40 Tahun Teater Payung Hitam : Ruang Besar Teater Kontemporer Papan Atas

Oleh Aendra Medita Kartadipura

Sebuah kelompok teater berusia 40 tahun adalah sebuah kekuatan dari perjalanan yang hakiki. Jika manusia berusia di 40 adalah masa yang masuk krusial dan rawan dalam perjalanan umur. Dan juga tak dapat dipungkiri  bahwa usia ini disebut sebagai usia istimewa. Istimewa karena, pada usia ini dinilai sebagai puncak kehidupan seseorang, baik secara fisik, emosi, intelektual maupun nilai spiritualnya. Pun demikian tanpa dielakan untuk sebuah kelompok kesenian jika masuk usia 40 tahun adalah bagian yang bisa jadi adalah kekuatan besar dan harus lebih fokus menuju tonggak sejarahnya

Adalah Kelompok Teater Payung Hitam  dalam usia ke 40 tahun harus manjadi kedewasaan yang ada. Sebuah kelompok yang setia akan jalurnya yaitu teater menjadikan hal ini tumbuh dan kokoh dalam setiap langkahnya.

Ketika tajuk kuat sajiannya 40 tahun Kelompok Teater Payung Hitam dengan mengambarkan perjalanannya muncul tema besar yaitu “DARI KATA MENUJU TANPA KATA“ yang prosesinya terjadi pada Sabtu, 3 Desember 2022 di Gedung Kesenian Sunan Ambu Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Jl. Buah Batu No. 212 Bandung maka ada ruh dahsyat di perjalanan Kelompok Teater Payung Hitam.

Malam itu Prof Sardono W.hj Kusumo dalam orasi budaya yang disampaikan dengan performance art yang menawan dan apik berkisah kemanusian, mengkritik perang yang terjadi (Ukraina vs Rusia) pola penyampaian yang sublim di tafsir juga sejumlah elemen visual tentang orang-oramng dalam lukisan karya orang Ukraina. Ada visual Baduy tentang G20 dan jug kisah wayang. Kita patut bangga dan menghargai nilai-nilai luhur karya menjadi satu peristiwa penting dalam setiap keragaman budaya yang ada.

Informasi acara hut 40 tahun Teater PayungHitam (1) (Sumber Foto: Akun Instagram PayungHitam Foundation)

Sardono pun menuliskan pesan untuk 40 tahun Kelompok Teater Payung Hitam. “Sisi Ekosentris dalam karya Rachman Sabur adalah mendorong lahirnya pendidikan seni berbasis lingkungan hidup,” tulis Sardono dalam katalog 40 tahun Teater Payung Hitam dimana Sardono menyoroti karya Sabur dalam merespon alam.

Saat saya sempat bersilaturahmi dan berbincang panjang dengan pemimpin Kelompok Teater Payung Hitam Bandung yang juga Doktor Seni, Rachman Sabur mengatakan dalam dunia teater khusus tentang Teater Tubuh ia punya pola pikir kedepan dan memaknai bahwa Kelompok Teater Payung Hitam jadi sebuah perjalanan dan pilihannya adalah mengungkap apa yang dicari dan harus menemukan yang beda sebab yang dicari akan jadi tolok ukur. “Itulah yang saat ini KPH dan saya jalani dalam ruang ekspresi kesenian,” jelasnya.

Kelompok Teater Payung Hitam selama 40 tahun lebih dari 100 pertunjukan, kelompok ini konsisten di jalurnya. Panggung. Ya panggung yang merupakan bagian hidupnya. Kelompok Teater Payung Hitam pimpinan Rachman Sabur yang ditampilkan karya memang berawal karya dramawan dunia dan tanah air. Namun kini ia menjadi sutradara terdepan dengan menyutradarai karyanya sendiri.

Saat ditemui di studionya di kawasan Komplek Pandan Wangi Buah Batu Bandung oleh saya dan kawan-kawan Rachman Sabur sangat antusias. Dan menyambut dengan ramah. Ia memiliki jiwa yang santun dan ramah. Tak menyangka jika dibandingkan dengan karya-karyanya yang bernas di atas pentas. Kesehariannya ia begitu sederhana, dan menyenangkan. Tanpa beban. Ia menyambut kami dengan suka ria dan sudah menyiapkan kopi hitam asal Lampung dan teh asli tanah priangan.

Teater Payung Hitam

Informasi acara hut 40 tahun Teater PayungHitam (2) (Sumber Foto: Akun Instagram PayungHitam Foundation)

“Kita langsung di studio belakang saja, biar enak dan leluasa bicara panjang soal apapun,” katanya. Kami yang bertiga pun mengikuti dia. Dan luar biasa studio sekitar 50 meter persegi itu seperti ruang teater kecil, dibungkus hitam semua, lantainya seperti juga panggung umumnya dengan karpet karet hitam. Salah satu sudut kanan seperti background kecil ada properti jendela yang menyerupai semacam elemen bagian dari panggung.

Ada meja yang diatasnya sudah disajikan kopi, teh, ubi dan tiga kursi tempat kami akhirnya berbincang. Dimulai diskusi ruang kecil dan menjadi luas saat bercerita tentang proses Rachman Sabur dalam dunia teater. Mantan pengajar di Jurusan Teater (Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI Bandung) ini telah menyutradarai pertunjukan Teater Payung Hitam selama 40 tahun. Rachman Sabur adalah seniman kelahiran kota Bandung, 12 September 1957 ini telah lebih dari 100 pertunjukan disutradarainya.

Cikal awal Kelompok Teater Payung Hitam mentas bermula dari naskah karya dramawan Indonesia dan dunia. Sekadar menyebut misalnya “Dag Dig Dug” karya Putu Wijaya tahun 1982 saat itu pertama berdirinya Teater Payung Hitam (KPH). “Kami tidak ujug ujug main teater begitu saja, kami proses dengan naskah konvensional dan karya dramawan Indonesia,” ujar Rachman Sabur.

Ia juga mengatakan bahwa dengan disiplin dan kerja keras, mulai menggarap lakon dari penulis tanah air hingga karya- karya naskah dunia. Proses ini menjadi beberapa karya penyutradaraan yang banyak dipuji bukan lantas kami merasa mampu. “Kami terus berproses.

“Pada “Menunggu Godot karya Samuel Beckett (1991) kami merasa ini proses luar biasa. Karya ini lumayan dapat pujian yang luar biasa dan kami terus mengolah diri,”jelasnya.
Tahun yang sama karya Metateater (1991) dicoba sebagai teater eksperimental kolaborasi bersama dengan sejumlah seniman seperti Harry Roesli di G.K Sunan Ambu Bandung yang mana isi pementasannya Teater Musik Kaleng kolaborasi dengan Rumah Musik Harry Roesli di Graha Bakti Budaya, TIM dan juga Rupa Gerak Bunyi Kolaborasi, Setiawan Sabana, Inggrid Heuser, Y. Hititsuyanagi.

“Dalam Metateater itu mengejutkan dan menjadi kekuatan baru bagi KPH, inilah karya yang saya suka bersama Mas Harry Roesli almarhum,” kenangnya.

Kelompok Teater Payung Hitam (KTPH) dalam masa situasi Pandemi Covid 19 menyajikan C19 dalam wujud pertunjukan. Pandemi Covid 19 yang sangat berpengaruh terhadap seluruh elemen tak terkecuali para kreator terdampak.

KTPH terus berekplorasi dan bagi KTPH kreativitas harus terus jalan. Dalam data yang saya terima berbagai cara mengakali dan siasat untuk mempertahankan kreativitas berkesenian terus berlanjut, bagi KTPH  sehingga kesenian tidak mati suri. Kemajuan teknologi modern era globalisasi dunia digital jejaring internet cukup membantu sebagai informasi, komunikasi dan transformasi dalam mengapresiasi seni budaya bagi KTPH.

Eksplorasi  jalan terus dan KTPH tanpa henti memainkan peran terus, dan teater tak pernah putus berperan. KTPH sudah berjalan dalam 40 tahun dengan kekutan militan tadi.

KTPH konsisten dan terus melakukan giat untuk pencapaikan eksistensi menjaga keseimbangan serta pemeliharaannya agar kebutuhan arus kreatifitas selama perjalanan panjang berkeseniannya terus hadir. KTPH punya keutuhan keyakinan memperkukuh dalam bentuk usaha inovasi suatu kegiatan yang saling menguntungkan dengan kecerdasan kreativitas, eksplorasi berkarya tanpa batas, itulah KTPH.

Jika kita mengulas perjalanan KTPH maka saya ingin mengungkap dalam proses Teater Payung Hitam dari awal sejak 1982 yang sering mementaskan naskah konvensional dari naskah karya dramawan Indonesia, dan dunia.

Proses garapan naskah konvensional dan karya dramawan Indonesia dengan disiplin dan kerja keras, mulai menggarap lakon dari penulis tanah air hingga karya- karya naskah dunia dilakukan terus sesuai proses dan menjadi beberapa karya penyutradaraan yang banyak dilirik para apresiator teater.

“Menunggu Godot” karya Samuel Beckett (1991) suatu proses yang luar biasa. Begitu juga pada tahun yang sama karya Metateater (1991) dicoba sebagai teater eksperimental kolaborasi bersama dengan sejumlah seniman seperti Harry Roesli, Herry Dim, Joko Kurnain. Pementasan Teater Musik Kaleng kolaborasi dengan Rumah Musik Harry Roesli di Graha Bakti Budaya, TIM dan juga Rupa Gerak Bunyi Kolaborasi, Setiawan Sabana, Inggrid Heuser, Y. Hititsuyanagi. “Dalam Metateater itu mengejutkan dan menjadi kekuatan baru bagi KTPH.

Penulis bersama Rachman Sabur (Sumber Foto: Penulis)

KTPH dalam pertunjukan Kaspar adalah yang fenomena besar bagi jagat teater tanah air. Mengejutkan dan sekaligus mencatat peristiwa bersejarah, ini tak bisa dipungkiri. Mungkin hanya KTPH yang mampu menjadi catatan puncak atas naskah ini di panggung teater Indonesia, jadi ibarat puncaknya saat drama “King Lear” W.Shakespeare yang dimainkan Studiklub Teater Bandung (STB) — kelompok teater modern tertua di Indoensia — dimana  itu Suyatna Anirun menjadi Raja Lear- nya adalah puncak kekuatan Suyatna dan STB bagi panggung Indonesia.

Kaspar dari Payung Hitam adalah langkah besar sehingga pada era ini nampaknya Rachman Sabur mulia ingin melepas diri dan mandiri sehingga pada 1997 ia menulis dan menyutradarai “Merah Bolong”. Rachman Sabur mulai mendekonstruksi teks bahwa teater bukan sekadar teks, tapi tubuh adalah bagian yang perlu diasah. Bahkan Rachman Sabur sampai pada tingkat yang sangat “destruktif” sebuah drama itu menjadi kekuasaan sutradara dan kebebasan ada di aktor saat pentas. Rachman adalah aktor dan sutradara dibalik nama Teater Payung Hitam. Inilah karya yang kuat dan membuat perbendaharaan teater di Indonesia makin kuat. Ia memiliki kepekaan, power, energi, emosi, disiplin, kerja keras, dan perfeksionis dalam mewujudkan setiap pementasannya. Kegigihan dan militansinya dibangun bersama Kelompok Teater Payung Hitam tak usah diragukan.

Setiap sajian karyanya penuh makna dan kini ia dikenal sebagai ruang pentas atau panggung yang mana mampu menggantikan verbalitas teks dengan komposisi tubuh erangan, lengkingan, dan desah nafas memacu adrenalin yang tinggi, bukan saja bagi aktornya, namun kita sebagai penonton akan merasa larut. Bayangkan kekuatan aktor bisa diadukan dalam memotong dan menabraknya dengan berbagai benda, kekerasan, kesakitan di atas pentas bagian dari ruang ekspresi yang dahsyat. Nyaris tak percaya jika ini satu pertunjukan yang sublim karena pentas Teater Payung Hitam menentang bahaya bahkan menyakiti diri secara garang dan riuh, dan ini nampak dalam sejumlah pertunjukan yang dipantik awal dari Kaspar (1994) dan Merah Bolong (1997), DOM, Kata Kita Mati dan masih banyak lagi sampai pada pertunjukan lainnya.

KTPH  merupakan sebuah organisasi non-profit yang didirikan pada tahun 1982 dan disahkan secara Akta Notaris dengan nama Yayasan Payung Hitam pada tanggal 29 November 2007, No 52.

Dari data yang didapat dari Tim KTPH bahwa sejak berdiri hingga sekarang, Teater Payung Hitam (KTPH) telah memproduksi lebih dari 100 pertunjukan baik yang bersifat mandiri maupun kolaborasi, serta telah mengikuti berbagai festival teater baik di dalam maupun luar Negeri, diantaranya; International Festival And Seminar On Contemporary Performing Arts (ART SUMMIT INDONESIA VII) Jakarta – Indonesia, BRISBANE POWERHOUSE THEATRE FESTIVAL, Australia, Das Kampnagel- Sommer festival Hamburg – Jerman, Festival Air Bandung, Migration Musik Festival, Taipei – Taiwan, Tainan Art Festival Tainan – Taiwan, Borobudur Writers and Cultural Festival, Borobudur – Magelang. Selain produktif dalam memproduksi pementasan- pementasan teater, Kelompok Teater Payung Hitam juga aktif menyelenggarakan seminar, festival dan workshop serta membuka ruang magang teater (kerjasama dengan Yayasan Kelola).

Teater Payung Hitam lebih banyak menyoroti persoalan-persoalan kebangsaan seperti Politik, Ekonomi, Sosial-Budaya dan Hak Asasi Manusia seperti; Kaspar, Gendjer-Gendjer, Merah Bolong, DOM, Kata Kita Mati dan masih banyak lagi. Dalam karya-karyanya TPH juga mengangkat atau menyoroti isu-isu fenomena sosial-lingkungan, politik dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang direpresentasikan melalui karya-karyanya seperti “Relief Air Mata” karya dan sutradara Rachman Sabur, “Blackmoon” karya dan sutradara Rachman Sabur, “Perahu Noah” karya dan sutradara Rachman Sabur, “Segera” karya dan sutradara Rachman Sabur , “Margin” karya dan sutradara Rachman Sabur “POST HASTE” karya dan sutradara Rachman Sabur yang telah dipentaskan di kota besar Indoensia; Pekanbaru, Riau, Solo, ISBI Bandung, Cirebon, Graha Bhakti Budaya Jakarta, GK. Rumentang Siang Bandung, Pada BLACKOUT karya dan sutradara Rachman Sabur yang telah dipentaskan di beberapa kota di Indonesia serta HANTU PLASTIK yang dipentaskan di Studio Teater ISBI Bandung.

KASPAR YANG FENOMENA

KTPH juga lantas mengolah naskah Kaspar (1994) karya Peter Handke dramawan Austria Peter Handke sendiri menerbitkan naskah drama itu tahun 1967. Ini adalah drama full-length pertama Handke dan dipuji di Eropa.

Kaspar adalah tentang bahasa dan kemampuannya untuk menyiksa diri. Dalam drama ini Handke “memungkinkan kita untuk mendengarkan secara berbeda dan untuk merefleksikan bagaimana bahasa dipaksakan kepada kita oleh suatu masyarakat di mana konformitas adalah norma dan pidato yang diterima merupakan eksploitasi individu yang hampir tirani.” Sebagai yang pernah menyaksikan Kaspar dimainkan KPH drama ini pas oleh Rachman Sabur di oleh menjadi sajian yang kuat. Aktor yang memainkan saat itu adalah Tony Broer yang merupakan aktor senior Kelompok Teater Payung Hitam dan permainan yang menunjukkan bahwa individu terikat untuk meniadakan diri mereka sendiri di bawah tekanan masyarakat tempat mereka tinggal.

Tony Brur

Tony Brur dalam acara hut 40 tahun Teater PayungHitam (Sumber Foto: Akun Instagram Teater PayungHitam Foundation)

Rachman Sabur piawai mengolah karya ini secara kekuatan panggung bahkan eksplorasi aktor menjadi sajian yang menggugah bahkan menjadi fenomena tersendiri. Saya mengira awal cikal bakal Sabur dengan teater tubuhnya adalah dari inspirasi karya ini.

Sorotan atau naskah Kaspar itu menang tertuang bahwa “Apa yang dialami Kaspar di atas panggung dapat terjadi setiap hari: Kebutuhan atau keinginan untuk menyesuaikan diri, untuk mengamati dan meniru kata-kata dan tindakan orang lain, untuk menegaskan diri sendiri dan pada saat yang sama, meniadakan diri sendiri.

”Individu juga dapat menemukan dirinya sendiri menggunakan bahasa tersebut. Dalam Kaspar, Handke menulis: “Anda sudah memiliki kalimat yang dapat membuat diri Anda terlihat. Anda dapat menjelaskan kepada diri sendiri bagaimana kalimat itu menyertai Anda. Anda memiliki kalimat yang dapat Anda gunakan untuk menertibkan setiap gangguan” Itulah kira-kira Handke menulisnya, dan ini seperti absurditas namun kenyataan yang ada adalah realitas.

Handke sendiri pernah menulis dalam prolog drama tersebut: “Drama Kaspar tidak menunjukkan bagaimana SEBENARNYA ATAU SESUNGGUHNYA dengan Kaspar Hauser. Ini menunjukkan apa yang MUNGKIN dengan seseorang. Ini menunjukkan bagaimana seseorang dapat dibuat untuk berbicara melalui berbicara. Drama tersebut bisa juga disebut penyiksaan wicara “

Salah satu kritik meringkas tema Kaspar sebagai berikut: “kekuatan otoritatif yang melekat dari bahasa itu sendiri untuk membentuk, memutar, memperluas, membatasi, dan menengahi pengalaman manusia, kisah tragis terakhir sosialisasi dan peradaban. Dan Rachman Sabur bersama Kelompok Teater Payung Hitamnya dengan membawakan Kaspar adalah yang fenomena besar bagi jagat teater tanah air. Ini tak bisa dipungkiri. Dan mungkin hanya Payung Hitam yang mampu menjadi catatan puncak atas naskah ini di panggung teater Indonesia, jadi ibarat puncaknya saat drama “King Lear” W.Shakespeare yang dimainkan Studiklub Teater Bandung (STB) saat itu Suyatna Anirun menjadi Raja Lear-nya adalah puncak kekuatan Suyatna dan STB bagi panggung Indonesia.

Kaspar dari Payung Hitam adalah langkah besar sehingga pada era ini nampaknya Rachman Sabur mulia ingin melepas diri dan mandiri sehingga pada tahun 1997 ia menulis dan menyutradarai “Merah Bolong”. Rachman Sabur mulai mendekonstruksi teks bahwa teater bukan sekadar teks, tapi tubuh adalah bagian yang perlu diasah. Bahkan Rachman Sabur sampai pada tingkat yang sangat “destruktif” sebuah drama itu menjadi kekuasaan sutradara dan kebebasan ada di aktor saat pentas.

“Saya mengolahnya dari ruang dan perjalanannya yang terjadi dan menjadi bagian yang tersaji sehingga sebuah drama itu itu berawal dari tubuh kita bisa diolah. Saya sadar itu setelah lama dan oleh karenanya sebagai pengajar dan praktisi saya tahu betul dan sadar diri bahwa tubuh kita adalah bagian penting,” paparnya.

Rachman adalah aktor dan sutradara dibalik nama Teater Payung Hitam. Inilah karya yang kuat dan membuat perbendaharaan teater di Indonesia makin kuat. Ia memiliki kepekaan, power, energi, emosi, disiplin, kerja keras, dan perfeksionis dalam mewujudkan setiap pementasannya. Kegigihan dan militansinya dibangun bersama Kelompok Teater Payung Hitam tak usah diragukan.

Setiap sajian karyanya penuh makna dan kini KTPH dikenal sebagai ruang pentas atau panggung yang mana mampu menggantikan verbalitas teks dengan komposisi tubuh erangan, lengkingan, dan desah nafas memacu adrenalin yang tinggi, bukan saja bagi aktornya, namun kita sebagai penonton akan merasa larut.

Bayangkan kekuatan aktor bisa diadukan dalam memotong dan menabraknya dengan berbagai benda, kekerasan, kesakitan di atas pentas bagian dari ruang ekspresi yang dahsyat. Nyari tak percaya jika ini satu pertunjukan yang sublim karena pentas Teater Payung Hitam menentang bahaya bahkan menyakiti diri secara garang dan riuh, dan ini nampak dalam sejumlah pertunjukan yang di pantik awal dari Kaspar (1994) dan Merah Bolong (1997), DOM, Kata Kita Mati dan masih banyak lagi sampai pada pertunjukan lainnya.

Teater Payung Hitam (TPH) merupakan sebuah organisasi non-profit yang didirikan pada tahun 1982 dan disahkan secara Akta Notaris dengan nama Yayasan Payung Hitam pada tanggal 29 November 2007, No 52. Sejak berdiri hingga sekarang, Teater Payung Hitam (TPH) telah memproduksi lebih dari 100 pertunjukan baik yang bersifat mandiri maupun kolaborasi, serta telah mengikuti berbagai festival teater baik di dalam maupun luar Negeri, diantaranya; International Festival And Seminar On Contemporary Performing Arts (ART SUMMIT INDONESIA VII) Jakarta – Indonesia, BRISBANE POWERHOUSE THEATRE FESTIVAL, Australia, Das Kampnagel – Sommer festival Hamburg – Jerman, Festival Air Bandung, Migration Musik Festival, Taipei – Taiwan, Tainan Art Festival Tainan – Taiwan, Borobudur Writers and Cultural Festival, Borobudur – Magelang.

Rachman Sabur

Rachman Sabur dalam acara hut 40 tahun Teater PayungHitam (Sumber Foto: Akun Instagram PayungHitam Foundation)

Rachman Sabur dan Tony Brur

Rachman Sabur dan Tony Brur dalam acara hut 40 tahun Teater PayungHitam (Sumber Foto: Akun Instagram PayungHitam Foundation)

Selain produktif dalam memproduksi pementasan- pementasan teater, Kelompok Teater Payung Hitam juga aktif menyelenggarakan seminar, festival dan workshop serta membuka ruang magang teater (kerjasama dengan Yayasan Kelola). Teater Payung Hitam lebih banyak menyoroti persoalan-persoalan kebangsaan seperti Politik, Ekonomi, Sosial-Budaya dan Hak Asasi Manusia seperti; Kaspar, Gendjer-Gendjer, Merah Bolong, DOM, Kata Kita Mati dan lain-lain.

Dalam karya-karyanya, KTPH juga mengangkat atau menyoroti isu-isu fenomena sosial-lingkungan, politik dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang direpresentasikan melalui karya-karyanya seperti “Relief Air Mata” karya dan sutradara Rachman Sabur, “Blackmoon” karya dan sutradara Rachman Sabur, “Perahu Noah” karya dan sutradara Rachman Sabur, “Segera” karya dan sutradara Rachman Sabur , “Margin” karya dan sutradara Rachman Sabur “POST HASTE” karya dan sutradara Rachman Sabur yang telah dipentaskan di kota besar Indonesia;

Pekanbaru, Riau, Solo, ISBI Bandung, Cirebon, Graha Bhakti Budaya Jakarta, GK. Rumentang Siang Bandung, BLACKOUT karya dan sutradara Rachman Sabur yang telah dipentaskan di beberapa kota di Indonesia serta HANTU PLASTIK yang dipentaskan di Studio Teater ISBI Bandung.

TENTANG RACHMAN SABUR  

Rachman Sabur lahir di Bandung, 12 September 1957. Mengajar di Jurusan Teater ISBI Bandung. Menyutradarai pertunjukan Teater Payung Hitam selama 38 tahun. Sebanyak 100 pertunjukan lebih yang telah disutradarainya mulai “Dag Dig Dug” karya Putu Wijaya pada tahun 1982 ketika pertama berdirinya Teater Payung Hitam. Dengan disiplin dan kerja keras, mulai menggarap lakon dari penulis tanah air hingga karya- karya naskah dunia. Beberapa karya penyutradaraan yang banyak dipuji adalah Menunggu Godot (1991), Metateater (1991), Kaspar (1994), dan Merah Bolong (1997). Mulai mendekonstruksi teks bahkan sampai pada tingkat yang sangat “destruktif”.

Rachman Sabur

Rachman Sabur (Sumber Foto: https://kumparan.com)

Mengganti verbalitas teks dengan komposisi tubuh erangan, lengkingan, dan desah nafas. Memotong dan menabraknya dengan berbagai benda, kekerasan, kesakitan yang menentang bahaya, menyakiti diri secara garang dan riuh, seperti pertunjukan Kaspar (1994) dan Merah Bolong (1997). Rachman Sabur bersama Kelompok Teater Payung Hitam nyaris tak pernah absen tiap tahunnya dalam produksi teater. Membuat kolaborasi teater tiga Negara, yaitu Indonesia-Philipina-Jepang di Sibuya, Jepang (1997) juga dengan The Lunatics Theatre dari Belanda untuk pertunjukan di Oerol Festival dan di Terschelling, Holland (2005), dengan Tikka Sears (Amerika), Takeshi Yamada Hitotsi Yanagi (Jepang), Inggris P Hauser (Jerman), dengan Camille Boite (Perancis), dari Teater Sirkus Kontemporer I’mmediat (2012), Lary Reed (Amerika), tokoh Shadow Light Master (2013), kolaborasi dengan beberapa seniman di Taiwan Inka, Shirong dalam acara Migration Music Festival di Cloud Gate Theatre Taipei Taiwan (2015), Rachman juga memberikan workshop dan berkolaborasi di University of Washington Seatle (Amerika) dan membawa pertunjukan Red Emptiness (2015), Perform tubuh di Pabriek Fikr bersama (Sardono W. Kusumo) di Colomadu, Surakarta (2015) dan mementaskan pertunjukan Cak dan Pohaci di Tainan Art Festival (Taiwan-2016).

Selain di undang pentas di berbagai festival Negeri, juga memandu Workshop antara lain di Festival Perth Australia, di Universitas Murdoch dan Black Swan Theatre, memberikan Workshop Tubuh Realis di Akademi Teater Aswara, Malaysia (2006), memberikan Workshop penyutradaraan Teater Tubuh di Pandaan, Jawa Timur (2013), memberikan Workshop Ketubuhan Aktor IKJ (2014), memberikan Workshop Teater Tubuh “Hari Teater Sedunia” di Teater Besar ISI Surakarta (2015), Workshop Tubuh di Sorong, Papua (2016). Beberapa kali diundang untuk jadi penguji pada ujian akhir di Akademi Teater Aswara, Malaysia. Menyelesaikan studi Penciptaan Seni S3 di ISI Surakarta tahun 2017 (Tubuhku Ingin Menjelma Padi yang Merunduk).

Teater Tubuh Payung Hitam berangkat dari pengembangan spirit tubuh tradisi nusantara. Berwawasan pada ketubuhan; Mengenal tubuh sendiri, mengenal tubuh orang lain, dan mengenal tubuh lingkungan. Pada wilayah inilah kemungkinan besar dipastikan Sardono menilai dan mentafsir Rachman Sabur sebagai sosok yang responsive akan dunia eduksi dan lingkungan.

Rachman adalah seniman yang konsisten dalam dunia panggung dan dirinya memiliki niat suci yang mengabdi dalam kehidupannya sehingga tubuh adalah bagian penting dalam dunia teater yang diperolehnya dengan perjalanan panjang hingga gelar Doktor SENI TUBUH disematkan di dirinya. Layak mendapat gelar Profesor yang kini sedang dalam proses.

Pertunjukan Teater Tubuh yang pernah disutradarainya antara lain:
• Tuhan dan Kami (1985) • Metateater (1991)
• Menunggu Godot (1992) • Kaspar (1994)
• Dunia Tony (1995)
• Caligula / Aku Masih Hidup (1996) • Anak Bapak Kapak (1997)
• Etalase Tubuh yang Sakit (1998)
• Tiang Setengah Tiang (1999)
• Bersama Tengkorak (2000)
• Kata Kita Mati (2000)
• Merah Bolong (2000)
• Dom dan Orang Mati (2001)
• Blackmoon (2002)
• Relief Air Mata (2004)
• Air Mata Air (2004)
• Awasawas (2004)
• Putih Bolong (2005)
• Biografi Bunga (2005)
• Batu, Tanah, Air (2006)
• Adinda (2006)
• Red Hole (Australia 2007)
• Dzikir Bumi (2007)
• Requim Antigone, Produksi Studio
Teater STSI Bandung (2007)
• Perahu Noah (2007-2008)
• Puisi Tubuh yang Runtuh (2008) • Genjer-genjer (2008)
• Tubuh Tanah Air (2009)
• Membaca Tanda-Tanda (2012)
• Margin, Produksi Jurusan Teater
STSI Bandung (2013)
• Sangkuring, Produksi Jurusan
Teater STSI Bandung (2015)
• Cak dan Pohaci (2015)
• Tubuh, Bunyi, Kesakitan (2015) • Red Emptiness (University of
Washington, Seattle Amerika
2015)
• POSTHASTE (2016)
• Semua Sakit Juga, Produksi
Jurusan Teater ISBI Bandung
(2016)
• Tubuhku Ingin Menjelma Padi
yang Merunduk (2017)
• Tubuh Lumping (2018)
• Semua Sakit Juga II (2018)
• Hantu Plastik (2018)
• Blackout Munir (2017-2018)
• Monotubuh Hantu Plastik (2018) • Godot Menunggu (2019-2020)
• Rumah C-19 (2020) dan saat ini sedang persiapkan Seven Presiden, Presiden Kaspar untuk 2023-2024

Rachman secara dunia pendidikan merupakan Sarjana Muda Teater ASTI Bandung S1- STSI Surakarta Penciptaan Tari, S2- IKJ Penciptaan Teater, S3- ISI Surakarta Penciptaan Seni. Ia mendapat penghargaan seni dari Walikota Bandung, endapat penghargaan seni dari Gubernur Jawa Barat, Mendapat penghargaan seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Hut 40 tahun Teater PayungHitam

Rachma Sabur dalam acara Hut 40 tahun Teater PayungHitam (Sumber Foto: Akun Instagram PayungHitam Foundation)

Dalam credo Tubuh ia katakan bahwa: “Bukan tak percaya pada kata-kata, namun kata telah banyak kehilangan makna. Maka biarkanlah tubuh bicara dengan bahasanya yang jujur dan lebih bermakna. Yang terkandung dalam spirit dan filosofi tubuh tradisi nusantara,” jelasnya.

Dalam karyanya ia juga terkadang melontarkan puisi yang dijadikan bahan dari sajian pentas antara lain puisinya:
Puisi Tubuh Rachman Sabur

Di negeri batu

Batu bertubuh bapak Batu bertubuh ibu Batu-batu beranak batu Batulah aku
Keringat mengucur dari tubuh- tubuh pada leluhur
Menjadi lautan garam berdarah garam
Darah bagi kehormatan Tubuh-tubuh berkalang tanah Madura!

Bersama gerimis jatuh Aku menyusuri kotamu Masih seperti dulu
Basah dan murung
Tak sepi
Tak juga mati
Lukisan tubuh-tubuh mural Di sepanjang jalan kotamu Beringas dan liar melawan kemapanan

Rupa tubuh aktor di panggung kenapa mati?
Kursi-kursi tanpa penonton Rupa-rupa tubuh pura-pura di panggung
Tak ada kursi
Tak ada penonton

Matahari membakar tubuhku
Tak lagi tangguh
Bila waktunya tiba
Waktuku tak lagi bertubuh seperti pohon runtuh

Aku mendengar Hujan menyanyi Bersama angin

Aku menyaksikan Tubuhmu menari Bersama hujan Aku.
Tubuhku menari
Bersama angin
Bersama hujan
Bersama tubuhmu diatas awan

Tubuhku
Ingin menjelma padi merunduk

Abstraksi Rachman Sabur Abstraksi. Ya, Rachman Sabur, abstraksi reaksi zaman teater terkini. Ketika dunia dihadapkan pada momok pandemi, bagaikan raksasa hitam tak terkalahkan, maka hanya perlu sedikit bersilat, dengan cara, mentaati protokol kesehatan, raksasa hitam-pandemi itu mampu dikalahkan.

Teknologi, boleh saja berkelana sesuka hati, dengan cara apapun, namun, impresi- ekspresi karakter panggung seni peran teater-redup seketika, mau tak mau, siasat mencoba membangun peran, meski tak tampak menyeluruh sublimasi estetika panggung seni peran teater-masuk dalam kotak kaca daring, sebab teater bukan film, meski, teater bukan musuh dari film.

Dengan cara pentas seni teater melalui layar kaca daring. Keren? Enggak. Boleh saja ada sementara anggapan bahwa seni peran dari panggung mudah di siasati-bagaikan membalikan telapak tangan, pada era kini, secara kontemporer situasi dunia marak di guncang-guncang kalimat pandemi, mendadak populer terbang ke langit, bagai makhluk alien dari planet antah- berantah.

Tentu, tak sedemikian rupa, seharusnya, terjadi pada seni peran panggung teater, meski upaya seni teater mencoba membangun seni peran-daring, penyempitan aura pakem kreatif teater, masuk dalam frame, semirip film, disebut ranah video-dalam kotak kaca. Indah? Enggak juga tuh. Ada banyak hal, kehilangan-estetika atmosfer esensi pemeranan, inti-dalam lini estetika panggung pemeranan-valid. Seni dramatik, pada pencapaian atraksi reaksi pemeran kepada penonton atau sebaliknya, tak terperangkap eksis dramatik-dramaturgi, alur mengalir dari penonton menuju panggung peranan atau sebaliknya-seperti sirna.

Hal itu, merupakan sebuah kilas titik balik, terpenting, aksi reaksi humanitas berbudi peranan, dengan, akal budi penontonnya, tak tergantikan oleh sekadar tekno merekam peristiwa, meskipun melalui teknik kamera-termasgul sekalipun, semisal, close up- medium close up ataupun establishing shot, sekalipun dengan teknologi, drone camera by shot, dari berbagai sudut pandang kamera.
Karena, manusia panggung-tubuh, inheren ruh, mengungkap aktualitas pemeranan laku dalam-realitas tubuh menyatu dengan ruang, meruang panggung, dalam setiap matriks terukur, langkah pemeranan-
aktor.

Lantas apakah, Rachman Sabur, bersama Kelompok Payung Hitam, mampu menyulap tubuh teater-dalam daring teater tubuh? Meski telah dilakukan oleh Payung Hitam, pada kisah adaptasi ‘Waiting for Godot-Samuel Beckett’, beberapa waktu lalu-lewat media daring.

Itu bagian perjalanan dari Rachman Sabur bersama kelompoknya teater Payung Hitam, namun perjuangan masih panjang dan Teater Payung Hitam adalah sebuah momentumnya dalam menghadapi penghargaan di usianya yang ke 40 Tahun pada bulan Desember 2022 ini.

DARI KATA MENUJU TANPA KATA adalah cara TEATER PAYUNG HITAM 1982 – 2022 yang mana telah memberikan apa yang namanya militansi & etos yang tak pernah berhenti di dalam drama.

Inilah drama yang sebenarnya panggung keberadaan hidup yang nyata  menjadi cara kita menjalani ketulusan tanpa harus banyak bicara.  Kelompok Teater Payung Hitam dahsyat. Perjalanannya adalah sebuah kisah yang sangat punya nilai. Kelompok Teater Payung Hitam merupakan paling punya kekuatan dan kompetensi bagi kelompok teater kontemporer saat ini. Kelompok Teater Payung Hitam pula bagian ruang besar teater kontemporer papan atas dan berorientasi masa depan di tanah air.

Akhirnya untuk Kelompok Teater Payung Hitam saya sampaikan. Viva Teater Bravo……!!!

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi MEDIA SENI.CO.ID dan MAJALAH SENI, pencinta Kopi dan kuliah di teater.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *