Estetika Teror Aditya Hariyadi

Oleh  Anwari 

Pertunjukan monolog Jalur Purba Kedunguan oleh Aditiya Hariyadi dari Riau dengan membawakan teks Fedli Azis tampil di Sala Monolog yang ke sembilan yang digagas oleh Omah Kreatif Arturah di  Pendopo Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. Aditiya memilih tempat pertunjukan di depan teras wisma menghadap panggung pendopo yang sudah disiapkan oleh panitia. Ada sesuatu yang ingin digugat dalam sisi pertunjukan hari ini di mana panggung memberikan jarak dengan publiknya. Diawali dengan Aditiya bersenandung, duduk di kursi dengan lampu gantung dan bernyanyi tentang kerakusan manusia, dilanjut dengan dialog yang penuh amarah dan menertawakan manusia hari ini. 

Pementasan Teater

Poster pertunjukan Aditya Haryadi (Sumber: Penulis)

Gempuran teks yang terucap seperti anak panah yang menghujani penonton. Teriakan, caki-makian, hingga hujatan, memberikan suatu tawaran tentang estetika teror lewat teks yang terucap. Bagaimana ratusan tubuh penonton tidak berdaya menghadapi invasi dari satu tubuh Aditiya  dengan menggunakan teks hujatan caki-makian kata dan volume suara yang meninggi. Perlu dipertanyakan tentang kedudukan pertunjukan dan penonton di peristiwa ini sebagai objek dan subjek. 

Peristiwa dalam pertunjukan monolog ini membalikkan suatu konvensi yang sudah ada, di mana biasanya penonton menjadi subjek dan penampil menjadi objek untuk dilihat dan dinikmati. Namun dalam pertunjukan ini penonton menjadi objek untuk ditelanjangi dan diteror secara psikologis hingga tubuh mereka tak berdaya dengan segala tuduhan-tuduhan yang terucap. Seperti yang dikemukakan Stephen N. Thomas bahwa justifikasi menyediakan dasar, bukti, dan penalaran untuk meyakinkan orang lain (atau mengajak diri sendiri) bahwa suatu klaim atau pembenaran adalah benar. Dari yang dikemukakan Thomas menjadi relevansi pada pertunjukan monolog Aditiya yang menjustifikasi penonton lewat pembenaran dirinya sendiri dan menjadi suatu kebenaran yang dipaksakan terlihat ketika penonton hanya diam tak berdaya. 

Aditiya Hariyadi

Adegan Aditiya Hariyadi (Sumber Foto: Penulis, Foto oleh Anang Surohman Hidayat)

Dalam teori Dramatugi dijelaskan bahwa sikap manusia tidak stabil dan setiap sikap tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang mandiri. Sikap manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang lain. Di sinilah dramaturgi masuk untuk menguasai interaksi tersebut. Tubuh tunggal yang dihadirkan Aditiya sebetulnya tidak hadir dengan sendirinya, namun tercipta dari pertemuan-pertemuan yang saling bersinggungan secara fisik, rasa dan pikiran. Tubuh Aditiya yang tunggal hari ini dan kini adalah hasil dari manifestasi sejarah masa lalu yang sublim dalam perjalanan hidupnya. 

Lalu bagaimana dengan posisi etika dan estetika? Apakah etika berlaku dalam pertunjukan ini? Atau etika sedang bekerja dengan memberikan batas dalam sikap pasifnya penonton? Sedangkan pertunjukan monolog ini memunculkan etika bahasa ucap yang diterobos menjadi suatu katarsis yang keras dan sarkasme. Konvensi estetika yang hanya dipahami keindahan dipatahkan dengan teror kata puitis dengan gaya ungkap ekstrem. Bisa dikatakan ini berupa dramaturgi hardik yang menggunakan cara sarkas bertujuan menghina, menyindir, dan menyinggung dengan keras dan kasar. Sesuatu yang disinggung bisa berupa orang, benda, maupun kejadian. 

Ada teks yang menarik dari berapa dialog Aditiya, “Aku ingin katakan, manusia hari ini tak lebih hina dari seekor anjing! Ada yang marah? (Menunggu) Atau ingin menyatakan sesuatu jika aku sebut kalian hanyalah kumpulan monyet! Kalian monyet yang malang! Tak punya daya kritis yang seksi. Monyet yang dikandangkan pikiran sendiri. Atau kusebut kalian dengan, dasar Anjing! Ngentot, Monyet! Babi!” ini menandakan cara kerja dramaturgi yang dipakai dalam pertunjukan monolog ini.

Monolog

Poster acara Monolog (Sumber: Poster Panitia Sala Monolog)

Mari beralih pada suatu pemahaman dalam acara Sala Monolog, beberapa karya yang ditampilkan memberikan penanda tentang pemahaman monolog yang stagnan bagaimana monolog hanya dipahami mono, sebagai satu dan log berarti legein yang artinya berbicara hingga memberikan persepsi satu pemain yang berbicara di atas panggung. Mengacu pada Wikipedia bahwa monolog adalah istilah keilmuan yang diambil dari kata mono yang artinya satu dan log dari kata logos yang artinya ilmu. jika log sebagai pemahaman ilmu maka akan pemahaman baru tentang menerjemahkan monolog sebagai suatu ilmu yang mengajarkan tentang seni peran di mana hanya dibutuhkan satu orang yang menampilkan satu pembahasan satu gambaran tentang peristiwa personal terhadap situasi yang dihadapi. Dan bisa juga monolog menawarkan suatu bentuk baru dalam penyajiannya ketika dipahami sebagai ilmu yang sifatnya terus berkembang, bisa jadi berupa monolog tubuh, monolog multimedia, monolog alternatif, monolog psikologi, monolog riset dll. 

Seorang monologer harus secara cermat memahami ruang  untuk menyampaikan pertunjukan monolognya. Setelah itu ia harus bisa menginterogasi, membaca ruang dan publik untuk dieksekusi hingga muncul dalam setiap perpindahan momentum, lalu bagaimana ia mengembangkan peristiwa, yang kemudian menjadi daya kejut dalam realitas yang terjadi. Bagaimana pula hal itu menjadi satu bagian dari realitas yang tercipta. Arsitektur ruang tersebut akan mempengaruhi publik penonton yang hadir. 

Monolog sudah berkembang pada wilayah manusia masing-masing dengan kerja seni peran yang tunggal. Di Surabaya dikenal seorang tokoh legenda yang bernama Cak Markeso. Ia adalah pelaku ludruk garingan yang kemudian menjadi penghibur kelas rakyat. Panggung hiburannya di pelataran rumah-rumah, di perkampungan, di depan gardu, dari gang ke gang, atau dari warung ke warung. Cak Markeso memilih hidup sebagai seniman jalanan sejak tahun 1950 hingga menutup usia pada tahun 1996. 

Pelaku monolog lain dari Surabaya yang masih intens dengan pilihannya adalah Mbah Tohir (29 September 1945). Ia berangkat dari grup lawak Srimulat. Mulanya ia berkesenian dengan bergabung di organisasi Penggemar Seni Teater (Persiter) pada tahun 1960. Di Indonesia sendiri tokoh monolog yang masih sangat produktif ialah Butet Kartaredjasa, yang dikenal sebagai raja monolog Indonesia. Dan sekarang yang masih mengeksplorasi monolog adalah Hendra Setiawan monologer dari Jakarta.

Acara-acara monolog yang pernah ada di Indonesia di antaranya ialah Pesta Monolog 2005 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, yang diselenggarakan pada 11—19 Mei 2005, dan sempat ditulis sebagai Catatan “Pesta Monolog 2005, Panggung dan Aktor Bicara” oleh Autar Abdillah, dimuat dalam majalah CIPTA DKJ 2006. Selanjutnya adalah Festival Monolog (FestMon) yang diselenggarakan oleh Federasi Teater Indonesia (FTI) mulai tahun 2007—2013. Kemudian Dramakala Fest, yang diadakan oleh IDEAL (Indonesia Drama Educators Association) bekerja sama dengan STIKOM The London School of Public Relations Jakarta yang. Kemudian pada tanggal 27—29 Maret 2011 di Surabaya diselenggarakan Pekan Monolog Cak Markeso. Pada saat pandemi Covid-19 melanda bebarapa Digital Platfom yang mucul mewadahi rauang monolog dalam virtual, namun tidak memberikan suatu keberlanjutan yang pasti dan hilang secara perlahan. 

Beberapa kegiatan monolog di atas sudah gulung tikar dan tidak terdengar lagi, kemudian di Solo ada “Sala Monolog” yang tiap tahunnya diselenggarakan sampai saat ini. Di kalangan mahasiswa sendiri dikenal dengan gelaran Peksiminas (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) yang salah satu cabang lombanya adalah monolog. Masih banyak rutinitas kesenian yang berupa monolog di beberapa daerah, kota maupun desa-desa, pinggiran maupun menengah sampai saat ini. Dalam perkembangannya monolog juga sudah masuk pada ranah instansi akademik kesenian di Indonesia, namun pertanyaan hari ini dari sekian banyak aktivitas monolog adalah, “Adakah yang melahirkan monologer yang konsisten dan intens bermonolog dalam pilihan keseniannya?”

*Penulis adalah Sutradara Teater

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *