Silence : Allah yang turut Menderita

Oleh Tony Doludea

Fransiskus Xaverius (1506-1552) adalah imam Yesuit pertama yang berkarya di Jepang. Setelah menginjil di Ambon dan Kepaluan Maluku, ia mendarat di Kagoshima pada 1549. Enam tahun setelah Portugis membuka hubungan dagang dengan Jepang. Fransiskus berada di Jepang sebagai perwakilan raja Portugis dan diterima dengan baik di sana.

Fransiskus menghabiskan dua tahun untuk menterjemahkan konsep Kekristenan ke dalam alam pikir Jepang melalui gagasan Buddhisme, sebelum ia kembali berkarya di India.

Kegiatan Misi Kristen di Jepang mencapai puncaknya pada 1570-an, ketika lebih dari 150.000 orang Jepang masuk Kristen. Utamanya di wilayah Kyushu, meskipun dampaknya dapat dirasakan sampai di seluruh negeri. Segala lapisan masyarakat, baik kaya dan miskin semua ikut serta dalam kehidupan kekristenan.

St. Fransiskus Xaverius (Sumber Foto: https://www.renunganpagi.id)

Pada 1580-an, Hideyoshi ingin menyatukan Jepang dengan berusaha mengurangi ancaman kekuasaan orang Eropa atas Jepang. Pada 1587 Hideyoshi melarang Kekristenan dan sampai beberapa dekade kemudian gelombang penganiayaan atas orang Kristen di Jepang berlanjut, orang-orang Kristen banyak yang dihukum mati.

Shusaku Endo (1923-1996) dalam novelnya Silence (1966) (Jepang: Chinmoku) menceritakan tentang Sebastiao Rodrigues dalam suasana seperti itu berjuang untuk mempertahankan imannya dan memberitakan Injil Tuhan. 

Sampul novel Silence karya Shusaku Endo. (Sumber: https://westervillelibrary.bibliocommons.com)

Rodrigues bergumul dengan Allah mengenai rasa takut manusia terhadap ketakbermaknaan dan kesepian. Rodrigues berseru, ”Tuhan, mengapa engkau diam saja? Mengapa Engkau selalu bungkam?” Pada 2016 Martin Scorsese menyutradarai film Silence saat cerita itu diangkat ke layar lebar. 

Dikisahkan pada abad ke-17, seorang imam Yesuit Portugis Cristóvão Ferreira, yang telah menginjil selama 33 tahun di Jepang, menyaksikan penyiksaan orang-orang Jepang yang berpindah agama hasil pelayanannya itu. Saat penguasa Jepang menyiksa orang-orang yang ia pindah agamakan itu, Ferreira tidak kuat lagi menahan dirinya.

Beberapa hari kemudian, di Kolese Santo Paulus, Makau, Alessandro Valignano, seorang imam Yesuit Italia menerima kabar bahwa Ferreira telah menyangkal imannya, murtad setelah disiksa. Pada 1637 tiga orang murid Ferreira, yaitu Francisco Garrpe, Juan de Santa Marta dan Sebastion Rodrigues mendapatkan ijin unutk mencari tahu tentang nasib gurunya itu dan melanjutkan penginjilan di sana.

Juan de Santa Marta jatuh sakit sehingga tidak dapat melanjutkan perjalananya itu. Kemudian Rodrigues dan Garrpe diantar Kichijiro, seorang nelayan pemabuk yang lari dari Jepang untuk menyelamatkan dirinya dari penganiayaan tersebut.

Mereka tiba desa Tomogi, dekat Nagasaki dan para imam tersebut memutuskan untuk mencari para penduduk Kristen setempat yang hidup secara sembunyi-sembunyi. Kakure Kirishitan, yaitu orang-orang Kristen tersembunyi, hidup diliputi ketakutan dan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Tinggal dalam gubuk-gubuk reyot, menderita kelaparan dan ancaman penyiksaan.

Orang-orang di Tomogi sudah enam tahun lamanya tidak memiliki pastor juga bruder. Di sini, Rodrigues melihat sendiri dan merasakan bagaimana penderitaan yang dialami oleh orang-orang Kristen itu. 

Rodrigues pada awalnya sangat berapi-api dengan amanat agung Kristus, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Namun Rodrigues menghadapi kenyataan yang sangat kelam daripada yang telah ia bayangkan sebelumnya.

Kedua imam muda tersebut sangat terkejut saat seorang samurai yang mencari-cari orang-orang yang dituduh Kristen. Lalu mengikat beberapa penduduk desa itu pada salib kayu di pantai, sehingga air pasang datang menenggelamkan mereka. Mayat mereka lalu dikremasi untuk menghindari pemakaman Kristen.

Keberadaan mereka di situ membuat keshogunan menteror desa tersebut. Maka Garupe pergi ke Hirado dan Rodrigues pergi ke Gotō, tempat di mana Ferreira berada.

Rodrigues mengembara di sekitaran Gotō sambil berpikir, apakah ia tetap bertahan dan tidak menyerah, bahkan jika itu harganya adalah penderitaan umat TUHAN. Ia kemudian bertemu lagi dengan Kichijiro, yang telah mengkhianatinya dan menyerahkannya kepada samurai. 

Rodrigues ditahan di Nagasaki bersama dengan beberapa orang Jepang yang telah menjadi Kristen. Seorang samurai tua, berkata kepada Rodrigues bahwa umat Kristen yang tertangkap lainnya akan diselamatkan jika ia menyangkal imannya.

Inoue memerintahkan para Kakure Kirishitan untuk menginjak fumie, ukiran kayu gambar wajah Yesus yang disakralkan. Mereka yang menginjak dibebaskan, yang tidak menginjak dianiaya hingga mati.

Rodrigues dibawa menghadap gubernur Inoue Masashige dan kembali ditahan bersama Kichijiro. Ia menjelaskan kepada Rodrigues bahwa para pejabat pengadilan mengancam dan memerintahkannya untuk mengkhianati Rodrigues. 

Rodrigues sebagai imam kali ini menolak untuk memberikan pengampunan dosa kepada Kichijiro. Meskipun pengkhianatannya itu dapat dihapuskan melalui absolusi. 

Setiap kali Kichijiro berbuat “dosa” itu, ia selalu kembali ke Rodrigues untuk meminta pengampunan. Setiap kali, meski terkadang dengan frustasi, Rodrigues pun memberikan absolusi.

Kichijiro kemudian dibebaskan setelah bersedia menginjak fumie tersebut.

Kemudian, Rodrigues dibawa ke pantai untuk menyaksikan dari kejauhan Garupe dan tiga tahanan lainnya di atas sebuah perahu kecil. Yang kemudian satu per satu ditenggelamkan agar Garupe menyangkal imannya. Rodrigues menyaksikan Garupe menolak untuk murtad dan kemudian Garupe tenggelam juga seperti tiga tahanan lainnya.

Beberapa waktu kemudian, Rodrigues dipertemukan dengan Ferreira. Ferreira menjelaskan kepadanya bahwa ia memutuskan untuk murtad saat disiksa. Setelah mengijil dan lama tinggal di sana, ia yakin bahwa Kekristenan adalah suatu kesia-siaan bagi Jepang. Karena orang Jepang tidak memiliki konsep tentang Allah.

Ferreira menyatakan kepadanya bahwa mereka harus siap untuk murtad. Karena kemurtadan adalah tuntutan bagi Jepang. Ferreira menganggap para Yesuit seperti dirinya itu terlampau egois dan hanya memikirkan kepentingan dan kehormatan mereka sendiri. 

Saat penduduk setempat berani disiksa dan bahkan berani mati karena keyakinannya yang disebarkan oleh para pastor ini, tetapi si pastor itu justru sembunyi di balik ketakutannya sendiri. 

Ferreira tegas memutuskan untuk murtad, satu-satunya alasan yang ia pegang adalah agar penduduk Jepang itu dapat terbebas dari siksaan dan maut. Tidak ada pilihan lain selain mengkhianati keyakinannya sendiri, demi kepentingan banyak orang. Bagi Ferreira, setidaknya ia bukanlah seseorang pengecut saat menghadapi tekanan. 

Kemurtadan itu terjadi karena Allah bungkam terhadap penderitaan orang Kristen. Jika Kristus mendengar siksaan umat-Nya itu, Ia akan murtad untuk menyelamatkan mereka.

Rodrigues tidak mau mempercayai pendapat Ferreira itu. Namun pada malamnya, di dalam sel tahanannya itu Rodrigues mendengar suara ngorok orang-orang yang sedang disiksa. Bagian dalam telinga mereka itu disayat kecil, sehingga darah menetes perlahan melewati hidung dan mulut mereka. 

Rodrigues sadar bahwa Tuhan yang ia yakini selama ini diam saja dan tidak berbuat apa-apa untuk menyelamatkan umat-Nya dari siksa penderitaan, kesengsaraan dan kematian.

********

Salah satu keyakinan Kristen yang mengalami serangan paling hebat dari para teolog modern adalah ajaran tentang Allah yang “impassible”, bahwa Allah itu tidak peduli pada hidup manusia. Allah sama sekali tidak mempedulikan ketidakadilan dan penderitaan yang dialami manusia. Allah tidak dapat terpengaruh dan tergoncang oleh apapun juga. Ia tidak memiliki perasaan dan tidak dapat mengasihi.

Allah itu “immutable”, tidak berubah, maka Allah itu “impassible”. Allah tidak mempunyai perasaan dan tidak dapat mengalami penderitaan itu merupakan akibat wajar dari Allah yang tidak berubah (immutable).

Immutability” dan “Impassibility” Allah ini merupakan kunci pengakuan iman Gereja. Sifat yang membedakan antara Sang Pencipta yang Kekal dan Tak Terbatas dengan ciptaan yang fana dan terbatas.

Menurut Aristoteles Allah itu tidak dapat mengasihi tetapi dapat dikasihi oleh semua mahluk karena kesempurnaan dan keindahan-Nya. Allah adalah “Penggerak yang tidak digerakkan” dan “loveless Beloved”.

Para teolog modern menuduh ajaran Kristen tentang Allah yang “impassible” itu merupakan pengaruh buruk Filsafat Yunani seperti itu, meskipun ini jauh dari kesaksian Kitab Suci Kristen tentang Allah.

Para teolog itu berusaha membangun teologi tentang “suatu Allah” yang rentan. “Suatu Allah” yang sangat layak menderita bersama umat manusia. Tentu saja ini bertentangan dengan pendapat para Bapa Gereja dan teolog Abad Pertengahan, termasuk Kaum Reform, yang ternyata terbukti bahwa pandangan mereka itu tidak dipengaruhi oleh Filsafat Yunani. Namun didasarkan pada doktrin penciptaan, bahwa Allah itu memang “impassible” tetapi tidak “unemotional”. 

Allah yang tidak dapat berubah itu tidak berarti bahwa Allah acuh tak acuh (apathetic), atau tidak memiliki kasih. Allah itu sungguh hidup dan memiliki sifat-sifat yang tak terbatas.

Sehingga “Impassibility” Allah ini justru menjamin bahwa kasih Allah itu kekal. Serta menyediakan suatu harapan, karena hanya Allah yang mampu menderita adalah Allah yang mampu menyelamatkan dunia yang sedang tenggelam dalam penderitaan.

Sebagaimana Nabi Yeremia mencatat perkataan TUHAN untuk disampaikan kepada bangsa Yehuda, bahwa YHWH (TUHAN) menangis melihat penderitaan mereka. 

“Katakanlah perkataan ini kepada mereka: ‘Air mataku bercucuran siang dan malam dengan tidak berhenti-henti, sebab anak dara, puteri bangsaku, dilukai dengan luka parah, luka yang sama sekali tidak tersembuhkan.’” (Yeremia 14: 17)

Demikian juga Nabi Yesaya yang berseru kepada dunia bahwa, 

“… dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala.” (Yesaya 63: 9)

Dua bagian Kitab Suci ini telah memberikan bukti tentang perasaan kasih Allah kepada manusia, umat-Nya yang telah memberontak dan tidak mau bertobat, terluka parah yang tidak tersembuhkan. Namun TUHAN sendiri datang dengan hamburan air mata untuk menebus dan menyelamatkan, mengangkat dan menggendong mereka dengan tangan belas kasih-Nya.

Para teolog ini ingin menegaskan bahwa Allah itu dapat menderita, namun konsep penderitan tersebut harus dipikirkan ulang. Jika benar bahwa manusia memiliki hubungan dengan Allah yang adil dan peduli, maka Allah mampu merasakan penderitaan manusia. 

Dengan kata lain, ini terkait dengan belas kasih dan empati. Meskipun penderitann di sini tidak dapat diartikan seperti yang dimengerti oleh manusia itu sendiri. Karena “Impassibility” Allah juga dapat berarti bahwa Ia peduli kepada manusia terlepas dari kepentingan diri-Nya dan dari kaitan apapun dengan yang jahat.

Maka bentuk ungkapan antropomorfisme Kitab Suci itu harus dipahami secara analogis. Analogi artinya kemiripan, bukan kesamaan. Jika tidak maka ungkapan Kitab Suci itu merupakan suatu definisi atau penjelasan. Misalnya, kasih, cemburu, benci, murka Allah dst. Semua itu harus dimengerti sebagai perasaan atau sifat yang mirip perasaan dan sifat manusia.

Sifat dan perasaan manusia tersebut diterapkan kepada Allah karena manusia itu merupakan “image-bearers” Allah. Allah memang memiliki perasaan, namun perasaan Allah jauh melampaui dan bahkan tidak sama, hanya mirip dengan perasaan manusia. “Impassibility” Allah pada dasarnya adalah perasaan Allah yang transenden.

Bentuk terkuat dari penderitaan yang terkandung dalam hubungan personal antar manusia adalah belas kasih. Di mana orang yang mengasihi itu ikut menderita bersama kekasihnya yang sedang mengalami penderitaan.

Namun ternyata hubungan antar manusia itu juga mengandung penderitaan yang disebabkan oleh kekasihnya itu juga. Penderitaan ini karena kasih yang ditolak dan penderitaan untuk mengampuni dan memperbaiki hubungan kasih mereka itu.

Simbol paling nyata bagi manusia untuk itu adalah salib. Tetapi salib bukan hanya sebagai ilustrasi penderitaan Allah, melainkan salib adalah peristiwa dan tindakan yang paling menentukan bagi Allah untuk menderita.

Salib bukan hanya suatu pewahyuan tentang Allah yang ikut menderita bersama manusia yang menderita. Tetapi salib adalah tindakan Allah untuk memasuki keadaan dan perasaan manusia yang tidak ber-Allah dan yang tengah ditinggalkan Allah.

Hanya melalui pengalaman sebagai manusia yang ditinggalkan Allah (Yesus) dan sebagai Allah (Bapa) dari manusia yang ditinggalkan Allah itu, maka Allah juga dapat ikut menderita melalui peristiwa salib itu. Meskipun semua itu adalah suatu misteri besar bagi manusia itu sendiri.

Shusaku Endo membawa pembacanya pada tegangan atas tanggapan Allah terhadap penderitaan manusia. Pada masalah dan pertanyaan yang selalu dihindari orang, karena tidak ada jawaban yang memadai dan pasti.

Rodrigues dapat menangkap dan merasakan pertanyaan para Kakure Kirishitan, umat Tuhan itu, “Apakah beriman kepada Allah di dalam Yesus Kristus itu merupakan suatu kejahatan yang patut diganjar dengan penganiayaan dan kematian?”

Rodrigues menghibur mereka dengan mengatakan bahwa semua penderitaan dan penganiayaan yang mereka alami itu dibuat oleh Tuhan untuk mendatang kebaikan bagi mereka. 

Namun sebaliknya Rodrigues selalu bertanya kepada Allah, “Lalu mengapa Engkau diam saat anak-anak-Mu berada dalam kengerian itu?” Bahkan ia mengulang-ulang doa, “Tuhan mengapa Engkau diam? Mengapa Engkau selalu diam…?” Tetapi doanya itu tidak dapat menenangkannya.

Rodrigues berseru kepada Tuhan meminta kedamaian hati, tetapi tidak ada jawaban. Penderitaan Rodrigues tidak lagi pada kegelisahannya atas penganiayaan umat Tuhan itu. Tetapi lebih kepada persaannya karena telah ditinggalkan dan diterlantarkan Allah.

Rodrigues memejamkan mata dan merasa wajah Yesus memandangnya dengan seksama. Ia mendapat kesan suara Kristus dalam benaknya, tak terdengar dan tidak menyakitkan seperti saat ia memohon Allah untuk menjawabnya.

********

Keesokan paginya, sebuah fumie dibawa di hadapan Rodrigues. Ia masih sempat berpikir batapa ia mengasihi wajah itu dengan segenap hidupnya. Namun suara itu berkata, “Injaklah! Injak! Aku lebih mengerti daripada siapa pun juga tentang kepedihan di kakimu. Injaklah! Aku lahir ke dunia memang untuk diinjak-injak manusia. Untuk menanggung penderitaan manusialah aku memikul salibku!”

Rodrigues mendengar dengan jelas suara Yesus yang mengijinkannya untuk menginjak-Nya dan ia melakukannya. Rodrigues menginjak fumie itu dan dengan itu ia telah membebaskan lima Kakure Kirishitan dari siksaan yang sangat menyakitkan.

Allah yang kelihatannya bungkam ternyata tidak bisu. Ia ikut menderita bersama umat-Nya yang teraniaya. Rodrigues yang tampaknya murtad itu ternyata bukanlah “Yudas”. Ia hanya mengikuti panggilan Tuhan yang menenggang rasa atas kepengecutannya serta melakukan tindakan yang tidak patut itu, yaitu ikut menderita sebagaimana Kristus telah menderita. 

Jika Kristus menderita disalib dan diinjak, maka Ferreira, Kichijiro dan Rodrigues menderita batin yang sangat mendalam, yaitu menanggung rasa malu dan hina yang tak tertahankan, karena telah menyangkal Tuhan mereka sendiri.

Rodrigues yang awalnya gagah dan tampak tangguh, akhirnya tidak lebih daripada seorang Kichijiro, orang Kristen yang murtad “berkali-kali”.

Yesus mati bukan hanya demi para martir yang menolak untuk menyangkal imannya. Tetapi juga bagi orang yang gagal dalam hidup, mereka yang dikalahkan godaan dan kelemahan lainnya. Serta terpaksa harus menanggung beban rasa bersalah tersebut. 

Jika Yesus sangat berarti bagi para martir suci yang gagah berani tersebut, tentu Yesus jauh lebih berarti lagi bagi orang-orang seperti Kichijiro, Ferreira dan Rodrigues. Orang yang lemah dan pengecut. Kasih pengampunan-Nya itu justru lebih dibutuhkan oleh orang-orang seperti mereka.

Yesus tenggang rasa terhadap orang-orang yang begitu lemah sehingga harus menghianati-Nya, meskipun hanya sebagai penyangkalan pura-pura. Yesus mati di kayu salib juga demi orang-orang seperti itu, orang-orang yang terlalu lemah untuk mempertahankan imannya, orang yang terlalu pengecut menghadapi rasa sakit dan kengerian yang sangat dalam.

Shusaku Endo bercerita tentang seorang yang belajar dengan cara yang sangat menyakitkan, tentang betapa kasih Allah itu lebih misterius daripada yang ia ketahui. Bahwa Allah menyediakan banyak jalan bagi manusia untuk menyadari betapa Allah itu selalu hadir, bahkan dalam kebungkaman-Nya. “Aku tidak diam. Aku menderita di sampingmu.”

——-

Kepustakaan

Dennis, Mark and Middleton, Darren J. N.  (Editor) Approaching
Silence: New Perspectives on Shusaku Endo’s Classic Novel. Bloomsbury Academic, London, 2015.
Endo, Shusaku. Silence.‎ Picador, London, 2015.
Gavrilyuk, Paul. The Suffering of the Impassible God. Oxford University Press, Oxford, 2006.
Kitamori, Kazoh. Theology of the Pain of God. John Knox Press, Richmond, 1965.
Lee, Jung Young. God Suffers For Us. Martinus Nijhoff, The Hague, 1974.
Moltmann, Jürgen. The Crucified God. SCM Press, London, 1974.
Song, Choan-Seng. Jesus, the Crucified People. Fortress Press, Minneapolis, 1996.

——

*Penulis adalah Peneliti di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia.