredar di layar telepon genggam.
Di sinilah buku tersebut memperoleh daya jelajahnya. Meme mula-mula tampak sebagai objek. Perlahan, meme berubah menjadi cara membaca perilaku manusia, cara melihat kebudayaan, bahkan cara memahami proses pewarisan pengalaman.
Nizar Machyuzaar datang dari lingkungan sastra. Pendidikan Sastra Indonesia ditempuh di Universitas Padjadjaran dan diselesaikan pada 2005 melalui penelitian mengenai representasi alam benda dalam kumpulan puisi Afrizal Malna dengan pendekatan hermeneutika dan metafora. Perhatiannya kemudian berkembang ke kajian sastra kontemporer, bahasa, puisi, dan esai. Buku puisinya antara lain Di Puncak Gunung Nun dan Posskriptum: Para Pembuat Mitos, sedangkan dalam wilayah esai terdapat Domain Puisi dan Penyairnya. Aktivitasnya di Mata Pelajar Indonesia dan dunia pengajaran mempertemukan kerja kepenulisan dengan pengalaman pendidikan.
Riwayat tersebut relevan bagi pembacaan Kleptoteks karena buku ini sejak awal berurusan dengan sesuatu yang sangat dekat dengan dunia sastra: teks, tanda, metafora, pengulangan, perubahan makna, dan hubungan antara bahasa dengan pengalaman. Meme, dalam pembacaan Nizar, akhirnya tidak berhenti sebagai fenomena media digital. Meme menjadi pintu untuk memasuki persoalan yang lebih tua sekaligus lebih luas: bagaimana manusia menerima sesuatu yang sudah ada, mengubahnya, meneruskannya, lalu hidup di dalam hasil perubahan tersebut.
Maka pertanyaan yang tersisa setelah seluruh buku dibaca bukan lagi sekadar: apa itu meme? Pertanyaannya bergeser menjadi: apa yang terjadi kepada manusia ketika sesuatu yang semula kita buat untuk menyampaikan gagasan kemudian ikut membentuk cara kita berpikir, berbicara, menilai, dan menjalani kehidupan?
Dari Meme ke Kleptoteks
Meme tidak lahir bersama internet. Richard Dawkins memperkenalkan istilah meme dalam The Selfish Gene(1976) untuk menunjuk satuan transmisi kebudayaan yang dianalogikan dengan gene. Gagasan tersebut kemudian berkembang jauh melampaui konteks awalnya. Dalam kebudayaan digital, meme hadir melalui proses peniruan, pengubahan, penggabungan, dan penyebaran yang berlangsung sangat cepat. Limor Shifman, dalam Memes in Digital Culture (2014), melihat meme digital sebagai kelompok artefak yang memiliki karakteristik tertentu dan beredar melalui reproduksi serta transformasi oleh banyak pengguna.
Sejarah tersebut dapat ditarik lebih jauh kepada mimesis: tindakan meniru, merepresentasikan, mengulang, sekaligus mengolah kembali sesuatu yang telah ada. Manusia hampir tidak pernah mencipta dari ruang yang sepenuhnya kosong. Cerita, mitos, simbol, bentuk kesenian, ungkapan, bahkan ritus selalu memiliki hubungan dengan sesuatu yang mendahuluinya. Yang berubah secara drastis dalam kebudayaan digital terutama adalah kecepatan dan jangkauan reproduksi.
Dahulu sebuah cerita berpindah melalui ingatan manusia. Sebuah gambar dapat berpindah melalui reproduksi manual. Sebuah ungkapan membutuhkan komunitas untuk membuatnya dikenal. Sekarang satu gambar dapat berada di ribuan layar sebelum pembuatnya sempat menjelaskan maksud semula.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita nyaris tidak lagi merasakan tindakan mengambil sebagai sebuah peristiwa. Sebuah gambar disimpan. Sebuah kalimat disalin. Video dipotong. Keterangan diubah. Suara ditambahkan. Unggahan diteruskan. Sesudah itu muncul bentuk baru yang segera bergerak menuju pengguna lain. Tindakan tersebut dapat menjadi kreativitas. Remix, parodi, apropriasi, transformasi, dan intertekstualitas merupakan bagian sah dari dinamika kebudayaan.
Karena itu, istilah kleptoteks tidak tepat jika dibaca sebagai tuduhan bahwa setiap tindakan mengambil teks merupakan pencurian. Persoalan yang lebih menarik justru muncul ketika kesadaran terhadap tindakan mengambil mulai menipis. Dari mana teks berasal? Dalam situasi apa teks tersebut dibuat? Apa yang berubah setelah dipotong atau diberi konteks baru? Siapa yang mungkin dirugikan? Apakah pembaca berikutnya masih dapat mengenali sumber dan konteks awalnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kleptoteks dari persoalan kepemilikan menuju persoalan etika.
Mengambil tidak selalu salah. Yang perlu dipertanggungjawabkan adalah cara mengambil, cara mengubah, dan akibat dari penerusan.
Kebiasaan digital membuat persoalan tersebut semakin rumit. Jari dapat bergerak lebih cepat daripada pertimbangan. Tombol share hanya membutuhkan satu sentuhan, sedangkan memeriksa sumber, membaca konteks, dan mempertimbangkan akibat membutuhkan waktu. Ketimpangan kecil antara kecepatan tangan dan kecepatan berpikir itulah yang sering kali menentukan nasib sebuah teks.
Kehadiran kecerdasan artifisial memperlebar medan persoalan. Teks dapat ditulis ulang, gambar dapat diubah, suara dapat ditiru, dan berbagai bentuk baru dapat dihasilkan dari bahan yang telah tersedia. Kemampuan reproduksi menjadi semakin besar. Karena itu, pertanyaan kebudayaan yang mendesak bukan hanya siapa yang mampu menciptakan, melainkan siapa yang bersedia bertanggung jawab terhadap apa yang diciptakannya dari sesuatu yang sudah ada.
Ketika Meme Mulai Mengambil Kita
Pada awalnya hubungan tersebut tampak sederhana:
manusia → meme.
Manusia membuat, mengubah, lalu menyebarkan meme. Namun pengulangan mengubah hubungan itu. Sesuatu yang terus hadir di hadapan mata, telinga, dan ingatan tidak selalu tinggal sebagai benda di luar diri. Tanda yang berulang dapat masuk ke dalam bahasa sehari-hari, memengaruhi perhatian, membentuk asosiasi, bahkan menjadi cara spontan untuk memahami suatu keadaan.
Maka arah hubungan tersebut dapat berbalik:
meme → manusia.
Gagasan ini terasa kuat ketika membaca “Meme yang Kita Jalani”. Judul tersebut menggeser pembicaraan dari meme yang kita lihat kepada pola yang kita hidupi. Seseorang mungkin mula-mula tertawa melihat sebuah meme tentang politik, korupsi, ekonomi, atau perilaku sosial. Beberapa hari kemudian, bentuk lelucon yang sama dipakai dalam percakapan. Setelah berulang, ungkapan tersebut menjadi kebiasaan bahasa. Pada saat tertentu, kita mungkin sudah lupa kapan pertama kali menemukannya.
George Lakoff dan Mark Johnson, dalam Metaphors We Live By (1980), menunjukkan bahwa metafora tidak hanya memperindah bahasa. Struktur metaforis ikut memengaruhi cara manusia memahami pengalaman dan bertindak. Pemikiran tersebut membantu menjelaskan mengapa bahasa yang terus berulang tidak pernah sepenuhnya netral. Meme menyatukan gambar, kata, pengalaman, emosi, dan konteks dalam bentuk yang mudah dikenali. Daya pengaruhnya sering kali justru terletak pada kecepatan pengenalan tersebut.
Namun, sesuatu yang terasa benar belum tentu benar.
Meme dapat menjadi kritik terhadap kekuasaan, tetapi juga dapat menjadi propaganda. Meme dapat mempertemukan orang-orang yang memiliki kegelisahan yang sama, tetapi juga memperkeras permusuhan antarkelompok. Meme dapat menyederhanakan persoalan agar mudah dipahami, tetapi penyederhanaan yang sama dapat menghilangkan kerumitan yang justru menentukan persoalan.
Karena itu, kemampuan membuat meme tidak otomatis menunjukkan kemampuan berpikir kritis. Kritik yang lucu dapat dibuat tanpa pemahaman yang memadai mengenai persoalan yang dikritik. Sebaliknya, meme yang sederhana dapat menjadi pemantik bagi seseorang untuk mencari informasi lebih jauh. Shifman (2014) menunjukkan bahwa meme digital juga dapat menjadi bentuk partisipasi budaya dan politik. Persoalannya kemudian bukan apakah meme kritis atau tidak, melainkan apa yang terjadi pada daya kritis manusia setelah kritik dikemas menjadi sesuatu yang mudah ditiru dan disebarkan.
Apakah meme membuat kita berhenti untuk berpikir? Ataukah meme hanya membuat kritik bergerak lebih cepat?
Pertanyaan tersebut bertemu dengan “Kreator Meme Tidak Benar-Benar Mati”. Setelah sebuah teks masuk ke ruang publik, pembuatnya tidak lagi menguasai seluruh kemungkinan makna. Pembaca dapat memotong, menggabungkan, menggeser konteks, memberi tafsir baru, bahkan membalikkan maksud awal. Akan tetapi, hilangnya kendali terhadap makna tidak berarti hilangnya tanggung jawab terhadap tindakan.
Kematian otoritas atas makna tidak sama dengan kematian tanggung jawab atas tindakan.
Sebuah unggahan dapat bertahan jauh lebih lama daripada niat pembuatnya.
Meme, Demokrasi, dan Kehidupan yang Kita Jalani
Dalam kehidupan demokratis, meme membuka ruang yang sebelumnya lebih sulit dijangkau oleh warga biasa. Kebijakan publik, perilaku pejabat, ketimpangan sosial, dan berbagai keganjilan dapat ditanggapi melalui humor, parodi, gambar, atau kalimat pendek. Dalam sejarah kebudayaan, bentuk semacam ini bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Karikatur politik, pamflet, poster, coretan dinding, dan kaus satiris memiliki fungsi yang serupa: menyampaikan keberatan melalui bahasa yang dapat beredar di luar saluran resmi.
Akan tetapi, kritik tidak sama dengan deliberasi.
Meme dapat menyentil persoalan, tetapi sebuah sentilan belum tentu menyediakan penjelasan. Tawa dapat membuka kesadaran, tetapi tawa belum menjadi pengetahuan. Like dan share dapat menunjukkan perhatian, tetapi belum tentu menunjukkan keterlibatan kewargaan yang mendalam.
Karena itu, meme sebaiknya dipandang sebagai pintu masuk bagi nalar kritis, bukan pengganti nalar kritis.
Pembacaan tersebut memperoleh perluasan melalui “Indische Economy”. Ungkapan in this economy, misalnya, tampak sederhana ketika beredar sebagai bahasa meme. Namun, di balik kesederhanaannya terdapat pengalaman tentang pekerjaan, harga kebutuhan hidup, produktivitas, waktu, rumah, masa depan, dan kecemasan generasi muda. Sebuah frasa pendek dapat menjadi tempat berkumpulnya pengalaman yang sulit dirumuskan melalui uraian panjang.
Di sini meme memperlihatkan kemampuan lain: bukan sekadar mengomentari kehidupan, melainkan menyediakan bahasa untuk mengenali pengalaman hidup.
Tetapi bahasa yang terus diulang dapat melakukan lebih dari sekadar menggambarkan pengalaman. Bahasa juga dapat membentuk cara pengalaman tersebut dipahami.
Dari sinilah Kleptoteks bergerak dari kritik terhadap media menuju kritik kebudayaan. Yang dipertaruhkan bukan hanya isi meme, melainkan kebiasaan yang tumbuh dari reproduksi terus-menerus.
Dari Meme ke Mim
Gerak pemikiran buku mencapai lapisan lain ketika sampai pada “Mim: dari Ritus ke Situs”. Nizar mengajukan mim sebagai konsep kerja untuk membaca pewarisan pengalaman dan pengetahuan kebudayaan. Perbedaannya dengan meme dapat dirasakan melalui arah dan kedalaman peredarannya. Meme bergerak cepat dari satu orang ke orang lain. Mim bergerak dalam dari satu generasi ke generasi berikutnya. Meme memperlihatkan sirkulasi. Mim memperlihatkan internalisasi.
Primbon, pupuh, macapat, geguritan, mantra, folklor, ritus, pengetahuan tentang waktu, serta berbagai simbol kebudayaan memperlihatkan bahwa manusia mewariskan sesuatu yang lebih luas daripada teks. Dalam bentuk-bentuk tersebut tersimpan cara memandang alam, tubuh, waktu, hubungan antarmanusia, dan kehidupan yang melampaui pengalaman individual.
Ritus, dengan demikian, tidak hanya berupa tindakan yang diulang. Di dalam pengulangan dapat tersimpan pengetahuan. Ketika pengetahuan tersebut diwariskan dan memperoleh tempat dalam ingatan kebudayaan, terbentuk sebuah “situs” tempat pengalaman lama dapat dibaca kembali.
Gagasan itu bersentuhan dengan pembacaan Nizar terhadap Membran. Puisi dapat menjadi situs pengalaman yang dibangun melalui bahasa. Kata-kata menjadi bahan, larik membentuk susunan, bait menciptakan ruang, dan keseluruhan puisi menyediakan tempat bagi pembaca untuk memasuki kembali pengalaman yang telah diendapkan penyair.
Di sinilah mim menjadi produktif sebagai konsep. Tidak perlu menjadikannya istilah ilmiah yang seolah-olah sudah memiliki pengertian tunggal dalam semua disiplin. Dalam buku ini, mim lebih berguna sebagai cara untuk melihat bagaimana pengalaman dan pengetahuan berpindah melalui penghayatan, pengulangan, dan pewarisan. Yang diwariskan kepada generasi berikutnya bukan selalu kalimat yang sama. Bisa jadi yang bertahan justru cara memandang dunia.
Pertanyaannya pun berubah: ketika manusia meneruskan sesuatu kepada generasi sesudahnya, apakah yang sebenarnya berpindah? Teksnya? Tandanya? Gagasannya? Kebiasaannya? Ataukah cara tertentu dalam memahami kehidupan?
Pertanyaan tersebut membawa kita kembali kepada meme.
Ketika Teks yang Kita Ambil Mulai Mengambil Kita
Jika keseluruhan Kleptoteks dibaca dari jarak tertentu, tampak sebuah lingkaran: manusia → teks → meme → replikasi → kebiasaan → kebudayaan → manusia.
Manusia menciptakan teks. Teks direproduksi. Reproduksi yang terus berlangsung dapat menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang bertahan dapat menjadi bagian dari kebudayaan. Kebudayaan kemudian kembali membentuk manusia yang hidup di dalamnya.
Di satu sisi, Kleptoteks mengingatkan kita kepada etika ketika mengambil dan meneruskan teks. Di sisi lain, “Mim: dari Ritus ke Situs” membawa pertanyaan itu ke wilayah yang lebih panjang: apa yang sebenarnya kita wariskan melalui tindakan meneruskan?
Keduanya bertemu dalam satu kenyataan sederhana: manusia hidup melalui teks.
Kita merasa sedang memilih meme, padahal meme juga dapat ikut menentukan apa yang menarik perhatian kita. Kita merasa sedang memakai bahasa, padahal bahasa yang berulang dapat menyediakan kerangka untuk memahami kenyataan. Kita merasa sedang meneruskan sesuatu kepada orang lain, padahal dalam tindakan tersebut kita juga sedang meneruskan sebuah cara berpikir.
Mungkin di situlah gema terdalam judul Kleptoteks. Persoalannya bukan semata-mata bahwa kita mengambil teks orang lain. Persoalan yang lebih serius adalah kemungkinan bahwa dalam kebiasaan mengambil, mengubah, dan menyebarkan, kita kehilangan kesadaran terhadap apa yang sedang kita teruskan.
Teknologi tidak perlu dimusuhi. Meme tidak perlu dibuang dari kehidupan. Internet juga tidak harus diperlakukan sebagai sumber segala kerusakan. Yang dibutuhkan justru sebuah jarak kecil antara menerima dan meneruskan; antara melihat dan membagikan; antara tertawa dan memahami.
Jarak kecil tersebut memberi kesempatan kepada nalar untuk bekerja.
Setiap kali tombol share ditekan, sebenarnya sebuah pilihan kebudayaan sedang dilakukan. Kita memberi kesempatan kepada kata, gambar, gagasan, emosi, atau cara pandang tertentu untuk hidup kembali dalam diri orang lain. Tindakan itu mungkin tampak terlalu kecil untuk disebut sebagai tindakan kebudayaan. Namun, kebudayaan memang sering tumbuh dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan berulang kali.
Meme akan datang dan pergi. Sebagian hanya bertahan beberapa jam. Sebagian lain hidup beberapa hari, lalu tenggelam. Ada pula yang kembali setelah bertahun-tahun dengan bentuk dan konteks baru.
Yang lebih panjang umurnya justru kebiasaan yang ditinggalkannya.
Karena itu, pertanyaan terakhir buku ini barangkali bukan lagi tentang bagaimana meme dibuat, siapa yang pertama mengunggahnya, atau seberapa jauh sebuah meme dapat menjadi viral. Pertanyaan yang lebih dalam menyentuh apa yang terjadi setelah semua itu berlalu.
Jika meme adalah apa yang kita sebarkan kepada orang lain, mim adalah apa yang diam-diam kita wariskan kepada mereka yang datang sesudah kita.
Dan setelah semua meme berlalu, setelah layar berganti, setelah satu tren digantikan tren berikutnya, setelah teks yang kita ambil berpindah dari satu tangan ke tangan lain, pertanyaan yang tersisa adalah: apa yang masih tinggal dalam diri manusia? ***
Daftar Pustaka
Dawkins, Richard. 1976. The Selfish Gene. Oxford: Oxford University Press.
Lakoff, George, dan Mark Johnson. 1980. Metaphors We Live By. Chicago: University of Chicago Press.
Machyuzaar, Nizar. 2026. Kleptoteks: Budaya Kritis ala Meme. Edisi cetak terbatas. Tasikmalaya: Mata Pelajar Indonesia.
Shifman, Limor. 2014. Memes in Digital Culture. Cambridge, MA: The MIT Press.
*Abdul Wachid B.S., Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) dan Guru Besar Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.





