Seni dalam Perenungan Sosiologis

Oleh Jonnie Kirman 

Menyertai Pameran Senirupa dengan tema “Mendengarkan dan Merayakan perbedaan” pada tanggal 15 Mei 2022 di Gereja Santo Aloysius Gonzaga, Surabaya, Jawa Timur, Sebagai salah satu seniman yang turut serta pada pameran tersebut, memberikan penelaah dari sudut pandang kesejarahan Senirupa dengan Gereja, dan realitas kehidupan senirupa Indonesia secara umum, khususnya dalam pameran tersebut. 

Melihat kembali perjalanan dari sejarah senirupa, khususnya pada era abad 14.an dimana kemajuan Senirupa ditandai oleh kehadiran para seniman seniman yang mumpuni, (maestro) dengan penelitian dalam proses penciptaan karyanya, yang telah memberikan sumbangsih pada kemajuan ilmu pengetahuan, dan mempengaruhi senirupa di-dunia. Sebut saja Leonardo Da Vinci yang membuat ide atau sebuah gagasan “pesawat terbang”, mendesign bendungan, dan tentu saja salah satu karya terbaiknya, dari eksprimental penelitiannya pada lukisan Perjamuan Terakhir, (The Last Supper) yang diimplementasikan dari interpretasi sejarah di-Alkitab, perjamuan terakhir Yesus Kristus seminggu sebelum memasuki kesengsaraan hingga mati diatas kayu salib (Jumat Agung). 

Yang menarik adalah kontroversial dari lukisan Monalisa yang menggunakan tehnik Sfumato, dan begitu fenomenal terkenal, karena pernah dicuri oleh salah satu pekerja (Vincenzo Peruggia) di museum Louve, hingga beritanya tersebar luas melalui surat kabar diseluruh dunia dan menjadi polemik, hingga menimbulkan kemarahan publik. Dan setelah beberapa tahun kemudian lukisan itu ditemukan, dan dikembali ke Museum Louve dan dipasang kaca anti peluru, dan dijaga lebih ketat. 

Di dalam sebuah ruang acara diskusi pewacanaan senirupa di Jawa Timur saya sempat di-undang, dan menghadiri acara tersebut, yang di paparkan oleh seorang Dosen senirupa bergelar Doktor, dan ia memberikan wacana atau gagasan senirupa Indonesia kepada para seniman yang hadir, untuk merespon lukisan Monalisa yang sangat terkenal tersebut, dengan “merusak” lukisan wajah Monalisa dengan tambahan taring seperti drakula, atau dilukis seperti Mak lampir, lalu sang dosen dengan mempertanyakan dimana letak bagusnya lukisan asli Monalisa tersebut, dan seterusnya. 

Foto publikasi acara pameran “Berjalan bersama, Mendengarkan dan Merayakan Perbedaan” (Sumber: www.kliktimes.com)

Sang narasumber tidak menjelaskan bagaimana sejarah lukisan Monalisa itu bisa tercipta, dan bisa menjadi begitu terkenal, bahkan narasumber tidak menjelaskan siapakah pelukisnya. Apakah narasi pewacanaan senirupa seperti itu dapat mengairahkan, menumbuhkan proses kreatifitas penciptaan karya seniman, dan para calon seniman, untuk berkarya secara otentik, atau malah menjadi sesuatu skandal pendidikan akademik yang mendokma, bahkan dapat mempolalisasi pikiran jadi sesat, dan telah mendekontruksi dari proses Pewacanaan kesenian itu sendiri. 

Maka para seniman sejati perlu mengkontruksi kembali nilai nilai sosiologis sejarah tersebut, sehingga makna esensial pada proses sebuah penciptaan seni yang dapat menginspirasi. Pewacanaan dan kritik seni perlu menempatkan posisi estetika, dan mendapatkan kontruksi yang memiliki dasar dasar etika dan pemaknaan yang dapat membangun kemanusiaan, untuk peradaban manusia. 

Bagaimana dengan seniman Michelangelo (Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni) juga merupakan seorang arsitek yang ada pada jamannya, bukan hanya karya patung patungnya yang luar biasa tapi juga lukisan. Ia Michelangelo telah melalui suatu proses panjang dengan sebuah penelaahaannya pada pembedahan mayat “curian” (Autopsi) dan hukum yang berlaku pada waktu itu dengan “mencuri” lalu membedah mayat merupakan suatu pelanggaran (dosa) yang sangat berat hukumnya. 

Dan pada akhirnya catatan itu telah memberikan sumbangsi pada kemajuan ilmu kedokteran di dunia, dan tentu saja dengan apa yang Angelo lakukan menjadikan tehniknya begitu presisi, pada anatomi manusia untuk karya-karyanya, kita sebut saja karya Patung Pieta, Patung David yang dibuat dari marmer pilihan, dan dipotong dengan penuh perhitungan yang sangat presisi, dan ia juga menganalisis, cara untuk pengangkutan bahan dari gunung marmer hingga dapat dibawa sampai ke “studio,” dan pengerjaannya sendiri tercatat menghabiskan waktu hingga tiga tahun. 

Menurut kuliah sejarah yang saya dapatkan, ketika Michelangelo mendapatkan (Proyek) pengerjaan patung David itu, ia sempat “berkompetisi” atau bersaing dengan Leonardo Da Vinci yang juga berusaha untuk mendapatkan pekerjaan patung David tersebut secara jujur, dan beretika. Dan tentu masih banyak lagi karya karya patungnya Angelo yang belum disebutkan. 

Dan salah satu karya lukisan terkenal Michelangelo adalah interpretasinya dari Kitab Kajadian, hingga Kitab Wahyu, di Kapel Sistina, dengan rancangan Konstruksi Perancah atau Penyanggah yang presisi (sekarang dikenal dengan nama Scaffolding) dan telah menghasilkan sebuah maha karya lukisan di-atas kubah Gereja, dengan tehnik dan perhitungan yang dikembangkan oleh Michelangelo maka ia diperhitungkan juga sebagai seorang arsitek. 

Sekarang saya akan masuk untuk menginterpretasi kompetisi dua seniman “raksasa” tersebut, dan seharusnya kompetisi itu merupakan sebuah persaingan yang sehat, dan beretika dari para Maestro tersebut, dengan hasil Maha Karya yang mereka wariskan, yaitu antara Leonardo Da Vinci dengan Michelangelo. 

Maka ada satu nama lagi yang patut diperhitungkan, dan perlu dicatat sebagai salah satu maestro yaitu, Raffaello Sanzio da Urbino atau bisa juga disebut Raphael yang juga pernah hidup sejaman dengan kedua Maestro Seniman yang telah disebut sebelumnya. 

Dari sekian banyak karya lukisan dari Seniman Raphael saya akan meminjam, dan menginterpretasi dari karya School of Athens saja, yang dipararelkan dengan Seni didalam perenungan Sosiologis pada kehidupan manusia dalam tulisan ini.mSudah ada publikasi jurnal filsafat yang membuat sintesis dari karya School of Athens ini, dan ada beberapa analisis karya tulisan yang dapat kita temukan dari jelajah di Google. 

Untuk menginterpretasi pemikiran dari karya lukisan School of Athens itu, terdapat beberapa kelompok Filfup Stoick yang dilukis, namun saya hanya akan fokus pada filsafat Timaeus Plato dan Ethic Aristoteles yang menjadi sentral dari karya lukisan tersebut, dan akan saya pararelkan benang merahnya dengan proses pergulatan kehidupan para pelaku seni, seniman, atau masyarakat Indonesia, dan akan dipaparkan dibagian berikutnya. 

Di dalam filsafatnya Plato memiliki suatu „ide kesempurnaan‟ yang abadi, tentang sesuatu yang ideal diatas sana, (the ultimate) yang dikontraskan dengan realitas kenyataan dunia keseharian dari Aristoteles (Ethic) yang relatif atau kesementaraan, dunia yang fana, yang terus tarik menarik pada tatanan etika kehidupan manusia didalam ruang dan waktu, sebagai mahluk yang paling cerdas di muka bumi. 

Lantas apakah signifikansinya terhadap para kreator senirupa, atau Seniman di-Indonesia, seperti telah dipaparkan sebelumnya, dengan berkembang, dan terus berbenahnya demokrasi politik, sosial ekonomi, pendidikan dan kebudayaan yang bergerak begitu cepat. 

Maka ekses pola pemikiran masyarakatnya menjadi terpolarisasi, oleh kepentingan dan kebutuhan hidup masing masing individu, maupun kelompok kelompok masyarakat, sehingga terjadi persaingan saling silang, jegal menjegal, atau berkompetisi antar individu, maupun kelompok yang saling menikam, sehingga tidak dapat lagi ditangkap oleh nalar yang sehat, dan tidak lagi beretika, maupun gambaran besar makna dari sebuah estetika kehidupan. 

Indonesia sebagai Negara yang terus berkembang, berbenah, didalam demokrasi politik pasca reformasi 1998 dengan berbagai pergulatan, persoalan, di berbagai lapisan masyarakat tentang arti sebuah nilai kebebasan, demokrasi yang kadang rada kebablasan, sehingga dengan begitu banyaknya kelompok elit partai politik, yang tarik menarik untuk kepentingan kelompoknya, dalam meraih kekuasaan, termasuk maraknya radikalisme religius yang terus merongrong, menebarkan kebencian, tanpa tegak lurusnya hukum di dalam pengimplementasiannya. Sehingga kadang hukum itu menjadi timpang, terhadap suatu kebenaran di dalam hukum itu sendiri, dan banyak pejabat yang turut menyalagunakan kekuasaannya, serta yang turut bersumbangsi terhdap terjadinya “penjarahan” yang masif terhadap politik, hegemoni kekuasaan, kapitalisasi ekonomi, manipulasi dan pengebirian dunia pendidikan dan kebudayaan. Maka masyarakat luas turut kehilanggan esensi, dari inti empati kehidupan manusia. Dan kesemuaannya itu telah menjadi begitu hipokrit dan absurd. 

Pada masa Pandemi yang melanda seluruh dunia termasuk juga Indonesia, dan harus kita hadapi untuk dilalui selama dua tahun lebih, dan semuanya itu telah memporak porandakan sendi sendi kehidupan umat manusia. Dan kita sebagian besar masyarakatnya yang rada gagap, “dipaksa” untuk berinteraksi dengan teknologi yang tidak dikuasai, dan menerima berbagai sumber informasi instan yang tidak memiliki validasi yang sahih, sehingga tatanan kehidupan sosial budaya masyarakat menjadi begitu rentan dan rapuh. Dan apakah signifikansi kemunduran tatanan sosial budaya dan ekonomi didalam masyarakat, bagaimana dengan proses kehidupan dan konsistensi kekaryaan para seniman dan pelaku seni. 

Kesenjangan ekonomi, maupun kesenjangan pendidikan, merupakan sebuah masalah besar, untuk dicapai pada tingkat kebenaran, dan pengetahuan yang esensial. Sebab keterbatasan “jembatan”, dalam mencapai sebuah pengetahuan ideal, serta wawasan sumber daya manusia yang komprehensif, dan efektif belum terjembatani, sehingga ketimpangan itu telah membuat sebuah jurang perbedaan yang cukup mendalam, dan luas di-antara individu dan kelompok masyarakat. 

Maka dengan keterbatasan akses lapangan pekerjaan itu juga, merupakan sebuah persoalan besar dari kebutuhan pokok kehidupan, dari sebagian besar kesejahteraan masyarakat, maupun terhadapat akses pendidikan yang komprehensif, sehingga alternatif perluasan lapanggan kerja, atau pengembangan sebuah profesi, pada pekerjaan atau profesi diluar yang eksakta, maka penggembangan yang ekspansif dilakukan supaya tetap ada kelanjutkan eksistensi, untuk memenuhi kebutuhan hidup didalam masyarakat. Maka ada yang berdagang, menjadi buruh, penjual jasa, menjadi guru les, menjadi politisi, dan seterusnya, atau menjadi pekerja seni. Bahkan dengan berbekal sebuah bakat saja, tanpa memiliki landasan penggetahuan yang konstruktif, berburu untuk dapat menjadi seorang “Seniman” ternama, dan itu adalah sebuah pilihan profesi yang cukup sexy. 

Dengan timpangnya pemahaman standar kehidupan, dan demokrasi politik, sosial ekonomi, dan kesetaraan dalam mengakses terhadap dunia pendidikan di-masyarakat, menjadikan kesemuaannya itu merupakan suatu pekerjaan rumah yang besar. Kesemuaannya itu merupakan tanggung jawab dari seluruh golongan dan lapisan masyarakat Indonesia. 

Para seniman sejati didalam proses “Penciptaan” sebuah karya senirupa, memiliki beberapa landasan pokok yang harus dipahami. Pada awal proses penciptaan sebuah karya seni lukis, dengan mempersiapkan spanram yang presisi dan baik, mutu dari pelapisan – pelapisan kain kanvas, dengan standar tertentu yang harus dicapai, dan dapat terpasang dengan baik pada bidang di spanram yang telah dipersiapkan. 

Memiliki konsep penciptaan karya yang otentik, dan tentu saja didukung dengan penguasaan tehnik yang konstruktif dan komprehensif. Memiliki pengetahuan dan wawasan filosofis, maupun nilai nilai teologis yang ultimate, tentang manusia, dan alam semesta, serta dapat mengintegrasikannya kedalam luasan pada bidang kanvas, sehingga hasil karya lukisan tersebut memiliki komposisi yang otentik, dan bermakna pada sebuah estetika “pencipataan” seni. 

Dan bagaimana sumbangsi kita para Seniman Sejati.
Apakah masih ada sebuah kebenaran filosofis yang dapat kita mengejahwantahkannya, sebagai suatu bagian tanggung jawab kehidupan sosiologis, dengan pergulatan estetika dan etika kemanusiaan. 

Apakah kesemuaannya itu hanya akan menjadi sebuah anti tesis, atau tetap dapat menjadi sebuah benang merah yang Paradok, untuk diwariskan pada generasi mendatang, sebagai sebuah cerita indah pada Bumi Nusantara ini. Filsup Soren Kierkegaard mendefinisikan eksistensi manusia menjadi tiga bagian: 

-Eksistensi Estetika, pada tataran yang paling mendasar, dalam aktualisasi diri didalam kehidupan manusia yang hanya berpusat pada dirinya sendiri saja. 

-Eksistensi Etika, pada tataran tingkatan yang lebih tinggi karena keutuhan atau kepentingan, tenggang rasa pada orang lain, diluar dirinya sendiri, sebagai sebuah Rasa Empati yang memiliki nilai nilai yang hakiki. 

Dan pada akhirnya memuncak pada tataran 

-Eksistensi Religius, yang melampaui dari Eksistensi itu sendiri, dan melompat pada pencapaian sesuatu yang Ultimate. 

Kota Batu, 25 November 2022 

*Penulis adalah seorang seniman lukis dan patung dengan latar belakang arsitek, fotografer, dan menulis puisi. 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *