Puisi-Puisi Hikmat Gumelar

RED LIGHT

hengkang ke negara mana pun
kau akan tetap selalu terapung

di tengah lautan
kesendirian
di tengah lautan
kesepian
di tengah lautan
kekecewaan
di tengah lautan
kemarahan

hengkang ke negara mana pun
ke negara yang kau sanjung-sanjung maju
makmur dan menjunjung hukum sekalipun
tak akan membuat denyut jantungmu
menjelma menjadi lagu yang kau rindu
jika kerinduanmu sepanjang hidup

mabuk mereguk anggur
tak mau tahu dapur
buruh-buruhnya yang selalu
penuh raungan lambung bernanah
apalagi peduli akar-akar pohonan
yang saling berbagi senantiasa

kerinduanmu itulah, kukira, mata air deritamu
dari situlah sebaiknya kau hengkang. lagi pun
negara yang kau sanjung-sanjung itu jauh
dari surga. tak pernah kudengar cerita di surga

ada Red Light
ada larangan berhijab
ada yang terus dilukai
warna kulitnya
ada epidemi abadi
amnesia

itu baru sejumput. tetapi itu saja
sudah kuat membuat negara-negara bekas penjajah
tak pernah mengubah sejarahnya. mereka terus
membangun istana-istana dan kastil-kastil baru
di atas bahu para budak. mereka pun terus
mengamalkan syahadat gordon gecko: rakus itu bagus
mereka melakukannya di tengah
bulsozer-buldozer di benua-benua terjajah

mengurug sungai-sungai dan laut-laut
mengeruk bukit-bukit dan gunung-gunung
mengubur hutan-hutan dan gurun-gurun

dan semua itu masih pula dibungkus
kemasan-kemasan gemerlap menenung
melumpuhkan dan membuat bola dunia
semakin leleh terbakar. dan …

“my life is not up on you, you, you to decide,” katamu

begitulah memang. tetapi hidup
siapa sesungguhnya yang punya hidup?

tanpa udara, meledak
rabu siapa pun. dan udara
dari mana muasal udara?

tak perlu meminjam lidah orang asing
untuk menjawabnya. cukup mungkin
cukup dengan membuka telinga sendiri
cukup dengan takzim mendengarkan
angin yang tak pernah lelah
mengembuskan nyanyian semesta

 

RANGKAIAN HURUF BERKABUT

rangkaian huruf yang lugu pun
selalu saja

 berkabut

coba kau sendirian

di kamarmu

matikan telepon genggam
kenangkan love, bukan

cinta
atau kasih

yang kau pilih
tulis di twitter. kau ingat juga
di situ, rangkaian aksara
termasuk yang kau anggap
menerangkan dirimu. kenapa
rangkaian huruf itu semua
membentuk kata & kalimat

inggris
bahasa inggris

bukan bahasa batak
atau bahasa indonesia

jika di kamarmu
sendiri
kau tak berani
jujur

bahasa daerah, bahasa nasional
bahasa internasional, bahasa
apa pun sama belaka. semua
mulut yang memadamkan cahaya
mulut yang meniupkan badai
yang merenggut menjauhkan dari bumi

dari diri

“tapi apa arti diri? apa artinya
tanpa freedom of speech
tanpa freedom of expression?”

baik. tapi tanpa bumi, tanpa diri
adakah freedom, speech, expression?
coba sempatkan telusuri
pertanyaan- pertanyaan itu

mungkin akan kau temukan
bedil, rantai, kuli kontrak
deli serdang, kapal-kapal uap
mengangkut tembakau, lada
cengkeh, teh, karet, kopi, kina
mungkin kisah-kisah lain lagi yang
membangun gedung-gedung menjulang
cerlang seperti yang kau kagumi di italia
jual-beli orang-orang somalia
atau entah apalagi

rangkaian huruf yang lugu pun
selalu saja

berkabut

itulah mungkin yang membuatku
tak pula

bergeser

tetap terperangkap dalam nonsens

seperti pengidap autis
tak peduli hingar-bingar sekeliling
terus terkucil dalam ruang sempit

sendiri

tersihir lapis demi lapis kabut

rangkaian huruf

VBI-0392020

 

MATAHARI TERBIT DI RANJANG RUMAH SAKIT

di ranjang rumah sakit
matahari terbit
gelap pekat menyekap
puluhan tahun seketika lenyap
berbagai kejadian menyeruak
menjadi gambar-gambar bergerak
di bawah semburat salib
yang menempel di dinding putih

seorang perempuan telanjang
terlentang. lempengan cahaya
dari jendela membuat puting kirinya
semburat seperti anggur pada
pagi musim panas. bibirnya
yang berlapis lipstik merah mawar
menganga menjanjikan surga
dan tangan kanannya meraba
paha kanan dengan jari tengah
mengarah lebat rumput hitam

seorang perempuan telanjang
berenang. tubuhnya meregang
melengkung serupa busur direntang
menyerahkan basah buah dada
dan pangkal paha pada mata malam

seorang perempuan telanjang
duduk mengangkang… pelupuknya
basah. air matanya jatuh
seperti tetesan cairan dari tabung plastik
yang menggantung di vertikal pipa kecil
stainless yang berdiri menyerupai salib
dekat kepalanya yang licin

ia berpaling. tetapi gambar-gambar
yang mau dihindarinya terus bergerak
di depannya. ia berkeras pejam
tetapi gambar-gambar masa silamnya
semakin liar bergerak dalam benaknya
ia pun teriak, “aku benci! sangat
benci matahari. gelap, gelap
aku lebih suka,…”

ibunya terkejut dan terbangun. sontak
melompat dari sofa. “kenapa, nak?”

“enggak, mam. itu matahari.”
“matahari?!” tanya sang ibu
dengan kulit kening berkerut.
ini tentu, pikirnya, akibat obat bius
dosis tinggi waktu operasi berjam-jam
mengangkat payudara. “matahari apa
sayang? sekarang sudah malam
lihat itu jam di bawah salib. sudah
hampir jam dua belas kan?”

“iya, mam.”

“tidur, ya.”

“iya, mam.”

“istirahat. biar lekas pulang.”

“pulang? pulang ke mana?” tanyanya
dalam benak. “payudara hilang
dirampok tumor sialan. apa artinya
perempuan tanpa payudara? payudara
jatuh saja harga langsung rontok
apalagi hilang. mana ada cowok
yang mau. mereka langsung kabur
begitu tahu…”

“sudah jangan ngelamun. coba tidur
biar besok segar. besok kan besuk
teman-teman kantormu. juga bosmu.”

mendengar itu, hatinya makin tergerus
ia tak berani melihat mereka, apalagi bosnya
melihatnya gundul dan tanpa payudara
memang tak akan ada ucapan buruk
tapi bgitu keluar pintu, mulailah
kasak-kusuk busuk. mulai menyembur
lelatu, api neraka,…

“istirahat, ya, sayang.”

ia menjawab dengan mengatupkan
pelupuk dan menggigit bibirnya hingga
bantal basah oleh tetesan cairan merah

 

DUKA LAUTAN

aku kehilangan laut. segala yang menggambarkannya
membakar bulu mataku. segala yang meruapkannya
membakar paru-paruku. padahal semula puluhan tahun
kerap sungguh aku terapung di tengah luapan rindu

mereguk beragam pukau laut. debur ombaknya yang
tak putus-putus menghantam barisan bukit karang itu
keberanian dan keteguhan menembus aral menjulang
muncratannya adalah muntahan seruan untuk terus

bergelora merobohkan si barisan perintang. ombak juga
membawa nelayan mengarungi hidup dari tahun ke tahun
boyak, capek, dan hampa yang mencengkeram orang-orang
pabrikan direnggut dan dihanyutkannya. tak sendiri tentu

ia melakukannya. permadani keperakan dan keemasan
yang digelar matahari, bulan dan bintang-bintang pun turut
menjadikan orang-orang pabrikan itu kembali bergairah
berbagai jenis ikan, udang, kerang dan kepiting juga selalu

turut menjamu tamu-tamu, menjadikan mereka berulang
demam dirasuk senandung laut. bentangan basah berkilau
pasir putih pun adalah pukau laut yang merangkul rupa-rupa
manusia. mereka hanyut dalam berbagai permainan di situ

mereka juga tergegau oleh kelepak sayap-sayap elang laut
dan ratusan camar, juga oleh rajawali yang menukik tajam
menyelam secepat kilat, dan muncul kembali dengan kuku
kuat mencengkeram ikan mengelepar-gelepar. berjuta-juta

seniman, filsuf dan ilmuwan juga berutang kepada lautan
mereka menimba inspirasi dari kedalaman dan keluasan laut
ada yang di tepian belaka. ada yang sampai jauh ke tengah
ada yang cuma di permukaan. ada yang terjun meluncur

sampai ke perut kerang mutiara di palungnya. ada juga yang
di dasarnya itu membuat berbagai bangkal kapal jadi labolatorium
mereka melacak beraneka ragam jejak. meraba-raba kaitan
satu sama lain aneka ragam jejak itu. memang kadang laut pun

disumpahi sebagai sumber aneka ragam petaka. berulang-ulang
laut dituduh sebagai jalan ratusan abad kaum angkuh, kemaruk
dan haus darah menghancurkan dunia dengan senjata dan tata
yang menista dan menganiaya manusia, hewan, tumbuhan dan

semesta. laut pun tak sedikit dituding sebagai sumber amuk
tsunami. bahkan lalu dijadikan bukti untuk lantang menggugat
tuhan. namun laut jugalah yang perlahan membuat terbangun
manusia-manusia jajahan. laut membentangkan cakrawala

baru. batas-batas sempit ditembus dengan gelora ombak laut
mereka menyatu dan membentuk bangsa-bangsa. setiap
kali dihadang dengan penjara dan berondongan peluru pun
mereka tidak lintang pukang. serupa muncratan ombak

mereka kompak serempak menyerukan kembali menyatu
kembali bergelora menjebol barisan bukit karang. agama
suku bangsa, daerah asal dan perbedaan lain tak jadi batu
sandungan. impian menjadi warga satu bangsa dan negara

merdeka menghalau berbagai beda itu dan mencambuk
untuk terus menembus barisan bangsa berkulit sapi hingga
kemudian lahirlah bangsa indonesia. kemudian menyusul
lahirlah negara republik indonesia merdeka. dan laut jugalah

yang mengguncang dunia. yang membuat serempak menjulur
jutaan lengan dari berbagai bangsa dan negara. mereka sama
turut memulihkan aceh sejak tak lama sehabis bangsa di ujung
barat indonesia itu dilanda tsunami. bangsa aceh pun membuka

diri kembali. bahkan menjadi lebih bergelora melanjutkan
sejarah mereka yang gilang-gemilang. tradisi menuntut ilmu
dan sekaligus mewujudkannya dalam setiap ayunan langkah
terlihat makin semarak. lautnya pun tampak kembali berkilau

lagi pula, adakah memang sumber utama penjajahan adalah
laut? adakah memang sumber utama bencana seperti yang
melanda aceh itu adalah laut? adakah memang lautan itu
ditunggangi tuhan untuk memuaskan dendam dan bencinya?

aku kehilangan laut. segala yang menggambarkannya
membakar bulu mataku. segala yang meruapkannya
membakar paru-paruku. aku kehilangan laut semenjak
di satu tepi laut, sangkur berulang-ulang menusuk tepat

ke luka lambungku. mataku rabun, bahkan tak dapat lihat
yang orang-orang kata gamblang. soalnya mungkin pula
bukan ia benar. ia orang pabrikan yang hidup di negara
yang semakin bergantung pada naik turun kerakusan

melahap beranekaragam buah khayalan. negara ini kian
memaksakan syahadat protagonis “wallstreet”: rakus itu
bagus. tetapi bisa juga perkaranya tak demikian. yang terang
seperti telah dibilang; aku keilangan laut. segala ingatan

ihwalnya kini cambukan ekor ikan pari di sekujur badan
segala ingatan ihwalnya kini tusukkan bulu-bulu landak laut
di seluruh pori-pori tubuhku. segala ingatan ihwalnya
kini adalah ikan-ikan buntal yang berbiak di tiap sel darahku

 

JEJAK LELUHUR

pandang setajam
golok erat digenggam
siap menghibur
sajian seni debus
jejak luhur leluhur

lingkaran orang
merapat dan mendekat
dirasuk hasrat
paling depan melihat
atraksi seni purba

pukulan gendang
lengking terompet kayu
saling menganyam
juga bersama lembut
tiupan angin gunung

makin menyala
hasrat lekas saksikan
lelaki muda
pakai ikat kepala
celana komprang hitam

mengiris lidah
atau menyayat perut
tanpa lindungan
barang sehelai benang
dan kuyup berkeringat

semakin cepat
tempo pukulan gendang
dan makin luhur
nada terompet kayu
penonton pun bersorak

tapi mendadak
segerombolan orang
terbungkus jubah
masuk dalam kalangan
berteriak-teriak

menuntut langsung
seni hidup leluhur
saat itu pun
dihentikan dan terus
dilarang dimainkan

penonton berang
ratusan orang siap
menyabung nyawa
mereka tidak kenal
orang-orang berjubah

tetapi cepat
tetua seni adat
beri isyarat
dan dia menengadah
angkasa pun berubah

biru menghilang
langit langsung jelaga
angin pun kencang
berputar-putar hanya
sekitar yang berjubah

mereka panik
blingsatan berlarian
terbirit-birit
tinggalkan lingkaran
penonton pun tercengang

terlebih lalu
angin kencang berhenti
langit pun biru
kendang berbunyi lagi
terompet pun bernyanyi

VBI-082020

 

DIALOG CERMIN & NEON

cermin berbisik kepada neon
“bisakah kau mogok?”

“mogok?”

“ya. bantulah.”

“maksudmu?”

“kewajibanku membantu manusia
mengenali dirinya & memperbaikinya.”

“itu kan yang selama ini kau lakukan?”

“rinduku begitu. nyatanya bukan
nyatanya belum juga kesampaian.
nyatanya malah terus sebaliknya.”

“aku tak paham.”

“kau juru penerang. kau lihat selalu
dariku, juga darimu, perempuan itu
tak pernah minta evaluasi, tetapi
melulu ilusi, ilusi, ilusi yang ia maui.”

neon tersentak. “iya, ya. berarti
kita senasib. selama ini
kita menyimpang. kita
mengkhinati takdir kita.”

“itulah. mestinya kita bantu manusia
kita bantu mereka menghampiri dirinya
bukan malah terus menjauhkannya
menguburnya dalam kesepian &…”

cermin terkejut. neon begitu pula
mereka mendengar batuk & langkah
yang mereka kenal makin mendekat
mereka pun saling mengirim isyarat

VBI-112020

 

DEBU

“No. I am not a poem
I am just a dust.”
begitulah tukasmu

namun, di dalam sebutir debu
ucap juru dongeng, “ada dunia
ada semesta.” that is poem

 

SETAPAK SZYMBORSKA

tirani-tirani silih berganti
Szymborska mereguk kopi

tirani demi tirani terseok-seok
Szymborska embuskan asap rokok

tirani demi tirani jatuh
Szymborska merekah senyum

berbagai tirani gentayangan menghantui
Szymborska makin khusyuk menulis puisi

 

PENJAGA BUMI

gunung tak pernah pergi
selalu semadi menjaga bumi

 

TERJUN

kau tuduh aku terbang meninggalkanmu
padahal aku terjun menyelami lautmu

 

VACUUM CLEANER

cinta itu serupa vacuum cleaner
menghisap butiran debu di hatimu

 

PEJAM

orang-orang menyerbu pasar burung
aku pejam mendengarkan napasmu

 

NGILU

gerimis turun dari pelupukmu
ngilu seluruh persendianku

 

*Bermukim di kaki Gunung Manglayang, Bandung, Hikmat Gumelar menulis puisi, cerita pendek, dan esai. Selain Koordinator Program Institut Nalar Jatinangor, sekarang ia tengah riset perihal ekologi sastra modern (di) Indonesia. Tulisan-tulisannya sebagian terbit di media seperti Kompas, Koran Tempo, Suara Pembaharuan, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, dan basabasi.com. Juga di beberapa buku.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *