Arkeolog Hari Suroto di Papua

Hunian Prasejarah Masa Perundagian di Raja Ampat

Oleh Hari Suroto

Kepulauan Raja Ampat berada di bagian paling barat Pulau Papua, membentang di area seluas kurang lebih 4,6 juta hektar. Saat ini, Raja Ampat merupakan bagian dari Provinsi Papua Barat, yang terdiri dari empat pulau besar yaitu Pulau Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool, dan lebih dari 600 pulau-pulau kecil, atol dan taka dengan panjang garis pantai 4.860 km, dengan 34 pulau yang berpenghuni (www.rajaampatkab.go.id). Secara geografis Raja Ampat terletak pada koordinat antara 0°  0’ 38,06” – 1° 21’ 18,85” Lintang Selatan dan 129° 45’ 34,92” – 131° 26’45,57” Bujur Timur.

Peta Raja Ampat Papua

Peta Raja Ampat (sumber: www.rajaampatkab.go.id)

Kepulauan Raja Ampat terletak di jantung pusat segitiga karang dunia (coral triangle) dan merupakan pusat keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia.  Kepulauan ini membentang di area seluas kurang lebih 4,6 juta hektar. 

Balai Arkeologi Papua pada 2009 melakukan penelitian arkeologi prasejarah di Pulau Arefi, Raja Ampat. Penduduk Pulau Arefi adalah Suku Biak, mereka disebut Biak Kafdaron, pada masa lalu, leluhur mereka bermigrasi ke Kepulauan Raja Ampat dari Pulau Biak dan Numfor di Teluk Cenderawasih. 

Situs Yenbekaki terletak di Pulau Arefi. Masyarakat setempat menyebut situs ini dengan nama Benteng Yenbekaki.  Yenbekaki dalam bahasa Biak berarti pasir tinggi (yen: pasir, kaki: tinggi). Secara astronomis berada pada 00° 45¹ 15¹¹ LS  130° 51¹ 3¹¹ LU. Arah hadap situs ini adalah barat daya, dengan ketinggian 1,5 m dpl. Benteng ini dengan laut berjarak 20 m. Sebelah utara berjarak 30 m dari benteng, terdapat batu karang, warna hitam, selebar 1 m yang memanjang dari darat ke laut, semacam jembatan yang menghubungkan ke laut.  

Batu karang Raja Ampat

Batu karang memanjang dari darat ke laut

Dari aspek teknologinya, bahan benteng Yenbekaki berupa batu gamping dan terumbu karang yang disusun rapi tanpa bahan spesi sebagai perekat, luas  benteng panjang 56 m dan lebar 32 m, sebelah timur di batasi oleh bukit karang, bagian utara dibatasi oleh rawa, sebelah selatan dan utara dibatasi oleh laut. Panjang dinding benteng 56 m, lebar dinding benteng 50 cm – 6 m. Di situs Yenbekaki terdapat juga sebuah kolam air tawar berdinding susunan batu karang, berdiameter  4,45 m dengan kedalaman 1, 8 m. 

Hasil survei Galis pada 1958 di Yenbekaki, berhasil menemukan pecahan-pecahan gerabah dengan pola hias  yang serupa dengan gerabah Kalumpang, Sulawesi Barat. Pola hias gerabah ini dibuat secara incised (digoreskan) dan impressed (diterakan), memperlihatkan bermacam-macam motif. Selain motif spiral, terdapat juga motif geometrik dan topeng. Bersama dengan penemuan ini ditemukan juga batu tumbuk, manik-manik batu, fragmen cetakan mata tombak perunggu, periuk-periuk kecil, pecahan tempayan besar, gumpal-gumpal imonit, kepingan batu (slate), dan sebagainya. Sebelum Perang Pasifik, di daerah ini pernah ditemukan sebuah kepala dari terakota (Galis, 1958). Berdasarkan artefak temuan Situs Yenbekaki, maka Soejono (1994: 35) menyimpulkan bahwa temuan-temuan tersebut memiliki ciri-ciri dari zaman perunggu-besi.

Penelitian Balai Arkeologi Papua pada 2009 berhasil menemukan pecahan gerabah berupa tepian, badan, dasar dengan persebaran di kolam air tawar dan rawa. Atribut kuat untuk mengidentifikasi bentuk gerabah adalah bagian tepian, berdasarkan pengamatan terhadap bentuk tepian, maka dapat diketahui jenis gerabah yang terdapat di situs Benteng Yenbekaki adalah tempayan dan periuk. Gerabah jenis periuk ditemukan dalam konteks kolam air tawar, sedangkan jenis gerabah yang ditemukan dalam konteks rawa adalah periuk dan tempayan. Hasil survei permukaan yang dilakukan di Situs Yenbekaki, diketahui bahwa kepadatan gerabah terkonsentrasi tidak jauh dari sumber air tawar.

batu Situs Yenbekaki, Raja Ampat

Susunan batu Situs Yenbekaki

Kolam air tawar di Situs Yenbekaki di Raja Ampat

Kolam air tawar di Situs Yenbekaki

Gerabah Situs Yenbekaki di Raja Ampat

Gerabah Situs Yenbekaki

Cangkang moluska jenis pelecypoda di Situs Yenbekaki di Raja Ampat

Cangkang moluska jenis pelecypoda di Situs Yenbekaki

Berdasarkan jejak-jejak berupa alur-alur bekas jari (striasi) pada bagian tepian dan badan dari pecahan periuk, maka periuk ini dibuat dengan roda putar. Tidak ditemukannya karinasi, maka periuk temuan Yenbekaki termasuk periuk bulat. Periuk bulat adalah wadah bagian badannya membulat serta berongga dalam, dengan mulut menutup dan menyempit. Badan periuk biasanya berukuran lebih tinggi dari ukuran diameter badan. Adanya bekas-bekas jari dan cekungan-cekungan pada dinding bagian dalam pecahan tempayan maka diketahui tempayan dibuat memakai tatap pelandas dan teknik tangan. Analisis terhadap pecahan bagian tepian periuk yang ditemukan di Situs Yenbekaki, menunjukkan ukuran diameter mulut antara 6-9 cm. 

Pecahan Periuk Situs Yenbekaki di Raja Ampat

Pecahan Periuk Situs Yenbekaki

Pecahan tempayan Situs Yenbekaki di Raja Ampat

Pecahan tempayan Situs Yenbekaki

Pada konteks kolam air tawar, ditemukan sebuah tepian gerabah dengan pola hias gelombang, hiasan ini dibuat dengan teknik iris. Penerapan teknik hias ini diperkirakan menggunakan alat yang tipis dan tajam seperti bilah, yang diirisan di kedua sisi dengan posisi tegak dan miring sehingga menimbulkan kedalaman yang bersudut. 

Analisis pembakaran pada gerabah Situs Yenbekaki menunjukkan warna bagian permukaan coklat, sedangkan penampang lintang berwarna hitam. Hal ini menunjukkan pembakaran yang tidak sempurna  di tempat terbuka, open fire tanpa mempergunakan tungku.

Penghuni Situs Yenbekaki menggunakan batu gamping dan terumbu karang sebagai salah satu bahan utama untuk mendirikan benteng, serta sumberdaya vegetasi dan fauna untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jika dilihat dari kenampakan bentang alam mulai dari garis pantai hingga perbukitan di daratan maka Pulau Arefi merupakan satuan topografi karst; terdiri dari batuan batu gamping terumbu karang, jenis batuan ini yang dipergunakan untuk membangun benteng Yenbekaki.

Motif hias pada gerabah di Yenbekaki menunjukkan dibuat dengan teknik tera, iris dan gores, dengan motif geometrik, gelombang, spiral dan topeng. Diperkirakan teknologi pembuatan gerabah di Raja Ampat dibawa oleh penutur Austronesia. Menurut Muller (2008:59) sebelum kedatangan penutur Austronesia, gerabah tidak dikenal di Papua. 

Pola hias garis-garis yang membentuk lingkaran atau garis-garis yang membentuk muka (manusia atau topeng) terdapat pada gerabah Yenbekaki juga ditemukan pada gerabah dari Nenumbo, Pulau Santa Cruz di Pasifik. Hal yang sama terdapat pada kapak perunggu dari Sentani. 

Berdasarkan bentuk temuan berupa periuk dan tempayan serta konteks temuannya berupa rawa dan kolam air tawar maka gerabah situs Yenbekaki diperkirakan berfungsi sebagai peralatan sehari-hari.

 Ekofak yang ditemukan berupa moluska jenis pelecypoda. Lokasi situs yang tidak jauh dari pantai, maka diperkirakan hasil laut merupakan makanan utama penghuni  yang  pernah beraktifitas di Situs Yenbekaki. 

Berdasarkan hasil penelitian di Situs Yenbekaki berupa sisa-sisa makanan berupa cangkang moluska, artefak gerabah yang berasosiasi dengan cangkang moluska, secara kualitatif mempunyai keluasan ruang yang cukup sehingga memungkinkan untuk beraktivitas, serta situs terletak pada suatu tempat yang mudah dijangkau, maka dapat diperkirakan bahwa Yenbekaki merupakan situs hunian. 

Struktur batu di Situs Yenbekaki diperkirakan sebagai perbentengan tempat perlindungan dan pertahanan diri, serta berfungsi sebagai pagar atau pengaman satuan ruang. Dapat dinyatakan bahwa manusia pendukung Situs Yenbekaki dalam menempatkan benteng telah mempertimbangkan lingkungan sumberdaya  alamnya. Keberadaan Situs Yenbekaki merupakan bukti bahwa manusia cenderung memilih pemusatan populasi di daerah yang dekat dengan sumber air. Pemusatan populasi pada gilirannya dapat membentuk suatu pemukiman yang merupakan tempat tinggal bersama, dengan tujuan tertentu dan adanya perasaan satu wilayah. Pemukiman ini dilindungi oleh struktur batu yang berfungsi sebagai benteng perlindungan dan pertahanan diri, serta berfungsi sebagai pagar atau pengaman.

Berdasarkan temuan gerabah dan cetakan mata tombak perunggu dapat diketahui adanya perkembangan dalam teknologi, tampak dalam teknologi pembuatan gerabah dan kemahiran membuat benda perunggu. 

—————

Referensi

Galis. 1958. “Het Fort te Jembekaki” dalam Nieuw-Guinea Studien II. Hlm. 206-222.

Muller, Karl. 2008. Introducing Papua. Daisy World Books.

Soejono, R.P. 1994. ”Prasejarah Irian Jaya” dalam Irian Jaya Membangun

Masyarakat Majemuk (Koentjaraningrat eds.). Jakarta: Djambatan. Hlm. 23-43.

www.rajaampatkab.go.id diakses pada 13 November 2009.

 

*Penulis adalah peneliti di Balai Arkeologi Papua

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *