Puisi-Puisi Hasan Aspahani

Di Jalan Matraman, 3 (a.k.a Rebak Rebab Stambul Jampang)

: IRZI

SEPERTI Jalan Matraman, jalan besar di kota ini semakin panjang, buas, dan rakus, ia memakan waktuku yang pas-pasan, ia menghabiskan bekal makan siangku dan selalu hanya menyisakan kulit dan tulang-tulang petang.

Jalanan besar di kota ini adalah rasa laparku sendiri, yang ingin berada di sana dan di sini, ingin itu ingin ini banyak sekali, sehingga aku tak tahu sedang ada di mana dan ingin apa sebenarnya.

Apabila kegelapan adalah sahabat lama maka kecemasan adalah tetangga yang meminjamkan sepatu. Dia sebaik itu? Memang, tapi dia sesungguhnya berharap kita pergi dari rumah yang tak kita kenal dan tak mengenal kita lagi, dengan telanjang kaki

Kebaikan adalah tangan yang menyentuh pundak kita. Saat itu kita sedang berjalan di jalan menuju pasar untuk sebuah perniagaan yang tak memerlukan akuntansi. Kita menoleh ke kanan dan kiri, tidak hendak menyebrang, dan tak tampak ada siapa-siapa.

Aku tak akan bisa melupakan apa-apa, bila ingatan itu terkait denganmu. Aku mungkin hanya bisa melapisi kenyataan dengan kenyataan lainnya, sebuah upaya sia-sia, sebuah cara bertahan yang menyakitkan.

Dan kubayangkan ladang anggur yang subur, kau memetik waktu yang membernas di tangkai itu, aku menyarikan harapan yang harus kita kembalikan pada waktu itu. Ladang anggur itu adalah rindu kita yang subur, di situ waktu berakar dan bersulur.

Di ujung jalan Matraman (di manakah ujung jalan Matraman?) lewat pengamen ondel-ondel, dengan rebak rebab menyayat Stambul Jampang, mengiris dingin magrib, lalu ngibinglah bayanganku, bersama anak-anak yang tak ada bapaknya, menyulut puntungan di kepalaku sendiri.

(2021)

 

Hujan Pestisida

MASA lalu itu, sayang, adalah penjara
dan sejarah adalah pintu terbuka
agar kita bisa memasuki diri kita lagi
tanpa harus terkerangkeng di sini

Jarak itu, sayang, sesungguhnya tak ada

kita membawa ke mana-mana, segalanya:
tuhan yang kita bendakan, juga segala
keputusan yang harus kita batalkan

Kita membawa ke mana-mana, segalanya:
kebodohan yang membutakan, kesombongan
yang menempatkan kita di atas menara
yang rapuh dan mudah sekali runtuh

Masa lalu itu, sayang, adalah sangkar besar,
kita terbang gelisah di bawah sungkupnya,
tak pernah lebih jauh dari situ, karena
di luar itu langit lebat hujan pestisida.

(2020)

 

Beirut

: Ibrahim Maalouf

BEIRUT seperti lagu seorang remaja mengaji
aku mengingat ayat-ayat yang dulu kubaca
guru mengajarkan tafsir kata per kata

Orang berjalan, beli roti dan tomat di pasar,
mengenang perang, taksi berlalu perlahan,
di Beirut lampu dinyalakan dan dimatikan.

(2020)

 

Masih Jauh

TURUNKAN langkahmu
jalan lurus dan akan jauh
jalan simpang dan riuh.

Ikat dan ketatkan tali sepatu
rapikan topi dan kaus kaki
lemaskan sebentar pundak
dan leher yang tegang kaku.

Jalan lurus dan masih jauh.

(2020)

 

Catatan 2020, 1

TAHUN hampir habis
aku semakin tergagap-gagap
di hadapan almanak: sangkar yang mengurung
bilangan besar yang ingin benar melepaskan diri.

Hari-hari unggas lapar dan putus asa
mematahkan sebelah sayap
mematuki bulu-bulu yang lepas
sampai tak ada lagi bayangan.

Musim yang rutin itu berhenti,
—- begitu saja berhenti
dan lewatlah beberapa bulan
seperti aku terlambat beberapa saat
kembali ke permukaan laut
ketika pasang semakin dalam
dan aku belum juga kuat lebih lama menyelam.

Tahun hampir lepas
aku tak bisa kemana-mana
hari-hari selalu sibuk tapi tak bergerak
ramai datang tamu tak kukenal tapi tak bisa kutolak
menyapa dengan suara tak jelas dari balik masker
berkampanye terlalu dini untuk kandidat lancung
atau mengajak masuk jaringan bisnis MLM
Anda bisa pensiun dengan gaji seorang direktur
dan berwisata ke bandar pelancongan mana saja
seperti sebelum pandemi,
seperti tak pernah ada wabah ini.

Tahun hampir silam
meninggalkan fragmen drama amat membosankan
aku duduk gelisah dan berdiri tak tentu arah,
di lobi apartemen tua dengan resepsionis
(yang judes dan sibuk menulis di status Facebook)
yang besok harus kutinggalkan.

Aku sedang menunggu paket surat
pemberitahuan sisa kredit
rumah yang tak pernah kutempati
yang tak sanggup kucicil lagi.

(2020)

 

Apabila Lagu Itu Ingin Kau Nyanyikan

: IRZI

DI jalan itu tadi
kita melintas bergegas
dikejar angin yang lekas
yang enggan dan dingin
dan kita bayangkan
ada yang tertahan dinding-dinding
rumah di perbukitan

Beirut menyiapkan senja
untuk kita,
setelah hari-hari
dikirim keluar kota
melawati jalan besar
gedung tak berpenghuni
tembok dengan grafiti huruf hijaiyah,
bekas peluru tembakan, dan
baliho tak meneriakkan revolusi lagi.

Kau jerang air untuk teh
dan mendidihlah petang,
di Youtube aku memutar Maalouf
lalu kutulis puisi yang kusiapkan
sebagai lirik apabila lagu itu
ingin kau nyanyikan.

(2020)

 

Larik yang Enggan

HUJAN sangkut di daun belimbing
dan basahlah rumpun-rumpun miana

Orang lewat bersiul lagu perjuangan

Hujan menetes di ujung sirih gading
dan merunduklah cabang pohon salam

Tangan pemetik teh menahan adukan
hujan menggantung di pucuk kemboja

Genangkan kenangan dalam ingatan
tenangkan sesalan larik yang enggan

(2020)

 

Tak Perlu Bayar Ongkos Antar

SEKALI aku mencatat untuk matamu
silang simpang pada garis-garis palma
sekali lagi aku melepas untuk harimu
basah cahaya di kebas tanganku

Sebagai hewan-hewan buruan waktu
kita tertangkap ketika lari dari diri sendiri
lalu masuk menjinak dalam kandang terbuka
menunggu datang peluru penembak jitu

Sekali aku mengemas untuk waktumu
pengantar paket satu set senjata lama
cash on delivery – terima barang seharga nyawa –
tak perlu bayar ongkos antar.

(2020)

 

Dengan Senang Hati

PADA buku catatan
dengan bolpoin Snowman
(yang ia beli di Superindo)
ia ingin menulis larik
tentang kota kecil
sebelum pandemi
dengan bungaran matahari
pada pekan rutin
hari yang Senin
dan bayangan yang mengikuti
seorang lelaki
pengemudi bus kota
berjalan ke pangkalan.

Pada buku catatan
dengan larik-larik yang ragu
(yang tak dijual di mana-mana
yang berlimpah dalam diri
semua warga kota hari ini)
ia menimpa keluhan imigran,
dengan hal-hal kecil
yang ia jalani dengan senang hati,
misalnya tentang bunga
yang ia beli bersama istrinya
di lapak kembang
di tepi Kali Pesanggarahan.

Pada buku catatan
ia merasa telah menyalin
apa yang telah berkali-kali disalin
kecemasan dari kecemasan
yang setia bertahan
dan bagaimana dulu ia berdamai dengannya
dengan sebuah perjanjian
yang terus ditagih
seperti pinjaman berbunga tinggi.
“Aku akan membayarnya,
dengan senang hati,” ujarnya
pada juru sita yang gigih.

Ia mencoba menghitung berapa nilai
dan bagaimana hidup yang sejak awal
telah tergadai, dan apa yang harus
ia catat dari hari-hari seperti
yang ia jalani kini dengan
sedikit variasi yang tersisa,
dengan hati-hati, dengan senang hati.

(2020)

 

*Hasan Aspahani, kini menetap di Jakarta, menulis dan menjadi Ketua Komite Sastra DKJ (2020-2023). Buku pertamanya “Orgasmaya” diterbitkan oleh Yayasan Sagang, 2007, dan masuk shortlist Kusala Sastra Khatulistiwa. Ia mendapatkan Anugerah Sagang kategori Seninam Serantau, 2012.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *