Catatan Harian di Gran Canaria: Petani Jawa dan Rumah Kolumbus

Oleh Sigit Susanto

Bungalow Parque Bali

Mencari Matahari
Pandemi lama membungkus tubuh di sini
Ketika musim gugur tiba
Kami mencari matahari

Sabtu siang, 5 November 2022 saya dan Claudia Beck, istri saya meninggalkan kota kami di Zug, menuju bandara Zürich, Switzerland. Kami akan berada di Gran Canaria selama satu Minggu, hingga 12 November 2022.

Tiga Minggu sebelum keberangkatan berlibur ke Gran Canaria ini, kami sudah melakukan vaksin yang ke empat dengan moderna.

Suasana bandara Zürich yang kabarnya lengang di masa pandemi, karena jarangnya pesawat, saat ini terasa cukup ramai, proses chek-in, pemberian koper berjalan dengan lancar sampai memasuki pesawat Swiss Edelweis.

Mengingat kami belum pernah meninggalkan Swiss untuk berlibur sejak tiga tahun terakhir, sejak corona menjadi ancaman manusia, maka kami selalu berhati-hati.

Memasuki perut pesawat, kami sudah memakai masker dan ternyata perjalanan selama empat jam dari Swiss ke Gran Canaria, Spanyol, hanya kami yang memakai masker.

Sesungguhnya kami melancong ke Gran Canaria sekarang ini bukan yang pertama, melainkan yang ke empat kalinya. Untuk itu kami cukup mengenal dengan baik pulau ini.

Ketika pesawat memasuki langit wilayah Gran Canaria, saya merasa suhu udara sudah hangat, walau suhu di dalam pesawat sudah diatur standar. Tapi perasaan saya seolah sudah berada di daratan pulau ini.

Di bandara Las Palomas, ibu kota Gran Canaria, suasana hampir sama dengan di bandara Zürich. Para pelancong berhamburan keluar dan mobil pengangkut sudah menunggu.

Bus dari agen wisata Jerman TUI mengantar para pelancong dari bandara ke berbagai hotel besar dan sopir lupa dengan penginapan kami bernama Bungalow Parque Bali. Sebab itu kami tidak turun dari bus, kemudian sopir merasa bersalah dan kami diantar ke penginapan sebagai pelancong terakhir.

Sejak dari Swiss saya sudah sengaja memakai kaus bertuliskan BALI, kaus yang saya beli di Tanah Lot, Bali.

Parque Bali Bungalows, Gran Canaria (Sumber foto: Sigit Susanto)

Remang telah turun dan setelah kami menerima kunci penginapan, saya bertanya kepada petugas di reception, kenapa nama bungalow itu Bali? Apa kaitannya dengan Bali, sambil saya tunjukkan kaus saya bertuliskan BALI. Rupanya lelaki jangkung itu hanya melihat kaus yang saya pakai, tapi tak bisa menjelaskan kenapa nama penginapan itu Bali?

Dengan mendorong koper beroda empat, saya dan Claudia melewati beberapa bangunan mungil dan sesampai di bungalow nomor 217, kami merasa kesulitan untuk membuka pintu, karena gelap. Tak lama, seorang pelancong Jerman yang tinggal berhadapan dengan bungalow kami datang menyorotkan lampu sambil menunjukkan di mana letak saya memasukan sepotong metal kecil yang menggantung di kunci pada lubang di ruang tamu. Metal sekecil jari bayi itu penting, sebagai penghubung, agar semua lampu di dalam ruangan bisa menyala. Pun kami mendapat pesan dari petugas hotel tadi, kalau kami meninggalkan bungalow, maka metal kecil itu harus dicabut bersama kunci, dengan begitu listrik di dalam tak akan ada strom lagi.

Seketika saya merasa ada di rumah sendiri. Di ruang tamu tersedia, sofa cokelat, TV, wastafel, kompor listrik, kulkas dilengkapi pisau, piring, gelas, serta peralatan masak lain.

Tapi karena kami tidak punya hobi masak, maka peralatan itu tak kami pakai. Pertimbangannya, daripada siang masak di penginapan, lebih baik untuk menjelajah ke tempat-tempat baru.

Sebelum larut malam, kami menuju restoran di dekat kolam renang. Tak ada banyak orang di situ. Setelah perut tersumbat makanan, kami kembali ke kamar untuk menghimpun energi baru.

Jalan Kaki ke Maspalomas

Tersesat di Labirin Kali

Siang Membakar Bumi
Kaki-Kaki berarak menuju gurun Maspalomas
Pulang tersesat pada kali-kali asat

Rasa penasaran saya paling besar yaitu pada pagi hari di tempat baru. Saya seolah seperti bayi besar yang lahir kembali. Bagaimana tidak, semua lingkungan baru itu menyegarkan rasa dan kesadaran. Claudia memilih naik tangga melingkar ke atap bungalow. Saya membawakan dua kursi ke atas. Kami duduk di teras yang memang ada altar untuk santai. Ke mana mata menatap, akan tertumbuk palem-palem kurma dan genting cokelat. Belakangan kami baru tahu, sepertinya penginapan yang atapnya ada tempat santai, hanya di tempat kami ini.

Di atas atap ini kami menakar jejak yang harus kami lakukan sehari itu. Selain, kami mengaktifkan wifi untuk telepon genggam kami, di tangan Claudia sudah memegang peta.

Tangga melingkar di Parque Bali Bungalows (Sumber foto: Sigit Susanto)

Menjelang siang kami menuju dua halte bus umum di depan penginapan untuk memotret jadwal bus. Setelah itu kami memulai menapaki jalan-jalan di antara taman, palem dan dinding hotel. Bertemulah kami dengan sebuah kali besar tanpa air sedikitpun. Kadang saya berpikir, untuk apa dibuatkan jembatan dan dinding kali diperbaiki, kalau tak ada airnya. Claudia menyela, katanya di musim semi kadang ada air mengalir.

Minggu menggantung di awan. Jalanan sedikit lengang. Ketika kami menyeberang jalan pada jalur setrip putih, mobil-mobil taksi warna putih bergaris merah tua mengerem lajunya dan berhenti dengan sabar. Saya menilai sopir mobil di sini cukup sabar dan ramah, ketimbang di beberapa negara Eropa lain.

Sebelum menyeberang jembatan, tampak ada dua jalur yang hendak kami lewati. Antara kami membelok ke kiri dengan pepohonan gersang atau lurus dengan palem hijau berderet. Claudia terpikat jalan lurus. Ternyata jalan itu semakin menjauh dari tujuan kami. Kami saksikan di samping kiri ada pekarangan hotel besar dengan kolam renang di tengahnya ada patung gajah besar. Pasti anak-anak kecil suka.

Jalan yang kami pilih tak menguntungkan, karena tak kunjung sampai tujuan, maka kami membelok ke kiri, tibalah di kali asat lagi.

Surga Kaum Nudis dan Gay

Di sepanjang jalan kami berpapasan dengan dua atau empat laki-laki yang tampak seperti saling berpacaran. Kadang mereka saling bergandengan atau ciuman. Kaki terus menapak, di samping kiri ada plang bertuliskan Lo Mas. Seolah saya berada di Jawa, ternyata itu kependekatan nama pantai dan gurun pasir Maspalomas.

Di pertigaan jalan kami membeli ice cream, kemudian bergerak menyaksikan taman dengan palem-palem kurma setinggi pohon kelapa di Indonesia. Burung betet beterbangan ke sana kemari. Walau pulau ini gersang secara umum, tapi di taman itu rumputnya hijau. Taman ini favorit Claudia. Ia selalu ingin tengok taman kurma dengan daun palem menjuntai melingkar seperti payung, mirip pohon-pohon kelapa di pantai Senggigi, Lombok.

Kami berbalik arah menuju pantai dan melihat ombak menari liar. Tampak banyak orang bermain surfing. Kami membuka ransel dan mengeluarkan kapal-kapalan dari bahan parasit yang kami beli dari Thailand dan bisa dipakai rebahan. Dengan membuka perahu parasit itu, udara saya kumpulkan ke dalam dan diikat, jadilah perahu siap dipakai rebahan di atas pasir.

Tak jauh dari kami rebahan di kapal itu, ada plang bertuliskan Zona Nudista, Nudist Area, FKK. Orang muda dan tua berjalan lalu lalang tanpa pakaian. Mereka seperti sudah terbiasa. Di gurun pasir berbukit-bukit itu kebanyakan terisi kaum nudis dan para gay. Mereka duduk-duduk di semak-semak atau rebahan di hamparan pasir lembut. Di beberapa handbook Gran Canaria selalu disebutkan, bahwa di sini lah surganya para nudis dan kaum gay. Pemerintah melindungi objek ini.

Secara geografis Gran Canaria dekat Afrika barat, namun secara administrasi ikut Spanyol. Sebab itu di musim gugur dan awal musim dingin di sini suhu udara masih panas, sementara negara Eropa lain sudah dingin.

Angin cukup kencang, perlahan kami undur diri dengan melipat kapal parasit ini menjadi semacam tas cangklong kecil. Praktis memang. Kedua perahu yang sudah menjadi tas itu hanya saya masukkan ke dalam ransel.

Lagi-lagi Claudia memegang peta di tangan. Langkah ke langkah menuju penginapan, sayangnya terasa tak semakin mendekati penginapan, namun memutar jauh.

Kaki terus menepuk jalan aspal kasar di tepi kali asat. Wajah Claudia sudah tampak tak segembira seperti saat berangkat. Walau taksi berseliweran, namun kami tetap cinta berjalan kaki. Pada titik tertentu, kami kesal sekali karena ternyata tak semudah yang dibayangkan, walau peta di tangan. Saya teringat ada profesor yang mengajar di Venesia, kesasar mencari tempat tinggalnya sendiri. Bisa dipahami ada sekitar 400 jembatan dan ratusan gang kecil di Venesia. Tapi di sini jalannya besar dan tidak banyak jembatan.

Di tengah keletihan, ada ibu-ibu warga setempat jalan-jalan menuntun anjing mereka. Claudia bertanya dalam bahasa Spanyol kepada salah satu ibu yang menuntun anjing hitam. Ibu itu menunjuk ke arah kiri, kemudian disuruh belok kanan.

Dengan sisa tenaga yang ada, sebelum remang turun sampai di paha, kami sudah sampai di pagar belakang penginapan kami. Ciri penginapan kami yakni atapnya ada teras terbuka untuk duduk-duduk.

Lemas menjemput di sekujur tubuh, saat kami memasuki pintu penginapan. Betapa lelahnya, kuncinya satu bagi saya, yaitu langsung mandi. Benar, usai mandi tubuh segar kembali.

Tak lama lagi kami mengisi perut di restoran, yang tempatnya bisa dijangkau dalam lima menit jalan kaki. Dari teras restoran kami duduk di meja bundar, sesekali saya menatap bulan bundar di atas genting bungalow.

Las Palmas

Ombak Menyambut

Ombak murka menggapai langit
Kolumbus bersemayam di rumah tua
Aneka buah memerah di pasar

Senin belum benar-benar lahir, kami berjalan menuju halte bus bersarung gelap ditemani beberapa lampu bundar di taman dan salah satu lampu itu adalah bulan bundar yang pulang terlambat. Di halte sudah menunggu dua penumpang Masker sudah menutup mulut dan hidung, bus cepat antarkota jurusan Las Palmas mendekat pelan dan kami memasuki serta duduk di belakang. Dari halte ke halte naik anak-anak muda. Sepertinya mereka para mahasiswa dengan ciri khasnya membawa tas dan tumpukan buku serta ada yang mengerjakan tugas dengan laptopnya di dalam bus.

Sepagi itu saya belum melihat ada pelancong di bus. Adanya orang-orang lokal. Saya amati beberapa penumpang muda itu saling bercakap sambil menurunkan maskernya. Ada juga lelaki yang duduk di kursi depan saya, maskernya tidak diletakkan secara benar, hidungnya masih telanjang sambil kedua telinganya disumpal alat pendengar musik tanpa kabel.

Setiba bus memasuki terminal Las Palmas, tepat satu jam lima belas menit perjalanan ini. Terminal bus di bawah tanah itu masih seperti dulu waktu kami datang. Kami menuntaskan ke kamar kecil sebentar, langsung keluar dari bawah tanah, menuju kota tua.

Karena perut belum terisi, sarapan pagi di penginapan kami abaikan, karena harus berangkat lebih pagi. Mampirlah kami ke sebuah kedai bukan minum kopi, karena kami berdua tak pernah minum kopi. Kami memesan dua gelas juice jeruk segar dan gipfeli nama Swissnya, kalau nama umumnya croissant.

Menyadari kedai itu cukup bersih dan menarik, kami tak langsung pergi, tetapi makan gipfeli  dan minum air jeruk di situ. Saya amati, perangai orang-orang Spanyol lebih aktif dan ceria ketimbang orang Swiss yang saya temui.

Tubuh cukup bertenaga kembali, kami menyongsong pagi dengan aroma Spanyol. Di jalanan di antara pertokoan, kami menyeberang jalan besar dan masuk pasar buah. Di pasar buah itu kami memperpelan jalan karena tertumbuk kios-kios buah warna warni.

Dengan mudah kutemukan pepaya, pisang, buah naga, markisa, sirsak, dan tentu saja mangga dari berbagai jenis. Yang alpa adalah buah nangka dan durian. Saya membeli mangga dan ditimbang dulu dengan harga 3 Euro. Sedang Claudia membeli jambu yang sudah dipotong-potong seharga 2 Euro. Belakangan jambu itu ditaruh di kulkas penginapan aromanya menyengat, setiap kulkas dibuka dan rupanya Claudia menyukai aroma jambunya.

Pasar buah di kota Las Palmas (Sumber foto: Sigit Susanto)

Kaki menjejak ke katedral Santa Ana yang di depannya sedang ada petugas kebersihan menyemprotkan air dari tangki mobil dengan keras ke arah patung-patung anjing dari bahan perunggu berwarna hijau tua.

Di depan katedral samping kiri terdapat bangunan tua bertuliskan Casa Museum De Colon. Gedung tua ini ternyata dulu pernah ditempati Kolumbus. Kolumbus mendarat di pelabuhan Las Palmas pada 9 Agustus 1492 dengan tiga kapalnya bernama Santa Maria, Pinta dan Nina. Di gedung inilah Kolumbus menginap dan sekarang tempat ini dibuat museum Kolumbus.

Rumah lama Kolumbus, Las Palmas (Sumber foto: Sigit Susanto)

Kami tinggalkan rumah Kolumbus dan turun ke terminal bus. Bus warna kuning dengan sopir perempuan membawa kami ke pantai Las Palmas. Sebelum bus berhenti di halte dekat pantai, Claudia sudah membisiki, ada ombak besar di pantai.

Ia menyuka air terutama ombak laut. Sejak usia dua tahun, katanya dibawa ke danau dan dia merangkak menuju permukaan air danau. Dia melihat ombak besar lewat jendela kaca bus yang kebetulan melewati jalan-jalan di antara pertokoan.

Benar adanya, deburan ombak serakah. Air laut bergelombang liar. Buih-buih putih mendarat menggenangi bebatuan yang membuat tikus-tikus berlarian, mungkin lubang persembunyiannya tergenang air.

Beberapa orang menggendong alat selancar dan menaklukkan gelombang ganas. Claudia minta duduk di tembok berjarak sekitar sepuluh meter dari mulut pantai.

Beberapa saat kemudian kami berjalan menuju sisi lain yang ombaknya sudah reda. Baru kali ini saya melihat air laut mengamok seperti di pantai Kuta, Bali. Di tepi pantai berdiri plang yang menunjukkan suhu udara 28 derajat celsius. Claudia sibuk memotretnya, untuk dikirim ke teman kerjanya di Swiss yang suhunya sudah sekitar 16 derajat Celsius.

Sigit dan Claudia di pantai Las Palmas (Sumber foto: Sigit Susanto)

Sepertinya ombak semakin reda dan sejalan dengan itu kami pun reda undur diri menuju ke terminal bus. Kami selalu memilih kursi di samping kiri, kalau pulang ke penginapan, karena agar selalu bisa melihat pantai. Dan di luar Las Palmas melihat tiang-tiang besar kincir angin. Tentu orang cepat tahu, kincir angin yang semakin banyak dari kunjungan kami sebelumnya untuk pembangkit listrik tenaga angin. Tapi tak semua baling-baling itu lancar bergerak, ada beberapa tiang yang macet.

Sesampai di penginapan, malam sudah padat.

Seruling Indian

Pasar Kaget

Tenda-tenda berjejer menjajakan lamunan
Pelancong memanen tas dan ikat pinggang kulit dari AfrikaSekarang di sini dan besok di sana

Selasa menerawang. Dua rangsel kosong hanya berisi dua botol kecil air sudah menggantung di punggung kami. Dengan naik bus umum ke arah Puerto de Mogan, kami turun di kota Arguineguin. Penumpang tumpah dan kami menuruni lorong perumahan warga.

Claudia tertegun dengan warna biru cerah yang melekat di sepanjang pagar tembok memanjang. Saya memotret rumah-rumah kecil warga. Rata-rata di pintu masuk dihias ikan atau kapal serta bunga.

Di ujung pantai kami bertemu lelaki tua memainkan biola. Lelaki tua berpakaian putih kotor itu di punggungnya menempel hiasan dua sayap putih. Seolah ia bidadari dari kayangan. Saya taruh koin satu Euro di kotak yang disediakan, tak saya duga, saya dipanggil dan diberi sepotong kertas bertuliskan:

www.petermatthiaskraus.home.blog

Facebook Youtube

Peter Matthias Kraus ARTIST

acfutbeli@hotmail.de

Saya coba buka facebook dan youtube di atas, ternyata dia seorang seniman patung dan pelukis. Jenis seni kits. Tapi saya apresiasi, cara mengenalkan karyanya dengan membagikan alamat akun di media sosial memakai sepotong kertas. Usianya yang sudah menua, dengan penampilan kumuh, teringat karya Kafka berjudul Seorang Seniman Lapar (Ein Hungerkünstler). Seniman yang kurus dimasukkan di sangkar dan menjadikan tontonan banyak orang.

Kami menjelajah dari deret tenda berjualan aneka asesoris ke tenda yang lain. Ada penjual tali kucir rambut perempuan asal Belgia. Ada pedagang tas, ikat pinggang kulit dari Afrika, ada penjual berbagai BH dan celana dalam merek uang Euro. Kami berhenti di tenda ini dan membeli beberapa celana dalam bermotif uang Euro warna hijau dan kuning. Ketika dibungkus, penjualnya kelakar; Kapatalis? Kujawab, sebaliknya sosialis. Ini untuk oleh-oleh.

Di antara tenda-tenda yang rata-rata jualan pakaian itu, kami terhenti di kedai tengah yang jualan crepe rasa cokelat. Rasanya dan bentuknya mirip kue terang bulan.

Saya melambankan langkah, ketika ada tiupan seruling bambu bernada melankolis mengiringi lagu El Condor Pasa. Seruling itu dimainkan oleh imigran dari suku Indian. Kalau tidak orang Equador, Gua Temala, Kolumbia atau serumpun jajahan Spanyol di Amerika Latin.

Belajar seruling suku Indian (Sumber foto: Sigit Susanto)

Claudia melanjutkan keliling pasar kaget ini, karena pasar ini setiap hari berpindah dari kota ke kota lain. Satu lagu selesai, saya melirik CD yang ia jual. Tapi saya lebih tertarik membeli seruling bambu yang formasinya dari beberapa bambu kecil setengah melengkung. Seruling itu harganya 10 Euro.

Kami meninggalkan pasar kaget dan dibuat lebih kaget tak jauh dari situ ada pantai yang dibuatkan tanggul. Tanggul setinggi satu meter itu persis di mulut pantai penuh batu. Dengan begitu ombak laut mengirim air laut masuk ke dalam semacam kolam renang, dan airnya segar dari laut.

Di sela-sela istirahat, Claudia memberi makan dua ekor merpati. Salah satu merpati warna putih krem itu selalu berguling jika berdiri. Kedua kakinya terjerat benang. Ketika saya datang, saya coba kasih pakan jagung itu saya dekatkan ke kaki saya, begitu ia mendekat langsung saya tangkap dan berhasil. Mulailah saya operasi kecil dengan mengeluarkan gunting dari ransel saya. Claudia bagian memotong benang yang menyangkut di kedua kaki merpati, bahkan satu kakinya sudah terjerat dalam, tampak darah hitam yang kering dan jari kakinya hampir putus. Perlahan, kami mendadak jadi tontonan turis lain. Dikira kami sedang apa dengan memegangi merpati. Setelah kami jelaskan, maka mereka mulai paham dan jeratan benang berhasil kami bebaskan dari kakinya. Saya lepaskan merpati itu dan terbang, bertengger di atas lampu trotoar. Tampak tenang dan bahagia, bebas dari jeratan di kaki.

Akhirnya kami berjemur di atas papan di tepi pantai penuh bebatuan hitam. Ada pasangan orang Jerman di sebelah bercerita, mereka sudah pensiun dan membeli rumah di kota Arguineguin. Bagi mereka kota kecil ini sangat indah, selain ada tiga pantai mengelilingi, juga suasana kehidupan dengan warga lokal masih kental. Sedang di kota-kota lain sudah komersil, karena banyak turis.

Kami herbincang-bincang dengan pelancong Jerman itu, sementara saya sambil melakukan yoga. Ketika gerakan asanas yoga saya hampir selesai, berdatangan ibu-ibu membawa tikar plastik. Tak lama kemudian, perempuan muda mengaku guru yoga mengulurkan kartu nama ke Claudia.

Di kartu nama itu tertera,

Lenka Solarova. tulenka76@gmail.com.

Yoga Classes by the sea. Gran Canaria, Spain.

Privat classes available.

Lelaki Jerman di depan saya nyeletuk kepada guru yoga, bahwa saya juga bisa yoga, tadi melakukan gerakan yang sulit. Maksudnya, kedua siku tangan dirapatkan dan disentuhkan pusar sebagai sandaran perut, sementara kedua kaki dilipat dan seluruh tubuh diangkat. Praktis kedua tangan yang menyangga seluruh tubuh. Wah, jadi malu saya disebut seperti itu. Untung guru yoga itu tak menggubrisnya.

Akhirnya kami hengkang dari pantai, kembali menapaki lorong-lorong rumah warga. Kesan saya, warga Gran Canaria ini cukup pendiam. Memang lebih banyak orang tua terlihat dan anak muda cenderung langka kami temui. Bisa saya pastikan, warga kota ini mencintai anjing.

Kami sering berpapasan dengan para pejalan yang menuntun anjing. Saya lihat seorang lelaki masih pakai seragam kerja bangunan warna biru, pulang ke rumahnya. Ketika ia membuka pintu dan mendorong dengan kakinya, anjingnya menyambut riang dengan ekor bergerak dinamis. Kebetulan saya bertemu lelaki itu lagi keluar rumah mengajak jalan-jalan anjingnya. Ketika anjingnya berak di rerumputan, ia pungut kotoran anjing itu memakai kertas bekas kertas lotto dan dibuang di tempat sampah.

Tradisi di Swiss pemilik anjing jika jalan-jalan dengan anjingnya membawa tas plastik kecil. Jika anjingnya berak di jalan atau taman, maka jari-jari tangan kanan pemilik anjing itu langsung membungkus tahi anjing, tentu masih hangat dan dibuang ke tempat sampah khusus kotoran anjing.

Di sini kebetulan kusaksikan kotoran diambil dengan kertas bekas lotto. Memang saya beberapa kali bertemu penjual lotto membawa lembaran kertas lotto dan berjalan dari gang ke gang lain sambil berteriak. Kalau di kita mirip penjual bakso di gerobak dorong atau tukang yang menawarkan jasa patri peralatan rumah tangga,

Petang belum turun, kami naik bus antarkota warna hijau menuju penginapan.

Jelajah Pantai dan Gurun

Sepeda Memperpendek Jarak

Roda-roda menggelinding di jalur kanan
Palem-palem kurma melambai lesu
Pantai Mas Palomas, Playa de Ingles berpagar gurun pasir

Rabu bercahaya. Usai sarapan serabi dan telur rebus di restoran, kami diangkut oleh mobil dibawa ke kompleks supermarket. Dari tempat bertuliskan Rent Bike & Moto Elemi ini kami naik sepeda menuju Mas Palomas.

Lagi-lagi Claudia sebagai pemandu saya, dia di depan sambil sekali-sekali berhenti melihat peta. Gantian, saat saya masih di Bali, saya yang menjadi guide dia dan rombongan turis Swiss.

Sepeda kami menggelinding dari jalan kecil bermuara di jalan besar. Palem-palem berserakan tumbuh di sela-sela pekarangan rumah. Jalur kali asat yang pernah kami lewati, kini ada di samping kami lagi.

Hotel Palm Beach di tepi pantai Mas Palomas di depan kami. Seperti kerinduan yang mendalam, sehingga sepeda dikayuh pelan berkeliling di jalan yang sama sampai tiga kali.

Akhirnya dua sepeda kami meluncur turun dan pantai selalu di samping kiri. Pantai itu namanya Playa de Meloneras. Betu-betul melo, mengingat ketika sepeda kami parkir dan Claudia sudah hendak renang, tiba-tiba ia tertatap bendera merah kecil tertancap di pasir. Hah, dilarang berenang. Disusul berulang-ulang suara dari pengeras suara dalam bahasa Spanyol, agar para pelancong tak boleh berenang. Pantas, rupanya banyak pelancong hanya berjemur ria dan kalau toh ada yang ke air, sebatas jalan kaki telanjang di atas pasir dengan percikan air laut kecil. Tapi untuk berenang, sama sekali tak ada yang melakukan satu orang pun.

Selamat jiwa kami. Tanpa ada rambu bendera dan himbauan pengeras suara, pasti kami sudah berenang. Lalu di mana letak bahayanya? Claudia mengira, karena di pantai itu ada pusaran air yang dalam dan bisa menyeret perenang. Belum lagi bebatuan hitam bersap-sap yang tak tampak dari permukaan.

Setelah duduk beberapa saat, kami melanjutkan perjalanan ke arah menara tinggi di Mas Palomas. Di sebelah menara itu kami duduk sebentar menikmati deburan ombak pantai. Sayang angin cukup kencang, sehingga kedua sepeda kami yang diparkir di sebelah hampir jatuh.

Dari sini kami keluar belok kanan dan menuju Playa del Ingles. Di perjalanan sekali-kali Claudia membuka peta lagi. Kami memasuki jalan beraspal ke arah yang kami tuju yakni Playa de Ingles. Ternyata jalur yang kami tuju ini salah, masuk ke kawasan bermain golf dengan hamparan rumput hijau dan di tengahnya ada semacam danau buatan. Tobil, tobil anak kadal, batin saya. Pulau gersang dan jarang turun hujan ini tak mudah ditemukan sumber mata air. Eh, di depan saya kaum pemodal menciptakan oase di tengah tanah kering.

Kami mencoba keluar dari kawasan elit ini dan sepeda balik arah ke jalan semula. Salah jalur ini kami syukuri bersama sambil membandingkan, untung pakai sepeda tidak jalan kaki. Roda sepeda bundar lebih mudah digerakkan ke mana kîta mau.

Kali ini kami yakin lewat jalan yang sedikit menanjak dan terpaksa kami harus mendorong sepeda, tibalah kami di atas area Playa de Ingles. Dengan memasuki jalan besar, tangan Claudia diacungkan ke kanan, lalu ke kiri, saya membuntuti saja. Sesampai di jalan lebar, saya sudah tak tahu orientasinya, Claudia nekat masuk jalan beton sempit. Saya ikuti saja, memasuki arena perhotelan dan keluar di jalan lagi, ia masuk gang kecil lagi dengan rasa percaya diri. Yang mengagetkan saya, jalur kecil yang dilalui Claudia itu bermuara ke pantai Playa de Ingles.

Hamparan pasir putih memanjang ke kiri dan kanan. Bravo, kata saya. Mengingat kami agak kecapaikan, sambil memandang lautan pasir dan laut biru, melihat di bawah sana ada supermarket dan saya turun membeli air dan ice cream.

Claudia menunggu sepeda di atas,. Sebuah tempat semacam trotoar beton yang lebar sangat panjang untuk berjalan dan bersepeda. Kadang saya lambaikan tangan dari bawah, ia pun membalasnya.

Sebotol air mineral dan ice cream berhasil saya bawa ke atas, lalu kami beranjak melanjutkan perjalanan turun ke pasir. Pada beberapa tempat kami berhenti mengabadikan panorama langka dalam catatan kesadaran.

Di tikungan ke kanan, ada jalan menurun ke kiri langsung di pasir. Saya coba membawa sepeda ke tengah pasir, ternyata berat. Nyaris roda-roda terbenam, termasuk sandal jepit di kaki saya.

Menaburi ingatan tentang pasir lembut itu, dianggap cukup, kami hendak pulang. Memasuki jalan raya lagi dan seluruh jari-jari tangan dimekarkan, tanda kami hendak lewat dan belok ke kiri.

Di samping kiri ada tempat lebar , seperti gardu pandang, tapi tak ada gardunya, untuk memandang daerah bawah, Di sinilah kami merawat jeda dan mengendorkan otot yang tegang menggenjot pedal.

Menara tinggi warna cokelat yang tadi pagi kami datangi, bisa terlihat dari sini. Mulailah kami menata ulang pecahan jejak yang telah lewat. Sepeda kami naiki lagi dan saatnya jalan menurun.

Pada perempatan jalan di sebelah kiri terdapat Biologi Park. Saya tak begitu tertarik masuk, walau gratis. Tapi Claudia penasaran dan akhirnya kami masuk bersama. Semakin ke dalam yang disebut kebun biologi itu, semakin tampak tak terawat. Penghuninya kucing-kucing di sela-sela tanaman.

Kami meninggalkan taman itu dan mengembalikan dua sepeda di toko persewaan di supermarket lagi. Pulang ke penginapan dengan jalan kaki dan kehilangan rute. Capek membuncah.

Arguineguin Bersolek

Palem Kurma Menunggu Senja

Tiga pantai memanggil-manggil
Kota ini bersolek
Tembok biru memanjang

Kamis berwarna ungu. Kami sengaja hendak seharian berjemur di tepi pantai yang ada tanggul di mulut pantai kota Arguineguin. Claudia hendak mencari salon sambil membawa pewarna rambut dari Swiss.

Tepat ketika kami turun dari halte bus di Arguineguin, aku menatap sebuah bangunan tua yang gordennya terbuka. Entah Claudia menatap ke arah mana? Saya langsung nyeletuk, itu ada salon rambut. Ia tak langsung yakin. Namun ketika kami mendekat, memang itu salon, tampak beberapa ibu di dalam ruangan sedang dipotong rambutnya.

Kami membagi waktu, saya turun duduk di bangku di trotoar menghadap laut dan dia akan sejam berada di salon.

Sesekali saya lempar jagung goreng yang saya sukai beli dari supermarket. Kawanan merpati mematuk biji jagung itu.

Laut memancarkan cahaya penuh harapan. Claudia datang, jalan kaki dimulai lagi. Berputar dan berputar dari lorong ke lorong, emperan rumah warga ke trotoar. Tampak ada tempat shower dan WC dibangun di tepi pantai dan masih baru. Kota ini sedang bersolek.

Di altar kayu seperti yang lalu saya melakukan yoga, kami tiduran menyangga langit biru. Sesekali saya membasahi tubuh dengan masuk ke air laut di tepi pantai  dan bergantian dengan Claudia. Saya yoga lagi di sela-sela itu.

Senja tiba kami berjalan menuju pantai di seberang, lewat perumahan warga. Saya terpana ada pohon flamboyan keluar dari tembok rumah warga. Betapa saya pemilik rumah itu, tak dibiarkan pohon flamboyan ditebang, tampak pohonnya di dalam tembok berbalut cor semen.

Di saat kami duduk di bangku mendengarkan kicauan burung betet hijau ynag ke  sana kemari, dua turis Jerman yang pernah kami jumpai ada di pantai. Mereka melambaikan tangan dan kami saling bercakap ringan.

Kaki melangkah lagi ke arah yang lain, tempat kafe-kafe berderet dan matahari hendak tenggelam. Ketika matahari menguning perlahan sembunyi, kami mengabadikannya dalam ingatan dan kamera di telepon genggam,

Sore pupus, kami pulang dengan bus.

Bertemu Orang Batak Karo di Puerto de Mogan

Tamu Pagi di Teras

Serombongan kecil burung puter berdansa riang di depan rumah
Mereka memungut biji-biji jagung yang saya sebar kemarin sore
Leher burung itu seperti berkalung ada warna hitam melingkar
Mereka berebutan dan tertawa seperti di tempat kita

Jumat senyap di gumpalan embun pagi. Jadwal hari ini pasar kaget berada di Puerto de Mogan. Sebab itu kami menuju. Bus biru terlihat hitam, karena pagi masih menjadi embrio.

Bus berlenggang membelah bukit-bukit dan memutar memasuki jalan tol. Penumpang tumpah di terminal. Deretan kios darurat beratap dan dinding plastik sedang berbenah.

Kaki menapak di antara rumah-rumah tua, hingga tiba di bukit kecil, tempat terindah menakar panorama pelabuhan. Di sini saya melihat ke bawah ada perempuan bermain yoga di teras. Melihat angin pagi yang masih malas, saya pun yoga di atas tembok sambil sekali-kali menatap panorama sekitar.

Ketika kami turun undak-undakan bertemu pengamen bergitar asal Irlandia yang pernah kami temui beberapa tahun silam.

Deret tenda penjual asesoris dan baju, celana, ikat pinggang dan pakaian. Saya menatap seorang perempuan yang menjual krem untuk perawatan kulit dari bahan Aloe Vera. Perempuan berkulit cokelat dengan rambut hitam bercampur putih itu saya lihat di Pasar Kaget di kota Arguineguin. Ada seorang penjual pita asal Belgia langganan Claudia yang memberitahu, bahwa di pasar itu ada orang Indonesia yang jualan, begitu ia mulai tahu saya berasal dari Indonesia. Sayang, saat itu saya lihat perempuan Indonesia itu sedang sibuk.

Kali ini masih pagi dan belum banyak pejalan yang beli, kedai dia pun tampak masih lengang, maka saya mendekat.

“Dari Indonesia, Mbak”

“Iya,”

Saya dan Claudia semakin mendekat. Layaknya pertemuan sesama orang Indonesia lain, meskipun di luar negeri, tetap tampak cepat akrab. Ia mengaku bernama Herlina Barus, batak karo dari Bukit Tinggi. Ia cerita bisa tinggal di Gran Canaria, karena kawin dengan orang Belanda yang tinggal di situ. Awalnya ia bekerja di Jakarta di perusahaan asing dan kenal suami di tempat kerja itu. Ia kalau mudik ke Sumatra bisa sampai tiga bulan.

Herliana Barus, penjual krem Aloe Vera dari Bukit Tinggi (Sumber foto: Sigit Susanto)

Claudia izin akan melanjutkan jalan keliling pasar, sementara saya masih ingin mengobrol dengan kenalan baru sesama dari Indonesia.

Ketika saya tanyakan apakah tahu ada orang Indonesia yang lain? Ia bercerita, di daerah sekitar sini ada satu orang Indonesia lain. Sedang di ibukota Las Palomas, ada banyak orang Indonesia. Ia mengenang saat pemilu lalu, konsul jenderal RI di Madrid datang dan mengundang orang Indonesia yang berada di Gran Canaria. Mbak Herlina menafsirkan ada sekitar 50 orang Indonesia dan makan bersama sambil diadakan sosialisasi pemilu.

Saya giliran bercerita ke dia, pada saat kami pertama kali ke Gran Canaria bertemu serombongan kecil anak muda dari Jawa Tengah. Mbak Herlina, tak begitu tahu. Saya lanjutkan lagi, anak-anak muda itu bercerita kepada saya, bahwa mereka sebelumnya sebagai pelaut. Mereka lulusan sekolah pelayaran di Semarang. Ada yang mengaku dari Sragen, Demak, Purwokerto, Magelang dan lainnya. Mereka menjelaskan, saat bekerja di kapal ikan milik Korea, kapalnya rusak dan harus turun dok di pelabuhan Las Palomas. Mengingat memperbaiki kapal tidak lah cepat, bisa memakan waktu dua sampai tiga bulan, maka mereka minggat dari kapal dan masuk ke desa-desa.

Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai petani pisang. Mengingat Gran Canaria jarang turun hujan dan panas, maka tanaman pisang yang pernah saya saksikan, selalu di dalam rumah plastik. Mereka bekerja selama dua tahun terus-menerus, kemudian pihak pemilik tanaman pisang itu mengajukan surat izin tinggal bagi pelaut yang menjadi petani itu. Begitulah, peralihan dari kerja menangkap ikan di laut menjadi petani. Pada awal saya berkenalan dengan mereka sempat saling tukar nomor telepon genggam. Pada kelanjutannya, mereka mulai menutup diri, tak mau banyak membagi ceritanya ke saya lagi.

Merasa obrolan kami cukup, saya undur diri mencari Claudia yang sudah berjalan jauh. Sebelum berpisah saya sempat meminta email kenalan baru dari Sumatra ini.

Jalan saya agak cepat dan Claudia masih belum bisa ditemukan. Saya berhenti sebentar di kios penjual roti asal Austria. Di kios roti itu saya membeli pizza margharita seharga 2 Euro.

Mendekati ujung pelabuhan, baru terlihat dia jalan pelan dan kami sepakat duduk di bangku menghadap kapal selam kecil yang membawa para pelancong turun ke bawah laut.

Lelah mulai berkurang dan tatapan ke tatapan mata ke sekeliling, merekam keanekaragaman kehidupan.

Perlahan kami kembali ke terminal bus sambil mengantongi banyak rekaman cerita dan visual.

Malam terakhir di penginapan saya sempatkan bertanya rasa penasaran saya sejak awal yakni, kenapa nama bungalow itu Bali? Seorang pelayan restoran yang saya tanya tak bisa menjawab. Ia memanggil juru masak di dapur dan juru masak, lelaki tua itu menjelaskan lewat lubang jendela dapur, bahwa pemiliknya adalah orang Belanda. Ia memberi nama bungalow Bali, karena ia pernah tinggal di Bali cukup lama. Untuk mengekalkan kenangan lamanya ia benar-benar wujudkan dalam Parque Bali Bungalows.

Sayonara Canaria

Pada Batas Iklim

Hari tercabik
Panas itu akan menjadi beku
Lewat gumpalan awan kami kembali

Sabtu. Pulang ke CH.

Zug: 15 Desember 2022.

“Penulis tinggal di Zug, Switzerland sejak tahun 1996.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *